
Setelah Jiang Fuquan pergi, halaman rumah Jiang zhou akhirnya menjadi sunyi.
Chloe dan Zoe tidak mengerti apa yang sedang terjadi, hanya meresa ada yang salah dengan suasana saat ini.
Saat ini, mereka ketakutan dan meraih ujung pakaian Liu mengli
Liu Mengli mengusap-usap kepala kedua anak itu.
Lalu dia memandang ke arah Jiang Zhou: "Kamu khawatir tentang ayah."
Jiang Zhou tertegun.
Dia berbalik badan, menatap istrinya dan tersenyum padanya, menunjukan bahwa semuanya baik-baik saja.
"Besok pagi aku akan pergi kerumah kakak iparku untuk menanyakan masalah ini, kamu jngan khawatir."
Jiang Zhou kemudian menunjukkan senyum lega di wajahnya.
Liu Mengli.
ternyta bisa dengan tepat mengetahui apa yang sedang Jiang zhou khawatirkan.
“Mengenai Paman… Kakek akan marah,”
Liu Mengli berhenti sejenak dan menambahkan perkataannya.
“Kalau tidak, aku sekarang akan memberikan uang itu sekarang."
Jiang Zhou menggelengkan kepalanya.
“Jika masalah ini menyebar, itu akan berdampak buruk bagi reputasimu."
Liu Mengli mengerutkan kening dan berkata dengan lembut: "Kamu baru saja mulai berbisnis. Jika paman mengatakan masalah ini pada semua orang, mereka akan menganggapmu tidak berbakti. Orang-orang didesa mungkin akan mengatakan yang tidak-tidak kepadamu."
Mau bagaimana pun juga, dia mengkhawatirkan Jiang Zhou.
Jiangzhou sudah tau dengan jelas didalam hatinya.
Dia berjalan mendekat dan memeluk Chloe dan Zoe dalam pelukannya.
Dia menunduk dan menatap kedua gadis kecilnya, Jiang zhou tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak mencium kepala mereka satu per satu.
“Aku tidak peduli.”
Jiang Zhou berkata perlahan: “Alasanku berbakti adalah jika dia pantas menerima baktiku. Aku mengganggap dia sebagai kakekku, tapi belum tentu dia menganggap aku sebagai cucunya."
"Di matanya hanya ada Jiang Mingfan. Jika ada hal baik tidak akan ingat pada kita. Namun ketika dia membutuhkan uang, dia malah memintanya dariku. Di dunia ini tidak ada hal yang semudah itu."
" Jangan pikirkan soal apa paman akan menyebarkannya atau tidak. Bahkan jika sampai menyebarkannya juga aku tidak akan perduli, hati manusia memiliki penilaiannya sendiri. Selain itu berita itu tidak akan mempengaruhi bisnisku."
"Siapa yang mau bertentangan dengan uang?"
Kata-kata Jiang Zhou semuanya tepat sasaran.
Seketika Liu Mengli langsung merasa lega setelah mendengarnya.
Uang ini, tentu saja dia tidak bersedia memberikannya.
Ini adalqh uang yang di dapat dari setiap tetes keringat Jiang zhou.
Namun.
Liu menli juga tahu bahwa Jiang zhou di masalalu adalah orang yang lebih menghargai harga dirinya daripada nyawanya.
Tapi sekarang...
jelas bahwa Jiang Zhou telah memikirkan segala sesuatu yang mungkin terjadi.
Dia juga telah memiliki persiapan untuk menghadapinya
Liu Mengli berkata, "Kalau begitu mandi dan tidurlah lebih awal. Besok pagi aku akan membangunkanmu."
Jiang zhou mengangguk dengan senyum di wajahnya.
………………………
hari berikutnya.
Jiang Zhou bangun pagi-pagi sekali dan pergi ke rumah kepala desa Jiang Changbao.
Jiang Changbao sedang berjongkok di ambang pintu sambil menghisap rokok kering.Ketika dia melihat Jiang Zhou datang, dia segera berdiri dan mematikan sisa rokok dari di tangannya.
"Oh! Jiang Zhou, kamu di sini? Tepat pada waktunya! Aku awalnya akan pergi mencarimu."
Jiang Zhou terkejut.
