Kembalinya Istri Pertama

Kembalinya Istri Pertama
Bab 26 - Wildan Vs Erma


__ADS_3

...༻⌘༺...


Erma mengabaikan Wildan. Dia memilih tengkurap ke ranjang sambil terus menutupi wajah. Sebagai istri, Erma tentu tidak terima dengan keinginan Wildan.


"Aku akan membiarkanmu tenang lebih dahulu. Aku malam ini akan tidur dengan Azka," ujar Wildan. Memutuskan beranjak meninggalkan Erma.


Beberapa jam berlalu. Hari sudah lewat tengah malam. Namun Erma tidak bisa tertidur. Meskipun begitu, dia merasa lebih tenang dibandingkan tadi.


Ternyata hal serupa juga di alami Altesa. Dia sengaja tidak tidur karena ingin bicara dengan Erma lagi.


Tok...


Tok...


"Boleh aku masuk? Ini aku Altesa," kata Altesa. Usai mengetuk pintu dengan pelan.


Karena tidak kunjung mendapat tanggapan, Altesa akhirnya membuka pintu. Untung saja pintunya sedang tidak dikunci. Ia langsung duduk mendekati Erma.


"Jangan biarkan Mas Wildan menyentuhku. Kak Erma pokoknya jangan pernah mengizinkannya!" cetus Altesa. Membuat dahi Erma sontak berkerut dalam.


"Kau sepertinya memang sedang bermain-main denganku!" tukas Erma.


"Tidak. Aku begini karena memilih berada di pihakmu." Altesa tentu tidak bersungguh-sungguh. Baginya, nama Erma sudah masuk daftar hitam.


"Kalau kau paham bagaimana perasaanku, hal yang harus kau lakukan adalah angkat kaki dari rumah ini!" balas Erma. Dia berdiri sambil mempelototi Altesa.


Altesa kaget dengan respon Erma. Dia tidak menyangka akan mendapat tanggapan berlebihan seperti itu. Anehnya tanggapan Erma tersebut justru memunculkan ide baru dalam benak Altesa.


"Aku bersedia pergi dari sini dan menjauh dari Mas Wildan," ucap Altesa pelan. Menunjukkan raut wajah tenang sembari memegang lembut pundak Erma. "Tapi kemana? Aku tidak punya tempat tinggal," sambungnya.


"Jadi itu masalahnya?! Kenapa kau tidak bilang dari awal? Mas Wildan punya banyak properti bangunan. Kau bisa tinggal di salah satu bangunan itu," ujar Erma. Niat kepergian Altesa sukses membuatnya sedikit tenang.

__ADS_1


Erma bahkan sudah memilihkan tempat tinggal yang cocok untuk Altesa. Dia sengaja memilihkan villa yang seingatnya sudah jarang dikunjungi oleh Wildan.


"Ini alamat tempat tinggalmu. Kau bisa pergi sekarang!" Erma memperlihatkan gambar villa yang akan menjadi rumah Altesa. Senyuman puas terukir di wajahnya. "Dan sebaiknya kau rahasiakan tempat tinggal barumu itu dari Mas Wildan!" tegasnya memberitahu.


"Baiklah." Altesa mengangguk. Dia segera melangkah pergi dari kamar Erma.


"Kau itu terlalu naif atau bodoh sih?" tukas Erma. Dia berseringai sambil menatap remeh Altesa.


'Yang bodoh itu kau. Tunggu saja waktunya.' Altesa membalas dalam hati.


Usai bicara dengan Erma, Altesa menemui Wildan. Ia melancarkan aksinya yang kedua. Altesa memberitahukan apa yang sudah dilakukan Erma terhadapnya.


"Sekarang aku harus pergi dari sini, Mas. Kak Erma sangat membenciku," ungkap Altesa seraya menundukkan wajah.


"Tidak! Jangan pergi, Al." Wildan yang sepenuhnya sudah jatuh dalam sandiwara Altesa, tentu tidak membiarkan.


"Sebenarnya aku tidak mau pergi. Aku tidak masalah kita semua hidup bersama dalam satu rumah. Tapi aku tidak bisa terus tinggal di sini dengan kebencian Kak Erma," jelas Altesa. Dia menampakkan mimik wajah seolah-olah ingin menangis.


Altesa memanfaatkan waktu untuk kembali ke kamar. Kini dia memutuskan benar-benar pergi. Altesa tidak tahan lagi melakukan sandiwara. Ia yakin, cepat atau lambat, Wildan dan Erma akan tahu. Namun setidaknya Altesa berhasil mengadu domba dua pasangan itu.


