Kembalinya Istri Pertama

Kembalinya Istri Pertama
Bab 28 - Revan & Stevan


__ADS_3

...༻⌘༺...


Revan tercengang terhadap sikap santai Altesa. Apalagi saat melihat perempuan itu sudah tertidur. Dia tidak punya pilihan lain selain membiarkan.


Altesa tertidur dalam beberapa jam. Dia terbangun saat waktu menunjukkan jam setengah sepuluh. Altesa merubah posisi menjadi duduk. Mengusap kedua matanya berulang kali.


"Sudah bangun?" Revan tiba-tiba muncul dari arah depan. Dia membawa segelas kopi di salah satu tangannya.


"Apa aku terlihat masih tertidur?" tanggap Altesa.


"Ayo kita bahas mengenai niat kedatanganmu ke sini." Revan duduk ke sofa yang ada di hadapan Altesa. Lalu meletakkan segelas kopi ke atas meja.


"Jelas aku ingin tinggal di sini. Aku juga sedang berencana membeli rumah ini kembali," ungkap Altesa. Membuat mulut Revan sontak menganga tak percaya.


"Hahaha..." Revan tertawa hambar. Namun itu tidak berlangsung lama, sebab dia merubah semburat wajahnya menjadi serius. "Jangan bercanda. Aku sedang tidak ingin bercanda," ujarnya.


"Aku tidak bercanda. Rumah ini adalah satu-satunya harapanku. Pekerjaanku yang baru dilakukan selama beberapa hari, belum menghasilkan uang yang cukup untuk menyewa rumah." Altesa menjelaskan panjang lebar.


Revan memicingkan mata. Terlintas dalam benaknya tentang suatu hal. "Kalau begitu, bagaimana kalau aku punya tempat tinggal untukmu? Dari pada kita harus tinggal serumah di sini. Kan itu lebih bagus," usulnya seraya mengangkat dua alis secara bersamaan. Revan berharap Altesa setuju.


"Itu ide bagus. Tapi hutangku otomatis akan bertambah," kata Altesa. Menunjukkan kesenduan di paras cantiknya.


"Kau bisa membayarnya nanti. Itu lebih baik dari pada kita tinggal serumah. Kebetulan juga aku punya sebuah apartemen. Kau bisa tinggal di sana."


"Baiklah. Antarkan aku ke sana." Altesa mengangguk. Atensinya tertuju ke arah segelas kopi yang ditaruh Revan ke atas meja. "Itu untukku kan?" tanya-nya sembari mengulurkan tangan ke arah gelas berisi kopi.


"Bukan!" Revan mengambil lebih dulu kopinya. Dia langsung menyesap kopi tersebut sampai tandas. "Kau tamu tak diundang. Buatlah minuman sendiri," ucapnya seraya berdiri.


"Aku boleh numpang mandi dan makan dulu kan? Masukkan saja semua itu ke daftar hutangku. Aku akan membayarnya kalau sudah punya banyak uang," imbuh Altesa.

__ADS_1


Revan memutar bola mata jengah. Dia mengangguk malas. Pria itu segera masuk ke kamar.


Dari halaman rumah, terlihat sebuah mobil baru saja berhenti. Sosok Stevan keluar dari mobil tersebut. Dia membawa dua tas karton berisi obat herbal yang selalu dibelikannya untuk Revan.


Stevan langsung masuk ke rumah Revan. Kedekatannya dengan sang adik memang seperti itu. Dia bahkan tahu pasword pintu masuk rumah Revan. Begitu pun sebaliknya.


Atensi Revan tertuju ke arah koper Altesa yang ada di dekat sofa. Keningnya sontak mengernyit. Dia tentu penasaran dengan pemilik koper yang dilihatnya sekarang.


"Van? Kau mau pergi kemana? Kenapa ada koper di sini?" tanya Stevan dengan nada lantang. Hingga berhasil membuat Revan keluar dari kamar.


Pupil mata Revan membesar, tatkala menyaksikan kedatangan sang kakak. Tanpa pikir panjang dia bergegas menghampiri. Ingin menjelaskan secepat mungkin. Namun ketika baru berdiri ke hadapan Stevan, saat itulah Altesa keluar dari kamar mandi. Perempuan itu mengenakan handuk kimono dalam keadaan rambut yang basah.


Tidak tanggung-tanggung. Baik Altesa, Revan, dan Stevan, ketiganya sama-sama terkejut. Mereka terdiam dalam beberapa saat.


"Stevan? Apa yang kau lakukan di sini?" mata Altesa membola.


"Bukankah seharusnya aku yang bertanya begitu?" Stevan berbalik tanya. Dia menatap Altesa dan Revan secara bergantian.


