Kembali Ke Masalalu

Kembali Ke Masalalu
Biaya Pengobatan Terlalu Mahal


__ADS_3

"Ibu, ada seorang kakek yang bilang kalau kaki ayahnya ayah jatuh dan kakinya patah."


Chloe berkata.


Zoe yang bibirnya dilumuri saus mi juga mengangguk dan mengngkat kepalanya untuk melihat Liu mengli.


Mata Zoe yang bulat dan besar, berbinar-binar.


"Ayah menjadi sedih,"


lalu Zoe menunjuk ke arah Jiangzhou, dengan wajah kecilnya yang berkerut, terlihat sangat khawatir.


Cara bicara Chloe dan Zoe memang tidak terlalu jelas.


Namun.


Liu Mengli mengerti apa yang mereka katakan.


Liu mengli juga khawatir dan alisnya berkerut.


"Kaki Ayah patah?"


Lalu Liu mengli berdiri dan berjalan menuju Jiangzhou.


Saat dia mendekati Jiangzhou, cahaya jingga menyinari ujung alis Jiangzhou.


Baru kemudian Liu Mengli menyadari bahwa mata Jiang zhou merah.


Sangat menakutkan.


Hati Liu Mengli seketika menegang.


Ketika melihat kondisi Jiang Zhou seperti ini, jantungnya seakan dicengkeram dan diremas begitu kuat hingga dia tidak bisa bernapas.


"Jiangzhou..."


Dia tidak tahu harus berkata apa untuk menghiburnya saat ini.


Suara Liu mengli pun sedikit bergetar saat berbicara.


“Kaki Ayah…”


“Aku benar-benar bajingan.”


Tepat ketika Liu Mengli hendak mencoba membujuk Jiang Zhou, Jiang Zhou tiba-tiba berbicara dan memotong kata-katanya.


Sambil bicara, Jiang zhou menggertakan giginya karena geram


“Kaki ayahku patah tapi dia bahkan tidak memberitahuku."


"Ya, benar! apa gunanya memberitahuku? Aku hanya bisa meminta uang kepadanya, mana mungkin aku bisa membantunya?"


Kemudian, Jiang Zhou menarik-narik ujung bibirnya, lalu menutup dan mengusap wajahnya dengan kuat.


Sekarang piikirannya sangat kacau.


Namun, hal yang memenuhi pikirannya adalah penyesalan.


Sementara itu, Liu mengli sedang menatap Jiang zhou lekat-lekat.


Lalu, angin sejuk berhembus di antara jari-jari Jiang zhou dan dia mendengar suara Liu mengli


“sekarang, kamu sudah bisa membantu”


Setelah berpikir sejenak, Liu mengli mengulurkan tangannya, untuk mengusap punggung Jiang zhou.


“Hari ini kita telah mengumpulkan belut sawah sebanyak 281 kilogram, Lalu, ampas minyak di kereta kayu juga sudah terjual habis semua."


"Besok aku akan membawa Chloe, Zoe, kita bersama-sama pergi kekabupaten untuk menjual belut sawah, setelah itu, kita akan mempunyai uang."


"Kita yang akan mengobati kaki ayah."


Liu Mengli berkata dengan lembut "Jiang Zhou, apa yang kamu lakukan sekarang sudah sangat baik. Kalau ayah mengetahuinya, pasti ayah sangat senang."


Jiang Zhou terdiam.


saat ini, tiba-tiba Jiang zhou merasa kabut di kepalanya sudah lenyap.


Benar.


Tidak peduli seberapa banyak kamu memikirkan masa lalu, tidak peduli seberapa besar kamu menyesalinya, itu semua terjadi di kehidupan sebelumnya.


Di kehidup ini.


Jiang zhou hidup kembali, jadi tuhan sudah memberikan kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya.


Yang harus dilakukan Jiang zhou.


Adalah memanfaatkan kesempatan ini baik-baik.


untung saja.


Untung saja ini belum terlambat!


“Terima kasih!”


Jiang Zhou tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menatap Liu Mengli.


Kemudian Jiang zhou mengulurkan tangannya dan memegang tangan Liu Mengli dengan erat, seperti ingin meleburkan tangan Liu mengli ke dalam telapak tangannya.


Di bawah malam yang gelap.


Cahaya bulan dan cahaya lampu yang remang-remang melebur menjadi satu di dalam mata Jiang zhou.


Mata Jiang zhou yang berbinar-binar.


Membuat Jantung Liu Mengli berdebar kencang.


"Kamu tidak perlu berterimakasih padaku."

__ADS_1


Liu mengli berkata dengan lembut.


Namun, pandangan Liu mengli malah tertuju pada tangan Jiang zhou yang sedang memegang erat tangannya.


Di sana, tangan Jiang zhou terasa panas dan hangat.


Ada satu lapisan kulit yang menebal membungkus punggung tangan Liu mengli.


Hati Liu mengli sedikit kacau.


