Kembalinya Istri Pertama

Kembalinya Istri Pertama
Bab 40 - Keceplosan


__ADS_3

...༻⌘༺...


Altesa tidak mau basa-basi. Ia mengambil ponsel dan menunjukkan foto yang dimilikinya kepada Randi. Yaitu foto yang memperlihatkan Randi sebagai salah satu orang dalam foto.


Randi terkesiap menyaksikan foto yang diperlihatkan Altesa. Keresahannya semakin bertambah.


"Itu fotomu dengan siapa?" tanya Altesa. Mulai menyelidik.


"Ba-bagaimana kau mendapatkan foto ini?" Randi tergagap. Dia nampaknya sangat terkejut.


"Kenapa? Apa itu membuatmu cemas? Aku hanya penasaran kenapa tanggal hari dimana aku kecelakaan tertulis difotomu. Lihat!" Kini Altesa memperlihatkan tanggal yang ditulis di belakang foto.


Randi terlihat menampakkan binar getir. Namun itu tidak berlangsung lama ketika akalnya muncul.


"Kenapa bertanya kepadaku. Harusnya kau tanyakan pada orang yang menulis tanggal itu. Sebab aku memang bukan pelakunya. Coba beritahu aku dulu, dimana kau menemukan foto itu?" tanya Randi. Sekarang keadaan berbalik. Seolah dia yang mencurigai Altesa.


"Dimana, Al? Katakan saja," ujar Revan.


"Kau pasti menemukannya di ruang kerjaku." Wildan tiba-tiba saja muncul. Membuat mata Altesa sontak membulat sempurna. Bagaimana tidak? Lelaki tersebut muncul seperti hantu.


"Wildan? Kenapa kau..." Altesa tidak bisa berkata-kata.


"Pasti Randi yang memberitahu kedatangannya." Revan berbisik kepada Altesa. Dia dapat menduga alasan dibalik kedatangan Wildan.

__ADS_1


"Revan Alvino. Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah harusnya kau ikut berpesta seperti selebriti lain?" Wildan bertanya sambil duduk ke sebelah Randi. Kini semuanya imbang. Dua lawan dua.


"Aku hanya berusaha membantu istrimu. Sepertinya kau selalu berhasil membuatnya tersudut," balas Revan. Dia nampaknya sama sekali tidak takut dengan jabatan yang dipegang Wildan di perusahaan.


Wildan memutar bola mata sembari tersenyum miring. Dia sedikit kesal dengan ucapan Revan barusan.


"Sebaiknya kau tidak perlu ikut campur dengan urusan pribadiku. Aku ingin kau pergi." Wildan berucap dengan nada penuh penekanan. Tatapannya tampak memancar tajam bak sebuah ancaman.


"Revan hanyalah seorang teman yang mencoba membantu!" Altesa berusaha melindungi Revan. Dia menatap ke arah lelaki itu. "Pergilah, Rev..." suruhnya.


Revan mengerutkan dahi. Kepalanya langsung menggeleng. Menolak suruhan Altesa dengan tegas. "Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi mereka sendirian," katanya bertekad. Lalu mendelik ke arah Wildan dan Randi secara bergantian.


"Jadi itu pilihanmu, Rev. Tetap berada di sini dan ikut campur dengan masalahku?" timpal Wildan.


"Jaga mulutmu ya! Dia adikku!" benar saja. Hinaan Altesa berhasil membuat Randi keceplosan.


"Randi!" Wildan melotot kepada Randi. Tatapannya menyiratkan teguran tegas.


"Apa? Dia baru saja menghina Ivan! Tentu aku tidak--"


"Randi! Bisakah kau tutup mulutmu itu?!" Wildan sekai lagi memperingatkan.


"Oh... Jadi lelaki yang satunya adalah adiknya Randi? Namanya Ivan? Aku akan mengingatnya." Altesa mengangguk-anggukkan kepala. Untuk sekarang dia merasa menang.

__ADS_1


Revan yang melihat tersenyum. "Ngomong-ngomong dimana Ivan sekarang?" tanya-nya.


"Sudah kubilang kau tidak perlu ikut campur!" sahut Wildan. Dia tampak sangat marah.


Berbeda dengan Randi. Dia menundukkan kepala. Memasang tatapan kosong. Seakan ada sesuatu yang sedang dirinya pikirkan.


"Aku tahu ini pasti akan terjadi. Jujur saja, kejadian itu terus menghantuiku..." lirih Randi.


"Randi hentikan!" Wildan yang geram, mencengkeram kuat kerah baju Randi.


"Bagaimana kau bisa terus hidup begini, Wildan? Aku saja selalu gelisah setiap kali ada orang yang menyebut nama Ivan." Randi menanggapi kemarahan Wildan dengan santai. Dia bahkan tidak melakukan perlawanan sedikit pun. Badannya melemah. Seakan tidak peduli terhadap perlakuan Wildan.


"Kau sepertinya kurang sehat. Kusarankan kau kembali saja ke LA." Wildan mencoba tenang. Dia melepas kerah baju Randi dengan kasar.


Melihat kegelisahan yang ditunjukkan Randi, Altesa merasa harus memanfaatkan kesempatan. Dia berdiri dan menggenggam lengan Randi.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Beritahu saja. Semuanya akan jadi tambah buruk jika kau terus memendamnya," bujuk Altesa.


...______...


Catatan Author :


Oke guys, beberapa bab lagi novel ini tamat ya...

__ADS_1


__ADS_2