Kembali Ke Masalalu

Kembali Ke Masalalu
Hampir Saja Membuat Jiang Fuquan Muntah Darah


__ADS_3

Mereka berempat mulai menyantap makanannya.


Sambil makan, Jiang Zhou memberi tahu Liu Mengli tentang aliran dana hari ini.


Belut sawah seberat 44,5 kilogram.


Jika di kurangi uang modal.


Maka keuntungan yang di dapat adalah Rp.71.200


ketika perjalanan pulang, Jiang zhou membeli rokok, dan ditambah dengan hasil keuntungan dari menjual 150 kilogram ampas minyak


Dihitung-hitung.


Jiang Zhou memandang Liu Mengli sambil tersenyum dan berkata, “Coba tebak, berapa banyak uang yang kita peroleh hari ini?”


Liu Mengli mendengarkan dengan seksama.


Bahkan masih tersirat beberapa harapan.


Memang tidak bisa di pungkiri.


Mendengarkan Jiang Zhou berbicara tentang pengalamannya hari ini, termasuk berbagai aliran dana, Liu mengli merasa puas dengan pencapaian Jiang zhou.


Sekarang ini dia sangat menantikan hasil akhirnya.


Tanpa di sangka, Jiang zhou dengan sengaja tidak mengatakan langsung memberitahukannya.


Liu Mengli mengerutkan bibirnya, lalu tersenyum, dan berkata dengan datar “Seharusnya senilai Rp.90.200


Liu mengli sebenarnya telah menghitung diam-diam dalam pikirannya!


Jiang Zhou tercengang.


Setelah itu senyuman segera muncul di bibirnya.


Dia mengacungkan jempol pada Liu Mengli tanpa ragu-ragu.


“Istriku kemampuan menghitungmu ini sungguh sangat menakjubkan."


Jiang Zhou memujinya.


Di bawah sinar bulan yang redup, dia bisa melihat rona merah yang mulai terlihat di pipi Liu Mengli.


Dia hendak mengganti topik pembicaraan.


Namun tiba-tiba terdengar ketukan di pintu luar rumah.


Keduanya secara serempak menghentikan pembicaraan mereka.


Zaman sekarang ini.


Jika menghasilkan uang harus diam-diam.


Mungkin saja ada orang yang iri.


“Siapa?”


​​teriak Jiang Zhou.


Suara Jiang Fuquan terdengar dari luar pintu.


"Ini aku, pamanmu."


Pada jam ini.


Orang-orang di desa bahkan sudah selesai mandi dan pergi tidur.


Jiang Fuquan?


Untuk apa dia datang di jam ini?


Jiang Zhou tidak sepolos itu berpikir bahwa Jiang Fuquan akan memberinya sesuatu yang bagus.


Namun, dia tidak takut jika Jiang Fuquan datang untuk mencari masalah.


Dia menatap Liu Mengli dengan pandangan menenangkan, lalu bangkit berdiri, dan berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Paman? Ada apa datang selarut ini? "


Tanya Jiang Zhou.


Jiang Fuquan mencium aroma makanan begitu pintunya terbuka.


Sangat harum.


Sepertinya tumis sayur yang di masak dengan menggunakan banyak minyak.


Begitu di pikirkan kembali, sewaktu dirumah tadi istrinya bilang bahwa Jiangzhou dan keluarganya bahkan membeli tahu, dan menggorengnya dengan minyak. Aroma kacangnya begitu harum, ini baru yang namanya segar!


Jiang Fuquan hanya merasa bahwa air liur sudah memenuhi rongga mulutnya.


Tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam hatinya sedikit berharap.


Lagipula, Jiang Fuquan juga seorang tetua dikeluarga.


Sudah saatnya makan malam.


Bagaimanapun juga Jiangzhou akan mengajaknya makan malam juga bukan?


Dia akan mengambil kesempatan saat itu, kemudian menerimanya pada ajakan selanjutnya. Dia bisa berbohong pekerjaan produksinya begitu sibuk di siang hari, jadi tidak sempat makan...


Rencana dalam hati Jiang fuquan sudah tersusun rapi.


Namun, setelah Jiang Zhou selesai berbicara, tidak ada pergerakan lain yang terlihat.


Jiang Fuquan terdiam, anak ini kenapa tidak sopan sama sekali?


“Bagaimana dengan makan malam?”


Jiang Fuquan mengerutkan bibirnya dan melihat ke dalam.