Dia segera tersenyum dan berkata "Paman, ada apa?"
"Hei! Ingatan macam apa yang kamu miliki? Apakah kamu lupa jika kamu memintaku membelikan bibit padi untukmu?"
Jiang Changbao berkata sambil tersenyum.
mendengar ini, Jiang zhou langsung menepuk kepalanya.
"Aku sangat sibuk dua hari terakhir ini, paman, bagaimana? Apakah masalahnya menemui titik terang?"
Jiang Changbao menyalakan rokoknya lagi dan berkata, "Tentu saja! Kemarin malam ada orang yang mendatangiku dan mengatakan bahwa mereka mempunyai banyak bibit padi dan bersedia menjualnya kepadamu! Begitu berita ini menyebar, saat aku mematikan lampu dan bersiap tertidur, ada banyak orang datang dan mereka mengatakan bahwa mereka ingin menjual bibit!"
__ADS_1
" Aku bilang kamu tidak punya uang untuk membayar semua itu sekarang, setelah lewat benerapa waktu baru memberikan uangnya bersamaan. Mereka semua bersedia!"
"Ini benar-benar aneh!"
Jiang Changbao juga bingung.
Dia tidak bisa mengerti.
Beberapa hari yang lalu, dia bertanya kepada setiap orang dan tidak ada yang bersedia.
Alhasil tidak tahu apa yang terjadi kemarin.
Orang-orang ini benar-benar datang untuk menjual bibit yang mereka miliki!
Huh!
Membuat orang bingung saja!
Jiang Zhou dalam benaknya kurang lebih tau apa yang terjadi.
Dia tersenyum, Lalu mengeluarkan satu bungkusan besar dari sakunya dan menyerahkannya kepada Jiang Changbao.
“Paman, untuk uang-uang ini, bantu aku memberikannya kepada mereka dulu"
Jiang Zhou berkata, "Sisanya untukmu saja, maaf karena sudah merepotkanmu, aku sunggu tidak enak hati."
Meminta tolong kepada orang harus dengan berbuat kebaikan dahulu.
Jiangzhou memulai bisnis di kehidupan sebelumnya.
Dia memahami ini lebih baik daripada orang lain.
Begitu Jiang Changbao mendengarnya, rokok yang baru saja dia nyalakan, langsung tersedak di tenggorokannya.
"Uhuk! Tidak, tidak bisa! Uhuk! tidak bisa seperti ini!"
Jiang Changbao dengan cepat melambaikan tangannya.
Jujur.
Jiang zhou sudah kembali dari jalan yang salah, kemudian menjadi orang yang sangat jujur, Jiang Changbao sudah sangat berterimakasih sekali pada langit dan bumi!
Uang ini?
Dia tidak berani menerimanya!
Jiang Zhou tersenyum dan berkata "Paman, jika paman tidak menerimanya, aku sungguh akan merasa tidak tenang. Selain itu, ada hal yang aku ingin minta tolong pada paman."
Jiang Changbao tercengang
Mengapa dia merasa seperti menjadi incaran?
……………………
Jiang Zhou keluar dari rumah Jiang Changbao dengan membawa dua keranjang di tangannya.
Uh.
ini juga dia beli sendiri.
Menggunakan sisa uang Rp.20.000 yang dia miliki.
Jiang Zhou awalnya mengatakan dia ingin memberikan uang pada Jiang Changbao, tetapi Jiang Changbao menolak menerimanya sepeserpun.
Jadi Jiang zhou mengubah cara bicaranya, yaitu dengan mengambil dua keranjang, anggap saja dia membelinya.
Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui
Jiang Changbao juga dengan terpaksa mengambil uang itu. merasa bahwa tidak mudah bagi Jiang zhou untuk bisa menjadi Jiang zhou yang sekarang.
Jiang Zhou kembali ke rumah lagi.
Dia mengemas semua belut sawah itu.
Namun kali ini, Jiangzhou membuat perhitungan kasar. Belut sawah itu diperkirakan memiliki berat total lebih dari 150 kilogram.
Dan, pasti akan ada lebih banyak lagi hari ini.
Sebanyak tiga keranjang dan sebuah tong kayu besar terbungkus rapi di atas kereta kayu yang di ikat dengan tali rami.
