
Hari sudah larut.
Jiangzhou awalnya berencana pergi ke koperasi pemasok dan pemasaran hasil perikanan untuk melihat situasi.
Namun, tempat Koperasi Penyediaan dan Pemasaran Hasil Perairan benar-benar terlalu jauh dari sini.
Kantor perekam vidio berada di pinggiran kota kecil di bagian utara kabupaten.
Sedangkan koprasi penyediaan dan pemasaran hasil perairan terletak di bagian selatan kabupaten.
Jarak antara selatan dan utara ini, di perkirakan akan memakan waktu kurang lebih 40 menit jika di tempuh sambil mendorong kereta kayu.
Di tambah waktu yang tertunda, dia pasti akan terlambat sampai di rumah.
Di rumah sudah tidak ada lagi yang di makan, Liu mengli dan anak-anak juga pasti akan khawatir.
Yang terpenting adalah, jika orang-orang desa mengantarkan belut dan menagih uang, sementara dirinya tidak ada di rumah, pasti akan menimbulkan kesalahpahaman.
Jiang Zhou berpikir sejenak.
Lagi pula, sekarang dia sudah membeli rokok.
Besok dia akan bawa belut ke pintu masuk koperasi pemasok dan pemasaran hasil perairan, lalu berbohong dan menjual cerita yang menyedihkan, sambil menjejalkan dua bungkus malioboro. Tidak ada hal yang tidak bisa di lakukan.
Dia mendorong kereta kayunya dan bersiap pulang dari utara.
Ketika sampai di pertigaan jalan, dia mencium aroma minyak yang menyengat.
Ini adalah aroma minyak kacang.
Minyak canola harus menunggu satu bulan lagi untuk di prodoksi.
Minyak kacang tanah ini pada musim ini akan di pasok ke koperasi pemasok dan pemasaran untuk di jual.
Dia punya ide di dalam benaknya.
Jiang Zhou mendorong kereta kayunya dan berjalan menuju pabrik kilang minyak.
……………
Penjaga pintu pabrik adalah seorang pria paruh baya.
Pada saat ini, pria itu sedang bersandar di pintu dengan malas dan tampak bosan.
Melihat seorang pemuda menarik kereta kayu dari kejauhan, dia tiba-tiba menjadi bersemanagat.
"Berhenti! Apa yang sedang kamu lakukan?!"
Amarah orang akan mereda saat berhadapaan dengan orang yang tersenyum ramah.
Jiang Zhou langsung tersenyum, berjalan ke depan dan menyerahkan sebatang rokok.
“Paman, aku di sini ingin menanyakan sesuatu.”
Anak pintar.
Begitu dia melihat rokok itu diserahkan, mata penjaga pintu langsung membelalak!
Ini...
Malioboro!
Astaga!
Wajah penjaga pintu itu yang awalnya kaku tiba-tiba menunjukkan senyuman.
Dia mengulurkan tangan dan mengambilnya dengan ekspresi ramah di wajahnya "Katakan padaku, ada masalah apa? Aku akan memberitahukan semua yang kuketahui kepadamu! "
Jiang Zhou berkata" Paman, apakah akhir-akhir ini pabrik minyak kita mengektrasi minyak? Minyak kacang?"
Penjaga pintu itu menyeringai. .
“Ya, akhir-akhir ini canola belum matang, sehinga yang di hasilkan adalah minyak kacang. Koprasi pemasok dan pemasaran yang menginginkanya."
Penjaga itu melihat kereta kayu Jiang zhou dan melihat sebuah keranjang anyaman.
"Ada apa? kamu ingin mengekstraksi minyak? "
Jiang Zhou menggelengkan kepalanya.
“Tidak, aku hanya ingin bertanya, apakah ampas minyak kacang di pabrikmu ini tidak di jual?"
Jiang Zhou bertanya sambil tersenyum.
ampas minyak.
Ini adalah bahan limbah yang tersisa setelah ekstraksi minyak.
Sisa minyak canola di sebut ampas minyak canola dan sangat baik untuk pupuk kandang.
Setelah setiap keluarga selesai mengestrak minyak, mereka menghancurkan sisa ampas canola dan langsung mencampurkan ke dalam tanah, agar tahun depan canola dapat tumbuh tinggi dan kuat.
Namun hewan peliharaan tidak bisa memakan ampas minyak canola, karena jika memakannya
terlalu banyak hewan ternak akan keracunan.
Namun, tujuan kunjungan Jiang Zhou kali ini adalah ampas minyak kacang.
Ampas kacang sama dengan ampas canola, perbedaannya adalah ampas minyak kacang bisa di makan babi.
Ini benar-benar makanan berprotein tinggi.
__ADS_1
Setiap hari ambil sedikit, lalu campurkan dengan rumput atau sejenisnya, dan masak untuk dimakan babi.
Dalam dialek pedesaan disebut penggemukan babi.
Setiap keluarga yang memelihara babi sepanjang tahun pasti ingin babinya gemuk.
Jadi.
Banyak penduduk desa, termasuk Desa Liqi, membeli ampas minyak kacang untuk dimakan babi.
