Kembali Ke Masalalu

Kembali Ke Masalalu
Kuat Seperti Rumput Ilalang


__ADS_3

"Berapa lama kamu akan melakukan bisnis belut ini?"


Jiang Changbao bergumam, "Apakah kamu akan berhenti menanam di ladangmu?"


Mata Jiang Zhou berbinar.


“Paman, apakah kamu sudah membeli bibitnya?”


Jiang Changbao mengangguk.


"Ya, Aku mendapatkannya kemarin, dan uangnya juga sudah ku bayar untukmu. Komite desa mengadakan rapat siang hari ini, mereka mengajarkan kami pendidikan tentang reformasi! Makanya aku sedikit terlambat datang ke rumahmu."


Jiang Changbao menghisap tembakaunya dan berkata "Aku sudah melemparkan bibit itu ke sawah, kamu harus mencari kerbau untuk membajak sawahmu, kalau tidak, kamu tidak akan mendapatkan padi satupun, bahkan jika kamu menanamnya."


Jiang zhou mengangguk menunjukan dirinya telah mengerti.


Ladang keluarganya sudah terlalu lama terbengkalai.


penuh dengan rerumputan.


di masa ini, tidak ada pestisida.


Rumput liar memiliki daya tahan hidup yang sangat kuat.


Jika kamu mencabut dan melemparkannya kedalam air, rumput liar juga akan tetap tumbuh.


Kamu harus menggunakan bajak dan garu, lalu membajaknya sebanyak tigak kali, dan menghancurkan akar yang tertanam di dalam lumpur. Kemudian, baru tanam bibit dan kamu baru akan menuai hasilnya.


Pada masa sekarang, bekwrja diladang sangat lah sulit.


Belut kolam dan belut sawah ada di dalam air, tapi yang lebih banyak adalah lintah.


Lintah bersembunyi di air berlumpur, mereka menghisap darah hingga tubuh mereka gendut.


Matahari terik yang sangat panas ada di atas kepala, dan air berlumpur menggenangi kaki kita, bahkan banyak ualat di dalam air itu.


Jika sampai mengenai kakimu, itu akan sangat gatal, mandi sehari saja tidak akan cukup.


kesulitan seperti ini hanya bisa di tanggung oleh petani tangguh.


Jiangzhou sudah terbiasa berkeliaran, dia tidak pernah turun keladang.


Sekarang dia terlahir kembali. tiga hektar ladang di rumahnya harus di tanam, jika menyuruh dirinya untuk menghentikan bisnisnya untuk bertani...


Jiang zhou tidak bersedia.


Terutama.


Ayahnya, Jiang Fuguo, sedang menunggu uang untuk menyembuhkan kakinya!


Jiang Zhou memandang Jiang Changbao, lalu menyodorkan rokok malioboro kepadanya.


Ketika Jiang Changbao melihat rokok malioboro, matanya seketika langsung berkilauan.


Anak ini.


Tak disangka memiliki rokok sebagus ini!


“Paman, ada sesuatu yang perlu kukatakan padamu.”


“Ada apa?”


​​Jiang Changbao mengambil rokok itu, mengendusnya ke hidungnya dengan ekspresi penuh kasih sayang, dan kemudian menggantungkannya di telinganya dengan tidak rela.


“Sepertinya aku tidak akan bertani untuk sementara waktu ini."


Melihat alis Jiang Changbao berkerut, Jiang Zhou dengan cepat berkata: "Paman, kamu jangan marah. Aku bukan malas aku punya alasan untuk ini."


Lalu Jiang Zhou menceritakan segalanya tentang penyakit Jiang Fuguo

__ADS_1


Jiang Zhou bahkan menekankan Rp.4.000.000 itu dengan rinci.


pandangan Jiang Changbao saat melihat Jiang zhou seketika menjadi berbeda.


"Anak baik! kamu berbakti pada orang tua! Yang paling diharapkan ayahmu adalah kamu berjalan kembali dijalan yang benar."


Jiang Changbao juga saat ini merasa sedikit terharu, dia mengulurkan tangannya, dan menepuk bahu Jiang zhou dwngan keras.


"Mengenai kaki Ayahmu ini, umumnya desa kita seharusnya memberikan uluran tangan."


"Hanya saja sangat disayangkan, musim semi baru saja tiba, jadi tidak ada uang di desa."


Jiang Changbao memegang tembakau, dan wajahnya di liputi kegelisahan.


Setelah beberapa saat, dia mengertakkan giginya, seolah-olah dia telah mengambil keputusan, "Begini, besok aku akan mencobanya, kita lihat apakah aku bisa mengumpulkan Rp.40.000 untukmu. Kamu bawalah uang itu untuk ayahmu, anggap saja sebagai bantuan dari komite desa kita. Bagaimanapun juga kita satu desa..."


Sebelum Jiang Changbao selesai berbicara, Jiang Zhou sudah menggelengkan kepalanya untuk menolaknya.


“Paman, niat baikmu sudah aku terima, tapi aku tidak bisa menerima uang itu."


Jiangzhou mengetahui dengan jelas.


Uang komite dari desa Liqi, jika di tambahkan seluruhnya, masih tidak sebanding dengan kumpulan belut sawah ini.


Jiang Zhou berkata: “Paman, kalau kamu benar-benar ingin membantu. Aku benar-benar ingin minta sesuatu darimu."


Jiang Changbao berkata dengan cepat: “Katakanlah!”


Jiang Zhou berkata: “Untuk sementara waktu ini, aku ingin sesegera mungkin berbisnis dan mendapatkan uang untuk mengobati kaki ayahku. Namun, aku juga tidak ingin menelantarkan ladang ini, lagi pula kamu telah membeli bibinya.


