
...༻⌘༺...
Penjual es krim mengangguk. Altesa lantas memesan es krim dengan rasa permen karet.
Ketika es krim pesanan Altesa sudah jadi, Azka langsung terkesiap. Pusat perhatiannya tertuju ke arah es krim Altesa yang telah lama sudah tidak dia rasakan.
"Ini buat Azka." Belum sempat berucap, Altesa lebih dulu memberikan es krim kepada Azka.
"Terima kasih!" Entah karena sudah tidak sabar atau tidak, Azka menerima es krim pemberian Altesa. Dia bahkan menolak es krim yang dipesankan oleh Erma.
"Bunda, ini es krim yang selalu ingin aku makan. Tapi Bunda nggak pernah dengerin," ucap Azka sembari menikmati es krim dengan cara menjilat pelan-pelan.
Mata Erma membulat tak percaya. Kali ini Azka sudah mau menerima sesuatu pemberian dari Altesa.
"Kamu sih, kalau ditanya selalu bilang nggak tahu namanya. Gimana Bunda bisa tahu," kata Erma. Dia melirik Altesa.
"Aku hanya ingat kalau es krim rasa permen karet adalah kesukaannya Azka," ujar Altesa sembari tersenyum tipis.
"Kau harusnya bilang sejak awal," sahut Erma ketus. Ia mendengus kasar.
Ponsel Altesa mendadak berdering. Bukan karena panggilan orang yang menelepon. Melainkan alarm pertanda kalau setengah jam lagi latihan bela dirinya akan di mulai. Kebetulan hari ini adalah hari pertama Altesa untuk berlatih.
'Terkadang aku berpikir latihan ini agak berlebihan. Tapi di sisi lain, aku memang harus mempersiapkan diri untuk serangan Wildan. Mengingat kemarin dia nyaris mengajakku tidur bersama.' Altesa membatin. Usai pulang ke rumah, dia pergi lagi.
Altesa menggunakan bus untuk sampai ke tempat latihan bela diri. Setibanya di sana, dia segera berganti pakaian dan bergabung.
Langkah Altesa terhenti, tatkala baru menyadari kalau hanya dia satu-satunya orang dewasa. Semua orang di sekitarnya adalah anak-anak yang masih bersekolah.
Wajah Altesa memerah malu. Ia juga dibuat kaget ketika menyaksikan ada Revan di sana. Jika diperhatikan dengan baik, Revan sepertinya adalah orang yang bertugas melatih bela diri.
"Apa-apaan! Kau mau apa di sini? Mau berlatih bela diri?" pungkas Revan. Menatap tak percaya.
"Lupakan. A-aku hanya kebetulan mampir." Altesa berkilah. Dia terlalu malu dilatih bersama anak-anak yang umurnya jauh di bawah dirinya. Altesa buru-buru pergi meninggalkan tempat latihan.
Revan mematung sejenak. Setelah Altesa beranjak, barulah dia bergegas mengejar.
__ADS_1
"Tunggu!" panggil Revan. Membuat langkah kaki Altesa terhenti.
"Kau itu sangat aneh. Jujur saja, apa kedatanganmu benar-benar karena ingin berlatih bela diri?" Revan memastikan sekali lagi.
Altesa menghela nafas panjang. Kemudian berbalik menghadap Revan. Dia akhirnya mengaku dengan cara menganggukkan kepala.
"Aku tidak menyangka kalau aku satu-satunya orang dewasa yang ingin berlatih. Itu memalukan," ungkap Altesa seraya menundukkan kepala.
"Pfffft... kau lucu sekali," komentar Revan. Dia berusaha menahan tawa. Namun itu tidak berlangsung lama, sebab Revan segera memasang raut wajah tenang. Ia meneruskan, "Stevan sudah menceritakan banyak hal tentangmu. Termasuk apa yang sudah suamimu lakukan kepadamu. Sekarang aku paham betapa putus asanya dirimu saat menerobos masuk ke rumahku."
"Aku tidak apa-apa. Aku bisa mengatasi masalahku sendiri," tanggap Altesa. Memaksakan dirinya tersenyum.
"Kau yakin? Lalu kenapa kau datang ke tempat ini? Sepertinya kau berniat belajar bela diri untuk pertahanan atau karena ingin memukuli orang. Dan jika bisa kutebak, aku yakin orang itu adalah suamimu." Revan berucap sambil memegangi dagunya.
Altesa tidak bisa berkata-kata. Sebab semua terkaan Revan benar adanya.
"Aku tidak bisa membantah. Tapi kumohon rahasiakan ini dari siapapun. Termasuk tentang kedatanganku ke sini," ujar Altesa.
"Jadi apa kau benar-benar tidak jadi berlatih bela diri?" tanya Revan.
"Tidak perlu. Aku akan belajar otodidak melalui internet." Altesa berbalik badan. Lalu lanjut melangkah. Ucapannya sekali lagi membuat Revan tergelak geli. Lelaki tersebut terkekeh tanpa sepengetahuan Altesa.
