Kembalinya Istri Pertama

Kembalinya Istri Pertama
Bab 14 - Wildan Berbohong Lagi


__ADS_3

...༻⌘༺...


Seorang lelaki berambut gondrong dan berbadan tinggi semampai datang. Pusat perhatiannya langsung tertuju pada Altesa. Sebab perempuan itu tidak asing baginya.


"Kau?" kening Revan mengernyit.


"Kau?" Altesa justru mengulangi kata yang disebut Revan. Dia sama kagetnya seperti lelaki tersebut.


"Kalian sudah saling kenal?" Beno mengangkat dua alisnya. Menatap Altesa dan Revan secara bergantian.


"Dia tinggal di rumah warisan keluargaku," jawab Altesa.


"Enak saja! Rumah itu sudah jadi milikku!" Revan segera menyahut. Membetulkan pernyataan Altesa.


"Benarkah? Kenapa kau dan Rika tidak memberitahu kalau pemilik rumahnya adalah seorang Revan Alvino?!" tanya Beno sembari menatap Altesa.


"Aku tidak tahu kalau dia seorang aktor," jelas Altesa.


Revan dan Leny yang mendengar terperangah. Bagaimana tidak? Semua orang sangat mengenal Revan sebagai aktor film terkenal. Tetapi Altesa dengan gamblang menyebut dirinya tidak mengenal sosok Revan.


Hanya Beno yang mengerti. Dia tahu Altesa mengalami koma selama dua tahun. Di tahun itu juga nama Revan baru melambung luas. Revan dikenal setelah bermain di film laga yang sukses besar.


"Apa?! Ka-kau tidak mengenalku?" Revan tak percaya sambil menunjuk dadanya sendiri. Matanya berkedut.


"Sudahlah, Revan. Altesa dirawat di rumah sakit selama dua tahun lebih. Dia tentu tidak tahu bagaimana zaman berkembang selama dua tahun terakhir. Terutama terkait dunia hiburan," terang Beno. Dia memberitahukan yang sebenarnya.


"Aku tidak peduli." Revan berlalu begitu saja. Kemudian duduk ke kursi depan meja rias. Dia baru terpikir dengan tujuan Altesa ikut bersama Beno. Belum sempat bertanya, Beno sudah memberitahu lebih dulu.


"Altesa akan membantu Leny melakukan make up," ujar Beno. Melambaikan tangan ke depan wajah.


Revan mendengus kasar. Matanya bergerak menatap Altesa yang terlihat sudah mengeluarkan peralatan make up.


"Keahliannya bisa dipercaya bukan?" Revan memastikan.


"Tentu saja. Dia adalah seorang make up artist yang sangat hebat," tanggap Beno.


"Kau tidak perlu cemas, Revan. Aku tidak akan macam-macam dengan wajahmu. Justru aku akan membuat wajahmu semakin tampan." Altesa terlihat percaya diri.


Revan memutar bola mata jengah. Dia memajukan bibir bawahnya. Tidak mempercayai perkataan Altesa sepenuhnya.


"Aku ingin Leny saja yang menyentuh wajahku!" titah Revan. Membuat Beno reflek menoleh ke arah Altesa.


Altesa tersenyum sembari mengangguk. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan permintaan Revan yang terkesan seperti diskriminasi.

__ADS_1


"Baiklah. Kau memang rajanya di sini," tanggap Beno. Dia mengambil setelan pakaian untuk Revan.


Kebetulan Revan sedang melakukan proses syuting film laga. Dia memang dikenal memiliki keahlian bela diri yang mumpuni. Baru-baru ini bahkan Revan menerima tawaran untuk bermain film di hollywood.


Altesa membantu Leny memberi sentuhan make up ke wajah Revan. Yaitu dengan cara mengambil peralatan yang dibutuhkan. Altesa juga akan sesekali memberikan pendapat.


Syuting dilakukan selama seharian penuh. Altesa hari itu sengaja makan makanan sehat. Dia bahkan tidak mau mengkonsumsi gula. Semuanya Altesa lakukan agar bisa menurunkan berat badan.


"Ben, setelah ini bisakah kau menemaniku pergi ke rumah sakit?" tanya Altesa.


"Ke rumah sakit? Mau apa? Kau tidak sakit lagi kan?" bukannya menjawab, Beno justru berbalik tanya.


"Tidak. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Stevan," sahut Altesa.


"Tentang apa lagi?"


"Kau nanti akan tahu. Aku tidak bisa memberitahu di sini."


Tanpa sepengetahuan Altesa dan Beno, Revan diam-diam menguping. Satu hal yang membuatnya tertarik, Altesa berurusan dengan kakak kandungnya sendiri.


'Perempuan itu mau apa? Dia tidak berniat menggoda Stevan bukan?' benak Revan bertanya-tanya. Menatap selidik ke arah Altesa.


Ponsel Revan tiba-tiba berdering. Dia langsung mengangkat panggilan dari direktur utama dari agensinya tersebut.


"Aku hanya mau memberitahu kalau lusa nanti kita akan pergi ke LA. Mereka sudah mengkonfirmasi akan menerimamu bergabung jadi bagian film besar itu," ujar Wildan dari seberang telepon.


