
“Ayo pergi!”
Jiang Ming tersadar lalu mengambil cambuk dan lanjut mengemudikan kereta keledai.
kereta keledai mengangkat bawaan barang berat.
Liu Mengli pun turun sebentar dari kereta kayunya, hanya kedua anaknya yang masih disana.
Dia ikut menahan kereta keledai tersebit.
Tak disangka perjalanan pulang mereka jauh lebih cepat karena teknik mengemudi kereta keledai Jiang ming yang baik.
Hari ini saat pulang kerumah, hari sudah sore. Saat mereka sampai, sudah ada bayak warga desa yang menunggu di halaman sambil membawa belut sawah untuk membayar utang kemarin.
Melihat Jiang Zhou datang, semua orang segera menyapa.
"Aku heran kenapa hari ini kamu tidak ada di rumah. Hari ini saudara istriku datang, kami membawa banyak belut sawah, coba kamu lihat!"
"Iya benar, aku datang dari desa sebelah secara khusus karena mendengarmu mengumpulkan belut sawah, jadi aku ingin melihat-lihat. Apa benar setengah kilogram harganya Rp.1.200!
"Aku disini sengaja datang untuk membeli ampas minyak. Aku memelihara dua ekor babi di rumah. Setelah musim semi, jika anakku berusaha, dia akan masuk universitas, kebetulan aku akan menyembelih babi itu!"
Kemudian...
Ada sekelompok orang yang menyebabkan kegaduhan di depan rumah Jiang zhou.
Jiang Ming mengiring keledai itu sambil melihat orang-orang yang ada di depannya.
Ada bayak wajah yang familiar karena mereka adalah warga desa yang tinggal di sekitar sini.
Ada juga orang yang seharusnya datang dari desa sebelah. Setiap orang membawa ember kayu dan mereka membawa kantong nilon di saku. Mereka mengenakan pakaian hijau tentara dengan celana di gulung. Tanah mengotori celah-celah kaki mereka. Mereka juga mengenakan topi jerami.
Jiang ming sendiri tersenyum lebar sambil menarik kereta keledai.
Liu Mengli sudah pergi membuka pintu dengan cepat.
Kedua anak kecil sedang terlentang di atas tumpukan ampas minyak dan tertidur dengan nyenyak.
Jiang Zhou memanjat naik sambil menggendong salah satu anaknya turun.
Liu Mengli juga kembali dan segera menggendong yang satunya lagi.
Jiang Ming telah menarik kereta keledai ke halaman.
Segerombolan penduduk desa bergegas masuk.
Hanya dalam waktu singkat.
Orang yang mengantri panjang hingga di liar rumah, berbincang dengan ramai.
Liu Mengli menyiapkan meja persegi dan mengeluarkan setumpuk buku catatan dari koran yang dijahit bersamaan.
Jiang Zhou mengambil pembayaran hari ini dan menaruhnya di atas meja.
Kemudian, sekelompok orang ada yang membayar belanjaan, ada yang menyerahkan barang.
Tidak perlu diragukan lagi jika Liu mengli berbakat dalam berbisnis, gerakannya melayani pelanggan rapi dan teratur, tidak ada kekacauan sedikit pun.
Sementara Jiangzhou menjual ampas minyak kepada pelanggan.
Jiang Ming melihat Jiang zhou naik keatas kereta keledai, lalu melemparkan ampas minyak ke bawah.
Lalu, Jiang ming akhirnya tersadar dari lamunannya dan berkata "Aku akan membantumu."
Dia bergerak cepat naik keatas kereta keledai.
Jiang ming melepaskan tali yang mengikat karung, lalu mengambil lima sampai enam potong, dan menyerahkannya pada para warga.
Gerakannya cekatan bahkan Jiang zhou tak bisa melakukan lebih baik dari Jiang ming.
Bagaimanapun juga, sebagai seorang petani, jiang ming telah terbiasa melakukan pekerjaan berat.
Tenaga Jiang Ming sangat besar!
__ADS_1
Dengan bantuan Jiang Ming, beban kerja Jiang Zhou berkurang banyak.
Jiang zhou cukup menghitung dan menerima uang saja.
Terkadang ada warga desa yang tidak membawa uang, jadi langsung menggunakan belut sawah untuk menggantikan uang.
Hal itu harus di laporkan kepada Jiang zhou dan Liu mengli, lalu memberi tanda di belakang nama mereka.
satu jam kemudian.
Penduduk desa yang ada di halaman semakin sedikit.
ampas minyaknya sudah habis terjual.
Komoditas dalam pasokan pendek yang paling laku dalam satu bulan pertama.
Sejak Jiangzhou mulai mengumpulkan belut sawah dan menjual ampas minyak, sudah ada bayak warga dari desa sebelah yang mendengar kabarnya.
Mereka menangkap banyak belut sawah, lalu membeli ampas minyak dan menggunakan kantong nilon untuk memikul barang belanjaan mereka kembali.
Ada juga titipan dari teman waraga desa mereka yang tidak sempat datang.
Jadi mereka membeli 25 sampai 30 kilogram sekaligus.
Ampas minyak dari satu kereta keledai terjual habis dan Jiang zhou meraup untung sebesar Rp.100.000!
Jiang Zhou tidak mengambil sepeser pun dan memberikan semuanya kepada Jiang Ming.
