Kembalinya Istri Pertama

Kembalinya Istri Pertama
Bab 25 - Hasrat Suami Beristri Dua


__ADS_3

...༻⌘༺...


Mata Altesa membuncah hebat. Dia tentu kaget dengan ciuman Wildan. Belum lagi gerakan bibir menggebu yang dilakukan lelaki tersebut.


Altesa yang merasa jijik, reflek mendorong dada Wildan. Namun sang suami tak bergeming. Dia justru memegangi Altesa lebih kuat. Meskipun begitu, perlawanan Altesa sukses membuat tautan bibir Wildan terlepas.


"Kenapa? Bukankah katanya kau ingin kembali kepadaku?" ujar Wildan dengan nada pelan tetapi penuh akan penekanan.


"Mas... aku kan sudah bilang, aku tidak akan bersedia tanpa izin dari Kak Erma!" tegas Altesa. Dahinya berkerut dalam.


"Jangan banyak alasan! Aku tahu kau pasti juga menginginkannya kan?! Aku bisa bayangkan betapa kesepiannya dirimu selama dua tahun lebih!" balas Wildan. Ia memegangi dua tangan Altesa sekuat mungkin. Wildan mencoba kembali mencium Altesa.


"Tidak, Mas! Jangan!" Altesa tidak membiarkan. Dia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri dengan cepat. Hingga menyebabkan Wildan kesulitan mendekat. Kibasan rambut Altesa beberapa kali mengenai wajah lelaki itu.


"Baiklah! Aku berhenti." Wildan akhirnya menyerah. Dia melepaskan tangan Altesa. Hening menyelimuti dalam sesaat.


"Malam ini aku akan mencarimu lagi. Lihat saja." Wildan bertekad. Ia berucap begitu sebelum Altesa keluar dari mobil.


Altesa hanya membisu. Dia segera beranjak keluar dari mobil.


Wildan merasa sangat kesal terhadap penolakan Altesa. Dia menggeram sambil memukulkan tangan ke alat setir.


Altesa berlari kecil masuk ke rumah. Dia langsung masuk ke kamar mandi dan tidak lupa mengunci pintu.


"Wildan benar-benar sinting!" gerutu Altesa. Ia membasuh mulutnya berulang kali. Altesa juga menyikat giginya sebersih mungkin. Dia menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi.


Terlintas ide dalam benak Altesa. Ia terpikir ingin menjebak Wildan. Altesa merasa kepura-puraannya tidak akan bisa dilakukan secara terus-menerus.


Senyuman licik nan percaya diri muncul lagi di wajah Altesa. Dia segera bergerak menjalankan rencananya.


Altesa merasa harus melibatkan Erma dalam kesepakatannya bersama Wildan. Dengan begitu, Wildan tidak akan bisa menyentuhnya lagi seperti tadi.


Tanpa berpikir lama, Altesa segera menemui Erma. Dia mengajak wanita itu bicara empat mata. Kebetulan juga Azka sudah tidur.

__ADS_1


"Kau mau bicara apa?" tukas Erma dengan kening yang mengernyit.


"Aku cuman mau bilang kalau Mas Wildan tadi menyentuhku," ungkap Altesa.


Erma awalnya terkejut. Namun itu tidak berlangsung lama. Karena dia mendadak mengeluarkan gelak tawa. Erma nampaknya tidak mempercayai perkataan Altesa.


"Hahaha... apa kau mencoba main-main?" Erma perlahan berhenti tertawa. Dia melangkah ke hadapan Altesa dan meneruskan, "Mas Wildan tidak akan pernah kembali kepadamu. Dia tidak akan sudi menyentuh kulitmu itu."


"Jadi Kak Erma nggak percaya? Kalau begitu, bagaimana jika aku bisa membuktikannya malam ini? Jujur saja, niat damaiku itu tulus kepadamu. Jadi aku tidak mau berkhianat di belakangmu. Aku tidak mau saling bersentuhan dengan Mas Wildan tanpa izin dari Kak Erma." Altesa menjelaskan panjang lebar.


"Cih! Omonganmu manis sekali. Tapi aku tidak akan percaya," tanggap Erma sembari membuang muka. Dua tangannya terlipat di depan dada.


"Aku tidak masalah Kakak mau percaya atau tidak. Tapi jika ingin mengetahui kebenaran, sebaiknya jangan tidur malam ini. Mas Wildan katanya akan menemuiku ke kamar," ujar Altesa. Akan tetapi malah membuay Erma naik pitam.


"Kau pasti sengaja membuatku marah kan?!" geram Erma.


"Tidak! Ini karena aku berada dipihakmu. Sebagai wanita, aku tahu bagaimana rasanya dikhianati. Jadi aku tidak ingin membohongimu." Altesa mencoba meyakinkan.


