
...༻⌘༺...
Altesa terfokus pada baju merah milik Erma. Ia lantas mencuci semua pakaian kotor tersebut. Lalu mengambil pewarna merah dari lemari dapur. Dia segera memasukkan pewarna itu ke pakaian yang sedang dicuci. Dalam sekejap, air berubah menjadi warna merah.
"Aku sudah mengingatkan sejak awal. Kalau aku itu nggak bisa nyuci pakaian," gumam Altesa. Dia sudah menyiapkan alasan yang akan di ucapkannya nanti pada Wildan dan Erma.
Pakaian yang ada di mesin cuci terus berputar dan meresap pewarna merah. Sedangkan Altesa dengan santainya beranjak ke dapur. Dia segera mempersiapkan hidangan untuk sarapan.
Saat tengah sibuk memasak, Wildan menjadi orang yang muncul lebih dulu. Dia menarik sebuah kursi dekat meja makan. Kemudian mendudukinya.
Altesa reflek menoleh. Terutama ketika mendengar suara kursi yang ditarik Wildan.
"Udah bangun? Pas sekali. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan," imbuh Altesa sembari membawa hidangan yang telah siap ke meja makan.
Mata Wildan memicing memperhatikan Altesa. Ada sedikit perubahan yang ditunjukkan oleh istri pertamanya itu. Yaitu pipi yang lebih tirus, serta make up tipis. Altesa jelas jadi lebih cantik dibanding saat dirinya pertama kali terbangun dari koma.
Walaupun begitu, Wildan tidak peduli. Seringai terukir diwajahnya. 'Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba pakai make up? Apa Altesa ingin merayuku? Atau dia sedang merencanakan sesuatu?' batin Wildan pecaya diri. Dia segera menoleh ke arah Altesa.
"Apa?" tanya Wildan tak acuh. Baginya Erma masih yang paling utama.
"Apa kau hanya punya satu pembantu di rumah sebesar ini? Di sini aku juga istrimu. Aku tidak mau terus diperlakukan seperti pembantu," ucap Altesa.
"Sebenarnya lebih dari satu. Tapi tugas mereka berbeda-beda. Dan kebetulan pembantu yang bertugas memasak dan mencuci sedang pulang kampung. Jadi aku dan Erma tidak punya pilihan memberikan tugasnya kepadamu," jelas Wildan. Tanpa merasa bersalah, ia bahkan mengukir senyuman lebar. Membuat kekesalan Altesa kian memuncak.
Sungguh, Altesa ingin sekali menampar wajah Wildan. Lelaki itu memang begitu kurang ajar. Namun untuk yang kesekian kalinya, dia harus menahan.
Akhirnya Altesa tidak punya pilihan selain memaksakan dirinya tersenyum. "Ya sudah... tidak masalah jika itu memang sementara," tanggapnya. Lalu kembali menyelesaikan hidangan selanjutnya.
Altesa mengaduk masakannya dengan wajah masam. Tanpa sepengetahuannya, Erma bergabung bersama Wildan. Wanita itu menyempatkan diri untuk memberi ciuman singkat ke pipi sang suami.
Wildan melempar senyuman manis pada Erma. Membiarkan istrinya tersebut berjalan melewatinya. Erma tampak beranjak memasuki ruang laundry. Tak lama setelah itu, terdengar teriakan histeris yang sukses membuat Wildan kaget.
__ADS_1
"Aaaarkkhhh!!!" teriak Erma seraya manangkup wajahnya sendiri. Bagaimana tidak? Dia melihat seluruh pakaian telah berubah menjadi warna merah. Erma bahkan sempat berpikir kalau sesuatu yang ada dalam cucian adalah darah.
"Kenapa, sayang?!" Wildan bergegas mendatangi Erma. Memastikan keadaan baik-baik saja. Sama seperti Erma, dia juga dibuat terkejut dengan penampakan pakaian di mesin cuci.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Wildan terperangah tak percaya.
Di dapur, Altesa diam-diam mengikik sendiri. Dia berlagak terkejut. Kemudian bergegas menyusul Wildan dan Erma ke ruang laundry.
"Astaga..." Altesa membekap mulutnya sendiri. Dia tentu masuk ke dalam mode akting sekarang. Seakan apa yang dilihatnya merupakan sesuatu tidak terduga.
"Kau tidak usah berpura-pura! Aku tahu kau pasti sengaja melakukan ini!" timpal Erma sembari mengarahkan jari telunjuk ke wajah Altesa. Matanya menyalang hebat.
"Tidak, Kak! Aku nggak tahu sama sekali..." bantah Altesa dengan mimik wajah hendak menangis.
"Kenapa pakaiannya bisa jadi begini, Al! Kau tidak usah mengelak. Kau pasti sengaja kan?!" Seperti biasa, Wildan selalu berada di pihak Erma.