Dia minum semangkuk bubur, dan menambahkan sedikit air ke dalam bubur yang mendidih agar panci tidak mengering.Setelah makan, dia mengangkat kerata kayu dan berjalan menuju Kabupaten Qing'an.
Jiang Zhou berpikir dalam benaknya.
Mungkin sudah waktunya membeli keledai.
Kalau tidak, dia akan selalu mengandalkan pada tenaganya sendiri, setelah waktu yang lama, mungkin tidak hanya tidak bisa menghasilkan uang yang banyak, mungkin kesehatannya sendiri yang akan dirugikan, karena tidak sebanding dengan apa yang di dapatkan.
............
Setelah tiba di Kabupaten Qing'an, Jiang Zhou meletakkan kereta di tepi jalan, dia menarik napas beberapa kali, dan menyeka keringat di dahinya. Setelah meminum beberapa teguk air, tenaganya kembali dengan cepat.
Koperasi pasokan dan Pemasaran Hasil Perairan berada di sebelah selatan kabupaten, persis di arah Desa Liqi.
Jiang Zhou menatap matahari di atas sana, rasanya begitu lelah dan lapar.
Namun dia tidak berani menunda waktu lagi, karena belut bisa dengan mudah mati di dalam ember saat panas.
__ADS_1
Dia memutuskan untuk Terus bertahan.
Jiang Zhou meneguk air lagi, mendorong kereta kayunya dengan penuh tenaga dan akhirnya berjalan di jalan menuju pintu Koperasi Pemasok dan Pemasaran Hasil Perairan.
Sekarang sudah lewat jam delapan.
Pintu besi besar berwarna merah berkarat di luar Koperasi pemasok dan Pemasaran Hasil Perairan juga terbuka.
Ada banyak orang di dalam, yang membuat suasana menjadi begitu hidup dan ramai. Kebanyakan dari mereka yang datang untuk membeli produk perikanann.
Jiangzhou mendorong kereta kayunya masuk, dengan cara yang sama, dia memberikan sebatang rokok malioboro,dan dengan lancar menemukan manajer koperasi pasokan dan pemasaran.
manajernya bernama Huang Tieshan.
Dia botak dan kurus, dan matanya tidak berhenti bergerak melihat orang-orang.
Jiangzhou memiliki penilaian sendiri di dalam hatinya.
Dia tersenyum lalu melangkah maju, dan dengan cepat mengeluarkan sebungkus rokok malioboro dan menyerahkannya.
"Halo, Manajer Huang, saya dari Desa Liqi! namaku Jiang zhou"
Merendahkan hati dan memberikan beberapa pujian. Hal itu bisa membuatnya senang.
Jiang Zhou membuat serangkaian tindakan, dan itu mengalir begitu saja.
Huang Tieshan langsung merasa puas dengan sikap yang di tunjukan Jiangzhou.
Dia melihat sebungkus rokok malioboro yang diserahkan oleh Jiang zhou kepadanya
Dia menerimanya dengan tenang "Untuk apa terlalu sopan, kami semua adalah pelayan masyarakat dan melayani rakyat."
"Katakan, kenapa mencariku"
Jiang Zhou berkata sambil tersenyum "Jadi begini, selama musim semi ini, para petani di desa kami mulai menanam bibit padi. Banyak lubang lumpur di ladang dan belut ada di mana-mana. Mereka memakan segalanya, mereka memang sejenis hama. Para petani takut itu akan menggerogoti akar bibit padi, jadi seluruh desa menangkap belut!"
"Manajer Huang, aku tau kamu melakukan segalanya demi rakyat jelata seperti kita. Lihatlah, sayang sekali membuang ratusan kilogram belut sawah seperti ini, jadi aku datang ke kabupaten untuk melihat, apakah koprasi pasokan dan pemasaran hasil perikanan mau menerimanya? Ini bisa dianggap sebagai membantu desa kami! Warga desa pasti akan mengingat kebaikan menajer Huang dengan baik!"
Beberapa sanjungan dilontarkan dari mulut Jiangzhou
Hal ini berguna jika di tunjukan kepada Huang Tieshan.
Dia menyalakan rokok malioboro pemberian Jiang zhou, dan melihat Jiang zhou dengan puas.