"Benarkah? Syukurlah. Aku pasti akan melakukan yang terbaik." Kabar baik yang diberikan Wildan membuat Revan antusias.


"Kau adalah yang terbaik Revan. Kamilah yang beruntung bisa memilikimu di agensi Wiler Entertainment. Aku tidak sabar menunggu karyamu selanjutnya."


"Terima kasih, Tuan Wildan."


Altesa yang duduk tidak begitu jauh dari Revan, dapat mendengar segalanya. Terutama nama Wildan. Dia sama sekali tidak terkejut. Sebab dirinya mengetahui Beno dan Revan bekerja di bawah naungan perusahaan Wildan.


"Bagaimana cara Wildan mengelola perusahaan? Apa dia direktur yang baik?" celetuk Altesa. Dia tentu penasaran.


"Dia cukup baik, Al. Mungkin karena itulah aku masih bisa bekerjasama dengan Wiler Entertainment," tanggap Beno. "Apa itu membuatmu kecewa?" tanya-nya.


"Tentu saja tidak. Kenapa aku kecewa mendengar orang bersikap baik. Mungkin Wildan hanya jahat kepadaku. Dan itu semakin membuatku penasaran untuk menemukan alasannya." Pembicaraan Altesa dan Beno berakhir. Keduanya pergi ke rumah sakit saat telah menyelesaikan pekerjaan.


...***...


Altesa menunggu di kantor pribadi Stevan. Sedangkan Beno kebetulan sedang ke toilet.

__ADS_1


Tidak perlu waktu yang lama, Stevan datang. Wajahnya terlihat cemas. Dia Takut Altesa mengalami gejala penyakit tak terduga.


"Ada apa, Al? Kau tidak cidera kan? Atau kau merasa saraf di tubuhmu terganggu?" Stevan memastikan. Dia duduk ke sebelah Altesa.


Altesa tersenyum menerima perhatian dari Stevan. Dia menggeleng dan berucap, "Aku tidak apa-apa. Hanya saja, ada yang ingin aku tanyakan."


"Syukurlah. Kau mau menanyakan apa?"


Altesa lantas menanyakan tentang apa yang terjadi sebelum dirinya koma. Dia ingin mengetahui kebenaran yang diucapkan Wildan kepadanya tadi pagi.


"Hal yang kuingat sebelum kau koma, hanya kecelakaan. Tidak ada yang lain. Kau bahkan tidak pernah sadar setelah mengalami kecelakaan itu," terang Stevan panjang lebar. Sambil mengingat kembali insiden kecelakaan yang di alami Altesa dulu.


"Benarkah? Kau yakin aku tidak melakukan hal buruk pada keluargaku sendiri?" Altesa meragu.


Stevan menggeleng tegas. "Ayolah, Al. Kau tidak menderita amnesia. Jika kau melakukan hal buruk, kau pasti akan mengingatnya," ucapnya.


"Lalu kenapa Wildan mengatakan bahwa aku sudah berbuat buruk kepadanya dan Azka?" tukas Altesa.


"Mungkin dia berbohong. Kau tahu kalau itu bukan kebohongan pertama yang dilakukannya padamu."


Altesa terdiam seribu bahasa. Pendapat yang diberikan Stevan membuatnya sadar. Terutama mengenai kepercayaannya terhadap Wildan. Jelas omongan lelaki tersebut tidak bisa dipercaya lagi.


Altesa merasa benar-benar bodoh. Akibat merasakan hal itu, dia mengepalkan tinju di kedua tangan. Amarahnya kian memuncak.


Dikhianati, dibohongi, ditipu, diremehkan. Segalanya Altesa terima dari Wildan. Dia harus bertindak agar bisa memberi pelajaran pada lelaki itu.


"Apa kau--"


"Terima kasih, Dokter Stevan. Maaf sudah membuang waktumu demi pertanyaan bodohku," potong Altesa seraya bangkit dari sofa. Dia berniat pergi.


"Tidak apa-apa." Stevan ikut berdiri. Mengiringi Altesa dari belakang. Jujur saja, ada banyak hal yang ingin dia katakan pada Altesa.


"Al!" Stevan akhirnya memanggil. Mengharuskan Altesa berhenti sejenak dan menoleh.


"Panggil saja aku Stevan. Kau sudah bukan pasienku," kata Stevan.


Altesa tersenyum tipis. Dia mengangguk dan beranjak meninggalkan Stevan.


Bertepatan dengan itu, sosok lelaki berbadan tinggi dan atletis muncul. Dia menutupi wajahnya dengan topi dan masker hitam. Sengaja menabrakkan diri ke pundak Altesa. Lelaki misterius tersebut langsung menyeret Stevan masuk ke dalam ruangan.


Dahi Altesa berkerut. Sebab dia mengenal sosok lelaki yang lewat tadi.


"Dia Revan bukan?" gumam Altesa seraya memiringkan kepala. Meskipun begitu, dia tidak mau ambil pusing memikirkan hubungan Revan dan Stevan. Altesa segera lanjut melangkah maju.

__ADS_1


__ADS_2