Kembali Ke Masalalu

Kembali Ke Masalalu
Mengobati Kaki Di Kota Provinsi


__ADS_3

Jiang Ming berjalan cepat menuju kota provinsi.


Ketika Jiang ming masuk ke kamar pasien, dia menemukan Jiang Fuguo yang sedang berdiri dengan salah satu kakinya, bergantung pada sebuah tonggat kruk, dan di penuhi keringat.


Mata Qi Aifen memerah dan dia berdiri di samping, dan berlinang air mata karena sedih.


Jiang Ming terkejut dan bergegas menghampiri mereka.


"Ayah, Ibu, ada apa? apa yang terjadi dengan kaki Ayah? Apakah dokternya datang lagi?"


mendengar suara Jiang Ming.


seketika mereka berdua menoleh dan menatap Jiang ming.


"Ya ampun Jiang ming! Akhirnya kamu kembali juga."


Qi Aifen buru-buru berjalan mendekat, menyeka air matanya, dan berkata:" Ayahmu tidak mendengar nasehatku, aku menyuruhnya untuk berbaring, dia malah tidak mau mendengar, dia sangat keras kepala seperti seekor keledai! Coba kamu lihat, dia terus saja berdiri, mana boleh seperti ini!"


Jiang Fuguo mengerutkan kening dan memelototi Qi Aifen.


"Berbaring berbaring terus sepanjang hari! kalau kakiku ini hilang, aku beru bisa berbaring sepanjang hidupku."


Jiang Fuguo berada dalam suasana hati yang sangat mudah marah, dia berkata dengan terengah-engah.


Saat dia berbicara, dia menoleh untuk melihat Jiang Ming dan berkata dengan santai, "Bagaimana? Kamu sudah menemukannya?"


kata-kata Jiang Fuguo ini.


kedengarannya seperti pertanyaan biasa.


Namun, Jiang Ming tahu bahwa ayahnya sangat gugup saat ini!


“Aku sudah menemukannya."


Jiang Ming merasa sangat lega.


Biaya pengobatannya Rp.4.000.000.


Jiang ming semula merasa sebuah gunung besar telah melumpuhkannya hingga dia tidak mampu bangkit lagi.


Namun, Jiang Zhou memberikannya Rp.700.000, dan kali ini kembali, Jiang zhou menjual ampas minyak dan mendapatkan Rp.100.000.


Di tambah lagi, sebelum datang ke kota provinsi untuk berobat, jiang ming telah meminjam Rp.200.000 lebih dari desa.


Akhir-akhir ini telah menghabiskan cukup banyak uang di rumah sakit.


Namun Jiang ming setidaknya masih memiliki Rp.100.000 lebih.


Artinya.


Saat ini, mereka sudah memiliki Rp.900.000 di tangan mereka.


Meskipun uang yang mereka miliki masih jauh dari Rp.4.000.000, tapi jiang zhou masih bekerja, dia mungkin akan menghasilkan lebih banyak uang karena menjual belut sawah.


Selain itu juga Jiang ming menyuruh istrinya kembali kerumah orang tuanya untuk meminjam sedikit uang.


Dua hari ini, Jiang ming sering pergi keluar untuk mencari uang, dan dia juga membantu Jiang zhou menjual ampas minyak saat pulang.


Uang Rp.4.000.000 juta ini, tidak peduli bagaimanapun juga pasti akan bisa terkumpul.


Jiang Ming saat ini juga tidak menyembunyikan masalah ini.


Bagaimana dia menghasilkan uang dengan mengikuti Jiang Zhou? Berapa banyak uang yang dia hasilkan? dan bagaimana orang di desa menjual belut sawah pada Jiang zhou.


Jiang ming mengatakan semuanya pada Jiang Fuguo dan Qi Aifen.


“Ayah, uang yang di berikan Jiang zhou itu seharusnya uang yang dia hasilkan sendiri."


