
Sosok pria yang baik.
Saat ini, perhatian semua orang mulai tertuju kesana.
Seseorang dari ladang naik ketepi dan memegang segenggam rumput sambil menyeka kakinya yang berlumpur, dan berjalan menghampiri Jiang zhou karena penasaran.
"Apakah benar kamu menerima belut sawah? Berapa harga setengah kilogramnya?"
Jiang Zhou yang sedang memegang gayung air segera meletakannya kekeranjang ketika seseorang bertanya padanya. Lalu segera tersenyum.
"Tentu! setengah kilogram belut sawah seharga Rp.1.200, aku kan ambil berapapun yang kamu berikan, bayaran tunai."
mendengar perkataan tersebut tentu membuatnya tidak berpikir panjang.
Lalu orang itu kembali keladangnya dengan bahagia sambil membawa uang untuk bertemu anak-anaknya.
Dia mengertakkan gigi dan berkata, "Ya! Di ladang ada banyak sekali, kamu tunggu disini, sekerang aku akan pergi menangkapnya."
Lalu dia kembali keladang dengan gembira.
Jiang Zhou juga tidak terburu-buru.
Semua ini harus dikerjakan dengan penuh kesabaran tidak perlu tergesa-gesa.
Dengan usaha dan hati yang sabar, semua ini akan menjadi besar suatu saat.
Perkataan Jiang Zhou memang benar.
petani tersebut pergi keladang untuk menangkap satu setengah kilogram belut sawah bersama istri dan dua lainnya, dan benar-benar mendapat Rp.3.600 dari Jinag zhou.
Dengan uang kontan di tangannya, dia berpikir ini semua benar-benar nyata!
Penduduk desa Shuiwa bahkan lebih miskin dibandingkan penduduk desa Liqi.
Tidak mudah untuk pergi ke kota!
Hanya setiap Imlek ketika mereka menyembelih babi, baru bisa mendapatkan penghasil untuk keluaraga.
Dalam hari-hari biasanya, mereka hanya bisa menggunakan telur untuk ditukarkan.
Mendapatkan uang adalah hal yang sangat membahagiakan bagi mereka.
Bertani? !
bercocok tanam bisa dilakukan nanti!
Hari ini juga seluruh keluarganya harus menangkap belut sawah dan menjualnya!
Kemudian.
Setelah mengumpulkan beberapa kilogram belut satu demi satu, warga di Desa Shuiwa yang terus melihat fakta ini akhirnya mulai mengerti.
Jiang Zhou memang benar-benar memegang janjinya, semua sesui dengan apa yang dia katakan.
setengah kilogram belut sawah dihargai senilai Rp.1.200.
Itu uang sungguhan!
"Ini! Aku punya 2,5 kilogram."
"Aduh! Cepat ambil 1,5 kilogram ini dahulu! Lalu aku akan mengkapnya lagi, Nak jangan buang-buang waktu cepat tangkap belut."
"Zhang Gouzi, jangan datang ketempat ku, jika berani menyentuh belutku, aku akan bertarung denganmu!"
...
Matahari pun terbenam.
Ketika langit berangsur-angsur menjadi gelap, Jiang Zhou akhirnya mengumpulkan delapan keranjang penuh.
Pergerakan pasarnya jauh lebih ketat dari yang dia bayangkan.
Dia untuk sementara meminta orang-orang dari Desa Shuiwa untuk membantu membeli empat keranjang dan sebuah gerobak keledai.
Kalau tidak, pasti tidak bisa ditampung lagi.
Dia menghabiskan uang Rp.180.000.
Tapi semuanya sepadan.
Jiangzhou menyewa seorang penduduk desa dari Desa Shuiwa untuk membantunya mengemudikan kereta pulang.
__ADS_1
Dia memberinya Rp.2.000
perjalanan ini menghabiskan waktu setengah jam lamanya.
Tidak begitu jauh.
Ketika dua kereta keledai tiba di depan pintu rumah, keadaan di desa sangat gelap, hanya tersisa satu lampu dari kereta mereka yang menyala.
Jiang Zhou melompat turun dari kereta keledai, lalu membayar pria itu, lalu mengetuk pintu.
"tok... Tok~"
Namun, sebelum dia mengulurkan tangan untuk mengetuk pintu lagi, dia mendengar suara pintu yang terbuka.
malam itu sangat gelap, disinari cahaya bulan dan sedikit cayaha lampu.
terlihat wajah polos dan cantik Liu mengli.
Terlihat kekhawatiran dimatanya.
Melihat Jiangzhou kembali, Liu mengli pun menjagi sedikit tenang.
"Kamu sudah pulang. "
Dia berkata dengan lembut.
Jiang Zhou mengangguk dan menunjuk ke kereta keledai di luar.
"Jumlah belut di desa Shuiwa benar-benar tidak terduga. Aku bahkan membeli kereta keledai lagi."
Zhou membawa kedua keledai itu ke halaman rumahnya dan mengikatnya.
lalu kemudian menaruh semua belut sawah di keranjang besar dan kecil di wadah yang lain.
