Kembali Ke Masalalu

Kembali Ke Masalalu
Menghasilkan Satu Juta Rupiah!


__ADS_3

Di dalam halaman, Liu Mengli yang hendak membasuh wajah dan menggosok gigi, mengerutkan alisnya ketika mendengar kata-kata Jiang zhou.


Liu mengli berjalan menghampiri Jiangzhou dan berdiri di depannya.


Matanya yang bersinar menatapnya dengan lekat.


Cahaya jernih bulan purnama yang jatuh dimatanya, hancur dan berubah menjadi cahaya yang halus.


Berkilauan dan menawan.


"kenapa?"


Liu Mengli mengerutkan keningnya dengan anggun, "Kaki ayah akan di oprasi, kita membutuhkan uang dengan segera. Memperkejakan seseorang memang tidak menghabiskan biaya banyak, tapi itu juga dapat menghemat sedikit uang. Jiang zhou maksudku adalah aku yang akan menanam padi, bukan menyuruhmu..."


"Karena aku tidak tega."


Jiang Zhou menjawab dengan singkat, dan mengakhiri perkataan Liu mengli.


pandangan Jiangzhou yang kalem, memandang Liu mengli dengan serius.


Jiang zhou mengatakannya terlalu alami.


Sehingga membuat Liu mengli tidak mampu untuk bereaksi.


“Apa?”


Liu mengli tertegun sejenak dan melanjutkan "Tidak tega apanya?"


Sebenarnya.


Liu mengli tidaklah bodoh.


Begitu Liu mengli selesai bertanya, dia langsung menyadari maksud Jinag zhou.


Di bawah sinar rembulan yang indah.


Wajah cantik dan lembutnya Liu mengli sedikit memerah.


Begitu menyadari bahwa Jiang Zhou sedang menatapnya, Liu Mengli sedikit memalingkan wajahnya.


orang ini...


Kenapa dia tiba-tiba mengatakan hal seperti itu?


“Bekerja di sawah itu sangat berat dan ada banyak ulat disana. Seorang wanita turun keladang menanam padi, apa itu pantas?"


“Biaya operasi ayah akan terkumpul dalam dua hari ini. Kalau memang tidak bisa, besok aku akan menarik kereta keledai, dan pergi kedesa tetangga. Ada bayak rawa dan belut sawah di desa Shuiwa, uangnya pasti akan cukup."


"Kamu tidak perlu pergi keladang untuk menanam padi, juga tidak perlu melakukan pekerjaan fisik."


"Aku tidak tega melihatnya."


Ya benar.


Tidak tega.


Jiangzhou tidak tega melihat Liu mengli kesusahan, dan tidak tega melihatnya bersusah payah karena hidup.


Di kehidupan lampaunya, Jiang zhou telah memikirkannya berkali-kali. Jikalau dia dilahirkan kembali, apa yang hendak dilakukannya, dan bagaimana dia akan menulis ulang hidupannya.


Akan tetapi.


kenyatanya, setelah Jiang zhou benar-benar terlahir kembali dan memikirkannya, tujuan hidupnya yang sekarang sangatlah sederhahana.


Jiang zhou ingin Liu mengli dan anak-anaknya, serta kerabatnya, menjalani kehidupan yang baik.


Hanya itu saja.


Jangankan menanam bibit padi...


Jiang zhou bahkan tidak tega membiarkan Liu mengli memasak.


Sebuah kata cinta yang tidak di tutup-tutupi sana sekali, membuat wajah Liu mengli semakin memerah.


Bagaimanapun, dia adalah orang yang hidup di zaman ini.


Siapa yang akan mengungkapkan perasaan mereka dengan menggebu-gebu seperti ini?


Terutama itu di ucapkan oleh Jiang Zhou, yang sebelumnya masih bersikap dingin padanya.


“Tidak berarti tidak."