Jiang Ming berkata, “Aku sudah mengamatinya, seharusnya dia sudah bekerja selama dua hari ini. Yang berarti setelah beberapa hari kita keluar dari desa, desa tetangga sudah menangkap belut sawah dan mengirimkannya kedesa kita untuk di jual, sepertinya hal ini benar."


Kepala Jiang Fuguo berdengung.


keuntung Rp.100.000?


Hanya dengan menarik kereta keledai?


Begitu juga dengan belut itu, Rp.1.200 per setengah kilogram?


Apakah benda itu sangat berharga?


Jiang Fuguo benar-benar tidak mengerti.

__ADS_1


Namun, dia tahu betul temperamen putra sulungnya.


Jiang ming tidak mungkin membantu Jiang zhou untuk berbohong.


Tiba-tiba, air mata Qi Aifen kembali jatuh.


"Anak ini, dunia sedang sangat kacau di masa sekarang. Bagaimana bisa dia tidak memberitahu kita apa-apa bahwa dia melakukan bisnis sendiri."


Qi Aifen menyeka air matanya dan berkata, "kereta itu seberat 150 kilogram, apa dia sanggup menariknya sendiri? Dasar anak ini, apa dia tidak ingin hidup lagi?"


Jiang Fuguo melirik Qi Aifen dan mengerutkan kening.


“Jiang zhou adalah seorang pria dewasa, kenapa memangnya kalau mengeluarkan tenaga seperti itu?"


Jiang Fuguo berkata: "Ini lebih baik daripada Jiang zhou melakukan hal-hal sesat! Tidak masalah jika dia lelah sedikit, asalkan bisa menghidupi istri dan anaknya."


Jiang Ming sudah mengemasi barang-barangnya.


"Ayah, jangan membahas masalah lain lagi. Kita pergi ke kota provinsi dulu untuk memeriksakan kakimu, jangan sampai hal ini tertunda."


Qi Aifen bergegas membantu mengemasi barang setelah mendengar kata-kata Jiangming.


keseluruhan barang-barang mereka hanya sedikit saja.


Sebuah tas kain sudah cukup untuk barang-barang mereka.


Jiang Ming datang dengan membawa pikulan.


Jiang ming menhikat semua barangnya ke pikulan tersebut, lalu lekas mengurus prosedur keluar rumah sakit.


Setelah itu, Qi Aifen mengangkat pikulan, dan Jiang ming mrngangkat Jiang Fuguo. Mereka bertiga bergegas keterminal bus untuk membeli tiket ke kota provinsi.


........................


Desa Liqi.


Saat itu sekitar jam delapan malam.


Jiang Zhou membeli beberapa keranjang bambu pulang.


belut sawah yang di peroleh hari ini lebih banyak.


Setelah perkiraan kasar, diperkirakan jumlahnya seribu kati.


Dengan menarik kereta keledai, pendapatan bersih yang di dapatkan bisa lebih dari Rp.800.000.


Di tambah lagi dengan mengangkut amps minyak dan dijual lagi.


Ini berarti, dalam tiga hari lagi, biaya pengobatan akan berhasil di kumpulkan.


Melakukan oprasi di rumah sakit juga membutuhkan waktu.


Waktu tiga hari sudah cukup.


Hati Jiang Zhou juga sudah sedikit tenang.


Jiang zhou mengambil gayung air, dan mengisi air kedalam keranjang bambu yang sudah dilapisi plastik.


Cuaca sekarang sudah semakin hangat.


Bisnis akan tidak mudah untuk dijalani.


Dibutuhkan setidaknya satu jam untuk mengendarai kereta keledai dari sini ke kabupaten.


Jalan akan semakin lambat karena menarik barang. Begitu cuaca panas, orang yang mati akan semakin banyak.


Tidak masalah jika tidak menghasilkan uang, kalau samapi sesuatu terjadi, diri sendiri yang akan rugi..


yang paling penting adalah.


Belut sawah yang ada di desa bagaimanapun juga terbatas.


Beberapa saat lagi akan memasuki musim hujan. Hujan lebat akan turun siang dan malam, dan jalanan akan tertutup lumpur.


Dengan beban yang begitu berat, kereta keledai tidak akan mampu bergerak.


