Kelebihanku

Kelebihanku
#44•Lukisan Noni Belanda


__ADS_3

《*Pernahkah kamu mendengar? dari seseorang, kalau benda mati apapun itu, yang menyerupai bentuk manusia atau makhluk hidup lainnya. Benda itu akan seketika hidup, dan didiami suatu makhluk halus*.》


Kami berenam menuju ke pemahkaman umum, yang kemarin aku, Azam, dan wisnu datangi. Setelah sampai di sana. kami membawa pot percobaan, yang berisikan tanah kuburan, dan sesegera mungkin kami menaruhnya kembali kekuburan yang telah Azam ambil tanahnya. "Syukurlah. Kita semua bisa selamat, dan tidak ada korban." tutur Shifa.


Dengan ini kami berenam, sudah tidak ada hubungannya dengan sosok menyeramkan tadi. Dan semoga saja, sosok pocong yang barusan tidak mengganggu kami berenam lagi. "Oh iya! terus tugas kelompok kita bagaimana?!" ucap Wisnu panik. "Besok lagi dikumpulkannya."


"Ya terus mau bagaimana lagi. Mau tidak mau, kita bakalan kena hukuman." seru Cahya.


"Mm... ngomong-ngomong, maaf ya buat kejadian hari ini, dan untuk tugas. Karna ulahku sendiri kalian juga jadi kena imbasnya. Maaf ya." kata Azam meminta maaf.


"Santai saja Zam. Kita teman, manusia juga bisa melakukan kesalahan kali." jawab Wisnu, seraya terkekeh.


"Yasudah, jangan lama-lama di sini yuk. Kita pulang saja." ajakku kemereka.

__ADS_1


Karna Azam merasa tidak enak dengan kami. Akhirnya dia mengajak dan mentraktir kami berlima, kerestauran yang tidak jauh dari rumahnya. "Makanlah yang banyak, jika ingin menambah. Tambah saja, aku yang nanti akan bayar." ujar Azam seraya tersenyum.


***


Aku kembali terbangun, dan beranjak bangkit dari ranjang kamar kostku. Kulihat jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan, aku bersiap dan berangkat kekampus. Tadi malam Azam begitu baik pada kami berlima, mungkin karna dia merasa bersalah. Jadinya dia bersikap baik pada kami, bahkan dia sampai mengantar kami satu-persatu pulang.


Kelas hari ini tidak terlalu banyak, hanya saja hari ini ada kelas. Yang tugas kelompoknya tidak bisa kami kumpulkan, yang pasti nantinya kami akan kena hukuman. Dan benar saja, kami berenam tidak di perbolehkan untuk masuk kekelas. Hal hasil kita berenam hanya duduk di kantin tanpa tujuan yang jelas. "Hah! bosannya aku." gumam Nurmi.


"Boleh juga tuh." pikir kami berlima setuju, dengan ajakan Azam.


Akhirnya kami menginap bersama di rumahnya Azam. "Zam. aku ingin kekamar mandi, kalau boleh tau di mana ya?" tanyaku kepada Azam yang pada saat itu, sedang bermain kartu bersama dengan Shifa, Cahya, Nurmi, dan Wisnu.


"Oh di sebelah sana. Kamu lurus, terus setelah itu kekanan." tunjuk Azam, menunjukan arah kamar mandi rumahnya. Dengan petunjuk yang diberikan oleh Azam, aku mulai berjalan.

__ADS_1


Aku berada di sebuah lorong, yang terdapat dua kamar dengan pintu bercat putih. "Kamar mandinya yang mana?" gumamku. Akupun akhirnya memilih ruangan yang berada, di pojok samping kiriku. Ruangan gelap, dan juga pengap, serta begitu banyak debu yang berterbangan. "Uhuk...uhuk... sesak sekali." kunyalakan lampu, yang kebetulan saklarnya berada tepat di samping kananku. Mataku langsung terfokuskan, kesebuah lukisan yang cukup besar terpampang jelas di tembok. "Ah aku pakai segala, salah masuk ruang." gerutuku kesal.


Tiba-tiba saja angin berhembus kewajahku. Padahal di dalam ruangan tidak ada jendela ataupun udara, aku merasakan ada kehadiran seseorang namun tidak bisa kulihat. "Cloraite Agatha." sepontan nama itu terlintas di benakku. Aku berniat untuk segera keluar, dari dalam ruangan yang aku pikir adalah gudang. Ketika aku berbalik badan, belum satu langkahku berjalan keluar. Seorang perempuan cantik, berparas seperti seorang perempuan Belanda pada zaman dahulu, tidak hanya parasnya namun juga gaun putih kecoklatan yang ia kenakan memang seperti orang Belanda pada zaman dulu. "Siapa kamu?" tuturku bertanya padanya.


Lalu perempuan itu, menunjuk sebuah lukisan besar yang berada di belakang tubuhku. Setelah aku selidiki, ternyata maksut dari sosok perempuan Belanda itu adalah dia berasal dari dalam lukisan. "Apa kamu berasal dari dalam lukisan?" tanyaku memastikan. Sosok perempuan Belanda itu mengangguk atas pertanyaanku, yang artinya dia memang benar dari dalam lukisan. Kuperhatikan dia sepertinya tidak jahat, daripada aku yang malah mengganggunya. Lebih baik aku segera keluar dari gudang ini.


"Kamu ingin bermain?" tiba-tiba, saat aku berjalan keluar gudang. sosok perempuan belanda itu, muncul di hadapanku seraya mengajakku bermain.


"Tidak." jawabku singkat.


"Kenapa? apa aku menyeramkan?" ucap sosok perempuan Belanda itu padaku. Perlahan wujudnya berubah, badan sebelah kirinya seperti bolong terkena peluru. gaun yang semula biasa saja, sekarang penuh dengan noda darah. "Kikkikk... apa wujud asliku cantik." kata sosok perempuan Belanda, dengan ciri khas logat Belandanya.


"Pergilah! aku tidak mengganggumu." dengan tergesa-gesa aku berlari, keluar gudang. Dan kembali berkumpul dengan Azam dan yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2