Kembali Ke Masalalu

Kembali Ke Masalalu
Mengumpulkan belut sawah


__ADS_3

Jiang Zhou berjalan mendekat dan berjongkok di samping ketiga anak itu.


“Dongzi, apakah kamu masih mengenal siapa aku?”


Jiang Zhou bertanya sambil tersenyum.


Anak yang paling besar berusia dua belas tahun.


Anak itu mengenakan celana pendek dan kemeja tipis, dia bersiap memanjat pohon untuk menangap kumbang.


Mendengar seseorang memanggil namanya, Dongzi langsung menoleh.


"Ah! Kakak Jiang!"


Dongzi adalah pemimpin kecil di antara anak-anak di desa.


Dia sangat kejam saat berkelahi.


Jiang Zhou juga termasuk pengangguran. Setiap hari dia hanya pergi memancing ikan atau pergi ke gunung mengambil buah-buahan, karena itu di hati anak-anak desa, dia adalah pemimpin.


Banyak anak-anak yang senang dekat dengan Jiang Zhou.


Dongzi tersenyum sambil memperlihatkan dua baris gigi putihnya.


Dia berhenti menangkap kumbang, dan segera turun dari pohon, berlari ke arah Jiang Zhou, dan berkata, "Kakak Jiang, mengapa kamu tidak pergi menangkap ikan di sungai dua hari ini? Apakah kamu bermain secara diam-diam dan tidak membawa aku bersamamu?"


Jiang Zhou mengusap kepala Dongzi.


Dua anak lainnya juga ikut berkumpul.


Jiangzhou mengangkat dagunya dan berkata, “Bukankah sekarang aku akan mengajak kalian bermain bersama?”


Dongzi berkata dengan penuh semangat, “Kakak Jiang! Apa yang akan kita mainkan? Mencari telur burung atau menangkap ikan di sungai? Aku akan membawa korek api secara diam-diam, kak jiang ayo kita piknik".


Jiang Zhou tidak bisa menahan tawanya.


“Bukan, aku ingin mengajak kalian untuk menghasilkan uang!”


Menghasilkan uang?


Kedua kata ini terdengar baru bagi mereka.


Dongzi bingung dan menggaruk kepalanya.


"Kita bisa menghasilkan uang? kakak Jiang, bagaimana caranya kita bisa menghasilkan uang? Jika aku bisa dapat menghasilkan lima sen, aku akan membeli permen! "


Jiang Zhou berkata sambil tersenyum.


“Lihat apa ini,”


katanya sambil mengeluarkan beberapa lembar sisa uang dari sakunya.


Hal ini untuk membuat mereka bertiga percaya bahwa mereka benar-benar bisa menghasilkan uang.


Benar saja...


Mata mereka langsung bersinar.


"Uangnya banyak sekali! itu berlembar-lembar.! "


Jiang Zhou berkata, "Apakah kamu menginginkannya?"


Dia berkata dengan nada yang lebih panjang.


Dia sudah seperti penculik anak.


Benar saja, Dongzi dan tiga anak lainnya mengangguk serempak, dengan ekspresi serakah di wajah mereka.


"Bukankah orang tuamu menanam padi di sawah? Pernahkah kamu melihat belut sawah di lubang lumpur?"


Anak-anak pedesaan sering melihat itu!


Namun, saat ini hanya sedikit orang yang memakannya.


Dongzi mengerutkan kening, dan berkata dengan jijik, "Kakak, kamu menginginkan benda itu untuk apa? Mereka terlihat sangat jelek dan rasanya tidak enak. sangat amis saat di makan, bau sekali! "


Dua anak lainnya ikut mengangguk.


Sebenarnya.


Ada banyak sekali belut sawah di daerah pedesaan saat ini.


Apalagi saat musim menanam padi, di awal musim semi, semua belut keluarl dari lumpur.


Alasan mengapa tidak banyak orang yang menginginkanya, karna menghabiskan banyak minyak, selain itu siapa yang mau menghabiskan banyak waktu untuk mengurusnya di musim sibuk bertani?


