
"Kakak, Jiang zhou sudah mengaku salah.sekarang Jiang zhou berusaha untuk menggantinya. Mulai hari ini kami akan membayar semua utang Jiang zhou padamu."
Liu Mengli memandang Jiang Ming dengan serius dan berkata, "Namun sebaiknya uang ini dipakai untuk mengobati kaki ayah lebih dulu. Jika sehari saja di biarkan maka bisa semakin berbahaya. Bukankah begitu kak Jiang Ming?"
Raut wajah Jiang Ming tampak lebih tenang.
Jiang ming sudah memutuskan.
Tifak perduli uang ini hasil kerja Jiangzhou atau hasil mencuri.
Yang penting kaki ayahnya sembih dulu.
Setelah itu mereka sekeluarga akan mengembalikan uang tersebut. Rasanya itu lebih baik daripada melihat kaki ayahnya rusak sekarang.
"Ya,"
Jiang Ming menjawab dengan nada berat.
Kemudian Jiang ming menoleh ke Jiang Fuguo dan berkata, "Ayah, ayo kita pergi ke ibu kota provinsi pada sore hari. Setelah kakimu sembuh, kita akan cari uang lagi."
Jiang Fuguo pun ragu.
Sebenarnya.
Yao Juan, menantunya yang petama sudah pernah mengajak putranya ke rumah sakit.
Mereka membawa kue beras dan selembar uang kertas.
Yao Juan bilang itu semua pemberian Jiang Zhou.
Setelah mendengar ini, Jiang Fuguo memarahi Yao Juan .
Anak ini.
Entah dari mana dia mendapatkan uang itu.
Untuk apa menerima uang kotor begitu?
tentu saja Jiang Ming menegur Yao Juan dengan keras.
Lalu Yao Juan membawa putranya kembali ke Desa Liqi sambil mengusap air mata, setelah itu dia tidak pernah kembali.
Dan sekarang.
Jiang Zhou datang sendiri kesini.
Jiang zhou membawa tiga gepok uang dan pecahan uang receh. Katanya ini hasil menjual belut sawah dan sayuran liar.
Pikiran Jiang Fuguo sangat kacau.
Jiang Fuguo ingin memercayainya tapi sulit.
Setelah berpikir sejenak, dia berkata kepada Jiang Ming: "Ikutlah adikmu pulang kerumah siang ini. Bereskan baju lalu jemput lagi aku disini untuk pergi ke provinsi."
Jiang Fuguo berkata sambil melambaikan tangan seraya menyuruh Jiang Ming mendekat kemudian berbisik padanya.
Tak jauh dari mereka, Jiang Zhou sedang menggandeng tangan anaknya sambil berbicara dengan ibunya Qi Aifen.
Jiangzhou pun paham.
Sudah pasti ibunya tahu semuanya. Ayahnya menyuruh Jiang ming pulang bersama Jiang zhou untuk memastikan apa yang di katakan Jiang zhou benar atau bohong.
Jiang Zhou merasa lega sekarang.
Jiang zhou bukanya takut kalau ayahnya ingin memastikan, dia malah cemas kalau ayahnya tidak mau memastikan sangking tidak percayanya.
Apa bila belum apa-apa ayahnya sudah menampiknya tanpa pernah memberinya kesempatan untuk membuktikan, itu tidak adali namanya.
Jiang Ming mendekat setelah beberapa saat.
Dia melirik Jiang Zhou dan berkata, "Kapan kamu akan pulang?"
Ini pertama kalinya Jiang ming bicara dengan Jiang zhou semenjak Jiang zhou pindah rumah dengan mereka.
Jiang Zhou ingat bahwa di kehidupan sebelumnya, dia diam-diam menjual ternak Jiang Ming, setelah itu hubungan mereka menjadi retak.
__ADS_1
Jiang Ming adalah orang yang tegas
Salah itu salah, benar itu benar.
Hanya saja Jiang ming mentoleransi adinya berkali-kali.
Saat Jiang zhou pergi meninggalkan rumah mereka bertengkar habis-habisan. Namun selama dua tahun ini Jiang zhou selalu mencari kakanya lagi setiap kali kehabisan uang.
Setiapkali Jiang zhou bisa memperoleh Rp.2.000 sampai Rp.4.000.
Jiangzhou jelas tau.
Orang yang memberikan uang itu kepada Jiang zhou memang adalah kakak iparnya, Yao Juan.
Yao Juan adalah seorang wanita yang hari-harinya mengasuh anak di rumah, darimana Yao Juan mendapatkan uang?
Tentu saja uang itu dari Jiang Ming.
Hanya saja Jiang ming malu mengatakannya.
Sebab saat itu Jiang ming sudah melontarkan kata-kata kasar.
Begitu juga Jiang Zhou yang tidak mau mengalah. Maka sejak saat itu mereka bersitegang.
Kemudian Jiang zhou sudah mempunyai uang banyak. Dia muda dan energik, selalu ingin memamerkan kesuksesannya di depan Jiang ming.
Jiang zhou juga menantikan dimana Jiang ming yang meminta uang padanya.
Akibatnya, Jiang Ming tidak pernah melakukannya.
Bahkan sampai istrinya menderita uremia dan membutuhkan transplantasi ginjal, Jiang Ming juga tidak meminta uang pada Jiang zhou meski sedang membutuhkan uang banyak untuk pengobatan.
Kemudian, Jiang Zhou mendadak berpikir mengunjungi rumah kakaknya.
