Kembalinya Istri Pertama

Kembalinya Istri Pertama
Bab 34 - Penyesalan Selalu Datang Di Akhir


__ADS_3

...༻⌘༺...


Revan menghela nafas berat. Dia membuang muka sejenak. Berusaha tidak melihat ekspresi memelas dari Altesa maupun Stevan.


"Baiklah. Jadi apa mau kalian?" cetus Revan.


"Terima kasih banyak, Rev. Aku janji akan membayar semua kebaikanmu ini," sahut Altesa antusias. Dia segera memberitahukan permintaannya kepada Revan.


"Astaga... kau menyuruhku menanyakan foto lelaki asing kepada orang-orang di perusahaan Wiler? Ayolah! Aku bukan pekerja kantoran. Aku bisa dibilang orang yang bekerja di lapangan. Aku seorang aktor. Kalian ingat bukan?" Revan berucap panjang lebar.


"Benar juga..." Altesa tidak bisa membantah. Dia jadi berpikir lagi.


"Kenapa bingung? Suruh saja orang yang kau kenal di perusahaan itu untuk mencari tahu. Aku yakin kau pasti punya orang yang bisa dipercaya." Stevan mengusulkan idenya. Membuat Altesa kembali bersemangat.


Sementara Revan, dia terlihat mengeluh dengan helaan nafas panjangnya. "Ya sudah. Mana fotonya. Coba berikan kepadaku. Aku ingin lihat!" Revan membuka lebar telapak tangannya.


Altesa lantas memperlihatkan foto dua lelaki asing yang dimilikinya. Dia juga mengirimkan foto itu melalui ponsel.


Pupil mata Revan membesar. Bagaimana tidak? Dia mengenal salah satu lelaki yang ada di dalam foto.


"Aku tahu dia!" seru Revan seraya menunjuk ke salah satu lelaki dalam foto. Tepatnya lelaki yang sepertinya lebih tua dibanding pemuda yang satunya.


"Benarkah?" Mata Altesa membola. Dia tidak sabar menunggu jawaban dari Revan.

__ADS_1


"Dia adalah direktur perusahaan Wiler yang berbasis di LA. Namanya Randi Sebastian. Aku sempat makan malam dengannya saat ke LA kemarin. Dia sangat dekat dengan Wildan," jelas Revan sembari mengulang memori yang bersangkutan.


"Harusnya aku memperlihatkan fotonya dari awal kepadamu." Altesa memegangi jidatnya sendiri. Penyesalan memang selalu datang di akhir.


"Randi banyak bercerita tentang perjalanan kehidupannya yang susah. Dari ceritanya aku dapat menyimpulkan kalau Randi sangat puas dengan kesuksesannya sekarang." Revan memberitahu apa yang dia ketahui.


"Adakah hal penting yang kau ingat?" selidik Stevan.


"Hmmm..." Revan mencoba mengingat-ingat lagi. Bola matanya tampak mengarah ke kanan atas. "Ada satu yang sangat menonjol! Randi tidak mau membicarakan adiknya yang bernama Iv... Iv..." lanjutnya. Revan berupaya keras mengingat nama adiknya Randi.


"Kemungkinan adiknya Randi adalah lelaki lain yang ada dalam foto," duga Stevan. Ia kembali mengamati foto yang diberikan Altesa.


"Kita tidak bisa menyimpulkan tanpa bukti. Kita lebih baik fokus mencari tahu keterlibatan Randi dengan kecelakaan yang terjadi. Yang aku takutkan, Wildan sengaja merencanakan kecelakaan itu demi mencelakakanku," ungkap Altesa. Dia terdiam sejenak dan melanjutkan, "aku berharap semuanya tidak seperti dugaanku. Wildan tidak akan sejahat itu kan?"


"Kau sebaiknya fokus dengan urusan perceraianmu, Al. Biarkan aku dan Revan yang mengurus masalah insiden kecelakaan itu," ujar Stevan. Dia mencoba menenangkan Altesa.


"Benar! Uruslah masalah perceraianmu secepatnya. Biar Kak Stevan bisa-- ugh!" perkataan Revan terpotong saat kaki Stevan tiba-tiba menendang. Jelas kakaknya tersebut menyuruh Revan tutup mulut. Stevan tahu kalau sang adik berniat menggodanya.


"Aku sangat berterima kasih." Altesa menatap Stevan dan Revan secara bergantian.


...***...


Kini Wildan tengah bicara serius dengan Pak Wisnu. Keduanya ada di sebuah restoran. Mereka berada di ruangan privat yang mewah.

__ADS_1


Wildan membicarakan masalah yang di hadapinya. Dia ingin meminta solusi terbaik dari pengacara pribadinya.


"Pertama-tama, aku ingin tahu keinginanmu terlebih dahulu. Apakah kau ingin tetap bersama Erma atau dengan Altesa?" Pak Wisnu bertanya dengan serius.


"Apakah aku bisa memilih Altesa? Aku baru sadar kalau dia adalah jodohku yang tepat sejak awal..." jawab Wildan lirih. Penyesalan tentu dirasakan olehnya.


Pak Wisnu geleng-geleng kepala. Ia menatap tajam Wildan. "Itu pasti akan sulit! Apalagi kalau Altesa berhasil mengetahui apa yang sudah kita lakukan. Kau membuatku harus ikut terlibat dengan masalahmu!" tukasnya.


"Aku sangat ingat senyuman lebarmu saat aku memberikan uang milyaran rupiah. Kau bilang semuanya salahku? Sialan!" rutuk Wildan sembari memutar bola mata jengah. Dia segera menghabiskan segelas wine.


"Aku memang tidak bisa membantahnya. Tapi keinginanmu untuk mendapatkan Altesa kembali adalah sesuatu yang sangat kurang ajar!"


"Cukup! Pertemuan kita sekarang bukan untuk melakukan perdebatan. Tapi mencari solusi. Mungkin sekarang nasib kita sedang terancam," imbuh Wildan sambil menggigit ibu jarinya. Kegelisahan nampak jelas di semburat wajahnya.


Pak Wisnu mendengus kasar. Dia membisu sejenak untuk berpikir. Satu tangannya bertumpu ke dahi.


"Bagaimana kalau begini saja. Aku akan menceraikan Erma dan berusaha membujuk Altesa untuk mempertahankan pernikahan." Wildan angkat suara lebih dulu. "Pokoknya aku harus bisa berbaikan lagi dengan Altesa agar insiden itu bisa tetap disembunyikan," sambungnya.


"Kau sepertinya sangat ingin Altesa kembali. Aku tidak bisa membantah kalau wanita itu semakin cantik. Pantas kau sangat bertekad," komentar Pak Wisnu.


"Omonganmu sama sekali tidak bersangkutan dengan apa yang kukatakan tadi. Ayolah Pak... aku minta pendapatmu."


"Lakukan saja rencanamu itu. Dengan begitu aku bisa berpikir lebih lama untuk mencari solusi lain." Pak Wisnu setuju saja dengan rencana Wildan.

__ADS_1


__ADS_2