"Aku benar-benar nggak tahu..." lirih Altesa yang perlahan menundukkan kepala. "Aku sebelumnya sudah memberitahu Kak Erma kalau aku nggak bisa mencuci..." sambungnya menjelaskan.
Wildan berpikir sejenak. Dia menatap Altesa dan Erma secara bergantian. Muncul ide dalam benaknya untuk memastikan sesuatu.
"Sudahlah, sayang. Aku punya banyak uang. Kita bisa beli pakaian baru lagi. Dan sebaiknya kita suruh Altesa mencuci di jasa laundry saja." Wildan menenangkan Erma dengan pelukan hangat. Ia sengaja melakukannya di hadapan Altesa. Wildan hendak memastikan ketertarikan perempuan itu apakah sesuai dugaannya atau tidak.
Altesa reflek membuang muka. Rencananya justru berakhir senjata makan tuan. Dia tentu memilih pergi dibanding menyaksikan Wildan dan Erma bermesraan.
Ketidaksukaan Altesa terlihat di semburat wajahnya. Kemarahannya jelas bukan karena cemburu, melainkan akibat rencananya yang gagal total. Ternyata segumpal pakaian tidaklah berarti bagi Wildan dan Erma.
Wildan sempat melirik ekspresi Altesa secara selintas. Dia menggeleng dan tersenyum remeh. Saat itu, Wildan meyakini kalau Altesa masih mencintainya.
'Sekarang aku tahu alasanmu tinggal di sini. Apa itu karena aku? Seputus asa itukah dirimu, Al?' ucap Wildan dalam hati. 'Padahal aku sudah mengambil semuanya darimu. Dan kau masih berharap denganku? Kasihan sekali...'
...***...
__ADS_1
Semua pakaian yang sudah berwarna merah berakhir dibuang. Bahkan Altesa sendiri yang melakukannya.
"Dasar pasangan sontoloyo! Suatu hari pasti kalian akan kena batunya!" gerutu Altesa sambil meletakkan sampah berisi pakaian ke bak sampah depan rumah.
Usai melakukan tugas yang tidak seharusnya, Altesa pergi bekerja seperti biasa. Kebetulan hari ini dia pulang jam tiga sore. Altesa menemukan ada banyak koper di ruang tamu. Dahinya berkerut dalam.
"Aku, Mas Wildan, dan Azka akan ke luar negeri. Tolong jaga rumah. Aku akan mempercayaimu kali ini," cetus Erma yang perlahan melangkah menuruni tangga.
"Be-benarkah?" Altesa merespon dengan tergagap.
"Iya." Erma menyombongkan diri. Dia juga sengaja memperlihatkan tas branded miliknya.
Belum selang satu menit, Wildan dan Azka muncul. Keduanya terlihat sama-sama berpakaian rapi. Wildan dan Azka segera bergabung dengan Erma. Tersenyum serta bercanda gurau bak keluarga yang harmonis.
Altesa hanya bisa menundukkan kepala saat semua itu terjadi. Dia seperti batu kerikil di pinggiran jalan yang tak terlihat.
Wildan, Erma, dan Azka melangkah keluar dari pintu. Saat itulah Erma sukses memergoki Wildan tersenyum sendiri.
"Mas kenapa senyum senyum sendiri?" tanya Erma dengan alis yang hampir bertautan.
"Eh..." Wildan bingung dalam sesaat. Tetapi dia segera menjawab, "Aku cuman merasa bahagia banget. Akhirnya kita bisa melakukan liburan keluarga."
Wildan berkilah. Sebenarnya tadi dia memikirkan Altesa yang tampak menunjukkan ekspresi sendu. Entah kenapa dirinya menikmati rasanya dicintai.
'Altesa sangat naif. Aku jadi kasihan.' Tanpa sadar pikiran itu terlintas di kepala Wildan. Kebaikan serta kesabaran Altesa ternyata sudah mampu menggapai hatinya.
Sadar tenggelam dalam lamunan, Wildan langsung menyadarkan diri dengan menggeleng tegas. 'Apa yang kupikirkan?' ujarnya mencoba mengingatkan dirinya.
Wildan segera fokus mengobrol dengan Erma dan Azka. Dia bertekad menjadikan liburan keluarganya menyenangkan. Kebetulan Wildan pergi ke luar negeri tidak hanya sekedar berlibur, tetapi juga mengurus kerjasama dengan salah satu agensi Hollywood. Ia akan bertemu Revan di sana nanti.
Selama dua minggu Wildan, Erma, dan Azka pergi. Selama itu pula Altesa memanfaatkan waktu membenahi diri. Kecantikannya kembali seperti semula. Bahkan mungkin lebih. Sebab dia sekarang punya Beno di sisinya. Lelaki tersebut tahu pakaian apa saja yang akan membuat Altesa dua kali lebih cantik.
__ADS_1