"Kenapa kau tiba-tiba ingin membantu? Bukankah kau Revan yang dikenal memiliki sikap dingin?" tukas Altesa.
"Apakah aku harus punya alasan untuk membantumu. Kalau tidak mau, ya sudah. Semoga beruntung dengan pelajaran otodidakmu itu." Kini Revan yang beranjak pergi.
"Eh! Bukan itu maksudku!" Altesa sigap menghentikan Revan. Tangannya menggenggam erat lengan lelaki tersebut.
"Baiklah! Beri tahu aku kiat-kiat kecil itu. Terutama kiat untuk melindungi diri dari lelaki mesum," ucap Altesa.
"Lelaki mesum? Apa suamimu..." Revan urung melanjutkan, kala Altesa mengacungkan jari telunjuk ke depan wajahnya.
"Katakan saja. Kau tidak perlu alasannya bukan?" kata Altesa. Mengangkat salah satu alisnya. Revan lantas hanya berdecih.
"Kalau begitu, kau bisa menungguku di sini. Kita akan bicara setelah aku selesai melatih semua anak-anak itu," ujar Revan. Dia beranjak tanpa menunggu persetujuan dari Altesa lebih dahulu.
__ADS_1
Altesa terpaksa menunggu. Dia duduk sambil meletakkan tas ke atas paha. Menggedikkan salah satu kakinya berulang kali.
Akibat bosan menunggu, Altesa memutuskan membeli minuman ke toko yang ada di sebelah. Dia memilih air mineral untuk memuaskan dahaga.
Altesa berhenti di pinggir jalan. Dia meminum minumannya di sana. Tanpa diduga, sebuah mobil berhenti di hadapannya.
Sosok Wildan keluar dari mobil itu. Mata Altesa sontak membulat sempurna. Kedatangan Wildan sekarang tentu adalah hal yang tidak bisa disangka-sangka olehnya.
"Kau sedang apa di sini, Al?" tanya Wildan. Dia mengedarkan pandangan ke segala arah. Mencari alasan dibalik keberadaan Altesa sekarang.
"A-aku hanya sedang jalan kaki. Kebetulan aku kehabisan uang dan ingin pergi ke halte bus." Altesa memberikan alasan seadanya.
Wildan terdiam seribu bahasa. Dia tentu sadar, kalau dirinyalah dalang dibalik penderitaan yang dialami Altesa. Walaupun begitu, Wildan mencoba membuang rasa bersalahnya jauh-jauh. Baginya yang terpenting adalah, Altesa berniat kembali kepadanya.
"Masuklah! Ayo kita pulang bersama," seru Wildan seraya membukakan pintu mobil untuk Altesa.
"Pu-pulang bersama?" Altesa memastikan.
"Iya. Apa kau tidak mau?" kening Wildan mengernyit samar.
"Tentu saja mau. Aku hanya kaget kau memberikan tawaran sambil membukakan pintu," kilah Altesa. Dia terpaksa menerima tawaran Wildan. Lalu masuk ke dalam mobil.
Wildan tersenyum. Dia segera duduk ke kursi kemudi. Menjalankan mobil dalam kecepatan sedang.
Karena kedatangan Wildan, Altesa tidak jadi bicara empat mata dengan Revan. Dia memberitahu kepergiannya melalui pesan seluler. Sebelum mengirim pesan, Altesa tentu tidak lupa untuk meminta nomor Revan pada Beno terlebih dahulu.
'Baiklah kita bisa bicara lain kali. Lagi pula kau make up artist-ku sekarang.' Begitulah bunyi balasan pesan dari Revan. Tak lama kemudian, sebuah pesan lelaki itu masuk lagi.
'Jika ada serangan tiba-tiba. Sebaiknya kau tendang saja senjata pribadi suamimu.' Pesan kedua Revan membuat senyuman mengembang di wajah Altesa. Menurutnya itu lucu.
"Kenapa tertawa?" tegur Wildan. Menyebabkan Altesa menyimpan ponsel dengan gelagapan.
"Beno mengirim pesan lucu," sahut Altesa. Berusaha tenang.
Wildan mengangguk dan ber-oh saja. Sedari tadi atensinya tertuju ke arah kaki jenjang Altesa yang putih dan mulus. Membuat Wildan harus menelan ludahnya sendiri. Dia sangat ingat, dulu dirinya pernah menyentuh kulit Altesa itu. Dan sekarang Wildan merindukannya.
__ADS_1
Selang sekian menit, Altesa dan Wildan sampai di rumah. Mobil langsung dibawa masuk ke dalam garasi.
Ketika Altesa hendak beranjak keluar, saat itulah Wildan menarik tangannya. Lalu memegang erat tengkuk Altesa. Sebuah lum*atan hebat langsung dilakukannya ke bibir istri pertamanya tersebut.