Kalau tidak dicuci dengan bersih, atau kurang minyak, hasil masakakan tidak enak dan boros bahan, proses penyembelihan juga sangat mrepotkan, usahanya benar-benar tidak sebanding dengan hasilnya.


Lebih baik makan ikan rebus!


Namun mereka tidak tahu.


Belut sawah sudah menjadi makanan yang baik untuk kesehatan sejak zaman kuno.


Mereka tidak bisa memasaknya sehingga tidak ingin menyantapnya, namun, dalam beberapa tahun terakhir di kabupaten, belut sawah mulai di cari-cari banyak orang.


Lebih tepatnya, Jiangzhou mendapatkan penghasilan pertamanya dengan menjual belut sawa dikabupaten sebelumnya.


Jiangzhou memandang Dongzi dan tersenyum dan berkata, "Tidak perlu khawatir, kamu cukup pergi menangap belut sawah, sebiknya kamu cari yang lebih besar, aku akan memberimu Rp. 1.200 ersetengah kilogram, bagaimana menurutmu? "


Rp. 1.200 per setengah kilogram?


Luar biasa.


Belut sawa yang sedikit lebih besar saja sudah lebi dari setengah kilogram.!


Bagaimanapun, mereka masih anak-anak.


Begitu Jiang Zhou selesai berbicara, ketiga anak itu segera berlari kelaang, tanpa menoleh ke belakang.


Tadi di selokan, mereka melihat banyak sekali belut sawah!


Mereka pulang dan mengambil keranjang berlubang, dan berpikir mereka pasti akan mendapatkan banyak belut sawah!

__ADS_1


Ketika Jiang Zhou melihat ketiga anak itu berlari kencang, dia tidak tau apakah dia harus menangis atau tertawa.


Dia juga tidak akan menunggu di sini.


Lagipula, banyak orang yang memandang ke arahnya saat ini, takut dia akan menyesatkan anak-anaknya.


Jiangzhou dan Dongzi sudah saling kenal cukup lama.


Dia tahu di mana rumahnya.


Jiang Zhou kembali ke rumah.


……………………………


Sore harinya, Dongzi dan dua anak lainnya datang ke rumahnya.


Ketiganya menjadi sangat kotor oleh lumpur.


Seluruh tubuhnya mereka sangat kotor, dan rambut mereka juga di penuhi oleh lumpur.


Namun, masing-masing dari mereka memegang satu keresek besar berisi belut sawah.


Melihat Jiang Zhou berdiri dan mendekat, mereka terkekeh dan menunjukan gigi mereka yang putih.


"Kakak Jiang! Lihat! "


Dongzi adalah pemimpin kecil.


Tas pelastik yang ada di tangannya terlihat paling banyak.


Dongzi mengangkat kantong pelastik yang berat itu dengan satu tangan, tubuhnya sampai sedikit miring.


Meskipun kedua anak lainnya tidak membawa sebanyak Dongzi, jika di lihat dari jumlahnya, seharusnya ada dua sampai satu setengah kilogram.


Jiang Zhou terdiam.


Jangan jangan, jiang zhou tidak tidak mempunyai cukup uang untuk membayar ketiga anak itu.


Da sudah merasa tidak nyaman mempekerjakan anak kecil, saat ini, jika dia tidak bisa memberikan mereka upah, situasinya benar-benar akan sangat canggung,


Jiang Zhou menutup bibirnya dan terbatuk dua kali.


Dia berjalan mendekati mereka dan mengangkat j kantong itu dengan satu tangan, jangtungnya berdetak kencang.


Baiklah..


Benar saja!


Ketiga anak tersebut masing-masing menangkap satu kilogram, 0,8 kilogram dan 0,7 kilogram.


itu artinya...


Jiang zhou harus membayar upah sebesar Rp. 12.240


Namun...


Sekarang dia hanya punya Rp. 7.600


Canggung.


Selain mempekerjakan anak kecil, sekarang bahkan dia tidak bisa membayar upah mereka.


