Kelebihanku

Kelebihanku
#36•Awal Yang Baru


__ADS_3

Wah.. tidak terasa Kelebihanku sudah 35 bab, terimakasih banyak atas dukung serta kesetian kalian pembaca KELEBIHANKU, tetap terus dukung KELEBIHANKU hingga tamat ya. Dari pada kebanyakan basa-basi mari kita baca kisah Dito selanjutnya...


Dua tahun telah berlalu, semenjak kabar meninggalnya Dimas, aku memutuskan untuk berhenti dari sekolah dan memilih untuk homeschooling atau sekolah di rumah, walaupun dengan biaya yang cukup terbilang mahal.


Tentang kelebihanku keluarga besar, nenek serta orangtuaku, sudah mengetahuinya. Aku telah menceritakan semua hal yang terjadi dengan penglihatanku ini kepada mereka semua. Dari semua keluarga besar, anak, cucu kakek. Hanya aku cucunya yang dapat menurunkan kelebihannya. Semuanyapun terkejut ketika aku menceritakan yang sejujurnya kepada mereka.


Nenek juga memberikanku sebuah peniti berukuran sedang, yang katanya dapat menangkal roh jahat atau semacamnya. Nenek cerita kepadaku kalau dulu almarhum kakek sering menggunakannya, dan peniti ini dapat berguna. Walaupun perlindungan yang benar adalah hanya kepada sang maha esa, namun tidak ada salahnya jika untuk berjaga-jaga saja.


Walaupun tidak pernah aku gunakan, dikarenakan aku tidak pernah keluar rumah, atau bertemu dengan orang lain selain keluargaku. Entah karna aku sudah nyaman berada di dalam rumah, atau karna aku takut dan tidak ingin bertemu dengan mereka makhluk halus. bahkan ayah dan juga ibuku merasa aneh atas keinginanku yang tidak ingin keluar rumah sekalipun.

__ADS_1


"Tok...tok..tok..., Dito." ibu berada tepat di depan kamarku, entah ada apa. Aku rasa ibu masih ingin menanyakan tentang kelanjutan dari pendidikanku, karna banyaknya waktu yang kuhabiskan di dalam rumah, serta pamit yang tiba-tiba kuucapkan kepada ibu dan ayah, membuat mereka berdua merasa khawatir atas keputusanku.


"Iya bu, masuk saja." jawabku yang sedang merapihkan buku-buku novel yang berserakan di lantai kamar. "Ada apa bu?" tuturku memastikan.


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu, melanjutkan kuliah di Jakarta?" pertanyaan ibu membuatku terdiam sesaat.


Aku menoleh kearah ibu, menatap mata ibu yang berdiri di belakang tubuhku. "Bu, Dito yakin dengan keputusan Dito, Sedikit demi sedikit rasa sakit Dito atas kepergian Dimas juga sudah membaik, Dito ingin membuat awal yang baru bu. Ibu dan ayah harus yakin sama Dito, Dito juga sudah bisa jaga diri Dito sendiri. Dan enggak akan selamanya Dito berlindung di belakang ayah dan ibu, lagi pula Dito juga sudah ke terima di sana, jadi izinkan Dito." kataku meyakinkan perasaan ibu, untuk mengiizinkan pergi ke Jakarta.


"Bu percaya sama Dito, setiap libur semester. Dito juga akan pulang ke Jogja." aku mendekat keibu dan memeluknya erat, sebenarnya aku masih ragu atas keputusanku namun mau bagaimana lagi jalanku sudah ditentukan surat undangan sudah ku terima, sayang jika aku harus menolaknya, kesempatan tidak akan datang dua kali.

__ADS_1


Besok adalah hari di mana, aku akan pergi ke Jakarta, walaupun dengan keraguan dari orangtua, setidaknya aku tidak akan pernah membuat mereka kecewa terhadapku.


Hari sudah semakin malam, namun mas Tio tetap terus menggangguku tidur. Oh iya, sebelumnya perkenalkan. mas Tio adalah arwah yang selalu bersiul di dalam kamarku, atau lebih tepatnya di bawah kolong tempat tidurku, ternyata mas Tio tidak seseram yang kupikirkan, mungkin waktu pertama kali melihatnya memang menyeramkan, siapa yang enggak akan takut jika melihat wajah hancur serta isi kepala yang keluar. Namun jika di kenal lebih jauh, mas Tio arwah yang menyedihkan dia korban tewas tabrak lari, mengingatkanku akan arwah Tania.


Selama dua tahun aku di dalam rumah, setengah masa remajaku, aku habiskan dengan bermain, bercerita, bercanda, dan lainnya bersama dengan arwah mas Tio, walaupun terkadang dia menjengkelkan. Namun semenjak aku mengenal mas Tio, mas Tio tidak selalu menampakkan wujud aslinya, ketika bermain bersamaku mas Tio selalu menampakan wujud manusia normal biasannya, umurnya juga terbilang masih muda yaitu dua puluh lima tahun.


Belum sempat menikah, mas Tio sudah meninggal, lebih tepatnya sehari sebelum dia menikah, mungkin itu yang membuat dirinya menjadi arwah gentayangan, yang belum tenang. "Mas, Dito ingin cepat tidur agar besok bisa bangun lebih pagi, berhentilah untuk bersiul!" ujarku.


"Dito, aku tidak ingin kamu pergi, tetaplah di sini." jawab mas Tio, inilah sifat aslinya keras kepala, dan mengganggu.

__ADS_1


"Seterahlah, diam! jika tidak, Dito gunakan peniti dari nenek ya." ancamku kepada mas Tio, peniti yang diberikan nenek untukku, membuat mas Tio tidak bisa dekat denganku, bahkan katanya terasa panas jika mas Tio memilik jarak yang cukup dekat denganku, entah karna penitinya berfungsi atau apa tapi, peniti itu membuatku sedikit bisa lebih tenang jika banyak hantu yang akan mengganguku.


__ADS_2