Kembali Ke Masalalu

Kembali Ke Masalalu
Jantungnya Berdebar Karena Di Tatap


__ADS_3

Jiang Zhou memarkir kereta kayunya dan menoleh ke arah Liu mengli dengan senyuman acuh tak acuh.


"Tidak lelah, setelah dua hari juga nanti terbiasa.''


Jiang Zhou berkata" Sebelumnya, adalah sebelumnya. Aku adalah brengsek bodoh yang membuatmu dan anak-anak menderita. Kehidupan yang dulu bukan lah kehidupan manusia. Aku bersalah padamu.''


''Sekarang berbeda."


Jiang Zhou berkata seraya menatap Liu mengli lekat-lekat,dengan ekspresi yang tulus dan lembut, "Aku bilang mulai sekarang aku ingin kamu Chloe dan Zoe makan dan berpakaian yang baik, ucapanku ini serius.''


Liu Mengli jadi ingin menangis.


Mata Jiang Zhou sepertinya memancarkan kehangatan.


Jantungnya berdegup kencang saat melihatnya.


"Kamu pasti lapar. Istirahatlah dan aku akan memasak.."


Liu Mengli buru-buru berbalik dan berjalan menuju dapur.


Jiang Zhou melihat punggung Liu mengli yang sedikit tidak wajar, dan merasakan emosi aneh di hatinya.


Jiang zhou telah menjalani dua kehidupan.


Dalam kehidupan sebelumnya, dia telah melihat banyak wanita dalam perjalananya samapai ke titik tertinggi.


Baik yang lembut, seksi, atau pemalu dan menawan.


Namun.


Belum pernah ada satu pun dari mereka yang bisa membuat dirinya merasa gembira dan jantungnya berdebar seperti sekarang.


Jiangzhou mengetahui dengan jelas masalah ini.


Dia ingin Liu Mengli menerima dirinya yang sekarang.


Itu sama saja dengan mimpi.


Luka selama bertahun-tahunun ini tidak dapat di hapuskan hanya dengan beberapa hari saja.


Tetapi.


Dia ingin melakukannya.


Setelah terlahir kembali, Jiang zhou tau persis apa yang dia inginkan. Selama tujuannya baik tidak masalah jika jalannya berliku bukan?


Saat sedang beristirahat.


Tiba-tiba terdengar suara orang menjajakan barang dari luar pintu.


"Tahu! jual tahu, Rp.1000 sepotong, putih dan empuk. Tahu terbuat dari kedelai kami sendiri sanagat lezat!"


Ini adalah penjual tahu dari desa sebelah.


Keluarga yang telah membuat tahu selama beberapa generasi.


Mereka menggunakan kedelai yang di tanam sendiri. Satu gigitan saja, mulut sudah dipenuhi dengan aroma kedelai.


Tahu ini benar-benar berbeda dengan tahu di generasi selanjutnya.


Jiang Zhou sangat sibuk hari ini sehingga dia lupa membeli bahan makanan ketika dia kembali.


Ketika mendengar teriakan penjual tahu,


Jiang zhou pun berdiri dan berjalan keluar.


"Di sini! ada yang mau membeli tahu!"


Jiang Zhou berteriak.


Penjual tahu itu adalah seorang pemuda.


Usianya kira-kira awal dua puluhan.


Sangat cokelat.


Ketika dia tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang putih, membuatnya terlihat cerah serta ramah.


“Kawan, apakah kamu mau membeli tahu? harganya Rp. 1000 sepotongnya!”


pemuda itu bertanya.


Jiang Zhou menganggukan kepalanya.


Dia berjalan mendekat, mengangkat kain kasa dan melihatnya.


Seperti yang di harapkan.


Tahunya yang berwarna putih dan empuk, jika didekati dan dicium, aroma kacang kedelai langsung memenuhi hidung.


Setelah terlahir kembali, Jiangzhou makan daging dan sayur-sayuran liar.


Satu-satunya yang belum pernah dia makan adalah tahu dengan rasa kedelai yang berlimpah.


“Beri aku dua potong.”


Jiang Zhou sekarang punya uang di sakunya dan tidak pelit untuk membelanjakannya.


“Baiklah!”


Pemuda penjual tahu itu dengan cepat memotong dua potong tahu berbentuk persegi.


Namun, Jiang Zhou berdiri di sana dan melihat penjaja tahu itu melihatnya dengan tatapan penuh semangat.


Dia sedikit bingung, yang pertama terlintas di pikirannya adalah apakah dia tidak perlu membayarnya


Tapi Jiang zhou baru saja memberikan uangnya!


Pikirannya menjadi kosong selama beberapa detik, baru kembali tersadar.


Baiklah.


Dia sendiri lupa tentang hal itu.

__ADS_1


Saat ini, saat berjualan tahu, pada umumnya mengharuskan pembeli membawa baskom sendiri.


Jiang Zhou tersenyum dan berkata, “Tolong tunggu sebentar, aku akan mengambil baskom.”


sambil mengatakan itu di berjalan masuk ke halaman


Pemuda itu memegang nampan dan mengikuti Jiang zhou masuk kedalam.