Matanya berputar melihat kasana kemari.


Melihat Liu Mengli dan kedua anak itu sedang makan, terlihat juga ada beberapa hidangan di atas meja.


Dia menjadi lebih ingin makan lagi.


Jiang Zhou tersenyum dan berkata "Ya, aku sudah selesai makan. Paman, pasti sudah makan pada jam tiga atau empat sorekan? pasti sekarang sudah kenyang. Aku tidak akan mengajakmu makan lagi ya, pasti kamu tidak akan bisa menghabiskannya."


Jiang Fuquan kehabisan kata-kata, dia hanya makan ubi di malam ini.

__ADS_1


Dia merasa kesal di dadanya.


Raut wajah Jiang Fuquan juga tidak terlalu bagus.


Dia melirik Jiangzhou.


Lalu berjalan terang-terangan melatinya dan masuk kedalam rumah.


Dengan tangan di belakang punggungnya, wajahnya terlihat muram, seolah-olah seperti seorang asisten senior datang untuk memberikan pelajaran.


Jiang Zhou juga tidak tahu apa yang salah dengannya.


Tetapi.


kalaupun Jiang Fuquan datang mencari masalah, dia tidak akan takut.


………………


Jiang Fuquan memasuki kediaman mereka.


Sekilas Jiang Fuquan melihat ada begitu banyak tempat yang terisi penuh dengan belut sawah.


Keranjang, tangki air, dan berbagai tampayan.


Di atas kereta kayu masih ada sisa-sisa dari ampas minyak kacang.


Seluruh halaman dipenuhi aroma makanan.


Jiang Fuquan akhirnya mengerti.


Keponakannya benar-benar sudah bisa menghasilkan uang!


Dalam hatinya, Jiang Fuquan merasa agak tidak nyaman.


Dia pura-pura terbatuk dan mengganti topik pembicaraan.


"Kakakmu pergi ke ibu kota, dia bahkan tidak memiliki kehidupan sebaik kamu saat ini. Jiang zhou, apa kamu sudah memulai bisnis? Bisnis belut sawah? Berapa banyak yang kamu dapatkan?"


Begitu membuka mulut dia langsung ingin mencari tahu tentang bisnisnya.


Jiang Zhou hampir geli mendengarnya.


"Iya, aku melakukan bisnis kecil-kecilan untuk menghidupi keluarga dan tidak menghasilkan banyak uang, paman. "


Jiang Fuquan terdiam, Jiang zhou mencoba menyembunyikan itu dari dirinya!


Dia tidak percaya.


Dia mengajukan beberapa pertanyaan lagi.


Namun, cara bicara Jiangzhou ini bahkan lebih baik daripada kepala desa Jiang Changbao, sehingga dia tidak mendapatkan impormasi apapun.


Wajah Jiang Fuquan menjadi gelap.


"Kamu ini, aku pamanmu, kita semua adalah keluarga! Mengapa kamu masih mencoba menyembunyikannya dariku?"


Jiang Fuquan kembali berkata dengan marah "Aku datang kesini hari ini awalnya karena peduli, dengan kehidupan kalian para ponakanku, tapi lupakan saja karena kamu tidak menginginkannya."


Jiang Fuquan kembali berkata "Aku berterus terang saja kalau begitu. Kedatanganku kemari karena kakekmu memintaku datang kemari."


Begitu berbicara tentang Jiang Dagui.


Jiang Fuquan menegakkan punggungnya.


Tidak peduli seberapa tidak patuhnya Jiangzhou, dia tetap harus memanggilnya kakek!


Dia adalah seorang penatua dalam keluarga!


Ternyata benar.


Ketika berbicara tentang Jiang Dagui, Jiangzhou ternyata sedikit melunak.


Dia berkata "Kakek mencariku? apakah ada sesuatu?"


Jiang Fuquan berkata" Bukan masalah besar. Dia ingin kamu memberikan Rp.40.000 dan mengirimkannya pada kakakmu. Dia sedang belajar di ibu kota, pengeluarannya pasti sangat besar dan membutuhkan banyak uang."


Jiang Zhou tercengang.


Wajahnya tiba-tiba muram.


Masalah ini.


Dia telah mendengarnya di kehidupan sebelumnya.


Jiang Mingfan, orang yang paling berharga di keluarga Jiang, diterima di kota pada tahun 198. Dia mengambil jenjang Diploma (D3), tapi di jaman ini mereka masih menganggap itu sesuatu yang jarang terjadi.


