Kembalinya Istri Pertama

Kembalinya Istri Pertama
Bab 38 - Kedatangan Randi


__ADS_3

...༻⌘༺...


Wildan termangu. Dia memang sedikit tergoda dengan kesempatan kedua yang ditawarkan Erma. Wildan tahu apapun pilihannya akan mendapat resiko. Termasuk memilih Erma.


Jika Wildan memutuskan untuk tetap bersama Erma, maka berarti dia akan kehilangan harapannya dengan Altesa. Begitu pun sebaliknya.


Wildan memikirkan prioritas utamanya sekarang. Yaitu Altesa dan Azka. Selain karena kasih sayangnya lebih besar terhadap kedua orang itu, Wildan juga takut kedok buruknya akan ketahuan. Dia terlalu takut Altesa akan bertindak lebih jauh.


Bagi Wildan pilihan terbaik adalah mengajak Altesa berdamai. Jadi dia menolak tawaran Erma.


"Tidak. Sebaiknya kita berpisah. Sia-sia kita melanjutkan hubungan jika tidak ada seorang anak yang melengkapi," ucap Wildan. Membuat mimik wajah Erma berubah menjadi masam.


"Kita bisa mengadopsi anak, Mas..." lirih Erma. Walau sudah disakiti, dia masih saja berharap dengan cinta Wildan.


"Anak orang itu berbeda dengan darah daging sendiri," jawab Wildan seraya melangkah menuju pintu. "Cepat tanda tangani suratnya. Biar aku bisa cepat-cepat mengurusnya ke pengadilan," sambungnya.


Erma menangis histeris. Dia mencengkeram kerah bajunya sekuat tenaga. Dadanya terasa sesak. Erma merasa tidak sanggup bernafas lagi. Hingga akhirnya dia pingsan.


Sementara Wildan, dia tidak tahu apa yang terjadi kepada istri keduanya. Kini dia berada di halaman belakang. Memegangi surat gugatan cerai Altesa dan sebuah pemantik.


Wildan membakar surat gugatan cerai Altesa. Lalu membuangnya ke tanah. Dia juga tidak lupa mendokumentasikannya dengan video.

__ADS_1


"Lihatlah, Al... aku melakukan ini agar kita bisa tetap bersama," kata Wildan. Suaranya terdengar jelas dalam rekaman video. Dia mengirimkan video singkat itu kepada Beno. Wildan yakin, Beno pasti akan memberitahu Altesa secepatnya.


Seperti yang di inginkan Wildan, Beno memang langsung mengirimkan videonya kepada Altesa. Kebetulan sekali sekarang Altesa sedang bersama Rika. Keduaanya sangat kesal terhadap apa yang dilakukan Wildan dalam video.


"Apa-apaan itu? Kelakuannya seperti anak SMP," komentar Rika seraya meringis jijik. "Aku merasa Wildan sedikit memiliki kelainan jiwa," ucapnya lagi.


Altesa hanya diam saja. Meskipun begitu, dahinya tampak berkerut dalam. Dia sangat tahu betapa ambisiusnya Wildan. Bila lelaki itu menginginkan sesuatu, maka semuanya harus didapatkan.


Memori Altesa kembali ke masa sebelum dirinya menikahi Wildan. Kala itu Wildan sangat berusaha keras membuat hatinya luluh. Sampai akhirnya Altesa benar-benar jatuh cinta dan bersedia menikahinya.


"Al, sekarang apa rencanamu? Kenapa kau bengong saja?" tegur Rika. Menyenggol bahu Altesa dengan siku.


"Um... Aku tidak tahu. Aku pikir kita harus diskusi dahulu dengan Gavin," sahut Altesa.


"Randi Sebastian! Dia ada di Indonesia!" seru Revan dari seberang telepon.


Mata Altesa membuncah. "Benarkah? Dia dimana?" tanya-nya.


"Dia ada dia acara after party. Aku akan mencoba bicara dengannya. Makanya sebelum melakukan itu, aku meneleponmu lebih dulu. Kau ingin menanyakan tentang apa kepada Randi?"


"Fotonya Rev! Tanyakan foto itu kepadanya. Dan tanyakan juga tanggal yang tertulis di belakang foto!"

__ADS_1


"Tiba-tiba? Itu akan sangat canggung! Jujur saja, aku masih belum mengerti masalahmu ini. Bagaimana kalau kau saja yang ke sini? Aku akan membantumu menyelinap masuk," kata Revan.


"Bisakah begitu? Ya sudah. Kalau begitu aku akan bersiap!" Altesa setuju dengan ide Revan.


"Cepatlah!" itulah kata terakhir Revan sebelum panggilan telepon dimatikan.


Altesa segera memberitahukan rencana kepergiannya kepada Rika. Dia meminta Rika untuk menjaga Azka sampai dirinya kembali.


"Kau akan pergi ke pesta kan? Kenapa memakai pakaian kumal itu? Pakailah gaun pemberian Beno," ujar Rika.


"Aku tidak punya waktu untuk berdandan!" sahut Altesa. Dia mencoba beranjak pergi. Namun Rika sigap menghentikan.


"Ayolah! Kau seorang make up artist. Kau bisa merias dirimu sendiri walau hanya dalam satu menit." Rika memaksa. Dia tidak mau Altesa tampil memalukan di acara hiburan yang dipenuhi banyak selebriti terkenal.


Altesa mengenakan gaun berwarna merah. Dia merias wajahnya dalam mode cepat. Menggunakan lipstik yang berwarna senada dengan gaun, serta menggerai rambut panjangnya.


Agar tidak kedinginan, Rika meminjamkan jaket kulitnya untuk Altesa. Sekarang perempuan itu siap pergi ke pesta.


"Nah cepat kan? Sepuluh menit bahkan tidak sampai. Sekarang sahabatku sangat cantik! Mungkin saja kau bisa sekalian mencari pengganti Wildan di sana," imbuh Rika sambil menyatukan telapak tangan.


Altesa memutar bola mata malas. "Tujuanku ke sana hanya ingin menyelesaikan masalah, bukannya mencari masalah baru," tanggapnya sinis. Dia melangkah cepat menuju pintu keluar.

__ADS_1


"Astaga! Sepatumu, Al! Kau harus mengganti--" ucapan Rika terhenti, ketika Altesa terlanjur menutup pintu.


Altesa mendengus lega saat tidak lagi mendengar celotehan Rika. Dia mengamati sepatu flatnya yang terlihat sedikit koyak. Altesa menggedikkan bahu. Ia sama sekali tidak peduli.


__ADS_2