
Rasa lapar yang awalnya dapat ditahan akhirnya muncul kembali.
Masa-masa serba kekurangan, berapapun makanan yang kamu habiskan, rasanya masih lapar sekali.
Di tambah lagi pagi ini belum makan apa-apa Jiangzhou sudah menarik kereta kayu, saat ini perutnya sangat lapar sekali.
Dia mendorong gerobak itu ke pinggir jalan lalu meletakannya.
Liu Mengli segera mengerti maksud Jiang Zhou.
"kamu mau makan bakmie?"
Liumengli bertanya.
Jiang Zhou mengangguk, berjalan membawa kedua anaknya, dan berkata kepada istri bos yang sedang sibuk: "Bos, tolong buatkan tiga mangkuk mie!"
Liu Mengli datang dengan cepat.
"Dua mangkuk sudah cukup. Chloe,Zoe dan aku satu mangkuk sudah cukup, satu mangkuk lagi untukmu..."
Sebelum dia bisa menyelesaikan kata-katanya, dia bertatapan dengan Jiang Zhou yang tersenyum.
“Aku tidak khawatir jika kamu tidak kenyang, tapi aku khawatir Chloe dan Zoe, tidak akan kenyang,”
Jiang Zhou berpura-pura serius.
Setelah selesai berbicara, dia menundukan kepalanya, tersenyum pada Chloe dan Zoe dan berkata, "Chloe,Zoe, apakah kamu ingin makan mie?"
"Mau!"
"Berapa banyak yang bisa kalian makan?"
Jiang Zhou bertanya.
Kedua anaknya tiba-tiba menjadi bersemangat.
Chloe memiringkan kepalanya, mengangkat tangan kecilnya dengan serius, dan memberi isyarat ke depannya.
"Sangat banyak~"
Jiang Zhou melihatnya.
Itu seukuran mangkuk kecilnya Chloe.
Namun, saat dia melihat Zoe, dia benar-benar tidak bisa menahan tawanya.
Dia melihat anak itu aangat bersemangat, dan dia menyesap air liurnya dengan rakus, dan dengan susah payah mengalihkan pandangannya dari sup tulang yang mendidih.
Kemudian, dua lengan kecil seperti tauge mengayunkan tangannya membentuk lingkaran di udara.
"sebanyak ini!!sebanyak ini! Zoe, bisa dimakan, sebanyak ini!"
anak ini.
Itu benar-benar banyak sekali.
Jiang Zhou tersenyum lebar.
"Baik! Baik segera kemari, bakmienya akan di hidangkan sebentar lagi, Chloe dan Zoe makan sampai kenyang ya"
kedua anak itu mengikuti Jiangzhou sambil bergumam dengan senang.
Liu Mengli tidak punya pilihan selain mengikuti dan duduk di meja.
"Ini dia,Tiga mangkuk mie tulang sudah siap! "
" Daun bawang cincang, ketumbar, dan minyak pedas serta cuka semuanya ada di meja. kalian bisa menambahkannya sendiri! "
Ibu pemilik kedai bakmi sedang sibuk sekali.
Dia segera membawa dua mangkuk mie tulang dan menaruhnya di depan Jiang Zhou dan Liu Mengli.
Kemudian, dia berbalik dan mengambil mangkuk dan meletakkannya di depan Chloe dan Zoe.
Sekalian dia membawa dua buah mangkuk kecil, kemudian dia kembali bekerja
Sekarang di atas meja sudah ada tiga mangkuk bakmie yang masih panas.
Jiangzhou sudah sangat lapar.
Dia mengambil sumpit dan menyerahkannya satu per satu.
Meskipun Chloe dan Zoe berusia tiga tahun, Namun, karna bukan dari keluarga berada, mereka tidak di manjakan soal makan.
Sejak kecil mereka sudah makan sendiri.
Tentu saja bisa menggunakan sumpit.
“Kamu makansaja, Biar aku yang mengurus mereka,”
kata Liu Mengli.
Saat dia berbicara, dia mengambil sumpitnya dan membagi semangkuk mie menjadi dua porsi yang sama, tifak ketinggalan kuahnya.
“Mienya masih sangat panas, Chloe dan Zoe harus meniupnya sebelum makan, mengerti?”
Liu Mengli mengingatkan.
Kedua anak itu mengangguk tidak sabar sambil memegang sumpitnya.
Melihat ini, Liu Mengli menyuruh mereka makan mulai makan.
Dia menambahkan sedikit daun bawang di mangkuknya, dan mulai makan mie.
Setelah Jiang Zhou menambahkan daun bawang dan ketumbar, dia mengambil bakmi dengan sumpitnya. karena masih panas dia meniup-niup sebentar itu dan makan dengan lahap.
Uh!
panas!
perasaan puas menyusul aroma bakmi yang memenuhi mulutnya.
Enak!
Untuk sesaat perasaan Jiangzhou terhibur.
Saat ini, tidak peduli pria atau wanita, nafsu makan mereka jauh lebih besar dibandingkan beberapa dekade kemudian.
Karena mereka melakukan pekerjaan fisik sepanjang tahun.
