Kembali Ke Masalalu

Kembali Ke Masalalu
Jangan Marah, Aku Hanya Melihat


__ADS_3

Hari kelima bulan ketiga adalah hari berziarah makam. Saat itu bulan masih berbentuk sabit.


Namun, langitnya sedikit berbeda dengan langit yang selalu berkabut pada generasi selanjutnya.


Ketika Jiang Zhou melihat ke atas, langit dipenuhi bintang-bintang, di malam yang gelap.


Sangat cantik.


Liu Mengli yang sudah selesai mengerjakan kerjaan rumahnya, berjalan keluar dari kamar sambil memegang sesuatu di tangannya. Dia duduk di samping Jiang zhou.


Dia mengenakan gaun katun linen putih.


Dia juga mengenakan sweter yang penuh dengan tambalan di luarnya.


Rambut hitamnya tergerai di bahunya.


Di bawah cahaya bintang, wajah Liu mengli yang tertutup setengah, terlihat sangat cantik dan tidak nyata.


Liu Mengli duduk di sebelahnya Jiang Zhou.


Jiang Zhou baru menyadari bahwa Liu mengli sedang memegang harmonika di tangannya.


Bentuk harmonikanya pendek, seukuran telapak tangan, Lubang angin warna hijau zambrud, dan dilapisi kerangka baja tahan karat yang indah di bagian luarnya.


Harmonikanya terbungkus rapi dengan sapu tangan di luar.


Liu Mengli melihat Jiang Zhou yang memandang ke arahnya.


Seluruh tubuh Liu Mengli langsung menegang tanpa disadarinya.


Liu Mengli terdiam sejenak, tapi pandangan matanya sedikit panik.


Dia dengan cepat menjelaskan: “Aku bukan ingin menuipnya, aku hanya ingin melihatnya saja.”


Jiang zhou melihat raut wajah Liu Mengli yang sedikit panik.


Baru saja dia ingin bertanya.


dalam pikiran.


Tiba-tiba kepingan-kepingan ingatan masa lalu mulai meluap.


Jiang zhou langsung menegang.


Sepertinya dia dulu pernah main tangan terhadap Liu Mengli.


karena harmonika ini.


Liu Mengli adalah seorang pemuda terpelajar yang pergi ke pedesaan, yang terlihat sangat bermatabat dan arogan


Dari kota Shanghai pindah ke desa liqi yang kecil dan terpencil ini, lalu, tanpa sadar, mereka berdua mempunyai anak.


Liu Mengli juga sedang berusaha memperbaiki dirinya sendiri agar bisa berbaur kedalam kehidupan pedesaan.


Namun, dia akan selalu teringat masa lalunya.


Setelah menikah dengan Jiang Zhou.


Hal yang paling berharga bagi Liu Mengli adalah harmonika ini.


Itu adalah instrumen yang paling dia kuasai ketika dia masih kecil.


Ketika dia pergi ke pedesaan, dia tidak membawa apa pun kecuali harmonika ini.


Ketika Liu mengli merasa hidupnya susah dan menyedihkan dia selalu memainkan harmonika ini.


Lagu yang dia mainkan rata-rata adalah kunci minor soviet.


Lagunya memang sangat cocok untuk pemuda berpendidikan untuk meluapkan emosi mereka.


Jiang zhou melihatnya.


Dia malah mengira bahwa Liu mengli merendahkan dirinya.


Merendahkan warga desa mereka, dan sengaja memamerkannya hanya karena dia jijik dan tidak suka pada Jiang zhou


Lalu...


Jiang zhou langsung memberi tamparan keras kepada Liu mengli yang sedang mengandung saat itu.


Jiang zhou menghancurkan harapan-harapannya


Bahkan harapan Liu mengli yang terkecil pun di hancurkan Jiang zhou


Hari ini, Liu mengli pun tidak tau kenapa.


Tiba-tiba, emosinya melonjak hebat.


Dia bahkan lupa jika Jiang Zhou pernah menamparnya karean harmonika ini.