Hal ini sangat efektif.
Setelah babi memakannya, babinya akan bertambah gemuk dalam beberapa minggu.
Sayangnya, sebagian besar desa pada umumnya menanam tumbuhan canola.
Jadi di desa kekurangan ampas minyak kacang.
Oleh karena itu, permintaan ampas minyak kacang di setiap rumah tangga sangat besar.
Setiap tahun ada orang yang mengendarai mobil untuk menjual barang ini. Jiang zhou masih ingat, harganya Rp. 280 per kilogramnya, tapi permintaan lebih besar daripada persediaannya.
Jiang Zhou berpikir.
Setiap kali dia berangkat dari rumahnya menuju kabupaten, dan menempuh perjalanan yang jauh hanya untuk menjual barang-barang demi mendapatkan barang dari orang-orang di kota.
Namun, jika dia membawa sesuatu kembali dan menjualnya di desa, bukankah dia akan menghasilkan uang dua kali perjalanan?
Dengan cara ini, efisiensi dalam menghasilkan uang meningkat.
Penjaga itu menyeringai ketika mendengar Jiang Zhou ada di sini untuk membeli ampas kacang.
"Mengapa kamu ingin membeli barang itu? Barang semacam itu memang ada di pabrik, tapi tidak di jual eceran."
Penjaga pintu berkata "Banyak orang yang datang untuk bertanya, dan mereka semua hanya ingin membeli 5 sampai 10 kilogram. Karena pabrik terlalu kerepotan, jadi mereka tidak menjualnya. Lebih baik untuk menyimpannya jika waktunya tiba nanti semuanya akan di jual kepertenakan babi."
"Tidak. Dijual?"
Jiang Zhou mengerutkan kening, jelas sedikit kecewa.
Namun.
Dia berpikir sejenak, lalu mengeluarkan sebatang rokok lagi,dan menyerahkannya kepada penjaga pintu.
"Paman, apa tidak ada cara lain? keluargaku memelihara banyak babi, apakah ada cara untuk bisa menjualnya kepadaku? Sedikit saja aku bisa menyimpannya."
Jiang zhou bertanya dengan serius.
Tidak dijual untuk pengecer.
benar-benar karena merepotkan.
Pda zaman ini, setiap keluarga memelihara seekor babi, berapa banyak yang mereka beli?
Di samping itu, pabrik minyak itu ada di kabupaten, siapa yang punya waktu luang datang jauh-jauh hanya untuk membeli beberapa kilo ampas minyak.
Oleh karena itu
Pabrik pabrik sudah lama memiliki aturan.
Mereka tidak akan menjual ampas minyak kepada pengecer yang hanya membeli sedikit
Barang langsung di taruh di pabrik, menunggu peternak babi yang datang mengambil.
Meski harganya tidak mahal, namun praktis bagi mereka.
Ketika penjaga pintu melihat Jiang Zhou menyerahkan sebatang malioboro, dia mengertakkan giginya dan tersenyum tak berdaya.
“Kamu ini, benar-benar tau bagaimana cara bersikap.''
Dia mengambilnya dan berkata, "Tunggulah, aku akan masuk ke dalam dan menanyakannya untukmu.''
Jiang Zhou menyeringai dan berkata, "Baiklah! Terima kasih, paman!"
Mereka semua mengatakan harus lembut kepada semua orang, ucapan ini memeng benar.
paman penjaga pintu itu mengambil rokok Jiang zhou, setelahnya masuk ked
Dia memiliki senyuman di wajahnya.
Jiangzhou merasa lega ketika melihatnya.
“Paman, bisa?”
Jiang Zhou bertanya.
Penjaga itu langsung menyeringai "Sudah pasti! Pemimpin kami mengatakan bahwa jika kamu benar-benar ingin membelinya, 50 kilogram atau lebih harganya Rp. 120 per satukilogramnya. Jika membeli 150 kilogram harganya Rp.80 per kilogramnya. Anak muda, Berapa banyak yang kamu inginkan? Jika kamu benar-benar tidak menginginkan sebanyak itu, tidak apa-apa. Aku akan membantumu membicarakannya."
bagus sekali!
Ketika Jiang Zhou mendengar harganya, dia sangat senang hingga dia hampir tidak bisa menahan tawanya!
Di desa, mereka menjualnya Rp.280 per kilogram
Kembali dari pabrik minyak, dia berpikir jika membeli 150 kilogram atau lebih, harganya menjadi Rp.80 perkilogram
selisih keuntungannya adalah Rp 200 per kilogram.
Jiang Zhou makan tiga pancake dan sekarang dia tidak merasa terlalu lapar.
Kemudian dia tersenyum dan berkata kepada penjaga pintu "Paman, kalau begitu beri aku 150 kilogram"
__ADS_1
Penjaga pintu itu tersenyum, tatapan matanya yang melihat Jiang zhou agak sedikit lebih menghargai.
Meskipun menggunakan kereta kayu, menarik 150 kilogram sekaligus bukanlah hal yang mudah.