Banyak wanita yang memiliki nafsu makan yang sama dengan pria.
__ADS_1
sejujurnya.
Porsi bakmi ini.
Jiang Zhou bisa menghabiskan tiga mangkuk sendirian.
Begitu juga Liu mengli dia sudah menghabiskan bakminya hingga bersih, tak tersisa.
Sementara kedua anaknya.
Mereka makan dengan puas, bahkan kuah yang menempel di bibirnya dijilatnya sampai bersih.
“Chloe dan Zoe sudah kenyang?”
Jiang Zhou bertanya sambil tersenyum.
Setelah keduanya mendengar itu, wajah mereka tersenyum berseri.
"kenyang~"
Chloe tersenyum dengan alis dan mata bengkok.
Zoe bersendawa karena kekenyangan.
Jiang Zhou mengulurkan tangannya dan dengan lembut menyentuh pangkal hidung Zoe dengan lembut.
“Bukankah Zoe akan makan sebanyak ini?”
Dia memberi isyarat bulat besar.
Dia pun tersenyum dengan malu-malu, wajah kecilnya memerah.
“Kakak, berapa harganya?”
Jiang Zhou berdiri untuk membayar.
“Harganya Rp.1.400 semangkuk!”
Ibu pemilik kedai berkata, “Total semuanya jadi Rp.4.200!”
Zaman sekarang, bakmi sudah menjadi makanan favorit.
Apalagi di tambah sup kaldu tulang dan daging cincang. Harga Rp.1.400 per mangkuk masih sangat wajar.
Liu Mengli merasa sayang dengan uangnya.
Jiang Zhou menoleh, melihat Liumengli sedang mengerutkan keningnya.
Dia merasa senang.
kemudian Jiangzhou brcanda , “sayang dengan uangnya ya?”
Liu Mengli hanya terdiam.
Memangnya kamu tidak sayang?
Tiga mangkuk bakmi, Rp.4.200.
Liu mengli sangat tidak rela.
“Kalau begitu lain kali, aku akan membuatkannya untukmu,”
kata Jiang Zhou sambil tersenyum.
Dia merasakan perutnya yang kekenyangan setelah makan bakmi. Sudah lama Liumengli tidak merasakan makan sepuas ini.
Untuk sesaat Liumengli merasa terhibur.
........................
Namun...
Ketika mereka berempat selesai makan mie dan hendak pergi, Jiang Zhou tidak tahu bahwa ada seseorang yang mengenalinya.
Karena tempat ini letaknya tidak jauh dari pintu masuk koperasi pemasok dan pemasaran.
Pada dasarnya, orang-orang dari desa terdekat yang datang ke kabupaten untuk membeli sesuatu akan datang ke sini.
Jiang Fuquan ada di sini untuk membeli daging
Sekalian datang ke koperasi pemasok dan pemasaran dan membeli korek api dan minyak tanah.
Ketika dia kembali kemarin malam, rumah kehabisan minyak tanah dan keadaan sangat gelap sehingga istrinya hampir membuat dirinya ketakutan setengah mati.
Jadihari ini dia pergi membeli daging di dekat pabrik daging, dan dalam perjalanan pulang dia pergi ke koperasi pemasok dan pemasaran untuk membeli minyak tanah.
saat melewati kedai bakmie, dia berpikir untuk makan bakmi sekaligus memanjakan dirinya sebentar sebelum pulang.
Tanpa diduga, dia melihat Jiang Zhou berjalan keluar bersama anak dan istrinya.
kereta kayu yang di dorong Jiangzhou sangat mencolok.
Sepertinya ada banyak barang di gerobak.
Tapi semuanya dikemas dalam tas nilon, jadi dia tidak bisa melihatnya.
Namun, ada satu hal yang pasti.
Jiang Zhou, Liu Mengli, dan kedua anaknya makan mie di warung mie ini.
Jiang Fuquan berdiri di sana, dia merasa sedikit kebingungan sebelum akhirnya sadar.
Dia menggosok tangannya, berpikir sejenak, dan berjalan menuju warung mie.
“Hai kawan, saya ingin bertanya, apakah tiga mangkuk mie ini baru saja dimakan oleh kedua orang dewasa dan anak-anak itu barusan?”
Jiang Fuquan bertanya.
Wanita dari kedai mie kebetulan datang untuk mengambil barang, dan ketika dia mendengar kata-kata Jiang Fuquan, dia langsung tersenyum.
"Benar! Pasangan muda, dan sepasang putri kembar, mereka sangat cantik!"
Sekarang dia yakin!
Jiangzhou!
Si pengangguran yang terkenal di desa itu!
mengajak istri dan anak makan mie? !
Dari mana dia mendapatkan uangnya?
__ADS_1
Jiang Fuquan meminta semangkuk mie, dia duduk di tempat Jiang Zhou duduk tadi, setelah berpikir sejenak, dia menggelengkan kepalanya.
kalau Jiangzhou makan bakmi sendri.....
Itu bukan sesuatu yang aneh.
Meski keponakannya sudah menikah dan memiliki anak, ia tak ubahnya seorang bujangan.