Sekarang dia malah mengeluarkan harmonikanya di hadapan Jiang Zhou!


Di hati Liu mengli, tiba-tiba merasa ketakutan.


Dia langsung membungkukan badannya secara spontan, dan menyembunyikan harmonikanya di dalam pelukannya.


"Kamu jangan marah, aku tidak akan meniupnya, sekarang juga aku meletakannya kembali."


Setelah dia selesai berkata, dia bergegas bangkit berdiri, Dia ingin menyimpan kembali harmonikanya di dalam kotak tersebut.


Liu Mengli ketakutan


Dia takut Jiangzhou, yang dulu menjadi mimpi buruknya kembali lagi.


Liu mengli takut harapan hidup yang dia cari susah payah, akan musnah kembali.


Namun,


saat Liu Mengli berdiri dan melewati Jiang Zhou,


tiba-tiba sebuah tangan dengan lembut meraih ujung bajunya.


"Tunggu sebentar."


Ituadalah suara Jiang Zhou.


Pada saat ini, Liu Mengli merasa seolah-olah dia telah jatuh ke dalam gua es.


Dia dengan jelas mendengar suara sesuatu yang menghancurkan pikirannya.


“Kemarilah."


JiangZhou menghela nafas lalu berkata.


Dia bisa merasakan tubuh kaku dan ekspresi ketakutan Liu Mengli sejenak.


Begitu mengetahui penyebabnya adalah dirinya sendiri, Jiang zhou langsung memaki dirinya pria bedebah dalam hati.

__ADS_1


Tubuh Liu Mengli membeku dan tidak berani bergerak sama sekali.


Dia merasa kakinya sangat berat untuk melangkah.


Namun,


Liu mengli menghirup napas dalam dalam, lalu memeluk erat harmonikanya yang ada dalam genggamannya, lalu menggertakan gigi dan berkata " Jika kamu mau pukul, pukullah. Namun aku meminta satu hal pada mu"


“Jangan biarkan anak-anak melihatnya. ”


Hati Jiang Zhou merasa sakit sekali.


“Maafkan aku. "


Kata Jiang zhou.


"Aku meminta maaf padamu, jika kamu merasa masih kurang cukup, kamu juga boleh menamparku kembali, anggap saja sebagai balasan atas perbuatanku dulu."


Suara Jiang Zhou terdengar rendah dan tulus.


Liu Mengli terkejut sejenak.


Dia membelalakan matanya dan menatap Jiang zhou dengan wajah terkejut.


“Apa kamu bilang?”


Suaranya Liu mengli terdengar sedikit gemetaran.


Dia menatap ke arah Jiangzhou.


"Apakah Kamu... Sedang minta maaf?"


Jiang Zhou mengangguk.


"Aku yang dulu bukan pria yang baik, karena aku merasa rendah diri dan tidak memiliki kemampuan, sehingga aku selalu mencari masalah denganmu."


"Namun sekarang aku sudah mengerti, istriku begitu cantik dan pandai bermain harmonika. Jangankan desa liqi bahkan kota dan kabupaen, aku juga tidak akan menemukan istri seperti dirimu lagi."


Jiang Zhou menatapnya.


Dia berkata dengan wajah serius: "Mengli, bisakah kamu memainkannya lagi untukku? Mainkan saja lagu Soviet yang kamu mainkan saat pertama kali bertemu denganmu. "


Air mata Liu Mengli tiba-tiba jatuh dengan deras.


Ini...


Untuk pertama kalinya, dia merasa dihormati.


Jiang Zhou menggandeng tangan Liu mengli, kemudia mereka duduk di tangga di depan pintu.


Liu mengli mengeluarkan harmonika dari dalam pelukanya dengan hati-hati.


Seolah dia tidak percaya, Liu Mengli menoleh dan menatap Jiang Zhou lagi.


“Apakah kamu benar-benar mau mendengarkannya?”


Jiang Zhou mengangguk.


"Pohon Hawthorn,"


Jiang zhou tersenyum lebar.