Liu Mengli sedikit tersipu malu. Dia tidak berani menatap mata Jiang Zhou. Setelah beberapa saat kemudian dia berkata: "Besok aku yang akan mengumpulkan belut sawah yang ada di rumah, dan aku juga bisa menjual ampas minyak. Kamu pergi saja kedesa tetangga untuk mengumpulkan belut sawah, dengan begini akan selesai lebih cepat."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, dia berjalan cepat menuju kamar.


Beberapa saat kemudian, dia pun mematikan lampu yang ada di kamarnya.


Cahaya rembulan jernih seperti air.


Cahaya rembulan itu jatuh tepat di atas wajah Liu mengli melalui jendela.


Liu mengki berbaring di tempat tidur, dan menatap sinar bulan yang tergantung tinggi di luar.


Pikirannya penuh dengan hari-hari yang susah selama bertahun-tahun ini.


Sejak tren kepulangan pemuda terpelajar pulang ke daerah asalnya mulai di marakkan...


Dia berpikir untuk pulang berkali-kali.


Tetapi.


Liu mengli enggan berpisah dengan kedua anaknya yang merupakan darah dagingnya.


Sekarang.


Liu mengki berpikir, mungkin hari-hari yang pahit dan membisankan ini pada akhirnya akan membawa sedikit rasa manis.


Dia tidak serakah.


Sedikit saja sudah cukup.


........................


keesokan harinya.


Langit telah terang.


Dalam dua hari ini, mereka harus mengumpulkan uang untuk oprasi Jiang Fuguo.


Bagaimanapun juga, terasa ketegangan di dalam rumah.


Untuk mencegah cuaca panas yang bisa membuat belut sawah mati kepanasan, Jiang zhou pun bangun pagi-pagi.


Sebuah kereta keledai menarik lebih dari 500 kilogram belut sawah dengan sedikit memaksa.


Jiangzhou telah memasak bubur dan mengukus dua ubi jalar.


Jiang zhou memasukan ubi jalar yang panas kedalam kantungnya, dia memakannya sembari menarik kereta keledai.


Ketika sampai di Koperasi Pemasok dan Pemasaran Hasil Perairan, penjaga baru saja membuka pintu.


penjaga pintu itu melihat Jiang zhou datang, dan terlihat rambut hitam dan lebat Jiang zhou penuh dengan tetesan embun.


Penjaga pintu segera membukakan pintu dan mempersilakan Jiang zhou masuk.


"Astaga! Ini baru Jam berapa kamu sudah datang? Kamu begitu berjuang demi uang sebanyak itu."


Jiang Zhou tersenyum dan tidak menjelaskan apa pun.


Jiang zhou turun dari kereta keledainya, menggosok tangannya yang sedikit membeku, dan menyodorkan sebatang rokok pada penjaga pintu tadi.


Setelah itu, dia mengangkat belut yang sudah mati, melewati jembatan timbang, dan menerima bon untuk menyelesaikan tagihan.


Kali ini, dengan menyingkirkan belut sawah yang mati.


Jiang zhou mendapatkan 618 kilogram belut sawah.


Laba bersihnya adalah Rp.1.038.000.


Ketika Jiang Zhou pulang, dia membeli satu kilogram daging, dan dua potong tahu. Selain itu juga kereta keledainya di isi dengan ampas minyak yang berlimpah.


Saat dia tiba dirumahnya, kedua gadis kecilnya sedang bermain sendiri di halaman rumah.


Liu Mengli baru saja melunasi tagihan untuk sekelompok orang dan sekarang dia sedang bersiap untuk memasak.


“Aku pulang?”


Liu Mengli mendengar suara itu, dan segera melihat Jiang Zhou yang sedang menarik kereta keledai dari luar pintu.


Chloe dan Zoe segera menegakkan kepala kecil mereka.


"Ayah! Ayah sudah pulang?!"


"Gendong, gendong Zoe~"


Kedua anak kecil itu bergegas berlarian,dan melemparkan diri mereka ke pelukan Jiang Zhou.