Sekilas, dia melihat gerobak diletakkan di halaman.


Matanya tiba-tiba berbinar.


"Hei! Kawan, bolehkah aku bertanya, apakah ini ampas minyak kacang?"


Jiang Zhou keluar dengan membawa mangkok.


Jiang zhou tersenyum saat mendengar pertanyaannya, "Ya, aku baru saja membawanya dari kabupaten hari ini."


"Banyak sekali? Apakah kamu berencana untuk menjualnya? "


Jiang Zhou berkata" Ya, Rp 280 per kilogram. aku baru saja kembali dan belum sempat menjualnya."


"Apakah, kamu mau?"


Pemuda itu menganggukan kepala dengan cepat.


"Aku menginginkannya, aku punya dua ekor babi di rumah. setengah tahun lagi aku akan menikah dan aku ingin menyembelih babi-babi itu, takutnya saat akan di sembelih masih kurang gemuk! Ibuku menyuruhku mencari penjual ampas minyak kacang, tapi sayang aku tidak dapat menemukannya."


Ketika membicarakan rencananya untuk menikah, wajah pemuda hitam itu tampak tersipu malu.


Dia menggaruk kepalanya dan berkata, "Berapa kilogram yang kamu punya? aku ingin membeli 50 kilogram, apakah boleh? "


Ketika Jiangzhou mendengar ini, dia merasa senang.


“Tentu saja boleh!”


sambil bicara, Jiang zhou mengambil tahunya terlebih dahulu dan meletakannya di mangkok, lalu membawa pemuda penjual tahu itu menuju kereta kayunya.


"Satu potong ini beratnya 5 kilogram. aku akan memasukkan 10 potong ke dalam tas nilon untukmu dan mengikatnya menjadi satu bundel dengan tali rami. jadi, kamu bisa membawanya pulang dengan sepedamu. "


Tangan dan kaki Jiang Zhou sanagat gesit.


Saat ini dia mengemas 10 potong ampas minyak dengan gesit dan memasukanya kedalam tas nilon.


Kemudian dengan hati-hati mengikat mulut tas dengan tali rami.


Akhirnya, Jiang zhou mengertakkan gigi untuk terakhir kalinya, lalu mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengangkatnya dan meletakanya di kursi depan sepeda penjual tahu.


Tas tersebut di gantung di bagian tengah sepeda, membuat kedua bagian menjadi tenggelam karena tertekan ke bawah. Bisa dibilang sudah seimbang seperti ini.


pemuda itu menghela nafas lega, akhirnya bisa membeli ampas minyak kacang.


Benar Juga.


Di musim semi, semua orang sibuk bertani.


Siapa yang punya waktu luang untuk menjual ampas minyak?


Terlebih lagi, pabrik minyak sama sekali tidak akan menjual 5 ataupun 10 kilogram padamu.


Jiang Zhou menyimpan uangnya itu, dan tidak bisa menahan senyum ketika dia melihat dua pertiga dari ampas minyaknya yang berkurang.


Ck.


hanya dalam waktu sekejap sudah menghasilkan Rp.14.000


Sepertinya menjual ampas minyak kacang, masih bisa menghasilkan uang untuk sementara waktu.


Liu Mengli juga berdiri di samping saat ini.


Dia melihat kereta kayu kosong itu dengan takjub dan menyadari ternyata ampas minyak sangat mudah di jual.


Uang sebesar Rp.14.000 benar-benar masuk ke saku dalam sekejap mata.


Liu Mengli diam-diam mengambil keputusan.


Tentu saja menghasilkan uang akan lebih cepat jika di lakukan oleh 2 orang.


Meskipun dia tidak mengetahui cara menghasilkan uang...


Namun, Liu mengli masih bisa mengeluarkan tenaga.


Singkatnya,Liu mengli tidak bisa membiarkan Jiang Zhou bekerja keras sendirian.


Setelah mengambil keputusan, dia bersiap untuk memasak.


Tapi Jiang Zhou bergerak lebih cepat darinya.


“Aku saja yang masak, dan kamu jaga Chloe dan Zoe saja."


Liu Mengli tersenyum dan tidak bisa terus memaksa.


Lagipula, Liu mengli tidak sehebat Jiang zhou dalam hal memasak.


Di dalam keranjang juga masih ada belut mati.


Belut itu mati tadi pagi dan sekarang juga cuacanya tidak terlalu panas, sehingga belut tersebut juga masih segar.


Jiangzhou mengeluarkan belut itu, menyiramnya dengan air mendidih, kemudian mencucinya dan mengeluarkan organ dalamnya, baru kemudian memotongnya menjadi potongan-potongan kecil dan menaruhnya di baskom porselen.


Jiang zhou memasukkan sedikit arak beras, kemudian merendamnya dengan jahe dan bawang putih segar untuk menghilangkan baunya.


Jiangzhou merebus air terlebih dahulu untuk memasak.


