Kembali Ke Masalalu

Kembali Ke Masalalu
Wanita Juga Bisa Melakukan Segala Hal


__ADS_3

Kemudian.


Penduduk desa yang mengetahui berita tersebut segera bergegas menuju rumah Jiangzhou.


Beberapa dari mereka adalah penduduk desa yang menjual belut kepada Jiangzhou kemarin, tetapi lebih banyak lagi yang datang untuk melihat belut segar.


Saat ini.


Di halaman kecil, penduduk desa sedang berbaris untuk menerima uang.


"Paman, punyamu seharga Rp.4.800, pegang dengan baik uangnya ya! Jika ada belut sawah, kamu masih bisa menjualnya lagi padaku, seberapa banyak pun akan aku terima!"


"Bibi, ini adalah uang Dongzi. Ambilah dan periksa dengan jelas. Permasalahan Dongzi ini aku minta maaf padamu, aku seharusnya memberitahumu lebih awal.”


Zhang Cuimei melihat tumpukan uang di tangannya, merasa senang sekaligus malu


"Aduh, nak Jiang zhou, aku yang harus berterikasih padamu! Setiap hari Dongzi berkeliaran tidak melakukan apa pun, ternyata kamu membawanya mencari uang bersama. Aku salah paham padamu sebelumnya! Benar-benar membuatku merasa bersalah!"


Zhang Cuimei menerima uang itu dengan sungguh-sungguh lalu berkata "Aku akan membawa Dongzi menangkap belut sawah dan akan menjualnya kepadamu nanti."


Setelah mengatakan itu, dia membawa anaknya dan segera pergi.


Ada banyak belut sawah di ladangnya.


Jika terlambat dan orang lain menangkapnya, akan menjadi kerugian besar!


Saat ini.


Sekelompok besar orang di luar telah mendengar rumor ini, kemudian datang untuk melihat keramaian dan membicarakannya.


"Ya Tuhan, kamu benar-benar membayarnya! Hewan ini, sangat tidak enak dan bau amis, tapi tidak di sangka setengah kilonya Rp.1.200! Bukankah ada banyak sekali di ladang! Di ladang ku dimana-mana bisa di temukan belut! Kita harus buru-buru menangkapnya dan di bawa kesini untuk di jual. Lumayan bisa membantu keuangan di rumah."


"Sayangku, matahari sepertinya benar-benar terbit di barat. kalau sampai babi memanjat pohon, aku tidak akan kaget lagi. Anak paling kecil dari keluarga Jiang ternyata sudah mulai berbisnis! Yang paling penting adalah dia berbisnis dengan jujur! Cih! Aku tidak menyangka.”


"Aku pulang dulu ya! Bantu bawa barang-barang itu dan jangan tangkap semua belut sawah di ladangku!"


...


Sekelompok penduduk desa sedang mengobrol di dekat dinding halaman kecil Jiangzhou.


Semua orang melihat ke halaman kecil dengan rasa ingin tahu, dan kemudian mereka melihat sesuatu yang bagus.


"Aduh! Apakah itu ampas minyak kacang?!"


"Di mana?! Di mana aku bisa menemukan benda itu?! Padahal aku masih bingung karena tahun ini aku hanya membeli beberapa saja! Dimana dia?"


"Bukankah itu yang menumpuk di atas kereta kayu? Berminyak dan harum, ini ampas minyak kacang yang masih baru! Ini makanan terbaik untuk babi."


Saat ini seseorang tergesa-gesa berteriak di halaman rumah Jiang zhou.


"Hei! putra bungsu dari keluarga Jiang, apakah yang ada di kereta kayumu ini ampas minyak kacang?"


mendengar seseorang memanggilnya.


Jiang Zhou segera mengangkat kepalanya sambil tersenyum dan melihat ke arah sana.


"Betul, aku baru saja membawanya pulang. Harga lama, Rp. 280 per satu kilogramnya, Paman dan bibi, apakah kalian menginginkannya? "


Ya tuhan.