Lagu ini terus berputar berkali-kali di dalam mimpinya, setelah istrinya membawa anak-anaknya bunuh diri.


Liu Mengli mengalihkan pandanganya.


Dia menundukkan kepala, melihat sekilat pada harmonikanya. Lalu, mengangkat dan meletakan harmonika itu di bibirnya dengan ringan.


Melodinya sungguh indah.


Melody yang di mainkan, sedikit demi sedikit mengingatkan kembali melody dalam ingatannya.


Saat itu dia berumur 17 tahun.


Jiang zhou ikut orangtua nya bekerja di ladang.


saat memanen padi, tangan dan badannya penuh dengan lumpur


Sewaktu istirahat di ladang sambil menunggu makan siang, Jiang zhou mendengar sebuah suara melody yang samar yang sebelumnya belum pernah dia dengarkan.


Dia melewati bukit.


Saya melihat ladang pengeringan biji-bijian di bawah lereng bukit.


Di samping tumpukan gandum yang tinggi, ada seorang gadis duduk bersila disana.


Rambut hitamnya dikepang panjang, wajahnya terlihat sangat cantik.


Pakaian gadis itu lusuh, tapi dia belum pernah melihat gadis yang begitu berwibawa dan arogan.


Dibandingkan dengan dirinya yang penuh dengan lumpur dan menyedihkan ini.


perbedaan mereka sangat kontras.


"Liu Mengli! Kemarilah! "


Dia bersembunyi di belakang pohon dan mendengar seseorang memanggil namanya.


Liu Mengli.


Nama ini terdengar sangat bagus.


……………


Ketika dia selesai memikirkan kenangan dulu


Lagu "Hawthorn Tree" juga sudah selesai dimainkan.


Liu Mengli hanya terdiam.


Jiang Zhou tersadar, kemudian tersenyum padanya.


“sangat merdu,”


dia mengacungkan jempol.


Liu Mengli juga mengerucutkan bibirnya dan tersenyum lega.


“Terima kasih.”


Liu Mengli berdiri dan mengembalikan harmonikanya ke dalam kamar.


Dia baru berjalan beberapa langkah, langsung berhenti, dan menolehkan kepala,dan berkata pada Jiang zhou.


“Jangan lupa untuk datang ke kamar nanti.”


“Hah?”

__ADS_1


“Lukamu.”


Liu Mengli menjelaskan “Sewaktu sore, kamu bilang akan menggantinya setelah kamu selesai memetik daun mugwort, tapi ternyata tidak diganti. Aku akan membantumu membersihkan lukamu sekali lagi, setelah anak-anak tertidur."


Jiang Zhou tersenyum dan mengangguk setuju.


………………………………


Keesokan harinya.


setelah selesai sarapan.


Sarapan hari ini adalah kue beras yang digoreng dengan minyak kacang.


Minyak kacang kali ini adalah minyak kacang yang digoreng dari kacang yang ditanam sendiri, sehingga aromanya sangat harum.


Lalu kue beras ini di goreng dengan api kecil.


Dalam waktu sekejap wananya berkilau dan aromanya semerbak,


kedua anak kecil itu masing-masing makan dua kue beras.


Liu Mengli dan Jiang Zhou masing-masing makan tiga.


Setelah sarapan, mereka berempat bersiap- bersiap untuk pergi ke rumah kak Jiang Ming di ujung desa.


Setelah terlahir kembali, dia belum pernah ke rumah kakaknya.


Kali ini dia kebetulan membeli daging dan membuat kue beras.


Jadi, Jiangzhou ingin pergi mengunjunginya.


Rumah Jiangzhou kebetulan terletak di depan desa.


Mereka harus melewati jarak yang lumayan jauh untuk sampai ke ujung desa.


Jiang zhou membawa anak dan istrinya yang duduk di atas kereta kayu sambil mendorong kereta kayunya. tepat setengah jam meraka baru tiba di sana.


Tidak banyak warga di ujung desa.


Jiang Zhou hanya pernah datang dua kali, setelah bertengkar dengan kakaknya Jiang Ming.