__ADS_1


Dengan adanya kereta keledai, Jiangzhou juga tidak akan lelah lagi.


Jiang zhou menggendong kedua gadis kecilnya di kiri dan kanan tangannya, lalu menempelkan wajahnya ke kepala mereka dan menciumnya


"Lihat apa yang ayah beli?"


Jiang Zhou tersenyum dan menggoyangkan kertas yang berminyak di depan kedua anak gadisnya.


Chloe menutup mulutnya dan melompat dengan terkejut.


"Daging! itu daging!"


"Zoe, suka makan daging, aku menyukainya~"


memang kucing yang serakah.


Liu Mengli sedang mencuci panci, lalu melirik kesana ketika dia mendengar perkataan mereka.


"Kenapa membeli daging? Kita s3harusnya makan saja apa yang ada."


Dia merasa sedikit merasa sayang. "Di rumah masih ada makanan lain! Simpanlah sedikit uang untuk diberikan kepada ayah dan ibu."


"Masaklah daging kecap, tambahkan sedikit tahu dan telur di dalamnya. Masaklah yang banyak, dan berikan pada kakak ipar sedikit. Sore nanti juga kakakku juga akan datang, aku akan menyuruhnya membawakan sedikit untuk ibu dan ayah."


Jiang Zhou berdiri dan berjalan menuju kompor." Aku akan masak kamu sudah sibuk sepanjang pagi ini, kamu sudah bekerja keras."


Liu Mengli mendengar Jiang zhou berkata bahwa daging kecap ini akan dikirimkan kepada kedua orang tuanya dan kakak ipar.


Seketika Liu mengli tidak merasa sayang.


Benar Juga.


Oprasi akan membuat tubuh lemah, jadi harus makan makanan yang bergizi.


Liu Mengli juga tidak berebut dengan Jiang Zhou.


Saat ini, tidak ada keluarga yang memasak didesa ini.


Orang-orang dari desa sebelah berturut-turut datang kemari dan meringimkan belut sawah dan membeli ampas minyak.


Liu Mengli tidak bingung sama sekali, dan bergegas mengerjakan bisnisnya.


hanya saja...


Bau daging yang berasal dari gudang jerami menyebarkan aromanya di halaman.


Gumpalan daging berlemak itu menempel pada wajan besi, dan mengeluarkan suara berdesis, seketika membuat orang tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengendus.


patuh sekali.


Ada yang membuat babi kecap?!


Ini sungguh sanagat harum? !


Di masa sekarang, semua keluarga yang ada di desa Liqi, siapa yang tidak mengencangkan ikat pinggang masing-masing untuk bertahan hidup?


Makan saja dua kali sehari.


Siang hari ini, cuaca sangat terik sehingga bisa membuat orang pingsan. Namun, demi menghasilkan uang, tetap ada warga desa yang turun kesawah untuk berburu belut.


Mereka kemudian mengirimkan belut sawah itu kerumah Jiang zhou, sekalian menyelesaikan tagihan kemarin.


Namun akhirnya, mereka mencium aroma daging di seluruh halaman.


Benar-benar membuat orang menginginkannya!


Sebagian besar orang juga pasti sudah menyadari.


Keluarga Jiangzhou pasti menghasilkan banyak uang akhir-akhir ini!


Setelah seleaai memasak, Jiang Zhou menyuruh Liu mengli menutup pintu halaman sebentar.


Jiang zhou tidak berniat memamerkan kekayaannya.


Namun....


Dia juga tidak perlu menyembunyikannya dan menutupinya .


Sebenarnya, Jiang zhou telah siap melakukan bisnisnya di desa ini.


Orang-orang sesekali pasti akan pergi ke kabupaten.


Cepat atau lambat, mereka akan tau Jiang zhou menjual kembali belut sawah.

__ADS_1


Yang di inginkan Jiang zhou sekarang mendapatkan lebih banyak belut sawah sesegera mungkin, sebelum semua orang bereaksi.


__ADS_2