........................


keesokan harinya.


Saat ayam berkokok untuk pertama kalinya, Jiang Zhou langsung membuka matanya.


Jiang zhou tidak menyangka semalam dia bisa tidur nyenyak.


Jiang Zhou sudah mengerti.


kalau segala sesuatu harus dilakukan secara pelan-pelan.


Saat ini, harusnya ayahnya sedang berada dirumah sakit. Lalu masalah terbesar yang mereka hadapi adalah uang.


Dia tidak tahu seberapa parahnya kaki Jiang Fuguo.


Namun.


Bagaimanapun kondisinya yang harus di lakukan Jiang zhou sekarang adalah segera mendapatkan uang, dan pergi kerumah sakit untuk melihat langsung kondisi kaki ayahnya.


Kalau ada uang ayahnya baru bisa mendapatkan pengobatan yang baik.


Jiang Zhou berpikir.


Jika kota kabupaten tidak bisa, Jiang zhou akan membawa ayahnya ke ibu kota provinsi. Jika ibu kota provinsi tidak bisa, Jiang zhou akan membawanya ke ibu kota!


Jiang zhou pasti akan menyembuhkan kaki Jiang Fuguo!


Setelah mengambil keputusan, Jiangzhou sudah bangun di saat fajar.


Selesai memasak, Jiang zhou meletakan belut sawah yang beratnya 281 kilogram kedalam kereta keledai. Melihat kedua anaknya yang belum bangun, Jiangzhou pergi memetik sayur-sayuran liar.


Dua hari ini, Jiangzhou sudah tidak memetik sayuran liar lagi.


Namun saat ini, apa pun yang bisa di jual, Jiang zhou akan mencobanya.


Lalu Sekitar pukul setengah enam, kedua anak itu bangun.


Sarapan sudah siap.


Jiang Zhou juga sudah pulang.


Dia membawa sekarung sayuran liar.


Saat masuk kedalam rumah, dia meletakan karungnya ke dalam kereta kayu. Lalu, ketika melihat kedua gadis kecilnya, Jiang zhou menyeka keringatnya dan tersenyum.


"Ayah~ sudah pulang~"


Sementara itu, Zoe sedang menyentuh meja dapur.


Zoe menunjuk kearah panci yang berasap dan berkata " Zoe, Zoe, mau makan."


Jiang Zhou merasa terhibur dan senang.


Dia berjalan mendekat dan mengangkat tutup panci.


Di dalam panci ada bubur ubi rambat.


Ubi rambat yang manis dan lembut dicampur nasi putih lengket dan wangi.


Di masak menjadi bubur.


Sangat manis dan lezat.


Meskipun Jiang Zhou takut gigi kedua anaknya jadi rusak kalau makan gula, hari ini masing-masing Jiang zhou memberikan satu sendok gula putih kedalam mangkok Chloe dan Zoe.


Saat melihat gula kristal putih yang trasparan meleleh di dalam bubur. Chloe dan Zoe meneteskan air liur


Kemudian mereka berempat mulai sarapan.


Setelah mengunci pintu rumahnya, Jiang Zhou mengemudikan kereta keledainya dan membawa Liu Mengli dan Chloe dan Zoe pergi ke kota kabupaten.


……………………


Lalu.


Jiang zhou langsung mengirim belut sawah langsung ke koperasi pemasok dan pemasaran hasil perairan.


setelah belut sawah seberat 281 kilogram di timbang, lalu air dan belut yang mati dibuang.


Total beratnya menjadi 276 kilogram.


Kemudian, setelah mengambil faktur, jiang zhou menagihnya kebagian akuntan


Total yang di dapat Jiang zhou adalah Rp.1.200.000


Namun,Laba bersihnya sebesar Rp. 520.000


Di tambah keledai dan beberapa barang-barang kecil lainnya yang di belinya kemarin.


Setelah Jiang Zhou menghitung, uang di dalam kantongnya yang bisa dia gunakan sekitar Rp.800.000


Saat melihat ekspresi Jiang zhou, Liu mengli tau apa yang membuat Jiang zhou khawatir.


"Tidak apa-apa. Sekarang kita pergi saja dulu kerumah sakit. Kita bayar saja dulu dengan uang yang kita punya. Kalau tidak cukup besok kita pergi cari lagi."


Jiang Zhou mengangguk.


Jiang zhou tahu apa yang dikatakan Liu Mengli benar.

__ADS_1


Kemudian, Jiang zhou membawa sayuran liar ke daerah rumah susun pekerja tambang dan semuanya habis terjual.


Jadi, uangnya bertambah lagi Rp.46.000


Jiang Zhou melihat tumpukan uang yang rapih di tangannya.


Dia menarik napas dalam-dalam dan menoleh ke arah Chloe dan Zoe "Ayo kita pergi menjenguk kakek dan nenek."


kedua putrinya mengangguk.