Setiap kali datang untuk meminta uang kepada ibunya, Qi Aifen.


Dengan mengikuti ingatannya, setelah melewati ohon kamper dan melawati dua rumah lumpur di belakang, rumah selanjutnya adalah rumah kak jiang ming.


Saat pertama kali ke ujung desa, rumah kak jiang ming masih terbuat dari lumpur kuning dan jerami sebagai atapnya.


Namun sekarang, mereka sudah menggantinya dengan genteng.


Sepertinya kehidupan mereka semakin baik.


hanya saja...


Hanya saja pintu gerbang rumah mereka tertutup hari ini. Apa mereka tidak ada di rumah?


Jiang Zhou berjalan mendekat.


Ternyata gerbang halaman terkunci.


Liu Mengli juga berjalan membawa kedua anaknya, lalu melihat kedalam dengan penasaran.


“Mungkinkah mereka pergi menanam bibit padi?"


Liu Mengli segera menggelengkan kepalanya "Tidak mungkin, meskipun mereka pergi menanam bibit padi, seharusnya ada orang di dalam rumah. Lagi pula Jiang Haoming harus pergi sekolah hari ini. Biasanya di jam segini mereka masih makan sarapan."


Jiang Haoming adalah putra dari kakak laki-lakinya Jiang Ming


Empat tahun lebih tua dari Chloe dan Zoe.


Umur Jiang Zhou tujuh tahun lebih muda dari Jiang Ming.


Oleh karena itu Jiang Ming menikah lebih cepat beberapa tahun daripada Jiang Zhou.


Jiang Zhou tidak berkata apa-apa.


Dia melihat sekeliling dan berkata, "Coba kita tunggu sebentar lagi."


Chloe dan Zoe masih anak-anak.


mereka bermain dengan senang hati bermain di bawah pohon kamper.


Sekitar setengah jam kemudian, ketika Jiang Zhou hendak kembali pada sore hari, dia tiba-tiba melihat Yao Juan berjalan keluar dari belakang rumah dengan Jiang Haoming di sampingnya.


Yao Juan sepertinya sedang memberitahu Jiang Haoming sesuatu.


kemudian dia hanya mengangguk.


“Kakak ipar!”


Jiang Zhou berteriak.


Yao Juan adalah menantu perempuan Jiang Ming.


Dia wanita yang berasal dari desa sebelah.


Dia juga tujuh tahun lebih tua dari dirinya.


Pada awalnya, dia merawat jiang zhou seperti anaknya sendiri.


Kemudian, karena jiang zhou tidak tau diri pada saat itu, dia merasa setelah Yao juan melahirkan seorang putra, Yao juan tidak perhatian lagi padanya, sehingga jiang zhou selalu membuat masalah untuk menarik perhatian mereka.


Namun sekarang, jiang zhou telah hidup kembali.


Baru pada saat itulah Jiang Zhou menyadari bahwa dia sebenarnya cemburu dengan seorang bayi laki-laki.


Semakin jiang zhou memikirkannya, semakin tidak masuk akal.


Yao Juan mendongak dan melihat Jiang Zhou.


Dia terkejut.


Namun dia tersadar lagi dengan cepat.


"Jiaozhou? Kenapa kamu ada di sini? "


Yao Juan memegang tangan Jiang Haoming dengan erat.


Dia merasa hatinya sedikit tidak tenang.


"Ayah dan kakakmu sibuk selama dua hari ini, dan mereka belum mendapatkan uang. Jiaozhou, kakak benar-benar tidak punya uang..."


Reaksi pertama Yao Juan adalah berpikir Jiangzhou datang untuk meminta uang.


Namun...


Beberapa waktu ini, karena alasan khusus, keluarga jiang ming bukan hanya tidak menabung, tapi mereka berhutang banyak pada orang lain.

__ADS_1


Jika hari ini Jiangzhou tidak mendapatkan uang yang dia mau, dia mungkin akan membuat keributan besar lagi.


Seluruh tubuh Yao Juan menegang.


__ADS_2