Ini sungguhan!


Begitu mendengar ada ampas minyak kacang yang di jual, seketika semua orang langsung melompat dan melihat kedalam rumah Jiang zhou.


"Hei! Jiangzhou, beri aku dua buah! Babi di rumahku sangat kurus, aku sedang khawatir bagaimana cara menggemukannya."


" Aku mau tiga buah, barang ini sangat sulit di beli! Jika babi kita tidak makan makanan berlemak, dagingnya nanti tidak akan berlemak di tahun baru, menjualnya saja sulit nanti."


“Aku juga mau! Aku juga mau! Akhirnya bisa membelinya! "


...


saat itu,


sekelompok orang berkerumun menuju kereta kayu tempat di taruhnya ampas minyak kacang tersebut.


Jiangzhou tidak punya pilihan lain.


Tepat ketika dia ingin menyuruh orang-orang ini untuk menunggunya selesai, dia melihat Liu mengli membawa kedua anaknya, kemudian memindahkan bangku kecil dan membiarkan kedua anak itu duduk tepat di samping kereta kayu sedangkan dia berdiri.


Sikapnya tidak rendah hati atau sombong, dan dia tidak merasa malu sama sekali.


"Sepotong ampas minyak harganya Rp.1.400 kalian kasih aku uangnya nanti aku akan memberikan barangnya pada kalian."


semua orang langsung bahagia melihatnya,


Istrinya keluar untuk berbisnis!


Pemikiran orang-orang di desa agak tertutup.


Meskipun mereka tidak mengatakan tidak jadi membelinya, tetap masih ada beberapa orang yang bercanda dan mengejeknya.


"Bagaimana seorang wanita bisa berbisnis, bukankah dia harusnya bekerja di ladang dan mengasuh anak. Sepeotong harganya Rp.1.400. Jika orang-orang membeli dalam jumlah besar apa kamu bisa menghitungnya?"


"Itu benar! Nyonya Jiang apa yang kamu lakukan disini?"


"Putra Jiang Laosan, apa kamu tidak peduli?" "


...


Wajah Jiang Zhou berubah tidak senang.


Dia tahu bahwa orang-orang ini tidak ada niat buruk.


Namun,


dia takut Liu Mengli akan menganggapnya serius.

__ADS_1


Hanya saja,


Jiang Zhou meremehkan kesabaran Liu Mengli.


Dia menarik kedua anaknya dan Berdiri di aamping kereta kayu begitu saja, dan menatap semua orang dengan tenang.


Sudut bibirnya sedikit terangkat, dan tatapan matanya datar dan serius.


“Paman dan bibi, aku tidak bisa mengatakan hal lainnya, tetapi soal hitung-menghitung seperti ini aku bisa menghitungnya dengan jelas."


Liu Mengli berbicara sambil matanya tertuju pada seseorang di antara kerumunan.


“Paman Zhao, ketika aku pertama kali baru tiba di desa, apakah kamu lupa bahwa kamu yang membawa perubahan ini?"


Setelah diingatkan seperti ini.


Hanya warga desa Liqi yang mengingatnya.


Liu Mengli adalah seorang pemuda terpelajar.


Tidak menunggu orang untuk menjawab.


Liu Mengli menambahkan "Sekarang zaman telah berubah. Kutipan dalam buku mengatakan bahwa perempuan juga bisa melakukan banyak hal, apa yang tidak bisa dilakukan oleh kami kaum wanita? Aku juga bisa menjual ampas minyak ini."


Beberapa kata ini.


Tidak rendah hati ataupun sombong.


Jiang Zhou, yang sedari tadi gugup dan khawatir terhadap Liu Mengli, Hanya merasa Liu mengli yang ada di hadapannya ini sepertinya ada kebanggaan dan kepercayaan diri yang dulu telah pernah hilang dalam dirinya.


Membuat orang-orang sulit untuk mengalihkan pandangannya.


mendengar Liu Mengli bahkan mengeluarkan kata-kata kutipan dari sebuah buku.