Pemuda ini sangat pandai bicara dan memiliki sikap yang baik.
Huang Tieshan berkata "Kamu benar-benar beruntung. Hari ini adalah waktu yang tepat."
Ketika Jiang Zhou mendengar ini, dia mendongak dan menatapnya: "Manajer Huang, maksudmu..?"
“Seseorang dari koperasi pemasok dan pemasaran hasil perairan di ibu kota provinsi datang ke koperasi pemasok dan pemasaran kami hari ini. ”
Huang Tieshan berkata sambil tersenyum "Baru-baru ini, ibu kota provinsi telah mengeluarkan dokumen bercap merah yang menyatakan bahwa kita harus fokus pada perikanan dan pertanian di seluruh provinsi. segera setelah surat kabar harian terbit, orang-orang dari seluruh provinsi menanggapinya dan menyatakan dukungan mereka! Orang yang membeli ikan dan menjual belut semakin bertambah. Koprasi pemasok dan pemasaran di provinsi kekurangan pesokan. Kemarin mereka mengeluarkan dokumen untuk kami agar bisa mengumpulkan produk perikanan, dan perwakilan mereka datang hari ini."
Mata Jiang Zhou tiba-tiba berbinar.
"Benarkah? itu adalah keberuntungan. Terima kasih menejer Huang atas penjelasannya."
Tieshan menghisap sebatang rokok melambaikan tangan, dan berkata sambil tersenyum: "Ikutlah denganku, mereka ada di ruang rapat!"
Beberapa menit kemudian.
Jiangzhou mengikuti Huang Tieshan ke ruang rapat dengan dinding putih dan pintu hijau.
Kemudia dia mendorong pintu dan masuk.
Di dinding tepat di seberangnya ada papan tulis dengan beberapa kata besar tergantung di atasnya "Perikanan dan Pertanian yang maju!"
Ada dua orang yang duduk di dalam, memegang beberapa lembar kertas di tangan mereka. Ada sempoa di sebelah mereka, membuat suara berderak saat ini.
Jiang Zhou memandang sekilas dengan cepat.
Dia memiliki pemahaman umum di dalam hatinya. Dua orang ini menggunakan pakaian yang baik dan berkualitas baik, rambutnya telah di olesi minyak rambut, mereka juga mengenakan sepasang sepatu kulit asli, sekilas mereka terlihat seperti berasal dari provins.
Dokumen bercap merah diatas menekankan pentingnya setatusnya.
Jelas, Koperasi Pemasok dan Pemasaran Hasil Perairan telah menghasilkan banyak uang dengan keuntungan dan semua kariawan yang terkait sangat kaya!
Ketika mereka mendengar suara pintu terbuka, mereka mendongak dan menatap Huang Tieshan.
Pada saat itu, seorang pria berdiri, mengulurkan tangannya ke Huang Tieshan, dan berkata sambil tersenyum "Manajer Huang, mengapa kamu datang ke sini?"
"Kamerad Chen."
Huang Tieshan berjalan mendekat, memegang tangan pria itu, dan berkata "Tidak mudah bagimu untuk bisa datang kemari dari provinsi. Tentu saja, aku harus melakukan yang terbaik untuk membantumu menyelesaikan tugasmu."
Huang Tieshan mengatakan itu sambil menunjuk kearah Jiang zhou dibelakangnya.
"Ini Jiang zhou, dari desa Liqi. Di desanya, bibit ditanam di musim semi dan belut merusak tanaman. Penduduk desa telah menangkap banyak belut. Mereka khawatir dan tidak tau harus kemana membuang belut-belut ini. Kebetulan sekali jadi aku mengelakannya kemari."
Kata Huang Tieshan Dia menunjuk ke Jiang Zhou.
Jiang Zhou juga maju saat ini dan buru-buru menyerahkan sebatang rokok padanya.
melihat orang itu mengambil rokoknya.
Huang Tieshan tersenyum dan berkata, "Kalau begitu kalian berbincang saja, aku masih ada urusan lain, jadi aku akan pergi dulu."
__ADS_1
Jiang Zhou dan pemimpin dari ibu kota provinsi adalah satu-satunya yang tersisa di ruangan itu.