"Aku harap semuanya berjalan sesuai rencana," gumam Altesa. Dia memasukkan pakaian satu per satu ke dalam koper. Lalu pergi menemui Azka. Altesa terpaksa membangunkan anak itu dari tidur.


"Azka..." panggil Altesa seraya mengelus pelan pundak Azka.


Selang sekian detik, Azka akhirnya terbangun. Matanya langsung terbelalak takut ketika melihat kehadiran Altesa.


"Kenapa Tante ke sini?! Pa--" Altesa sigap menutup mulut Azka. Dia tidak akan membiarkan sang putra berteriak seperti biasanya. Kali ini Altesa akan mengatakan kebenaran sebisa mungkin.


"Azka jangan teriak ya. Bunda mohon dengarkan Bunda kali ini." Perlahan Altesa melepas tangannya dari mulut Azka. Anak lelaki tersebut langsung beringsut mundur. Menjaga jarak sebisa mungkin dari Altesa. Ekspresinya menampakkan ketakutan yang sangat ketara. Membuat Altesa merasa sedih sekaligus iba.


"Bunda cuman mau bilang, kalau Bunda adalah ibunya Azka yang sebenarnya. Bukan Bunda Erma!..." Altesa menghela nafas sejenak. Lalu melanjutkan, "Bunda yang mengandung Azka selama sembilan bulan. Melahirkan dan menjagamu dalam beberapa tahun. Persis sebelum Bunda mengalami koma..." Tanpa sadar, air mata mulai bercucuran di wajah Altesa.

__ADS_1


"Bohong! Papah bilang, selama itu Tante cuman pura-pura. Tante sudah membohongiku!" sahut Azka tak percaya.


"Papah bilang begitu karena ingin menikahi Bunda Erma. Dia berucap begitu agar Azka melupakan Bunda. Apa Azka tahu dimana Bunda selama dua tahun terakhir?" Altesa berusaha keras meyakinkan Azka. Selain tidak punya pilihan, dia juga sudah kehabisan waktu. Perdebatan Wildan dan Erma tentu tidak akan berlangsung lama.


"Bunda ada di rumah sakit, sayang... Bunda kembali lagi hanya untuk menemuimu." Altesa mencoba menyentuh wajah Azka. Akan tetapi anak itu dengan cepat menghindar.


"Bohong!" tampik Azka. Dia membuang muka dengan binar getir dimatanya.


"Setelah ini, Azka akan tahu Bunda Erma yang sebenarnya." Altesa mengalah. Dia segera mengusap air mata yang mengalir di pipi. Kemudian menuliskan nomor telepon ke secarik kertas.


"Jika merasa sendiri. Telepon saja Bunda. Bunda pasti akan datang menemui secepat kilat." Altesa meletakkan secarik kertas ke atas nakas. Dia berjalan sambil menarik koper.


Altesa pergi tanpa sepengetahuan Wildan dan Erma. Ia sengaja berbuat begitu agar Wildan menyalahkan semuanya kepada Erma. Altesa yakin, untuk sekarang Wildan pasti berada di pihaknya.


Di waktu yang sama, Wildan dan Erma sibuk berdebat. Wildan menuduh Erma karena sudah mengusir Altesa, sedangkan Erma mencoba membela diri dengan menyalahkan Altesa.


"Wanita itu berbohong! Dialah yang ingin pergi. Kenapa kau berada dipihaknya sekarang?!" timpal Erma dengan wajah yang memerah padam.


"Terima saja! Yang sebenarnya jadi perebut di sini itu adalah kau!" balas Wildan.


"Maksudnya, kau secara tidak langsung menyebutku pelakor?!"


"Iya. Kau yang merayuku! Sekarang aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Altesa!"


"Mas tega! Apa Mas nggak sadar kalau kita bertengkar karena dia?!" geram Erma. "Coba kita pastikan dan bicarakan semuanya pada orangnya langsung!" lanjutnya sambil melangkah cepat menuju kamar Altesa. Tetapi yang dia hanya temukan hanyalah lemari kosong tanpa pakaian. Sekarang Wildan tahu Altesa telah pergi.


"Lihat! Dia sudah pergi! Dan semua ini gara-gara kau!!!" sungut Wildan. Mengarahkan jari telunjuk ke wajah Erma.


"Mas kalau udah pengen banget, cepat lakukan saja kepadaku! Lagi pula, siklus datang bulanku hampir berakhir." Erma bergegas membuka kancing baju pakaiannya. Tampilannya kini hanya mengenakan bra dan celana panjang.


"Cukup! Aku sudah muak denganmu! Aku merindukan Altesa." Wildan pergi begitu saja. Menyebabkan kemarahan serta sakit hati Erma semakin bertambah.

__ADS_1


__ADS_2