"Paman, kamu adalah kepala desa. Jadi aku lebih percaya dengan kata-katamu dan orang yang kamu cari."


"kamu juga tenang saja, uang yang aku berikan tidak akan kurang sepeser pun untuk orang desa ini."


Ketika Jiang Changbao mendengar ini, dia pun berhenti menghisap tembakaunya.


"Meski kamu tidak memintaku, aku juga akan menyuruh orang untuk membantumu bercocok tanam."


"Aku dan ayahmu dulunya dari kelompok yang sama. Sekarang kaki ayahmu patah, dan kita adalah kerabat, bagaimanpun juga aku harus membantu. Aku memang tidak punya uang, tapi apa mungkin aku tidak punya tenaga?"


Jiang Changbao memandang Jiang Zhou dengan ekspresi serius di wajahnya.


"Paman tidak akan mengatakan apa-apa, tapi selama pikiranmu telah berkembang menjadi baik, dan mengerti meningkatkan diri, paman harus membantumu bagaimanapun juga."


Rasa hangat menaungi hati Jiang Zhou.


Jiang zhou tidak mengatakan apapun, dan segera menyerahkan sebatang rokok lagi pada Jiang Changbao.


Dalam hati Jiang Changbao tersentuh.


Anak ini sangat pintar menyenangkan hati orang!


Tidak sia-sia Jiang Changbao ingin membantunya.


"Paman, masalah ini kita tetapkan seperti ini ya. Berapa uang yang dibutuhkan, dan berapa orang pekerjanya, kamu bantu aku untuk mencatatnya. Ketika saatnya tiba, aku akan menyelesaikan semua tagihan itu!"


Jiang Zhou berkata sambil tersenyum.


Jiang Changbao mengangguk dan menyetujuinya.


Sebelum Jiang Changbao pergi, dia memberi tahu Jiang zhou banyak sekali warga dari desa tetabgga menanyakan dirinya mengumpulkan belut sawah.


Jika ingin membuat bisnis ini menjadi besar, tidak bisa jika hanya mengandalkan Jiang zhou.


Jiang Zhou juga setuju dengan pemikiran itu, setelah berpamitan dengan Jiang Changbao, dia pun memikirkan hal ini.


Hal tentang Menghasilkan uang.


keuntungannya memang banyak jika satu orang yang melakukannya, tapi untuk keseluruhannya tidaklah banyak.

__ADS_1


Sepwrti halnya kamu membuka toko.


Tentu saja kamu harus membuka gerai, keuntungan memang kecil, tapi perputarannya cepat. Beri orang lain upah agar mereka membantumu menghasilkan uang, bukankah dengan begini kamu akan memperoleh uang yang lebih banyak?


Jiang Zhou berencana mencari orang saat dia kembali besok.


500 kilogram belut sawah ini, Jiang zhou masih mampu mengantarkannya sendiri.


Jiangzhou menyirami sisa keranjang bambunya yang berisi belut sawah.


Lalu dia mendengar suara pintu terbuka di belakangnya.


Dia meletakkan gayung airnya.


Lalu berbalik dan melihat.


Itu adalah Liu Mengli.


Liu mengli memakai sebuah terusan dan berjalan keluar dari dalam rumah.


Ketika dia melihat Jiangzhou, dia berhenti sejenak dan kemudian bertanya dengan lembut, “Mengapa kamu belum tidur?”


Besok Jiang zhou harus bangun pagi-pagi untuk mengantarkan belut sawah.


"Aku akan segera tidur. Aku sedang menyirami belut sawah dengan air dingin, kalau tidak mereka akan mati kepanasan."


kata Jiang Zhou.


Sembari mengatakan itu, Jiang zhou teringat dia harus memberi tahu Liu mengli tentang hal ini.


“Ladang tiga hektar kita sudah teratasi. Bibitnya sudah terbeli, dan mengenai masalah bertani, aku sudah meminta kepala desa untuk membantuku mencari orang untuk bercocok tanam, kita cukup memberi mereka upah. Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi."


Jiang zhou selesai bicara.


Tapi Liu Mengli sedikit mengernyitkan alisnya.


“mencari orang untuk menanam padi diladang."


Liu Mengli berkata: " besok kamu beri tahu kepala desa untuk mencari seseorang yang mempunyai bajak dan guru untuk membajak ladang kita. Aku yang akan menanam padinya sendiri."


Menanam padi tidak membutuhkan teknik apapun, dan juga tidak membutuhkan kekuatan fisik.


Hanya saja sedikit susah.


Liu mengli adalah pemuda terpelajar, tapi kekita pertama kali dia datang kedesa Liqi, dia sudah berbeda dengan pemuda terpelajar lainnya.


Menerima kenyataan dan giat untuk hidup. Kekuatan yang dimiliki Liu mengli sekuat ilalang yang tertiup angin musim semi di punggung bukit, hal apa pun tidak mampu membuatnya jatuh


turun keladang dan menanam padi, Liu mengli mampu melakukan semua itu.


Mereka tidak perlu menghabiskan uang untuk ini.


Jiang Zhou terdiam sejenak.


Dia memiringkan kepala dan menatap Liu mengli.


Cahaya bulan purnama yang begitu jernih bak air, jatuh di bahu Liu mengli yang kurus.


Seorang pemuda terpelajar yang tinggal di desa selama bertahun-tahun, tapi kulitnya masih saja begitu halus dan indah.


Dagunya yang tirus, dan fitur wajahnya yang begitu cantik, terutama sepasang matanya yang lembab dan bercahaya, mampu membedakan yang benar dan salah. Liu mengli memiliki aura dan kecantikan batin yang tidak dimiliki wanita desa.


Hati Jiang Zhou juga terasa sedikit hangat.


Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Tidak boleh”


Jiang Zhou berkata dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2