Jiang Zhou berpikir sejenak dan memutuskan untuk berterus terang.


"Dongzi, jadi begini, kak jiangzhou sekarang hanya punya Rp. 7.600 di tanganku. Belut sawah yang kalian tangkap lebih banyak dari yang aku kuduga, untuk sementara uang yang ada di kantongku tidak cukup. Bagaiman kalau besok..."


Sebelum Jiangzhou selesai berbicara, Dongzi tersenyum lebar.


“Kakak jiang, Rp. 7.600 itu sudah sangat banyak!”


Setelah Dongzi selesai bicara.


Kedua anak di samping dengan cepat mengangguk setuju.


“Sudah sangat banyak!”


“Aku bahkan belum pernah melihat uang yang lebih besar dari satu sen!”


Wajah ketiga anak yang kotor dan merah itu jiangzou bisa melihat ketulusan.


Jiang Zhou tidak bicara lagi.


Dia tersenyum dan berkata "Begini saja aku akan mencatat sebagai hutang pada kalian,"


Setelahh mengatakan itu, dia segera memberikan upah mereka dan mencatat utang.


“Dongzi menangkap dua kilogram, jumlahnya Rp. 4.800.”


“Kalian berdua, satunya 0,8 kilogram, dan satunya 0,7 kilogram, jadi masing masing Rp.3.800 dan Rp. 3.600 ?"


Jiang Zhou sangat cepet dalam menghitung.


Namun, ketiga anak itu tidak pernah pergi sekolah, jadi mereka tidak tau benar atau salah.


Mereka hanya tau bahwa mereka masing-masing mendapatkan lebih dari dua ribu, dan itu sudah membuat ketiga anak itu bersemangat dan gembira.


Kemudian jiang zhou mengeluarkan Rp. 6.000 dari sakunya, masing- masing di beri Rp. 2.000


"Uang dikantong kak jiang tidak cukup hari ini. Besok aku akan menjual belut saeahnya dan akan melunasi upah kalian."


Sambil bicara jiang zhou menulis tiga lembar surat utang dengan arang di atas koran dan menyerahkan pada ketiga anak itu dengan sungguh-sungguh.


Dongzi juga sedikit bingung.


Dia memandang Jiangzhou untuk sesaat dia merasa kak jiang yang sering membawanya naik turun gunung dan menyusuri sungai sejak kecil terlihat sedikit berbeda.


Jian Dongzi mengulurkan tangan dan mengambil surat utangnya.


Dua anak lainnya juga mengulurkan tangan dan mengambilnya dengan cara yang sama.


Sebenarnya.


Mereka bertiga tidak tau kalau surat utang itu bisa di katakan langkah pertama jiang zhou untuk membangun kepercayaan di desa.

__ADS_1


Setelah Jiang Zhou selesai menulis surat utang.


Semua belut sawah ini dipelihara di tangki air yang ada di halaman.


Ketika berbalik dan melihat ketiga anak itu akan pergi, jiang zhou langsung memanggil mereka bertiga.


“Tunggu sebentar!”


Ketiga anak itu berhenti.


Jiangzhou mengangkat kuali besar yang sudah mendidih dan berasap.


Dia mengambil sepotong minyak daging yang besar dari kedalam pot dengan sepatula dan mengaduknya di dalam panci, lalu menaburkan segenggam daun bawang.


Pada saat itu


Aroma wangi yang menyebar di udara langsung masuk ke dalam hidung ketiga anak itu.


"Wow! kak Jiang! Baunya enak sekali! Apakah kamu sedang memasak?!"


Mereka adalah anak-anak, mereka tidak takut terlihat rakus.


Ketiga anak itu terdiam di tempat karena terpikat oleh aromanya, air liur mereka langsung menetes.


pada era seperti ini, setiap keluarga yang makan makanan enak pasti akan menutup pintu rapat-rapat.


mereka takut dilihat oleh orang.


mereka merasa tidak enak jika tidak berbagi, tapi mereka juga tidak rela untuk memberikanya pada orang lain.