Jiang zhou khawatir belutnya mati lemas.
tentu saja akan mengakibatkan kerugian besar apabila belutnya mati.
"Aku menyiapkanmu makanaan di dalam panci, apa sekarang kamu ingin makan?"
Liu Mengli bertanya.
"Aku ada urusan, dan harus pergi dan jika sudah pulang aku akan memakannya."
Paman Zhang merupakan pengurus hewan ternak.
Keledai, sapi, domba dan sejenisnya.
Dia sangat hebat dalam hal itu.
Mengendarai keledai sendirian sudah termasuk berab bagi Jiangzhou.
Jika tambah satu lagi, mungkin bahkan akan sulit keluar dari rumah.
Liu Mengli mengerutkan kening.
“Baiklah, cepet pergi dan segera kembali! Hati-hati dijalan."
Jiang Zhou mengangguk kepala dan hendak pergi.
Liu Mengli dengan cepat memanggilnya lagi.
“Bawalah lampu teplok ini bersamu."
Jiang Zhou mengambilnya lampu teplok tersebut dan menyuruh Liu mengli tidur lebih awal, dan Jiang zhou lekas pergi ke rumah paman Zhang.
Liu Mengli melihat berbagai wadah yang sudah memenuhi ruangan.
Memandang langit yang gelap, dan hatinya merasa sedikit khawatir.
pada zaman ini.
keamanan masih sangat rendah.
Apalagi sejak memasuki ekonomi pasar, setiap rumah sudah mulai bisa berbisnis, dan selalu mendengar segala macam berita.
Sebenarnya.
Kekhawatiran Liu Mengli memang benar.
Jika kamu menanyakan kapan era-era yang paling terbuka pada sejarah ini.
__ADS_1
Jawabanya adalah di era sekarang ini.
baru saja meninggalkan perekonomian terencana dan memasuki perekonomian pasar.
Di zaman ini adalah saat untuk eksplorasi.
Beberapa orang yang pemberani, mulai membeli dan menjual untuk mendapatkan keuntungan, akan menjadi ada sasaran beberapa berandalan di jalanan.
Saat ini, tidak ada internet atau alat pelacak yang kuat.
Berapa banyak orang yang telah tewas, namun selama mayatnya tidak ditemukan, maka belum bisa diindentifikasi sebagai kasus pembunuhan.
Perampokan dan pembunuhan.
para penjahat sengaja mengincar orang kaya.
Bukankah hal ini lebih bahaya daripada berbisnis?
Inilah alasannya Jiang Zhou tidak memperlihatkan kekayaannya.
Bahkan, saat berbisnis sampai sekarang, warga desa hanya tau Jiangzhou menghasilkan uang dengan menjual belut, tapi tidak ada yang tau jumlah pastinya.
Ketika Liu Mengli mengikuti Jiang Zhou ke kabupaten, Liu mengli mendengar beberapa berita yang disampaikan diradio.
Padahal itu semua terjadi di sekitar ibu kota provinsi dan wilayah metropolitan.
masih jauh dari kota kecil pedesaan mereka.
Namun...
Bagaimana dia bisa tenang?
Terangnya cahaya bulan.
Namun hatinya diselimuti perasaan khawatir.
Jiangzhou bernegosiasi dengan Lao Zhang, Dia akan di bayar sebesar Rp.10.000 untuk setiapkali perjalanan.
Lao Zhangtou sudah tua dan tidak pergi keladang lagi, tetapi masih bisa mengendarai kereta keledai.
Uang sebesar Rp.10.000 sudah cukup untuk biaya hidup selama satu bulan!
Jiang Zhou membayar uang di muka, membahas waktu dengannya, kemudian pulang membawa lampu teplok.
Namun.
Minyak dari lampu teplok adalah minyak yang di tambahkan terakhir kali.
Selama ini sering digunakan di malam hari, dan Jiang zhou lupa untuk membelinya lagi.
saat ini, di tengah jalan, lampu teplok benar-benar gelap.
namun Jiang Zhou sedikit pun tidak merasa takut.
masih ada sedikit cahaya bulan, dan lumayan terang.
Meskipun terjadi kekacauan pada tahun 1980-an, tidak ada kasus perampokan atau pembunuhan di desa-desa sekitar Desa Liqi.
Jiang Zhou membawa lampu teplok dan pulang dengan cepat.
Dia berjalan lebih cepat dari ujung desa ke rumah, hanya menghabiskan waktu sepuluh menit.
Saat ini, tidak ada ketepatan waktu yang akurat.
Jiang Zhou hanya bisa memperkirakan dengan melihat posisi bulan.
Sekitar pukul 09:00 malam
Masih tidak terlalu larut.
Pulang untuk makan, mandi dan bangun besok pagi.
Jiang Zhou mulai berpikir dalam benaknya.
Akhirnya dia sampai di depan pintu rumah.
Sebelum pergi, Jiangzhou meminta Liu mengli untuk tidak mengunci pintu.
Sekarang dengan sedikit dorongan, pintu itu berderit dan terbuka.
Halamannya sudah sangat gelap gulita.
__ADS_1
Diam-diam...