Setelah itu, Jiang Zhou mengemudikan kereta keledainya dan menuju ke rumah sakit kabupaten.


........................


Rumah Sakit Kabupaten Qing'an pada tahun 1982.


Ini baru saja dibangun tahun lalu.


sepertiga dari bagian bawah dinding puti di koridor di cat warna hijau.


Di lorong tempat orang lalu-lalang ini terdapat beberapa bangku panjang kayu yang di cat merah. Sekarang, bangku-bangku itu di penuhi keluarga pasien


Jiang Fuguo tinggal di Bangsal No.36.


Di dalam bangsal terdapat tiga tempat tidur, dan semuanya pasien patah kaki.


Masa-masa sekarang ini, banyak orang yang bertani.


Rata-rata mereka semua adalah petani di desa, jadi banyak sekali yang cidera pinggang dan kaki.


Lalu, Jiang Fuguo tinggal di ranjang rumah sakit paling dalam.


Kakinya setengah menggantung di udara.


Sementara itu, di sampingnya Qi Aifen sedang menyeka air matanya.


Dibandingkan dengan dua tempat tidur lainnya yang di penuhi suara orang-orang yang sedang mengobrol, tempat tidur Jiang Fuguo sunyi sekali.


Jiang Ming sedang duduk di bangku kecil yang ada di dalam.


Siku tangannya di letakan di atas lutut, lalu kedua tangannya di lipat dan ditempelkan ke dahinya. Wajah Jiang ming terlihat lesu.


Jiang Fuguo yang sedang berbaring juga tidak berbicara, pandangannya kosong.


Dokter yang baru saja berkeliling telah tiba.


Tadi dokter sudah datang memeriksa.


Setelah memeriksa kakinya dengan teliti. Dokter memberikan kabar buruk.


"Kakimu bisa di sembuhkan. Namun, karena tulangmu ada yang pecah di dalam, jadi harus di keluarkan dan dipasang pen."


"Masalahnya, rumah sakit kabupaten di sini tidak bisa melakukan oprasi besar seperti ini. Jadi, kalau mau oprasi, harus pergi ke kota provinsi dan oprasi ini harus segera di lakukan. Kalau tidak, jika tulang yang pecah itu sampai menyebabkan infeksi, takutnya kaki anda harus di amputasi."


"Untuk biayanya, aku tidak bisa memastikannya. Namun, kalau pergi ke ibu kota provinsi untuk melakukan oprasi, paling tidak di butuhkan biaya sekitar Rp.4.000.000"


setelah bicara dokter pun pergi.


Tapi, kata-kata kata-kata dokter membuat Jiang Fuguo yang berbaring di tempat tidur, terdiam.


Uang sebesar Rp.4.000.000


bagi Jiang Fuguo nominal ini sangat besar.


Di desa, Jiang Fuguo mengandalkan pekerjaan kecil-kecilan untuk mendapatkan uang.


Kalau ada tim penebang kayu yang datang, Jiang Fuguo akan pergi membantu mengangkat kayu.


Dalam satu hari Jiang Fuguo hanya mendapatkan Rp.2.000


Pendapatan ini sudah termasuk banyak.


karena kesempatan seperti itu jarang datang.


Dalam sebulan, kesempatan seperti ini hanya ada tiga atau empat hari.


Selebihnya, dia pergi ke ladang untuk melakukan pekerjaan bertani, atau membantu pekerjaan kecil-kecilan ketika seseorang sedang membangun rumah.


Namun, pendapatannya tidak banyak.


karena kebanyakan orang-orang didesa menganggap sesama warga sudah harusnya saling tolong-menolong, jadi mereka hanya memberikan Jiang Fuguo sedikit uang. Bahkan ada yang sama sekali tidak memberikan uang, hanya mencatat saja dan disuruh kembali lagi besok.


pokoknya.


jangankan Rp.4.000.000


Uang sebesar Rp.400.000 saja Jiang fuguo tidak ada.


Sementara itu, meskipun putra sulungnya, jiang ming meskipun masih muda dan tenaganya kuat.


Di masa-masa sekarang ini, tenaga kuat saja tidak berharga.


Paling-paling hanya bisa melewati kehidupan sehari-hari saja.


Belum lagi di rumah ada anak laki-lakinya yang masih bersekolah.


Jadi kalau disuruh mengeluarkan uang sebesar Rp.4.000.000


itu seperti menyuruhnya mati!


Sementara itu, Qi Aifen terus menangis.


para wanita didesa tidak berpendidikan dan tidak mempunyai kemampuan, jadi mereka hanya bisa menangis.


kehilangan satu kaki.


Bagi seorang petani, ini lebih menyakitkan daripada kehilangan nyawanya!


Namun.

__ADS_1


Harus bagaimana lagi? !


Jangankan Rp.4.000.000, kalau di minta mengeluarkan Rp.2.000.000 pun mereka tidak akan sanggup!


__ADS_2