Kembali Ke Masalalu

Kembali Ke Masalalu
Siang Bolong Menggapku Buta?


__ADS_3

Daging babi kecap untuk makan siang.


Namun, ada tahu dan telur di dalamnya.


Panas, dengan lapisan minyak mengambang di atasnya.


Aromanya sangat harum sehingga membuat orang tak kuasa menelan air liur.


Jiangzhou membaginya menjadi tiga porsi.


Liu Mengli berkata: “Kamu makanlah dulu bersama anak-anak, aku akan mengantarkannya kepada kakak ipar."


Setelah berkata, dia bangun.


Jiang Zhou menahannya.


“Nanti aku saja yang pergi."


Jiang Zhou berkata sambil makan: “Nanti sore aku akan pergi ke desa Shuiwa untuk mengumpulkan belut sawah. Ada banyak belut sawah di sana, dua hari ini aku akan sering kesana, dengan begitu seharusnya bisa cukup."


"Nanti sore pasti ada orang datang kerumah mengantarkan belut sawah dan tagihan, kamu tinggal saja di rumah menjaga anak-anak."


Liu Mengli tidak membantah Jiang Zhou.


Jiang Zhou menghabiskan dua mangkok nasi dengan cepat.


Panci porselen berisi daging kecap di kemas dan diikat dengan kain katun, lalu di letakan di atas kereta keledai.


Setelah itu, Jiangzhou mengendarai kereta keledainya keluar.


Tidak lama setelah Jiang Zhou keluar, Jiang Ming kembali.


Dia bukan kembali untuk mengambil uang.


Rp.800.000 di sakunya sudah lebih dari cukup untuk biaya administrasi rumah sakit.


Kali ini, dia kembali untuk memberi tahu Jiang zhou.


Tapi Jiang Zhou tidak ada di rumah.


Dia hanya melihat Liu Mengli sedang duduk di halaman mengumpulkan belut sawah seorang diri.


Ada banyak suara berisik dihalaman, Jiang ming masuk dan membantu menjual amapas minyak sebentar.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya dengan susah payah, Liu mengli segera memberikan segelas air.


"Kakak, Jiang zhou pergi kedesa sebelah untuk mengumpulkan belut sawah. Ini adalah daging kecap, nanti kamu bawa pulang untuk makan bersama ayah dan ibu untuk asupan nutrisi."


Ini adalah panci porselen yang paling besar di rumah.


Di dalamnya ada sepanci penuh daging babi kecap.


Lebih banyak daging daripada tahu di dalamnya.


Jiang Ming melihatnya dan mengerutkan kening.


"Ini terlalu boros, memiliki uang banyak pun tidak boleh makan seperti ini."


Liu Mengli berkata sambil tersenyum:" Ayah akan menjalani operasi, tubuhnya butuh nutrisi. Ambilah, kalau tidak, Jiang zhou akan marah apadaku."


Setelah itu Jiang Ming baru menerimannya.


Dia berhenti sejenak dan berkata, "Pagi ini dokter mengatakan bahwa oprasi baru bisa di lakukan besok malam, dan uang harus di bayarkan sebelum oprasi."


JiangMing mengepalkan tangannya.


“Masih perlu dua jutaan... Jika benar-benar tidak bisa, aku akan pergi meminjam uang."


Dua jutaa..


Apakah Jiangzhou bisa mengumpulkannya?


Meskipun dia tahu bahwa Jiang Zhou sedang melakukan bisnis, Jiang Ming masih khawatir.


Uang ini.


Tidak mudah menghasilkannya.


“Kakak, aku akan membicarakan masalh ini pada Jiang zhou."

__ADS_1


Liu Mengli berkata, "Besok aku pasti pergi ke kota provinsi bersamanya. Kamu beritahu ayah, jangan khawatir, biaya oprasi pasti akan terkumpul."


Jiang Ming menganggukan kepalanya.


Dia akan pulang kerumahnya dulu.


Untuk bertanya pada istrinya apakah sudah berhasil meminjamuang tersebut.


……………


Jiang Ming berjalan menuju rumah.


Dalam perjalanan, dia bertemu Jiang Fuquan yang sedang membawa cangkul pulang.


Jiang Fuquan melihat Jiang Ming sekilas.


"eh, eh, eh, tunggu dulu! Kenapa tidak menyapa ketika melihat paman?"


Jiang Ming mengangkat kepalanya dan melirik ke arah Jiang Fuquan.


Dia tidak pandai bicara.


Dia jelas tahu bahwa Jiang Fuquan memanggilnya, pasti tidak ada hal baik. Namun tetap saja dia memanggil dengan patuh "Paman."


Jiang Fuquan menjadi marah ketika dia melihat ekspresi acuh tak acuh Jiang ming.


putra adik ketiga, semuanya bersikap seperti ini!


“Di mana ayahmu?"


Jiang Fuquan berkata dengan serius: "Beberapa hari ini tidak melihatnya, kakekmu mencarinya."


Jiang Ming mengertakkan gigi dan tidak berkata apa-apa.


Hal mengenai Ayahnya, Jiang Fuguo, jatuh dan patah kaki.


Jiang Fuguo melarang untuk memberitahu siapa pun.


Jiang Dagui tidak memiliki banyak uang, pada dasarnya dia memberikan semua kepada cucu kesayangannya, Jiang mingfan, untuk biaya sekolah.


Jika memberitahu pun, tidak hanya tidak dapat meminjam uang, juga akan membuat kakeknya, Jiang Dagui khawatir.


Jiang Dagui setiap kali menemui ayahnya untuk biaya sekolah cucu kesayangannya.