Asalkan dia kenyang, dia tidak memperdulikan istri dan anak-anaknya.
Kedua anaknya sering menangis karna kelaparan.
Keponakannya bahkan tidak perduli.
Dibandingkan Jiangzhou sanggup makan bakmi.
Jiang Fuquan merasa, jiangzhou membawa istri dan anak-anaknya makan bersama....
Itu merupakan hal yang paling mengejutkan!
“Si pengangguran ini, punya rencana busuk apa dia?!”
Jiang Fuquan mengerutkan kening.
Pikirannya jadi kalut.
Meskipun dia berharap sekali seluruh keluarga memberikan perhatiannya pada putranya Jiang Mingfan.
Namun, setelah memikirkannya, Jiang Zhou juga merupakan keponakannya, keturunan keluarga Jiang.
Jika Jiangzhou di hukum mati karna menjual istri dan anak anaknya.....
Dia akan mempermalukan keluarga Jiang.
Terlebih lagi..
setelah tamat, Jiang Mingfan akan bekerja di bawah kepemerintahan.
Jika ada sepupunya yang seperti itu, maka akan berpengaguh terhadap karir Jiang mingfan.
Tentu saja Jiang Fuquan tidak bisa menerima ini!
Saat Jiang Fuquan sedang berpikir, bakmi yang di pesan pun sudah datang.
Jiang Fuquan mengendus bakmi itu. Dan pikirannya mulai terarah.
"Setelah selesai makan, aku akan menegur si pengangguran itu, kalau belum ada sulosinya juga, aku akan meminta tolong pada ayahnya "
Jiang Fuquan menetapkan hatinya, sekarang dia sudah tidak sabar ingin memakan bakmi ini.
……………
keluarga beranggotakan empat orang itu kembali ke rumah.
Jiang Zhou sangat lelah hingga seluruh tubuhnya berkeringat.
Barang-barang di troli sangat berat, dan ditambah kedua anaknya. bebannya sudah melewati batas.
Dia memasukan kereta kayu ke halaman rumah.
Lalu menggendong kedua anaknya turun dari kereta kayu.
Perut yang kenyang membuat Chloe dan Zoe bertenaga, membuat mereka berlari kesana kemari sambil membawa sekantung permen.
Jiang Zhou duduk di onggokkan batu untuk mengambil napas sejenak dan beristirahat.
Satu tangannya mengipasi kepala, dan satu tangannya mengambil sesendok air dari tangki air untuk diminum.
Sepanjang perjalanan, dia kehausan sekali.
Setelah minum, dia melihat Liu Mengli berdiri di sampingnya, sambil memegang baskom porselen yang baru saja dia beli.
"kenapa?”
“Mau masak air.”
“masak air untuk apa?”
Jiang Zhou sedikit bingung.
“…Aku akan menyeka lukamu.”
Liu Mengli berhenti dan berkata, “kamu berkeringat.”
Mendengar ini, Jiang Zhou menyeringai.
“Terima kasih.”
Melihat dia mengucapkan terima kasih lagi padanya, Liu Mengli merasakan wajahnya memanas.
Dia tidak berkata apa-apa, tapi segera mengisi baskom berisi air dan memasukkannya ke dalam panci tempat api dinyalakan.
dia khawatir kalau lukanya akan meradang karena keringat.
Meskipun pendarahan sudah dihentikan dengan abu ketel tadi malam, jelas lebih aman jika memakai iodin dan perban hari ini dan membalutnya setelah di bersihkan.
Merasa memasak air akan memakan waktu, Jiangzhou bangkit berdiri dan berkata "Setelah makan bakmi, perutku masih belum terlalu lapar, kita makannya sedikit telat saja"
"Aku pergi memetik daun mugwort dulu untuk membuat kue beras"
Liu Mengli Lihat Jiangzhou melangkah keluar.
Dia tidak dapat menahan diri untuk mengatakan: “Hati-hati, jangan pergi ke kaki gunung, itu berbahaya.”
Jiang Zhou tersenyum dan berkata, “Baiklah!”
dan berjalan keluar rumah.
Jiangzhou langsung menuju punggung bukit.
Saat ini, setiap keluarga sedang sibuk bertani.
Bibit akan segera ditanam, sebab ini hal yang terpenting.
Melihat Jiangzhou, seorang bajingan, keluar rumah dengan tergesa-gesa, seseorang tidak bisa menahan diri untuk tidak bicara.
"Lihatlah jiangzhou. Dia tidak bekerja tapi masih bisa hidup baik-baik saja, tidak seperti kita yang harus kerja banting tulang! "
" Bagaimana kamu harus membandingkan dengannya? "
Seseorang berkata, "Dia itu tidak perduli pada istri dan anak-anaknya, kalau kamu mau seperti dirinya juga silahkan!"
__ADS_1
Semua orang pun tertawa.
"Kamu tidak tahu, kemarin aku melewati rumahnya dan mendengar kedua putrinya menangis karena kelaparan! Katakan padaku, apa menurutmu apakah pengangguran itu manusia? Aku secara pribadi tidak respek padanya!"