“Anak baik, kamu tidak takut susah. Aku akan membantumu untuk memuatnya."
kata penjaga itu.
Dia berdiri dan membawa Jiang Zhou ke gudang.
ampas minyak kacang ditumpuk di gudang.
Setiap potong ampas minyak beratnya 5 kilogram. Berarti 150 kilogram ada 30 potong ampas minyak.
Semua ampas minyak itu ditumpuk rapi di kereta kayu.
Jiang Zhou tidak ragu-ragu, dia mengeluarkan uang itu dan menyerahkannya kepada akuntan yang mengikutinya.
"Ini Rp.12.000 tolong di terima."
Meskipun hanya Rp.12.000. Jiang Zhou tetap menyerahkannya dengan kedua tangannya.
Tindakan ini membuat akuntan yang mengikutinya merasa sedikit lebih baik.
“Baik, aku akan membuatkan fakturnya untukmu"
kata akuntan itu dan dia pun memberikan faktur kepada Jiang Zhou.
Setelah mengambil faktur, Jiang Zhou memasang tali di punggungnya, dan kemudian, mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengangkat kereta kayu itu agar berdiri.
Dia menghela nafas lega.
ternyata kereta kayu itu agak berat, tapi masih bisa di atasi oleh Jiang zhou.
Jiang zhou mendorong kereta kayunya, jejak kakinya yang berat menapak di jalanan dan berangsur-angsur menghilang di persimpangan.
…………………………………………
Jiang Zhou membutuhkan waktu satu setengah jam untuk pulang kali ini.
Barang seberat 150 kilogram.
Pada awalnya memang mudah, tapi semakin lama semakin terasa seperti ada gunung kecil di pundaknya.
Dia mengertakkan giginya, tertegun dan menghela nafas kuat-kuat. Begitu samapai di depan pintu halaman, Jiang zhou gemetar karena kelelahan dan duduk di ambang pintu.
Liu Mengli sedang memasak.
Ketika dia mendengar suara Jiang Zhou, dia segera berbalik dan melihat ke luar halaman.
Begitu dia melihatnya, dia melihat Jiang Zhou, yang basah kuyup karena kelelahan dan duduk di depan pintu untuk mengatur napas.
Dia terkejut, dia dengan cepat mengambil handuk dan baskom berisi air hangat, kemudian cepat-cepat menghampiri Jiang zhou.
“Ada apa?”
Liu Mengli bertanya dengan gugup, mengira sesuatu telah terjadi.
Namun, ketika dia mendongak dan melihat dua tumpukan besar ampas minyak kacang di kereta kayu, dia pun langsung mengerti.
"Benda ini sangat berat. Mengapa kamu membawa pulang begitu banyak? "
Liu Mengli dengan cepat memeras handuk hingga kering dan menyerahkannya pada Jiang zhou.
“Bersihkan dirimu, jangan sampai masuk angin."
Jiang Zhou mengambilnya sambil tersenyum, menyekanya dengan santai di tubuhnya, dan berkata "Saya membelinya dari pabrik seharga Rp.80 per kilogram. Banyak orang di desa kita yang memelihara babi, ampas minyak ini seharusnya akan laris, Sebentar lagi kamu akan memiliki pakaian dan sepatu."
Saat ini.
Liu Mengli hanya merasa hatinya seperti tersentuh.
Berjalan pulang dari kabupaten.
Dengan barang seberat 150 kilogram.
Jiang zhou sangat kelelahan bahkan tangannya yang memegang handuk pun gemetar.
Hanya untuk membeli pakaian dan sepatu untuk dirinya dan anak-anak.
Liu mengli menjadi sedikit ingin menangis.
Dia menatap Jiang Zhou dengan bibir terkutup dan untuk sesaat tidak tau ingin berkata apa.
Jiang Zhou tidak memperhatikan suasana hati Liu Mengli.
Jiang zhou benar-benar lelah.
Ini mungkin menjadi yang pertama kalinya untuk Jiang zhou memindahkan barang barang yang begitu berat yang seperti itu. Sepertinya dia akan menjadi terbiasa setelah melakukannya.
Setelah menyeka tubuhnya dengan air hangat, kemudian mengambil semangkuk besar air yang di berikan Liu mengli. Dan meminum tiga mangkok berturut-turut baru lah Jiang zhou mendapatkan kembali kekuatannya.
Dia menyeringai, berdiri, dan mendorong kereta kayunya ke halaman.
Liu Mengli menatap wajahnya yang memerah karena mengerahkan seluruh tenaganya.
Akhirnya, dia tidak dapat menahannya lagi dan berjalan mendekat dan berkata, "Jika punya uang bisa berfoya-foya sedikit, jika tidak punya berhematlah. Hari-hari sebelumnua sangat sulit, tapi aku masih bisa melewatinya bersama Chloe dan Zoe. Kita bisa melakukan hal yang sama kelak."
"Kamu seperti ini benar-benar merepotkanmu."
Kata-kata ini dipenuhi dengan kekhawatiran dan sakit hati yang bahkan tidak di sadari oleh Liu mengli.
__ADS_1