Jiang Ming tidak percaya sama sekali. Apakah butuh uang sebanyak itu untuk sekolah?


Saat ini, kaki ayahnya patah, dia tidak pergi menemui kakeknya untuk meminjam uang, tetapi kakeknya yang mencari dia.


“Ada apa kakek mencari ayahku?"


Jiang Ming bertanya dengan datar.


Jiang Fuquan tidak menyadari sama sekali ada yang aneh pada Jiang ming.


Lalu, dia berkata dengan wajah tegas: "Ini sudah awal bulan, Jiang Mingfan belum menerima biaya hidup untuk bulan ini! Bibi dan paman keduamu sudah memberi, hanya ayahmu yang belum memberikannya, tentu saja harus mencari dia.:"


Jiang Fuquan berkata.


Matanya tiba-tiba tertuju pada tas kain yang di bawa Jiang Ming.


itu memang tas kain.


Namun sebenarnya itu adalah panci porselen yang diletakan di atas kain persegi, lalu diikat secara diagonal, dan langsung dibawa.


Mulut tas terbuka.


Isi didalamnya dapat terlihat.


Mata tajam Jiang Fuquan melihat kilauan minyak didalamnya.


Saus kemerahan daging kecap, bahkan tahupun penuh dengan sup berminyak.


Benda bulat itu, terlihat seperti telur?


Bagus sekali!


Aromanya wangi sekali!


Langsung menembus ke dalam hidungnya!

__ADS_1


Jiang Fuquan sangat terkejut.


Ada apa dengan putra adik ketiga baru-baru ini?


Apakah mereka menjadi kaya satu per satu?


Tak di sangka sudah mampu makan daging kecap yang direbus dengan tahu dan telur.


Dia sangat ingin memakannya, tapi dia tidak bisa meminta Jiang ming memberinya makan beberapa potong.


Kemudian, dia berpura-pura melihatnya sekilas dengan santai dan berkata, "Apa itu?"


Jiang Ming berkata dengan dingin, "bukan apa-apa."


Jiang Fuquan terdiam, kedua bersaudara ini sama saja.


Siang bolong begini, menganggapnya buta!


“Sebagai cucu, jika ada makanan enak, harus memikirkan kakeknya."


Jiang Fuquan melihat pada daging kecap lagi dan berkata "Akhir-akhir ini, kakekmu selalu khawatir selalu kekurangan makanan. Bukankah dalam tas kamu ini adalah babi kecap? Anak muda, baru umur berapa? Bisa-bisanya makan makanan mahal! Kakekmu hanya pernah makan beberapa kali saja seumur hidupnya."


Tentu saja Jiang ming mengerti maksudnya.


Jika hal ini terjadi pada hari biasanya, dia tidak keberatan untuk berbagi. Memang benar Jiang Dagui adalah kakeknya sendiri, tidak boleh menyembunyikan makanan enak.


Tapi kali ini, Jiang Ming sangat marah dan kesal.


Begitu mendengar perkataan Jiang Fuquan, dia bertindak seolah tidak mendengarnya!


“Paman, daging babi kecap ini bukan untukku."


Jiang Ming langsung saja mengurungkan niat pamannya "Paman, apakah masih ada urusan lain? Aku sedang terburu-buru."


Jiang Fuquan terdiam.


Ada apa dengan putra adik ketiganya ini?!


Jahat sekali!


"Tidak ada yang lain, hanya masalah biaya hidup! Jiang mingfan, masih perlu makan! Aku sudah tidak bisa menunggu lagi, kakekmu sudah berbicara, saat kamu pulang, beritahu ayahmu, jangan bersembunyi lagi, dan selalu kehilangan jejak ketika tiba saatnya mengambil uang. Kakekmu sedang marah, harus cepat dalam beberapa hari ini!"


Jiang Ming benar-benar marah!


tidak dapat menemukan ayahnya, Jiang Fuguo, tetapi kenapa pamannya tidak berpikir telah terjadi sesuatu pada ayahnya?


Begitu banyak orang melihat dia membawa ayahnya, Jiang Fuguo, ke kota kabupaten untuk berobat.


Jika dia benar-benar ingin bertanya, bagaimana mungkin dia tidak tahu? !


Wajah Jiang Ming menjadi merah karena marah.


Jiang Fuquan tiba-tiba merasa takut.


Dua bersaudara ini, kenapa melihat orang dengan tatapn yang sama?


Sungguh membuat orang taku.


“Tidak ada.”


Hanya dua kata yang diucapkan Jiang Ming.


Jika Jiang zhou yang menghadapi hal ini, pasti akan memarahi pamannya.


Setelah Jiang Ming selesai berbicara, dia menambahkan kata-katanya dengan datar, "Tidak satu sen pun!"


Setelah selesai berbicara.


Dia pulang menuju rumah sambil menjinjing daging babi kecap.


Jiang Fuquan berdiri di tempat dengan cangkul dibahunya, butuh waktu lama untuknya tersadar kembali.


“Anak sialan!”


Jiang Fuquan sangat marah sehingga dia mengutuk lagi: “Anak sialan ini, perkataan dari ayah pun tidak didengarnya! Ada apa dengan putra adik ketiga? Semua bersikap seperti ini! Tidak punya sopan santun, dan tidak tahu berbakti! Hal semacam ini jika terjadi dijaman dulu, pasti akan di tembak mati."


Dia memaki dengan emosi sambil berjalan pulang.


Sementara itu Jiang Ming bergegas pulang kerumah.

__ADS_1


__ADS_2