Kembali Ke Masalalu

Kembali Ke Masalalu
Berkorban Demi Sebuah Tujuan


__ADS_3

Pemilik warung dan istrinya buru-buru menyapa setelah mendengar hal tersebut, mereka berjalan keluar dan melirik ke arah keranjang di atas kereta kayu.


Wajah pemilik warung sedikit terkejut.


"Sayang! Mengapa hari ini begitu banyak belut sawah? Sepertinya ada 35 sampai 40 kilogram lebih!"


kemarin beratnya hanya 6 sampai 7 kilogram lebih.


Hari ini datang begitu banyak samapai menjadi sekeranjang besar begini!


Ini terlalu banyak!


Jiang Zhou tersenyum dan berkata "Semuanya dikumpulkan kemarin sore. Masih segar-segar! Paman, lihatlah. Jangan khawatir, aku akan mengambil yang sudah mati kembali, aku tidak akan menjualnya pada paman."


Hati pemilik kios langsung merasa nyaman saat mendengar kata-katanya.


..


Belut sawah sekeranjang begini, pasti ada yang terluka ataupun yang mati.


Daging belut yang sudah mati pasti tidak seenak belut segar.


Pemilik warung dan penjaja makanan seperti mereka juga sangat memperhatikan tentang kualitas makanan.


“Baiklah, kalau begitu kita timbang dulu!”


Pemilik kios mengangguk, dan pergi mengambil timbangan. Setelah kembali di membagi belut sawah menjadi beberapa bagian


Sambil menimbang, belut yang sudah mati disisihkan dan dimasukkan kembali ke dalam keranjang.


Sepuluh menit kemudian, akhirnya selesai juga di timbang.


"Wah! Hari ini benar-benar luar biasa, semuanya ada 45 kilogram! "


Bahkan Jiang Zhou pun terkejut dengan angka ini.


Kemarin, dia memenuhi janjinya dan menerima semua belut yang dibawa penduduk desa.


Dia sama sekali tidak menyangka akan menjadi begitu banyan.


“Semuanya Rp.178.000,”


pemilik kios begitu senang hatinya.


Sambil berbicara, dia pergi mengambil uang.


Kemudian, dia datang dan menyerahkan semua uang itu kepada Jiang Zhou.


Tujuh belas lembar uang sepuluh ribuan, dan sisanya uang receh.


Jiang Zhou mengambilnya dan mengucapkan terima kasih lagi.


Jiang zhou melihat pemilik kios menggosok-gosokkan tangannya dan memandangnya dengan tatapan mata tak berdaya


"Itu... Anak muda, ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu."


Jiang Zhou tertegun dan berkata, "Paman, bicaralah."


"Begini, warung mie belut ini belum lama di buka oleh aku dan istriku, belut sawah yang kami gunakan setiap hari kurang lebih 10 kilogram. Jika kamu membawa 10 kilogram lebih kemari, kami masih bisa menjualnya. Namun, jika kamu membawa 40 kilogram setiap hari, takutnya kami benar-benar tidak memerlukan sebanyak itu."


Pemilik warung berkata dengan tidak enak.


Dia benar-benar sudah meremehkan kemampuan Jiangzhou memperoleh belut sawah.


Jika setiap hari menerima 40 kilogram.


Warung kecil seperti kepunyaan mereka,


belut sawahnya mana bisa habis.


Dia tidak bisa begitu saja menghancurkan usahanya sendiri.


Jiang Zhou yang mendengar kata-katanya mengangguk-anggukan kepala dengan ekspresi wajah tenang.


Dia tersenyum kepada pemilik kios dan berkata "Paman, aku sudah mengerti. Paman pakai saja dulu belut-belut ini, dua hari lagi aku akan mengantar yang segar lagi kepada paman. Selanjutnya, aku tidak akan mengantar terlalu banyak, hanya 10 kilogram saja. Bagaimana menurutmu?"


Saat ini pemilik kios mulai merasa tidak enak hati.