"Ambil uang ini untuk mengobati kaki ayah. Pengobatannya sudah tidak bisa ditunda lagi. Aku akan berusaha mendapatkan uang sisanya dalam dua hari terakhir ini."
kata Jiang zhou.
Perasaan Jiang Ming terasa rumit melihat tumpukan uang kertas di tangannya.
Dia memandang Jiangzhou di depannya.
Jiang zhou jauh lebih hitam dan kurus dari bayangannya.
Namun, aura pemalas dan semberono seolah sudah menghilang dari diri Jiang zhou.
Jiang Zhou mengangguk.
Setelah itu Jiang Ming baru pulang kerumahnya.
Selama beberapa hari ini, Jiang ming tifak pulang kerumah sejak pergi ke rumah sakit kabupaten.
Sebelumnya Jiang ming marah besar pada Yao Juan hingga istrinya menangis karena masalah Jiang zhou.
Namun, sekarang sepertinya Jiang ming yang sudah salah sangka pada Yao Juan.
Sore nanti, dia akan mengantar ayahnya ke provinsi untuk memeriksa kakinya.
Kedua orang tuanya juga sudah merapihkan pakaian yang akan di bawa.
Untung saja sudah akan selesai menanam bibit padi di sawah, kalau tidak, pasti akan menambah kecemasan lagi.
Jiang ming telah selesai bersiap-siap pada pukul 02.30 siang, lalu dia datang untuk memberikan kabar pada Jiang zhou.
Namun dia melihat ada banyak warga yang datang kerumah Jiang zhou.
Mereka juga datang mengantarkan belut sawah.
Jiang ming baru sadar bahwa bisnis belut sawah jiang zhou sudah semakin besar dan berjalan lancar.
“Sekarang aku akan pergi ke kabupaten."
Lalu Jiang Ming melanjutkan ucapannya, “Kamu berbisnislah dengan baik dan jangan sampai salah jalan. Kamu juga tidak perlu cemas soal uang, aku sudah bilang pada kakak iparmu untuk pulang kampung dan meminjam uang. Masa sulit ini pasti akan berlalu jika uangnya sudah terkumpul."
Jiang Ming selesai berbicara, lalu hendak pergi.
Namun Jiang Zhou segera berdiri, berjalan ke arah kompor sambil menghindari kerumunan warga desa yang tengah menganteri, dan membuka penutup kompor.
Baru saat itulah Jiang Ming menyadarinya.
__ADS_1
Awalnya tutup panci selalu tertutup.
Setelah dibuka, malah mengeluarkan uap panas.
Kemudian Jiangzhou mengeluarkan semangkuk nasi goreng.
"Kak, makan dulu baru berangkat. Dengan perut kenyang, kamu baru bisa bertahan, tidak perlu tergesa-gesa."
ucap Jiang Zhou sambil tersenyum.
Jiang Ming tertegun melihat sepiring nasi goreng di hadapannya.
Ini adalah...
nasi dengan, butiran beras halus? !
Kepalanya berdengung.
Selama ini Jiang ming hanya bisa makan nasi jika betamu kerumah orang lain.
Selain itu, dia hanya bisa makan ubi jalar dan kentang.
Saat ini, tampak jelas sepiring nasi goreng itu digoreng menggunakan satu sendok makan minyak babi.
Nasinya berkilat seolah bercahaya, di dalamnya juga ada potongan jamur dan daging cincang yang penuh.
Aroma harum yang tertiup angin masuk kerongga hidung Jiang ming.
Hari ini dia hanya makan satu penekuk goreng.
kebetulan Jiangming sedang lapar sekarang.
Jiang zhou telah menyerahkan sepiring nasi kehadapan Jiang ming ketika dia sedang melamun.
“kak, cepat makan, jangan sampai menunda waktu berangkat."
"Aku masih harus mengumpulkan belut sawah." ucap Jiang zhou.
Jiang Ming tersadar dan tidak segan-segan lagi. Dia segera mengambil sepiring nasi goreng dan sendok, lalu makan dengan sangat lahap.
Nasinya harum sekali.
Daging ini.
Mereka hanya akan memotong seperempat kilogram daging untuk makan mewah saat tahun baru, bahkan daging itu masih harus dibagikan pada anak dan orang tuanya.
Jiang Ming hanya merasakan sendoknya bagai tertiup angin kencang.
Lalu sepiring nasi goreng habis di makannya dengan cepat.
Jiang Ming makan dengan sangat puas.
sejujurnya..
Jiang ming merasa sedikit tidak enak saat mengembalikan piringnya pada Jiang zhou.
Namun, Jiang Zhou tidak berkata apa-apa, lalu menyuruhnya cepat pergi agar tidak menunda waktu pengobatan kaki ayah mereka.
Setelah itu Jiang Ming baru berangkat.
Hal yang tidak di ketahui Jiang ming.
Jika orang itu adalah Jiang zhou di masalalu, pasti langsung bertanya pada Jiang ming apakah enak atau tidak? Atau kalimat menghina seperti mau tambah lagi atau tidak?
Tidak ada yang lain.
Semua demi memuaskan ego kesombongan Jiangzhou
Hanya setelah lahir kembali.
Jiang Zhou pun akhirnya mengerti apa artinya menjaga harga diri keluarganya dengan hati-hati.
Apalagi hati kakaknya yang serapauh kaca.
__ADS_1
........................