Semua orang langsung terdiam.


Jangan bercanda.


Kata-kata " wanita bisa melakukan segala hal" ini sudah seperti pengetahuan umum!


Ini benar-benar tertulis dalam buku!


Siapa yang berani membantah?


Saat itu.


Lao Zhangtou yang ada di paling depan tersenyum dan menggaruk kepalanya sambil berkata "Memang menantu keluarga Jiang yang luar biasa! Bagaimana pun juga kamu adalah pemuda terpelajar, pemikiran dan pokusmu sangat tinggi! Paman yakin kamu akan menghitungnya dengan benar."


"Beri 10 kilogram ampas minyak kacang untuk paman! "


Liu Mengli tersenyum.


"Baiklah, satu potong beratnya 5 kilogram Paman Zhang, kamu mau 10 kilogram, itu berarti dua potong. Totalnya Rp.2.800. Kamu bisa mengambilnya."


Melihat Liu Mengli berkata seperti itu, ada juga beberapa orang-orang terpelajar yang menghitung dalam hati mereka.


Ck!


Benar-benar pemuda terpelajar!


Selain itu juga sangat beradap!


"Bagus! Hitungannya tidak ada yang kurang! Ini Rp.2.800 untukmu."


Lao Zhangtou mengambil ampas minyak dari tangan Liu Mengli.


Dua orang gadis kecil yang duduk di kursi kecil itu, dengan suara imutnya menyapa Lao zhangtou.


"paman Zhang, Hati-hati di jalan~"


"Paman Zhang~ samapi jumpa, nanti datang lagi ya"


Chloe dan Zoe mempelajari kata-kata ini dari Jiang Zhou.


Saat mengikuti Jiangzhou pergi ke kabupaten.


Mereka pernah melihatnya melakukan bisnis sekali, anak kecil akan belajar dari tindakan seseorang, maka dari itu mereka belajar dua kalimat itu.


Lao Zhangtou langsung tertawa.


"Baiklah! lain kali paman akan datang lagi. "


katanya dengan puas dan membawa dua potong ampas minyak kacang itu, lalu pergi.


Yang lainnya melihat pak zhang dan berpikir itu luar biasa.


Lao Zhangtou sendiri membeli 10 kilogram.


jumlah total di sini kurang dari seratus kilogram.


“Nyonya Jiangzhou, tolong beri aku 5 kilogram.”


“Aku juga mau!”


“Hei! Ini uangnya ambil! Cepat beri aku dua potong."


...


ampas minyak ini benar-benar laris...


Jiangzhou baru saja menyelesaikan pembukuan pembelian belutnya.


Ampas minyak yang di sini juga sudah habis terjual.


Banyak orang yang berencana membeli ampas minyak di sana setelah mereka mendapatkan uang.


kali ini hasilnya bagus.

__ADS_1


Semua ampas minyaknya terjual habis!


"Hei! Jiang Zhou, apakah kamu masih menjual kue ampas minyak besok? aku baru saja mengambil uang untuk membeli ampas minyak. Keluargaku telah memelihara dua babi tahun ini, dan aku ingin membuat pesta! Sekarang aku malah tidak bisa membeli ampas minyak karena habis, benar-benar pusing!"


mendengar ini, Jiangzhou tersenyum dan berkata "Ya, aku akan menjualnya lagi besok. Pada sore hari seperti hari ini, aku jual 150 kilogram setiap hari. Kalau terlalu banyak aku tidak dapat membawanya, kalian datanglah lebih awal, siapa yang duluan, dia yang akan mendapatkannya."


Ketika semua orang mendengar bahwa masih ada 150 kilogram besok, semua orang menyeringai dan merasa lega.


"Baiklah! Kalau begitu aku akan pergi menangkap belut sekarang! lalu kembali lagi untuk menjualnya padamu! "


Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan berjalan pergi dengan cepat.


Ini akan membuat semua orang semakin bersemangat.


menangkap belut bisa menghasilkan uang.