Namun, dia melihat di belakang rumah, tepatnya di bawah pohon pagoda, ada sebuah kuburan.
kuburan itu adaalah kuburan kakak iparnya.
Jiang zhou bertanya pada ibunya Qi Aifen.
Ibunya baru menceritakan semuanya kepada Jiang zhou.
Akhirnya Yao Juan pun meninggal.
Jiang Ming membawa putranya Jiang Haoming untuk belajar di ibu kota dan tidak pernah kembali.
Jiang zhou tidak tahu lagi setelah itu.
Jika mengingat-ingatnya sekarang...
Hanya penyesalan yang tersisa.
“Jadi pergi tidak?”
Jiang Ming mengerutkan kening dan menatap Jiang Zhou.
bisa-bisanya dia melamun sekarang.
sedang apa dia?
Jiang zhou pun kembali tersadar.
Jiang Zhou tersenyum lebar.
“Kakak,”
dia tiba-tiba berteriak.
dengan tegas
Jiang Ming tertegun.
Wajahnya yang muram tampak kikuk.
“Jangan panggil aku kakak,”
__ADS_1
Jiang ming berkata dengan kesal.
"Ayo cepat jalan. Aku harus cepat kembali untuk membereskan pakaian ayah. Jika telat maka tiket ke provinsi akan habis."
Jiang Ming berkata sambil jalan mendahului Jiang zhou.
Jiang Zhou juga tidak peduli.
Kakaknya itu...
Meskipun mulutnya tajam, tapi hatinya lembut. Kenapa Jiang zhou beru mengerti sekarang?
"Ayah dan Ibu, aku pergi dulu. Kalian tenang saja. Tidak perlu khawatir masalah uang. Aku pasti bisa mengatasinya."
Jiang Zhou berhenti dan menatap Qi Aifen, yang sedang menyeka air mata.
"Sudah jangan menangis ibu, jaga ayah baik-baik. Dua hari lagi aku akan mengajak Chloe dan Zoe pergi ke provinsi untuk mengunjungi kalian."
Air mata Qi Aifen makin bercucuran.
Dia hanyalah perempuan desa.
sejak kecil Qi Aifen hanya berharap memiliki keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang dan anak yang berbakti pada orang tua.
Setiap ada masalah Qi Aifen hanya menangis tanpa mencari jalan keluar.
Tetapi.
Jiang Zhou tidak pernah menyalahkannya.
Inilah keterbatasan zaman yang membatasi setiap umat manusia
Jiang Zhou mendekati ibunya, dan menepuk pundak ibunya dengan lembut.
"Ibu, aku pergi dulu, tidak apa-apa, tak perlu menagis."
Zhou berkata dengan suara lembut.
Qi Aifen menyeka air matanya.
Kedua anak Jiang zhou juga melambaikan tangan sambil berpamitan kepada Qi Aifen dengan suara yang menggemaskan.
"Sampai jumpa nenek, Chloe pergi dulu, sampai jumpa kakek.."
"Kakek harus cepat sembuh."
Chloe berjalan kesisi tempat tidur dengan langkah kecilnya. Kemudian tangan kecil Chloe meraih tangan Jiang Fuguo yang kasar.
"Kalau kakek sembuh, ayah akan buatkan makan, enak. Kakek pasti suka."
Chloe berkata dengan suara terbatas, tak menentu.
Namun maksudnya masig dimengerti oleh Jiang Fuguo.
Jiang Fuguo berhenti dan matanya memerah.
“Wah, cucu kakek memang pengertian! Setelah kaki kakek sembuh nanti, kakek akan beri Chloe dan Zoe permen."
Chloe dan Zoe tersenyum manis, lalu mereka mengikuti Jiang Zhou dan Liu Mengli pergi.
Qi Aifen membuka pintu dan melihat kedua anaknya sudah pergi. Sesaat kemudian kembali duduk di sisi tempat tidur Jiang Fuguo.
"Wah, kamu sungguh beruntung punya dua anak yang berbakti! Anak sulungmu sudah mengorbankan tenaga, dan yang bungsu mau mengorbankan uang. Kakimu pasti sembuh."
"Benar! Tadi aku mendengar, bukankah anak bungsumu dulunya berandalan? Aku bilang, kamu harus mempercayainya. Anak sulungku dulu juga begitu! Dulu dia suka keluyuran dan jarang ada di rumah. Uang yang di hasilkan pun tidak cukup untuk merawat anak. Akhirnya aku dan suamiku yang membantu merawat anaknya. Sekarang sudah jauh lebih baik! Selalu pulang tepat waktu setelah selesai bekerja di ladang, merawat anak dan istrinya dengan baik. Ini seperti sebiah mimpi saja."
"Memang benar! Terimalah uang ini untuk mengobati kakimu! Ini adalah tanda bakti dari anakmu. Berapa banyak orang yanv berharap mempunyai anak yang berbakti seperti itu, tapi tidak bisa."
...
Semua orang yang ada di bangsal, memperhatikan uang Rp.700.000 itu. Mereka begitu iri melihat uang sebanyak itu.
Membawa uang sebanyak ini sekaligus, bukankah kesannya sombong?
Katanya uang itu diperoleh dari hasil berdagang belut sawah.
__ADS_1
Mereka ingin bertanya pada Qi Aifen tapi merasa tidak enak hati.
Begitu tahu hal itu, mereka berusaha mendekati Jiang Fuguo, berharap bisa akrab dengannya.