"A-apa maksudnya ini? Apa kau dan Altesa punya hubungan spesial? Revan?" mata Stevan mendelik. Dia yang sebenarnya memiliki ketertarikan kepada Altesa, tentu merasa dibuat resah.


"Tenanglah, Kak Stev." Revan menenangkan Stevan. Dia lantas menceritakan hal yang sebenarnya sampai Stevan mengerti.


"Benarkah begitu? Kau tidak berbohong kan?" Stevan meragu.


"Untuk apa aku berbohong. Kau sangat mengenalku, Kak. Kau tahu bagaimana sikapku saat berbohong," tanggap Revan. Berupaya meyakinkan.


Stevan tersenyum dan mengusap gemas puncak kepala Revan. Dia memperlakukan sang adik bak seorang anak kecil.


"Ayolah! Aku bukan bocah lagi!" protes Revan sembari menjauhkan tangan Stevan dari kepala.

__ADS_1


Selang beberapa saat, Altesa keluar dari kamar. Ia tampak membawa kopernya lagi. Altesa segera menjelaskan semuanya kepada Stevan. Begitu pun sebaliknya. Stevan juga memberitahu mengenai hubungannya dengan Revan.


"Jadi kalian kakak beradik?" dahi Altesa berkerut. Dia memperhatikan wajah Stevan dan Revan dengan seksama. Mencoba menemukan kemiripan di antara keduanya. Akan tetapi Atlesa sama sekali tidak menemukan adanya kemiripan.


"Jangan mencoba mencari kemiripan kami. Karena aku tidak sedarah dengan Revan. Aku adalah anak yang di adopsi oleh kedua orang tuanya Revan--"


"Kak Stev, cukup! Jangan sebut Papah dan Mamah kita seolah seperti orang lain," potong Revan. Tidak membiarkan Stevan berbicara lebih lanjut.


"Kalian tidak mirip. Tapi memiliki hubungan yang sangat kompak. Bahkan melebihi hubungan kakak beradik yang sedarah," komentar Altesa. Berusaha mencairkan suasana.


"Kak Stevan adalah super heroku, Al. Entah bagaimana caranya, tapi dia selalu bisa menyelamatkan hidupku," tanggap Revan.


"Sialan! Aku tahu kau selalu menjadikanku tumbal." Stevan sigap menggeplak kepala Revan. Meskipun begitu, Stevan terkekeh geli. Dia tentu hanya bermaksud bercanda.


Puas saling mengobrol, Revan dan Stevan sepakat untuk mengantar Altesa ke apartemen. Kini Stevan dan Altesa sudah berada di luar rumah. Mereka menunggu Revan berganti pakaian.


"Kau dan Revan sangat berbeda. Baik dilihat dari profesi bahkan penampilan," celetuk Altesa. Memulai pembicaraan. Dia berdiri berhadapan dengan Stevan. Menikmati udara segar di sekitar.


"Sejak kecil Revan memang sangat menyukai seni. Jadi begitulah dia sekarang. Revan sangat menikmati pekerjaannya," sahut Stevan seraya memasukkan dua tangan ke saku celana. "Padahal ayah dan ibu selalu mengekangnya untuk belajar giat. Mereka sangat berharap Revan bisa menjadi seorang dokter," sambungnya.


"Ah... jadi karena itu dia menyebutmu super hero, dan kau bilang dia sudah menumbalkanmu." Altesa menyimpulkan. Stevan lantas mengangguk.


"Tapi... menjadi dokter benar-benar niat dari lubuk hatimu kan?" tanya Altesa penasaran.


"Aku..." belum sempat berucap, Revan muncul dari balik pintu. Ia sudah rapi dengan pakaian kasual. Topi dan masker yang menutupi sebagian wajahnya tak pernah tertinggal.


"Kau sebenarnya tidak perlu ikut, Kak Stev. Aku hanya akan mengantarkan Altesa ke apartemen," cetus Revan sambil masuk ke dalam mobil. Hal serupa juga dilakukan Altesa dan Stevan.


"Umurmu berapa, Rev? Berani sekali kau memanggil Altesa tanpa sebutan Kakak?" Stevan mengabaikan ucapan Revan tadi. Dia justru menimpali.

__ADS_1


"Kakak? Aku yakin Altesa lebih muda dariku. Dia hanya lebih dulu menikah. Benarkan, Al?" Revan menoleh ke arah Altesa yang duduk di kursi belakang.


"Benarkah, Al? Seingatku usiamu sudah dua puluh lima tahun lebih?" Stevan juga ikut menatap Altesa. Menanti jawaban pasti dari perempuan tersebut.


__ADS_2