Kakeknya, Jiang Dagui tinggal bersama dengan Jiang Fuquan sejak saat itu.


Begitu dia membuka mulutnya, semua yang keluar pasti mengenai Jiang mingfan


Jiang mingfan adalah kebanggaannya.


Seolah-olah semua cucu lainya telah di lupakan olehnya.


Selain itu, biaya kuliah, biaya hidup, dan berbagai biaya Jiang mingfan pada dasarnya di bagi rata oleh tiga bersaudara di keluarga Jiang.


Bahkan bibi yang sudah menikah pun harus memberikan uang itu.


Paman kedua, Jiang Fushun mengajar di kabupaten, kabarnya putranya juga menggeluti bidang bisnis.


Karena itu untuk menenangkan Jiang Dagui, dia tidak begitu peduli dengan uang itu.


Tapi ayah Jiang Zhou, Jiang Fuguo, adalah orang yang memiliki kehidupan yang paling sulit.


Dia adalah seorang petani di desa.


Dia menghasilkan uang dengan mendaki gunung dan memikul kayu.


Kedua putranya saja tidak sanggup dia pedulikan, tapi jika sudah begini, dia harus tetap tutup mulut dan mengeluarkan uang itu, entah itu dari pinjaman atau dari tabungannya sendiri untuk di berikan pada Jiang mingfan agar bisa bersekolah.


Dalam kehidupan sebelumnya bagaimana Jiangzhou bisa menahannya?


Karena kejadian ini, dia dan ayahnya Jiang Fuguo sempat beberapa kali bertengkar.


Namun Sangat disayangkan Jiang Fuguo adalah anak yang berbakti.


Meskipun hatinya tidak bisa menerinya, apabila itu keinginan ayahnya, Jiang Dugui, maka dia hanya bisa memaksakan diri untuk mengumpulkannya.


Kemudian hubungan Jiang Zhou dan Jiang Fuguo terputus, dan hubungan antara ayah dan anak itu memburuk.


Kemudian serangkaian perubahan terjadi, dan Jiang Zhou benar-benar meninggalkan Desa Liqi dan memutuskan kontak dengan mereka yang ada disini.

__ADS_1


Jadi.


Mengenai permintaan uang untuk Jiang Mingfan ini, dia juga tidak mengetahuinya dengan pasti.


Namun, hari ini, Jiang Fuquan datang untuk meminta uang, yang benar-benar membuat Jiang Zhou terbakar amarah.


Dia memandang Jiang Fuquan dengan wajah cemberut, sudut mulutnya sedikit mengerucut, entah itu senyuman atau ekspresi lainnya.


Setelah Jiang Fuquan selesai berbicara, dia melihat Jiang Zhou yang diam saja dan tidak melakukan apapun.


Dia tanpa sadar memandang ke arah Jiang Zhou, yang sedang menatapnya dengan dingin.


Dia tampak tersenyum tapi tidak tersenyum, seperti ekspresi mengejek.


Kelopak mata Jiang Fuquan berkedut dan jantungnya seakan menyusut!


Anak ini!


Ekspresi apa yang dia tunjukan ini?


Sangat menakutkan!


Meskipun dia berulang kali mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Jiang Zhou lebih kecil darinya, jiang Fuquan tetap merasa bingung didalam hatinya, tanpa sadar ada juga sedikit rasa bersalah.


Dia dengan cepat berkata "Aku tidak meminta uang ini padamu, kakekmu yang memintanya! Jika kamu tidak percaya padaku, tanyakan saja padanya! "


" Kamu juga Jangan marah. Awalnya bukan giliranmu untuk memberikan uang ini, harusnya ayahmu yang memberikannya. Namun aku tidak tau dimana dia dalam dua hari terakhir ini, dia masih saja belum kembali. Sekarang setelah kamu berbisnis dan menghasilkan uang,kamu memiliki kewajiban untuk membantu ayahmu."


"Bagaimana pun juga, kakakmu itu juga satu-satunya mahasiswa yang ada di keluarga Jiang kita! Jika dia menyelesaikan pendidikannya, maka kita memiliki harga diri yang bisa ditunjukan! Kamu tidak boleh bersikap egois.."


perkataan selanjutnya.


Jiang Zhou bahkan tidak ingin mendengarnya..


Itu adalah omong kosong, yang diucapkan berulang-ulang.


