Kembalinya Istri Pertama

Kembalinya Istri Pertama
Bab 31 - Membuktikan Kepada Azka


__ADS_3

...༻⌘༺...


Altesa langsung merubah posisi menjadi duduk. Ibu mana yang tidak senang saat mendapatkan kabar dari anak sendiri.


"Apa benar Tante akan langsung datang jika aku meminta bertemu?" ujar Azka.


"Tentu saja. Aku akan segera ke sana!" Altesa bergegas bangkit dari tempat tidur. Dia langsung berangkat dengan menaiki bus.


Sepanjang perjalanan, Altesa terus memikirkan panggilan Azka terhadapnya. Anak itu masih enggan memanggilnya dengan sebutan bunda.


'Aku harus sabar. Mungkin Azka butuh waktu,' batin Altesa sembari memejamkan mata penuh harap. Dia bersyukur, setidaknya rencananya untuk sekarang berjalan lancar.


Dari awal Altesa menduga ketidakpedulian Erma. Dia yakin, wanita itu akan terganggu dengan Azka. Sebab anak tersebut bukanlah anak kandung Erma.


Tak lama kemudian, Altesa tiba di rumah Wildan. Dia langsung diperbolehkan masuk oleh satpam yang berjaga.


"Nyonya, Al! Anda kembali lagi. Tuan Wildan mencari-cari anda," seru Sandi. Selaku satpam yang berjaga.


"Aku hanya berkunjung sebentar." Altesa menjawab singkat. Dia bergegas menemui Azka. Dirinya tidak punya banyak waktu. Cepat atau lambat, Sandi pasti akan memberitahukan kedatangannya kepada Wildan.


Di dalam Azka sudah menunggu kedatangan Altesa. Anak tersebut langsung menegakkan badan ketika menyaksikan kemunculan Altesa.


"Azka sendirian di rumah?" tanya Altesa pelan.


Azka mengangguk. "Sepi banget. Tante satu-satunya orang yang bisa aku hubungi," ungkapnya. "Aku cuman mau tahu siapa Tante sebenarnya. Setelah terus-terusan mendapat omelan Bunda, aku jadi penasaran dengan penjelasan Tante kemarin," sambung Azka seraya memainkan jari-jemari tanpa alasan.


"Aku akan buktikan kalau aku adalah Bunda kamu yang sebenarnya. Tapi kamu harus ikut. Azka akan bertemu seseorang ya, Nak." Altesa mengulurkan tangan kanannya. Berharap Azka bersedia menyambut tangan itu.


Azka tampak terdiam dalam sesaat. Di akhir, dia menggenggam tangan Altesa dengan lembut. Apa yang dilakukannya sukses membuat perempuan tersebut senang bukan kepalang. Senyuman lebar menghiasi wajah Altesa. Ia dan Azka beranjak dari rumah. Altesa berniat pergi menemui Stevan di rumah sakit.

__ADS_1


Usai menempuh perjalanan dalam beberapa menit, Altesa dan Azka tiba di rumah sakit. Altesa berjalan sambil menuntun Azka. Perempuan itu tidak berhenti menatap sang putra. Rasanya dia ingin langsung mengajak Azka tinggal bersamanya secepat mungkin. Tetapi semua prosesnya tentu tidak akan semudah itu.


Altesa dan Azka disuruh menunggu di kantor Stevan. Keduanya duduk berdampingan di sofa.


"Azka masih suka menggambar?" tanya Altesa. Dia tahu putranya sangat gemar menggambar.


"Udah jarang. Aku disuruh fokus belajar sama Bunda," jawab Azka.


"Pergi les maksudnya?" Altesa memastikan.


Azka lantas menjawab dengan anggukan. "Kata Bunda pelajaran di bidang akademik lebih penting dibanding menggambar," jelasnya.


Altesa mendengus kasar. "Tapi menggambar kan adalah hobi Azka. Kamu harusnya jangan meninggalkan apa yang membuatmu bahagia, sayang..." tuturnya sembari beringsut mendekati Azka. Altesa meletakkan satu tangannya ke pundak sang putra.


"Begitukah?" Dua alis Azka terangkat bersamaan. Dia benar-benar hanyalah bocah polos korban kebohongan Wildan. Altesa merasa kasihan. Karena itulah dia berjuang semaksimal mungkin untuk merebut Azka kembali.


Altesa mengangguk. "Betul. Pelajaran akademik memang penting. Tapi yang lebih penting itu adalah menjadi diri sendiri. Kalau menggambar membuat Azka bahagia, maka lakukan saja itu," ucapnya memberi wejangan.