Dia kemudian memandang Jiang Zhou dan berkata, "Hah! Orang muda sepertimu memang pandai berbisnis! Baiklah kalau begitu! Kalau hanya 10 kilogram perhari, kami pasti akan menerimanya."


Jiang Zhou mengucapkan terima kasih sekali lagi kepadanya.


Setelah itu dia mendorong kereta kayunya dan meninggalkan tempat itu.


Sesaat kemudian


Jiang Zhou merasa lapar yang tidak tertahankan.


Dinding perutnya saling menekan dan menggeliat, ditambah lagi karena memporsir tenaganya, otot-ototnya tubuhnya mulai menggigil.


Dia benar-benar tidak bisa menahanya lagi dan berjalan ke sebuah stan yang menjual penekuk tipis, lalu duduk di sana.


Jiang zhou duduk di sebuah bangku yang sangat sederhana.


Jiang Zhou melihat ke wajan hitam, dan penekuk tipis yang mendesis terpanggang minyak di dalamnya, lalu bertanya "Kak, harganya berapa? "


Penjual penekuk tipis adalah seorang perempuan paruh baya.


Hanya dia seorang.


Di zaman ini, kebanyakan yang keluar berbisnis adalah laki-laki, atau kalau tidak, biasanya wanita keluar berdagang di temani oleh anggota keluarga yang pria.

__ADS_1


Seorang wanita keluar sendirian berbisnis di luar adalah hal yang langka.


Wanita pemilik stan sedang sibuk dengan pekerjaannya. .


Mendengar pertanyaan Jiang Zhou, dia berkata dengan riang dan menjawab "Yang isi lobak parut harganya, Rp.200. kalau yang isi daging Rp.600. Coba lihat sendiri, suka yang mana?"


Jiang Zhou berkata, "Berikan aku tiga buah yang isian lobak parut. "


" Baiklah! "


Kakak perempuan paruh baya itu menjawab, dan saat dia berbicara, dia membungkus tiga irisan pancake lobak dengan kertas minyak untuk Jiang Zhou.


Jiang zhou benar-benar merasa sangat lapar sampai matanya berkunang-kunang. Dia menerima penekuk tipis yang di berikan pemilik stan, meniupnya sebentar lalu melahapnya dengan semangat.


Akhirnya perutnya kenyang juga.


Otaknya mulai berpungsi lagi.


Sebenarnya, hari ini situasi berkembang sesuai dengan harapan Jiang zhou.


Ini adalah kehidupan yang pernah dia alami sebelumnya, tetapi semuanya berjalan lebih cepat dan lebih padat daripada sebelumnya.


Dalam kehidupan sebelumnya, saat mengumpulkan dana pertamanya, dia memerlukan waktu satu tahun untuk menghemat uang hasil dari menjual belut sawah.


Saat itu, dia hanya mencari aman dan tidak pernah berani mengambil resiko.


Berbeda dengan sekarang


Dia tahu kalau menjual belut sawah bisa menghasilkan uang.


Jiang zhou memasok belut sawah begitu banyak dalam sekejap mata, pemilik warung seperti mereka tadi tentu saja tidak memerlukan sebanyak itu


Jiangzhou harus menemukan cara lain.


Tempat yang memerlukan belut sawah segar dalam jumlah banyak di Kabupaten Qing'an hanya ada satu tempat


Tempat itu adalah koprasi pasokan dan pemasaran hasil perikanan.


Sesuai dengan namanya, tempat ini merupakan tempat penjualan produk air yang tersebar di seluruh wilayah, sifatnya sama dengan koperasi pemasok dan pemasaran bahan makanan, tetapi khusus menjual hasil perikanan.


Dia ingin kesana untuk mencoba peruntungan. Kalau tidak berhasil nanti, dia akan pergi ke ibu kota provinsi.


Jiangzhou tidak percaya jika kabupaten sebesar ini tidak sanggup menghabiskan puluhan kilo belut sawah segarnya.