Lalu besok datang dan membeli ampas minyak kacang.


mendapat dua keuntungan sekaligus.


Halaman kecil itu akhirnya tidak ada orang lagi.


Sayang sekali, Jiangzhou tidak punya waktu untuk bersantai, karena penduduk desa yang pergi untuk menangkap belut sekarang sudah kembali, membawa tong kayu besar.


"Hei! Jiangzhou! Kemarilah, lihat, kamu bisa mencatat belut yang baru kutangkap! Coba kamu hitung"


" Uh! Belut-belut itu banyak sekali di ladang rumahku. Jadi aku mencari lubang dan memancingnya dengan asal, tapi hasilnya aku dapat setengah ember, coba lihat ada berapa kilogram, dan buatkan aku surat utang."


"Di sini! Kamu ambil saja, besok aku bangun pagi untuk menangkapnya."


...


Jiang Zhou, yang baru saja minum air seketika terdiam.


Sungguh menakjubkan, Dia jadi ingin tertawa sekaligus menangis.


Setelah itu.


Sampai pukul 7:00 malam orang-orang terus berdatangan kerumah Jiang zhou untuk mengantarkan belut.


Sama seperti kemarin, semua mendapatkan surat utang.


Dengan pembayaran yang dilakukan hari ini semuanya menjadi sangat percaya kepada Jiang zhou.


Setelah penduduk desa terakhir pergi, Jiang Zhou kelelah sehingga dia duduk di bangku kecil dan tidak ingin berbicara.


Chloe dan Zoe berlari mendekat.


Kedua gadis kecil itu mengulurkan tangan mereka dan dengan penuh perhatian menepuk lembut tubuh Jiang zhou.


"Ayah, apakah ayah lelah? Chloe akan memberikan pijatan untukmu."


"Zoe, pukul-pukul beri ayah pukulan ringan."


Empat tangan kecil memukul dan mencubit punggung Jiang Zhou.


sejujurnya.


Memangnya seberapa besar tenaga yang di hasilkan oleh kedua gadis kecil ini?


Usianya tiga tahun, tetapi sebenarnya tinghinya hampir sama dengan anak usia dua tahun.


Lengan dan kaki yang kurus, tangan kecil itu memukul tubuh Jiang zhou namun dia tidak merasakan apapun.


Namun.


Jiang Zhou tetap dengan sungguh-sungguh menganggukan kepala.


Dia menunjukkan ekspresi yang menikmati.


“Wah, ini sangat nyaman sekali!”


Jiang Zhou merenggangkan pinggangnya, lalu berbalik dan tersenyum pada kedua gadis itu.


"Terima kasih Chloe dan Zoe, kalian sangat hebat."


Dia mengacungkan jempol kepada kedua kakak beradik itu.


Hal itu membuat Chloe dan Zoe seketika menegakan dada dengan bangga.


“Makan.”


Liu Mengli sudah selesai masak.


Sejak Jiangzhou mengubah kebiasaan sehari makan dua kali menjadi tiga kali sehari, kini Liu mengli pun sepertinya juga sudah terbiasa.


Jiangzhou selalu sibuk.


Liu Mengli kemudian memanaskan makan dari siang tadi dan memasak sepanci nasi lagi.


Setelah selesai masak dia meletakannya di atas meja, kemudian berteriak memanggil suami dan kedua anak perempuannya untuk makan.


Jiang Zhou yang mendengarnya langsung menjawab, "Baik!"


Setelah selesai berbicara, dia berdiri dan menggandeng tangan kedua anaknya menuju meja makan.


“Ayo jalan, ayo kita makan!”


di halaman rumah mereka tidak ada lampu.


Tapi Liu Mengli menyalakan lampu di kamarnya.


Meja makan kebetulan menghadap ke jendela.


Cahaya kekuningan lampu bercampur dengan cayaha bulan yang indah


Seluruh halaman pun menjadi sangat terang.

__ADS_1


__ADS_2