Interaksi Altesa dan Azka terhenti saat Stevan datang. Lelaki itu langsung tersenyum cerah. Apalagi melihat Altesa datang bersama Azka.


"Wah... ada apa ini, Al?" tanya Stevan. Atensinya segera dialihkan ke arah Azka. "Dan siapa anak yang super tampan ini? Matamu sangat mirip dengan ibumu, Nak," pujinya.


Altesa terkekeh mendengar sapaan ramah Stevan. Dia segera memperkenalkan lelaki tersebut kepada Azka. Begitu pun sebaliknya.


"Inilah dokter yang merawat Bunda saat koma selama dua tahun lebih," ujar Altesa.


"Koma?" Azka tidak mengerti.


Altesa dan Stevan reflek bertukar pandang. Keduanya paham bahwasanya Azka belum mengerti.

__ADS_1


Sebagai dokter, Stevan menjelaskan semuanya kepada Azka pelan-pelan. Dia menerangkan dengan baik mengenai penyakit koma. Stevan bahkan memperlihatkan beberapa foto dokumentasi saat Altesa koma.


"Kau mengambil foto saat aku sakit?" Altesa penasaran.


Stevan mengangguk. "Itu sebagai bahan dokumentasi perkembangan kesehatanmu," terangnya.


"Berarti Papah bohong sama aku?..." lirih Azka dalam keadaan mata yang berkaca-kaca. Hingga lama-kelamaan dia akhirnya menangis. Altesa segera membawanya masuk ke dalam pelukan.


"Papah sama Bunda bohong sama aku.... hiks..." rengek Azka.


"Maafin Bunda sayang... Bunda terlalu lama tinggalin kamu. Harusnya Bunda lebih hati-hati saat itu..." Altesa jadi ikut-ikutan menangis. Dia mengelus pelan kepala Azka yang menyandar di dadanya.


"Papah bilang Bunda bukan Bundaku yang sebenarnya. Kata Papah Bunda lebih memilih keluarga lain dibanding aku... aku kira Bunda benar-benar pergi karena itu... tapi ternyata Bunda sedang sakit..." Azka memeluk erat sang ibu. Dia menyesali perbuatan tidak sopannya terhadap Altesa. Sungguh, dari lubuk hati terdalam, Azka sangat merindukan Atesa. Kasih sayang Erma tentu sangat berbeda jauh dari ibu kandungnya sendiri. Mengingat Altesa-lah yang menjaganya semenjak lahir.


"Aku akan memberi waktu untuk kalian berdua." Stevan yang mengerti, bangkit dari tempat duduk. Selepas mendapat anggukan kepala dari Altesa, dia segera beranjak dari ruangan.


Sekarang tinggal Altesa dan Azka berduaan. Tangisan mereka perlahan mereda.


"Berarti Bunda adalah Bunda aku yang sebenarnya dong?" Azka memastikan.


"Iya, sayang... Bunda sudah bilang berkali-kali sama kamu. Karena itulah Bunda rela tinggal bersamamu di rumah Papah. Tapi maaf... Bunda tidak bisa tinggal di sana berlama-lama..." ungkap Altesa seraya mengusap air mata yang ada di wajah Azka.


"Nggak apa-apa, Bunda. Tapi Bunda akan kembali ke rumah kan? Aku sendirian di sana... Aku cuman bisa ditemanin sama Bi Ira." Azka memancarkan tatapan penuh harap.


Altesa membisu. Dia mencoba mencari cara agar bisa terus menemani Azka walau tidak tinggal bersama. Setelah berpikir cukup lama, dia akhirnya menemukan cara yang tepat.


"Azka... Bunda punya rencana. Tapi Azka harus menuruti apa yang Bunda katakan ya," ujar Altesa yang langsung direspon dengan anggukan oleh Azka.


Altesa memberitahukan rencananya. Dia ingin Azka merahasiakan apa yang sudah diketahuinya. Altesa berharap anak itu kembali ke rumah Wildan dan bisa bersikap normal seperti biasa.

__ADS_1


"Aku sudah benci sama Papah! Biarkan aku tinggal sama Bunda!" tolak Azka dengan kening yang mengernyit.


Altesa terkesiap. Dia menggigit bibir bawahnya. Godaan untuk membawa Azka ikut bersamanya tentu menghantui. Altesa merasa tidak rela mengantar Azka kembali ke rumah Wildan. Tetapi jika dirinya nekat membawa Azka pergi, maka Wildan otomatis akan mengetahui rencana Altesa yang sebenarnya.


__ADS_2