Setelah mengisi perut dengan tiga penekuk tipis, dia merasa hidup kembali.


Jiang Zhou bangkit berdiri.


Dia mengeliarkan dompet untuk membayar.


Wanita pemilik stan itu sedang sibuk sekarang dan berkata, "Tunggu sebentar, aku menuangkan minyaknya dulu, sebentar lagi selesai."


Jiang Zhou tidak mengatakan apa-apa.


Sekali lihat dia tau itu adalah minyak canola.


Begitu jernih dan harum.


Sebuah pikiran tiba-tiba terlintas di kepala Jiang Zhou.


“Kak, minyak ini, apakah kakak yang membuatnya sendri?"


Wanita itu menjawab " Tentu saja! Ini canola yang di tanam sendri, tahun lalu aku mengestraknya di pabrik minyak di daerah utara kabupaten ini."


Jiang Zhou mengangguk, dan memikirkan kata-katanya sejenak.


Setelah menuang minyak, wanita pemilik stan mengambil uang yang di berikan Jiang zhou. Jiang zhou berpamitan dan pergi.


Dia tidak langsung menuju ke koperasi penyediaan dan pemasaran hasil perairan.


Sebaliknya, dia mendorong kereta kayunya dan belok kanan kedalam gang, terus kekiri lagi, lalu dia berhenti di sebuah gang kecil lainya.


Orang yang berlalu-lalang disini kebanyakan dari kalangan anak muda.


Mereka memakai celana berkaki lebar aneka warna dan jaket denim.


Rambut mereka juga merupakan gaya yang paling populer sekarang ini.


Jiang Zhou berdiri di ujung jalan dan melihat kedalam gang sejenak. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.


Dia meletakkan kereta kayu di pinggir jalan dan berjalan masuk.


Di depan bioskop mini, beberapa anak muda sedang merokok.


Seorang pria dengan tubuh mirip tiang listrik dan memakai jaket berdiri di luar.


Rambutnya sangat panjang dengan gaya terbaru saat ini.


Wajahnya begitu cekung, tetapi terlihat sangat energik, terutama matanya yang besar.


Matanya berputar tanpa henti kesegala penjuru, seperti sedang melakukan pemantauan.


Jiang Zhou berjalan mendekat, berhenti di depan pria ini, dan tersenyum.


"Monyet, apakah kamu menjual bidak catur merah? Berapa harga satu kotaknya? "


Pria berbadan tiang listri yang di panggil sebagai monyet itu tertegun sejenak.


Dia memandang Jiangzhou di depannya dengan curiga.


“Kita saling kenal?"

__ADS_1


"Aku datang kesini karena mendengar reputasimu. Trakhir kali waktu aku berada dalam bioskop, seseorang mengatakan bahwa kamu adalah yang terbaik di bidangnya, barang apapun yang di inginkan, kamu bisa mengusahakannya."


Jiang Zhou tentu saja berbohong.


Orang ini di panggil Monyet.


Bidak catur merah adalah sebuah kode rahasia


Kode rahasia yang artinya rokok dari malioboro.


Tahun-tahun belakangan ini, banyak orang yang menjual beli rokok dan sejenisnya untuk menghasilkan uang.


Di kehidupan sebelumnya, ketika usaha jiang zhou semakin berkembang, sedikit banyak dia juga terlibat di dalamnya, makanya tau orang yang bernama monyet.


Namun, nasib monyet tidak berakhir baik.


Jiang zhou mendengar bahwa usaha jual beli monyet ketahuan pihak berwewenang dan monyet di kirim ke penjara.


Tujuan kedatangan Jiang Zhou kali ini adalah membeli rokok.


Pada tahun 1982, rokok merupakan salah satu barang yang paling sulit dibeli.


Rokok yang di beli memiliki indikator tertentu, pengais nafkah seperti mereka, jangankan mengenali indikator, wujud rokok yang sebenarnya pun mereka tidak tau.