Jiang Zhou berpikir.


Paling-paling dia akan menjual belut sawah untuk bulan ini. Dia juga memperkirakan harus mencari bisnis lain untuk menghasilkan uang..


Akan tetapi.

__ADS_1


Hal itu masih jauh.


Yang harus Jiangzhou lakukan sekarang adalah mengumpulkan belut lebih banyak, dan sebisa mungkin mengumpulkan pot emas pertamanya sebelum orang lain menemukan peluang bisnis ini..


“Tok Tok…”


Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu luar halaman.


Jiang Zhou tertegun, dia meletakkan gayung air di tangannya, dan berjalan menuju pintu.


“Siapa?”


Jiang Zhou bertanya.


“Ini aku!”


Itu adalah suara kepala desa Jiang Changbao.


Jiangzhou bergegas membuka pintu.


"Paman? Ada apa? "


Jiang Zhou membuka pintu dan melihat Jiang Changbao berdiri di luar.


Sambil memegang rokok kering di tangannya, dan dia mengetuk pintu halaman rumahnya.


“Dasar anak ini, apakah kamu tidak bisa membiarkanku berbicara di dalam?"


Jiang Changbao melirik Jiang Zhou sekilas.


Jiang Zhou bereaksi dan segera bergeser ke samping sambil tersenyum.


Jiang Changbao berjalan masuk ke halaman.


Dia melihat keranjang bambu dengan isi yang berlimpah di dalam halaman Jiangzhou.


Tentu saja ada kereta kayu milik Jiang Changbao.


Lebih tepatnya, itu adalah kereta kayu yang dia "jual" kepada Jiang Zhou.


“kamu benar-benar mengumpulkan belut sawah ya?”


Jiang Changbao bertanya dengan heran.


Bagaimanapun juga, dia adalah kepala desa.


Dalam beberapa hari terakhir, dia juga telah mendengar bahwa putra bungsu Jiang Fuguo ternyata mulai mengunpulkan belut sawah.


Rp.1200 per setengah kilogram!


Tidak sedikit petani pria yang pergi menagkap belut sawah pagi-pagi.


Bahkan anak-anak pun tidak mereka lepaskan, mereka membujuk dan menipu mereka dengan permen atau dengan makanan enak, agar bersedia untuk pergi menangkap belut sawah.


Kemudian, anak-anak tersebut mengambil kait besi. Setelah mendapatkan belut sawah dengan susah payah, mereka lalu membawanya kepada Jiangzhou untuk dicatat, dan keesokan harinya mereka akan mendapatkan uang.


Uang yang anak-anak itu dapatkan bahkan belum di pegang hingga panas. Bahkan sudah di ambil oleh orang tua mereka. Orang tua mereka mengatakan bahwa uang itu akan di simpan untuk sekolah dan pernikahan mereka kelak.


Lalu, anak-anak itu pun menangis.


Jiang zhou sudah membujuk banyak di antara mereka.


Semula orang-orang berpikir Jiang zhou hanya melakukan bisnis kecil.


Kemudian orang-orang pun menyadari, ini bukan bisnis kecil.


Ini jelas merupakan bisnis besar!


“Belut sawah mu ini setidaknya ada tiga setengah sampai empat kilogram kan?"


Jiang Changbao bertanya dengan pandangan terkejutnya yang menyapuvkeranjang besar dan kecil yang ada di halaman rumah Jiang zhou.


Jiang Zhou mengangguk dan berkata sambil tersenyum: "Paman benar, aku sudah terbiasa berkeliaran kemana-mana. Dan tidak memiliki tenaga besar. Jadi demi makan sehari-hari, aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa melakukan bissnis kecil ini."


Asap tembakau tersangkut di tenggorokan Jiang Changbao, dia tidak bisa mengeluarkannya, bahkan mungkin akan tersedak mati jika menelannya.


Dasar anak muda!


Ini adalah bisnis dengan modal ratusan ribu!


Apakah ini masih dinamakan kecil? !

__ADS_1


........................


__ADS_2