"Jika itu terjadi, aku yakin kau yang merayu Mas Wildan! Lihatlah penampilanmu sekarang," cetus Erma. Masih tak percaya.


"Aku tidak tahu bagaimana meyakinkanmu lagi. Tapi setidaknya bantulah aku malam ini. Sungguh, aku tidak mau Mas Wildan menyentuhku tanpa persetujuan darimu." Altesa memberitahu untuk yang terakhir kali. Selanjutnya, dia segera pergi ke kamar.


Segala ucapan Altesa mulai mempengaruhi pemikiran Erma. Keinginan untuk memastikan akhirnya muncul dalam benaknya. Erma berniat tidak tidur agar bisa melihat kebenaran.


...***...


Waktu sudah lewat tengah malam. Namun Wildan belum juga tidur. Hal serupa juga dilakukan Erma.


Cuman bedanya, Erma sengaja pura-pura tidur. Jadi Wildan tidak tahu kalau istri keduanya itu belum terlelap.


Merasa yakin Erma telah tidur, Wildan merubah posisi menjadi duduk. Ia beringsut ke ujung kasur. Lalu melangkah pelan keluar kamar.


Tujuan Wildan hanya satu. Yaitu mewujudkan keinginannya yang belum tercapai sejak kemarin. Hasratnya sudah tak tertahan. Mengingat Erma juga sedang mengalami datang bulan. Wildan merasa Altesa adalah satu-satunya pelarian.

__ADS_1


Usai berjalan beberapa langkah, Wildan akhirnya tiba di depan kamar Altesa. Dia tidak mengetuk seperti sebelumnya. Namun langsung membuka pintu begitu saja.


Pupil mata Wildan membesar tatkala pintu kamar Altesa tidak dikunci. Ia tentu semakin bersemangat. Wildan menemukan Altesa sedang tertidur dalam balutan selimut.


Wildan duduk ke tepi ranjang. Kemudian mengaitkan rambut Altesa ke daun telinga. Setelahnya, dia membuka selimut yang menutupi tubuh sang istri. Saat itulah Altesa terbangun dari tidur.


"Mas Wil--" Altesa tidak bisa bicara, ketika tangan Wildan sigap membekap mulutnya. Sedangkan tangannya yang satu lagi, memegang kuat salah satu lengan Altesa.


Tanpa basa-basi, lelaki tersebut memposisikan diri ke atas badan Altesa. Dia langsung membidik ceruk leher istri pertamanya itu.


"Mas Wildan!!!" belum sempat berbuat apapun, Erma mendadak muncul dari balik pintu. Matanya menyalang hebat. Dia tentu melihat semua apa yang dilakukan Wildan.


"Mas kenapa menyentuhnya?! Padahal Mas sudah berjanji kepadaku!" pungkas Erma dengan keadaan mata yang berkaca-kaca.


Wildan mendengus kasar. Dia terpaksa melepas Altesa. Kemudian memperbaiki pakaiannya yang agak berantakan. Wildan segera melenggang ke hadapan Erma.


"Dia juga istriku, sayang..." ucap Wildan lembut. Tetapi sangat menusuk bagi Erma.


"A-apa? Kau menganggap Altesa istri? Lalu bagaimana dengan surat perceraian yang sedang Mas urus baru-baru ini?!" sahut Erma.


"Aku membatalkannya. Sebab aku merasa bersalah kepada Altesa. Dan dia sangat baik sudah bersedia memaafkanku. Aku harap kita bertiga bisa hidup bersama," ujar Wildan dengan santainya.


Altesa yang mendengar benar-benar muak. Hal yang sama juga dirasakan Erma. Akan tetapi keduanya sama-sama memiliki situasi dimana mereka tidak bisa melawan.


Altesa perlu menemukan bukti. Sedangkan Erma memang mempunyai jalan hidup yang sangat bergantung kepada Wildan. Jadi sekarang wanita itu hanya bisa menangis.


Erma bergegas kembali ke kamar. Wildan yang cemas, lantas mengikuti. Lelaki itu berniat ingin menjelaskan semuanya kepada Erma.


"Sayang, maafkan aku... aku khilaf. Mengingat kau sedang dalam masa datang bulang sekarang," tutur Wildan seraya memegang lembut pundak Erma.


"Mas sudah berjanji tidak akan menyentuhnya..." Erma terisak sambil menutup wajahnya.


"Kebaikan dan ketulusan hati Altesa membuat hatiku tersentuh... aku harap kau mengerti." Wildan sepertinya bertekad untuk mendapat persetujuan dari Erma.

__ADS_1


__ADS_2