Pada dasarnya mereka membuat rokok mereka sendiri dari akar bambu dan memasukan sedikit tembakau ke dalamnya.


Begitu menyalakan sebatang rokok dan menghirupnya, paru-paru pun bisa sakit kepanasan.


Rokok adalah komonfitas kalangan atas.


Rokok malioboro sangat di gemari di Kabupaten Qing'an.


Berapa banyak orang menginginkannya tetapi tidak bisa mendapatkanya.


Jiang zhou ingin pergi ke koprasi pasokan dan pemasaran hasil perikanan dan memohon bantuan orang-orang disana.


Kalau dia pergi kesana dengan tangan kosong, orang sepertinya yang tidak punya penyokong di dalam. Siapa yang akan mempedulikannya.


Di kehidupan sebelumnya, dia sudah melakukan banyak bisnis.


Jiangzhou tahu.


Dia tidak bisa melakukan sesuatu tanpa pengorbanan.


Dia rela menukar dua bungkus rokok dengan prospek bisnis jangka panjang.


Monyet masih saja mengamati Jiang zhou dengan pandangan curiga.


Mendengar kata-kata pujian dari Jiang zhou, dai merasa agak kewalahan.


"Hehe, kata-katamu benar. Di kabupaten ini, stok barang-barangku yang paling lengkap dan paling banyak! Kalau di tempatku tidak ada, aku berani bilang di seluruh kabupaten pun tidak ada barangnya!"


Sambil bicara, monyet mengibaskan rambutnya dengan bangga.


“Katakan padaku, berapa kotak bidak catur merah yang kamu butuhkan?”


tanya monyet.


Jiangzhou berpikir sejenak dan menunjukan tiga jarinya.


“Tiga bungkus saja.”


Dua bungkus sebagai hadiah, satu bungkusnya akan di simpan di sakunya untuk persedian.


Monyet yang mendengar jiang zhou yang langsung ingin membeli tiga bungkus rokok, mau tidak mau monyet memandangnya sekali lagi.


Sebagian besar anak muda yang merokok di sekitar membelinya satu per satu.


Kebanyakan dari mereka tidak memiliki uang.


Demi berlagak di depan seorang gadis, teman-temanya di bioskop mini ini membeli rokok batangan dengannya.


Banyak dari mereka yang baru menyesapnya sekali, buru-buru memadamkan api rokoknya dan memasukannya kembali kedalam saku begitu melihat gadis yang mereka sukai pergi. Lalu menunggu kesempatan yang sama untuk mengeluarkannya kembali.


Namun, orang di depannya ini, sekali beli langsung tiga bungkus.


Sungguh berani membeli.


Monyet memandang Jiangzhou dan tidak bisa menahan dirinya untuk mengamatinya lebih jauh.


"Bidak catur merah harganya Rp.5000 per bungkus. Harga di tempatku adalah yang paling murah. Di tempat lain Rp. 6000 per bungkus. Aku lihat kamu membeli banyak, makanya aku beri murah sedikit, tapi jangan beritahu orang lain"


Monyet orangnya cukup jujur


. .


Jiang Zhou tahu kalau kata-kata monyet bisa di percaya.


Dia tersenyum dan berkata: "Kak monyet benar-benar murah hati."


Setelah selesai berbicara, Jiang zhou mengeluarkan uang yang sudah dia persiapkan dari sakunya dan memberikanya kepada monyet.


Monyet tentu saja sangat senang.


Dia merogoh kotak di belakangnya dan mencari-cari, tak lama kemudian, dia berhasil mengeluarkan tiga bungkus rokok malioboro.


“Ini, ambilah barangmu, ini kembalianmu.”


Satu tangan menyodorkan barang.


Satu tangan lagi menyodorkan uang.

__ADS_1


Jiangzhou memasukkan semua kembalian dan tiga bungkus rokok malioboro ke dalam sakunya, lalu menyandungkan beberapa patah pujian lagi kepada monyet sebelum akhirnya pergi.


__ADS_2