
...༻⌘༺...
"Ayo! Biar aku antar kau pulang." Wildan tidak punya pilihan selain memaksa Randi untuk pulang. Namun Altesa dan Revan tentu tidak membiarkan.
"Biarkan Randi bicara!" tukas Altesa sembari mempelototi Wildan.
"Jangan memaksa Randi! Lihat dia! Apa kau tidak kasihan?" balas Wildan dengan dahi berkerut.
Randi kembali memasang tatapan kosong. Wajahnya memang tampak pucat. Dia sedari tadi menundukkan kepala.
"Ayo, Ran. Kita pulang," ajak Wildan lagi.
Tanpa diduga, Randi menepis tangan Wildan. Matanya terlihat bergetar.
"Aku harus jujur kepadamu, Dan. Uang yang kau berikan tidak pernah bisa membuatku bahagia..." ungkap Randi. Dia selalu merasa emosional saat mengingat adiknya. Sebab itulah Wildan berusaha keras untuk membawa Randi pergi.
"Sudahlah... Kau bisa ceritakan nanti," ujar Wildan. Tetapi Randi sekali lagi menolak ajakannya.
"Tanggal kecelakaan itu adalah hari dimana Ivan meninggalkanku untuk selamanya. Itulah alasanmu menuliskan tanggalnya. Bukankah begitu?" ucap Randi.
Wildan hanya membisu. Walaupun begitu, tangannya terus mencoba membawa Randi pergi.
Revan sigap menghalangi Wildan. Dia mendorong lelaki itu sampai terjatuh.
"Berani sekali kau!" geram Wildan. Ia merasa tak percaya.
"Bicaralah dengan Randi. Aku akan mengurus Wildan," kata Revan. Dia dan Wildan segera terlibat perkelahian. Sungguh, itu semua bukanlah sesuatu yang diharapkan Altesa.
"Revan! Jangan berkelahi!" pekik Altesa. Dia dan Randi tidak tahu caranya untuk melerai perkelahian.
__ADS_1
Keributan yang dibuat Wildan dan Revan membuat pihak keamanan turun tangan. Mereka lantas mengakhiri perkelahian dan memilih pulang. Wildan dan Revan jelas tidak bersedia saling berdamai.
"Mulai sekarang! Kau harus keluar dari agensiku! Semua kerjasama kita putus!" tegas Wildan. Sebelum benar-benar pergi meninggalkan Revan dan Altesa. Dia pergi bersama Randi.
Sekarang Altesa dan Revan sedang ada di mobil. Mereka dalam perjalanan pulang.
"Maafkan aku. Aku pikir semuanya akan berjalan lancar saat aku memberi Wildan pelajaran," imbuh Revan seraya fokus menyetir mobil.
"Tidak apa-apa. Aku yakin apapun yang disembunyikan oleh Randi, pasti lama-kelamaan akan ketahuan. Lagi pula di sini harusnya aku yang minta maaf. Kau dikeluarkan dari agensi Wiler karena aku," jawab Altesa.
Revan terkekeh. "Tenang saja. Selama aku masih terkenal, banyak agensi yang mau menerimaku," tanggapnya santai.
Tak lama kemudian Altesa tiba di apartemen. Dia menyarankan Revan untuk langsung pulang saja.
Rika dan Azka tampak sudah tidur di dalam kamar. Altesa duduk di sofa sejenak. Dia memikirkan cara agar Wildan bersedia menandatangani surat gugatan cerai.
Altesa berpikir cukup lama. Sampai akhirnya dia terpikirkan sesuatu hal. Terutama terkait dengan sesuatu yang dirahasiakan oleh Wildan dan Randi. Altesa merasa harus memanfaatkan itu agar bisa membujuk Wildan.
Wildan justru kesenangan. Ia merasa Altesa akan mempertahankan hubungan pernikahannya. Wildan bahkan sampai membeli dasi baru agar bisa tampil tampan di hadapan Altesa.
Dari depan pintu, ada Bi Ira yang menunggu. Dia memberitahukan Wildan tentang keadaan Erma. Wanita itu mengalami sakit dan selalu menolak untuk makan.
"Manja sekali dia." Bukannya khawatir, Wildan malah mengomel. Dia segera memeriksa keadaan Erma.
Ketika menyaksikan keadaan Erma dengan mata dan kepalanya sendiri, barulah Wildan cemas. Bagaimana tidak? Keadaan Erma sekarang terlihat seperti mayat hidup. Bibirnya pucat, tubuh yang mengurus, serta terdapat luka di buku-buku tangannya.
Tanpa pikir panjang, Wildan langsung membawa Erma ke rumah sakit. Dia juga tidak lupa mengatakan alasan keterlambatannya kepada Altesa.
Kini Erma bisa terselamatkan dengan cairan infus serta pengobatan dari dokter. Wildan segera pergi dan menyuruh Bi Ira untuk menjaga Erma.
__ADS_1
Di sisi lain, Altesa masih ada di cafe. Hampir satu jam dia menunggu Wildan. Altesa terpaksa menunggu karena hal yang ingin dibicarakannya sangat penting.
Setelah menanti cukup lama, Wildan akhirnya datang. Dia terlihat tersenyum cerah. Seolah tidak terganggu dengan keadaan Erma yang sakit.
"Aku tidak menyangka kau masih menunggu," ucap Wildan.
"Aku terpaksa karena aku ingin membicarakan hal penting. Ini terkait gugatan cerai. Aku ingin kau segera menandatanganinya," sahut Altesa. Dia membuka tas bahunya. Berniat mengambil sesuatu dari sana.
Wildan terkekeh remeh. "Bagaimana aku bisa tanda tangan? Surat itu sudah..." ucapannya terhenti, saat Altesa mengeluarkan surat gugatan cerai yang baru. Wildan tidak bisa berkutik lagi.
"Maaf, Al... aku tidak mau menceraikanmu. Aku tidak mau berpisah denganmu dan Azka!" seru Wildan menegaskan.
"Harus! Kalau tidak, maka aku tidak akan menyerah. Aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan terkait kecelakaan itu. Jika kau memilih tidak menandatangani surat cerai, maka aku akan membongkar rahasiamu!" balas Altesa. Keningnya mengernyit dalam.
"Kau sudah mengetahuinya? Katakan kepadaku apa itu?" Wildan gelagapan.
"Sekarang aku memang tidak tahu. Tapi aku dapat mencari tahu dengan mudah bila bicara kepada Randi." Altesa bicara dengan penuh penekanan. Auranya terasa sangat serius.
Wildan terdiam seribu bahasa. Hal yang ditakutinya di dunia memang adalah terkuak kebenaran tentang dirinya. Jujur saja, Wildan akan melakukan apapun agar semuanya bisa terus dirahasiakan.
"Apa benar setelah aku menandatangani surat ini kau tidak akan mencari tahu lagi? Aku ingin kau berjanji," kata Wildan pelan.
Ancaman Altesa sukses besar. Dia tersenyum dan mengangguk. Berbeda dengan Wildan, hal yang paling ingin Altesa lakukan sekarang adalah pergi jauh dan hidup bahagia bersama Azka.
Demi reputasi, Wildan akhirnya menandatangani surat gugatan cerai Altesa. Sekarang mereka tinggal menjalani proses perceraian selanjutnya.
..._____...
Catatan Author :
__ADS_1
Novelnya aku labeli end karena dua atau tiga bab lagi tamat ya... Makasih buat dukungannya. Berharap kalian betah dan bersedia komen. Sepi banget soalnya. Wkwk