Yang mendidih di panci Jiangzhou adalah sup hati babi.


hatinya di asinkan dengan sedikit arak beras, bubuk ubi jalar, dan gula pasir.


Jangan meranuh garam, karena garam membuatnya menjadi tua


Setelah diasinkan, rebus air dan masukkan kedalam panci


kentalkan sup dengan bubuk ubi jalar, lalu tambahkan bawang, jahe, dan arak beras untuk menghilangkan bau amis.


ketika akan di angkat dari panci, taburi dengan segenggam daun bawang cincang dan satu sendok makan lemak babi.


tidak akan ada bau amis sedikitpun.


Sebaliknya, rasanya menyegarkan dan kenyal, dengan rasa sedikit manis.


Dicampur dengan semangkuk sup yang sangat lezat, sesuap ati babi, dan sesuap sup. benar benar sangat nikmat hingga membuat lidah orang lain tergigit.


ini adalah cara memasak hati saat dia pergi ke kota Decheng untuk urusan bisnis di kehidupan sebelumnya.


sangat lezat dan bergizi.


awalnya jiang zhou ingin memasak hati babi ini untuk memperbaiki gizi Chloe dan Zoe.


sekarang setelah menghabiskan setengah untuk memasak sup, dia memasak lagi setengahnya.


Panci besar ini cukup untuk di bagikan untuk beberapa keluarga.


Jiang Zhou tersenyum dan berkata "Ada beberapa mangkuk di sebelah kompor. kalian ambil sendiri, aku akan mengambilkan sup untuk kalian "


begitu mendengar kata-kata jiangzhou.


Ketiga anak itu bergegas menuju kompor. Dan sebisa mungkin mengambil mangkok yang besar.


Jiangzhou juga tidak pelit.


Dia mengisi mangkuk ketiga anak itu hingga penuh.


sambil mengambilkan sup, jiang zhou juga memanggil Chloe dan Zoe, jiang zhou meletakan mangkuk sup mereka di atas meja.


Dongzi mmbawa mangkuk itu dengan tidak sabar.


Dia berjongkok di bawah tembok dan menyesap supnya.


Untuk sesaat.


rasa hatinya unik dan kenyal, diikutin dengan rasa manis dan segar yang menyebar di mulutnya.


Aroma daun bawang cincang, lemak yang tebal serta pedasnya jahe yang tidak sengaja tergigit saat mengunyah.


semua rasa yang unik itu berada pada titik yang luar biasa.


Ketiga anak itu meminum satu teguk sup.


Wajah mereka langsung terkejut.


"Kakak Jiang! Sup hati babi ini enak! Baunya enak sekali!"


"Aku...aku belum pernah makan hati babi yang begitu lezat! Enak sekali!"


"Ah, lezat, lezat! ketika pulang, aku akan meminta ibuku untuk memasakan hati! ini lebih enak dari daging!”



Anak-anak pedesaan memiliki kulit yang kuat dan tidak takut terbakar.


mereka langsung meminumnya dalam tegukan besar.


dasar mangkuk porselen yang besar itu langsung terlihat.


Jiang Zhou tahu bahwa ketiganya pasti belum kenyang, dan mengambilkan satu mangkuk lagi untuk setiap anak.


di dalam halaman kecil, Chloe dan Zoe sedang makan dengan puas.


“Ayah, Chloe mau semangkuk daging lagi!"


"Zoe juga mau, manis dan lembut, Zoe suka~"


Kedua anak kecil itu berbicara dengan suara imutnya sambil mengangkat mangkuk kecil mereka di depan jiang zhou


mangkuknya besih sekali.


Jiang Zhou datang menghampiri mereka dan menambahkan sup kedalam mangkuk kedua anak imut itu. Dia bahkan sengaja menambahkan lebih banyak hati.

__ADS_1


Hati babi memberi nutrisi pada darah.


Tentu saja Jiang Zhou berharap kedua anak kecil itu makan lebih banyak.


__ADS_2