Setelah itu, memanfaatkan celah di antaranya, dia berjalan menuju ruang terbuka di pintu.


di halaman ada beberapa potong kayu yang di tumpuk


Ini adalah kayu maple yang di bawa oleh ayahnya, Jiang Fuguo dan ibu Qi Aifen tahun lalu ketika mereka mengunjungi kedua anak mereka.


Sangat di sayangkan, selama satu tahun ini dia menjaga kedua anaknya, dan tidak ada makanan. Satu-satunya makanan yang enak juga tidak terlalu boros menggunakan kayu bakar.


Oleh karena itu.

__ADS_1


Masih ada separuh dari kayu maple itu yang di gunakan untuk merebus air.


Jiang Zhou menyadarinya kemarin.


Di atas kayu maple, tumbuh beberapa jamur shiitake dan jamur pohon yang dapat di makan.


Yang paling banyak adalah jamur kecil dengan payung hitam di atasnya.


Jiang Zhou berjalan mendekat, mengambil keranjang kecil, dan memetik semua jamur shiitake dan jamur pohon di atasnya.


Yang paling banyak jamur kayu, tapi jamur shiitakenya hanya mendapat setengah mangkuk saja.


Namun, itu tidak masalah. Jamur shiitake bisa di gunakan untuk membuat sup. Jenis jamur shiitake yang tumbuh liar dengan sendirinya ini, rasa segarnya lebih kuat di bandingkan jamur shitake yang di budidayakan dengan hati-hati di rumah kaca.


Setengah mangkuk kecil sudah cukup.


Akhirnya ada lauk untuk makan siang.


Belut rebus, tahu goreng, jamur dingin dan sup jamur dengan daun bawang.


Ketika Chloe dan Zoe keluar dari dalam rumah, dia mencium aroma yang memenuhi seluruh halaman kecil.


Kedua mata anak kecil itu berbinar.


Mereka berlari cepat ke arah Jiang zhou.


"Wow! Ayah! Baunya enak sekali! "


Chloe menggosok matanya yang mengantuk.


kepalanya yang kecil mengintip kedalam panci


Saat ini tahu sedang dimasak di dalam panci.


Jiang zhou menambahkan minyak dan membuat tahu itu mendesis di dalam wajan besi.


Kaldu yang berminyak itu sedikit demi sedikit meresap ke dalam tahu.


Jiangzhou memotong daun bawang putih.


Dia tersenyum melihat kedua anak itu.


"Chloe dan Zoe sudah bangun? Kenapa kalian menjadi anak yang malas hari ini? "


Kedua anak ini biasanya pergi tidur pada sore hari..


Namun.


Mereka sudah kelelahan bermain pagi ini.


Baru pukul 11:00 mereka sudah mengantuk.


Sekarang sudah pukul 12:30 ketika kedua anak kecil itu bangun.


perut lapar dan keroncongan yang membuat mereka bangun.


Chloe dan Zoe sangat suka melihat tahu di dalam panci.


Zoe belum pernah makan tahu selama hidupnya.


Dia mengedipkan mata bulatnya, dan menatap dengan rasa ingin tahu ke dalam panci besi besar.


"Ayah, apa ini? apakah ini Enak? Zoe ingin memakannya,"


Zoe berkata dengan suara imutnya.


sambil dia berbicara, dia menyesap air liurnya.


Jiang Zhou menjelaskan dengan sabar sambil tersenyum.


"Ini namanya tahu. Ini terbuat dari kedelai. Sangat harum dan lezat. nanti Chloe dan Zoe makan yang banyak. "


mereka mendengar Jiang zhou mekatakan jika tahu itu enak.


Kedua anak kecil itu tiba-tiba menjadi serakah.


Liu Mengli datang untuk memanggil mereka untuk bermain, tapi mereka menolak.


Mereka terus menatap kompor sambil menahan napas.


Kemudian, Jiang Zhou memberi kedua anak itu masing-masing sepotong tahu, anak-anak kecil itu dengan senang hati memegang mangkuk nasi mereka, duduk di meja dan makan.


Tahu itu putih dan empuk.


Setelah di goreng dengan api yang besar dan di taburi bawang goreng, aromanya begitu harum dan segar, sangat enak.


Di pedesaan, banyak orang merasa sesuap tahu lebih enak daripada sesuap daging.


Tahu itu sangat enak dan empuk!


"Hah-huh!"


"Tiup! Hah-huh!"


Kedua pipi anak kecil itu menggembung.


Kedua anak itu dengan serius meniup tahu yang ada di sedok


Akhirnya setelah agak dingin, baru kemudian kedua anak itu baru berani memasukan tahu itu kedalam mulut mereka dengan hati-hati.


mereka menelannya dengan pelan-pelan.


Tahunya meleleh di antara bibir dan gigi mereka.


"Hmm! Enak!Sangat Enak! Chloe menyukainya!"


"Zoe juga, ah! Terima kasih ayah~"


Tahu ini jelas sesuai dengan selera kedua anak itu.


pada saat ini.


Jiang zhou melihat si kecil makan dengan puas, juga tersenyum dengan cerah dan bahagia.

__ADS_1


Hati Jiang Zhou dan Liu Mengli juga merasa sedikit bahagia.


…………………………………………


__ADS_2