Harga diri?


Itu adalah harga diri Jiang Mingfan dan Jiang Fuquan, Apa hubungannya dengan Jiang Zhou, ayahnya Jiang Fuquan?


Yang menangkap perhatian Jiang Zhou adalah apa yang dikata Jiang Fuquan barusan.


Ayahnya, Jiang Fuguo, tidak ada di rumah selama beberapa hari.


Awalnya, Jiang Zhou mengira dia mungkin ada sesuatu yang harus dilakukan jadi sampai sekarang belum pulang.


Tetapi.


Melihatnya sekarang, jelas ini bukan masalah kecil.


Dia berencana untuk pergi menemuinya besok.


Kali ini, apapun yang terjadi, Jiang zhou harus menanyakan situasinya dengan jelas.


Jiang Fuquan masih saja sibuk dengan perkataan nya tanpa henti.


perkataannya tidak lain hanya untuk cuci otak saja.


Setelah dia selesai berbicara, Jiang Zhou masih tidak menjawab untuk beberapa saat.


Hal itu membuat Jiang Fuquan mengerutkan kening.


Tapi dia melihat Jiang Zhou memandang ke arahnya dengan dingin.


“Paman, jangankan Rp.40.000 bahkan Rp.4.000 saja aku tidak punya."


Dia berkata "Urusan ayahku adalah urusan ayahku bukan urusanku. Aku juga memiliki keluarga sendiri yang harus di nafkahi. Anak paman hanya sendirian ketika belajar, sedangkan aku memiliki empat orang yang harus aku hidupi dalam keluargaku."


Wajah Jiang Fuquan menjadi pucat. Saat ini dia terlihat marah dan juga pucat.


Dia tidak pernah menyangka bahkan dia sudah menggunakan nama Jiang Dagui, tapi masih saja penolakan yang dia dapatkan.


“Kamu bahkan tidak mendengarkan perkataan kakekmu…”


Jiang Fuquan kembali marah dan berkata, “kamu sangat tidak berbakti!”


Jiang Zhou menatapnya dengan ekspresi acuh tak acuh.


“Berbakti juga harus melihat permasalahannya."


"Kakek, menunjukan jelas-jelas sikapnya yang pilih kasih, Jiang mingfan juga bukan kakak kandungku. tidak masuk akal jika ingin aku memberikan uang untuk biaya pendidikannya."


"Lagipula aku tidak akan memberikan uang itu, paman. Aku tidak takut karena aku tidak berbuat salah. Aku tidak takut orang lain akan mengatakan hal buruk padaku, pulanglah."


Jiang fuquan hampir dibuat kesal setengan mati oleh Jiang zhou.


Sebenarnya.


Jika meminta uang pada Jiang Fuguo itu masih masuk akal.


Tetapi.


Dia meminta uang pada generasi muda dalam keluarga untuk membiayai pendidikan anaknya.


Jika ini menyebar, Jiang Fuquan tidak akan bisa mempertahankan harga dirinya di Desa Liqi.


Lagipula, dia juga kapten tim produksi!


Terlebih lagi, dia tidak benar-benar kekurangan uang, dia hanya ingin memanfaatkannya saja!


Jadi inilah mengapa Jiang Fuquan menunggu sampai gelap sebelum datang kerumahnya


Sore hari, seluruh orang desa mengirim Jiangzhou belut sawah dan membeli ampas minyak darinya.


Dia takut kehilangan mukanya.


Awalnya dia ingin datang pada malam hari, dan meminta uang pada Jiangzhou dengan memanfaatkan nama Jiang Dugui.


Tapi yang terjadi, benar-benar membuat Jiang fuquan tidak habis pikir!


Wajah Jiang Fuquan semakain memunculkan rona krmerahan.


Sambil mengertakkan gigi sebentar, dia kembali melemparkan perkataannya.


"Aku akan memberi tahu kakekmu ketika aku kembali nanti! Kamu bahkan tidak mendengarkan apa yang dia katakan! Cucu macam apa kamu?! Kamu sangat tidak berbakti! "


Setelah mengatakan itu Jiang Fuquan pergi dengan tergesa-gesa dan penuh amarah.


“Selamat jumpa, paman,”


Jiang Zhou berkata dengan sopan, dan melihat Jiang Fuquan hampir tersandung dan jatuh ke tanah.

__ADS_1


Anak ini.


membuatnya jengkel!


__ADS_2