
...༻⌘༺...
Mendengar Wildan berucap begitu, Erma menggeram. Dia mengambil sebuah vas bunga. Lalu membantingnya ke lantai.
Prang!
Vas bunga langsung berubah menjadi pecahan-pecahan kecil nan tajam. Erma yang tadinya sempat lega dengan kepergian Altesa, sekarang menangis lagi.
Sementara itu, Wildan bergegas mengganti pakaian. Ia bertekad ingin menyusul Altesa.
Usai berganti pakaian, Wildan mendatangi Erma. Dia menanyakan kemana Altesa pergi. Mengingat karena wanita itulah Altesa pergi dari rumah.
"Aku tidak tahu dia kemana. Cari saja sebisamu." Erma tentu enggan memberitahu.
"Cepat katakan kepadaku! Jika kau terus begini, kaulah yang akan aku ceraikan," ancam Wildan. Dengan nada pelan namun penuh penekanan.
Erma memancarkan tatapan nanar. Dia tidak menyangka suaminya akan berucap begitu. Terlebih semuanya karena pengaruh kehadiran Altesa.
"Mas kenapa jadi begini? Aku yang menemani Mas saat dalam kesulitan. Dan inikah balasannya?" air mata Erma terus berderai di wajah. "Apa Mas sadar? Kalau pertengkaran yang terjadi pada kita itu karena Altesa?" timpalnya
"Lupakan!" lelah menghadapi Erma, Wildan lantas memilih beranjak. Ia pergi dengan menggunakan mobil.
Malam berganti siang. Tetapi selama itu juga Erma tidak bisa tidur. Ia mengurung diri di kamar. Meringkuk di ranjang sambil memasang tatapan kosong.
Azka yang sudah rapi dengan seragam sekolah, berniat ingin sarapan. Namun tidak ada makanan yang tersaji. Suasana meja makan juga sangat sepi. Hanya ada pembantunya yang sibuk mencuci pakaian.
"Azka mau sarapan ya? Biar Bibi bikinkan sesuatu dulu." Karena tidak melihat kehadiran Altesa, Bu Ira berinisiatif membuatkan sarapan untuk Azka. Kebetulan dia baru kembali setelah lama pulang kampung.
"Makasih, Bi. Buatin sarapan buat Bunda juga ya. Aku akan panggilin Bunda dulu." Azka melangkah menuju kamar Erma. Mendekati ibu sambungya tersebut dengan senyuman cerah.
"Bunda, ayo kita sarapan!" seru Azka. Ekspresi yang tadinya tersenyum, berubah jadi datar kala menyaksikan wajah sembab Erma.
Erma mengabaikan Azka. Dia bahkan tidak sedikit pun menatap anak yang berusia enam tahun itu.
__ADS_1
"Bunda kenapa? Bunda habis nangis?" Azka yang cemas, naik ke atas ranjang. Dia mencoba menyentuh wajah Erma. Akan tetapi tangannya langsung mendapat tepisan.
"Pergi kamu dari sini!" Erma mengusir dengan nada datar.
Azka tertegun mendengar ucapan wanita yang selama ini selalu dianggap sebagai ibunya. Meskipun begitu, dia tetap mengkhawatirkan Erma. Azka lantas memegangi tangan wanita tersebut. Berniat membawanya pergi ke meja makan.
Mata Erma menyalang. Dia melepas paksa pegangan Azka. Amarahnya muncul dalam sekejap. Suasana hati yang buruk membuat Erma tidak bisa mengontrol emosi.
"Sana pergi ke sekolah! Jangan ganggu aku lagi! Cari saja ibu dan ayahmu yang gatal itu!" hardik Erma dengan semburat kesal. Dia merubah posisi menjadi duduk. Lalu mendorong Azka. Sampai anak itu turun dari ranjang.
Azka otomatis menangis. Dia tentu sakit hati terhadap semua perlakuan Erma.
"Tapi Bunda adalah ibuku... hiks..." Azka menutupi matanya dengan punggung tangan. Dia mematung di tempat.
"Aaarghhh!!! Malah bikin ribut lagi! Anak sama orang tuanya sama saja!" keluh Erma sembari turun dari ranjang. Dia menyeret Azka menuju pintu. Mamaksa anak tersebut keluar dari kamar.
Tangisan Azka kian menjadi-jadi. Terutama ketika Erma menutup pintu dengan bantingan keras.
Azka terduduk di lantai. Dia menangis tersedu-sedu. Azka sempat menangis sendirian. Hingga Bi Ira datang dan berusaha menenangkannya. Hari itu Azka tidak pergi ke sekolah.
Altesa pergi mendatangi apartemen Rika. Namun saat pintu dibuka, dia menemukan temannya tidak sendiri. Ada seorang lelaki bersama Rika di apartemen. Keadaan keduanya terlihat acak-acakan.
"Aku hanya ingin menyapamu, Rik. Lanjutkan saja." Altesa mengurungkan niat untuk tinggal di apartemen Rika.
"Kenapa begitu? Tunggu, kenapa kau membawa koper?" tanya Rika penasaran sekaligus cemas. Dia tampak gelagapan sambil memasang jaket ke tubuhnya.
"Aku akan ceritakan nanti. Kau sebaiknya lanjutkan saja kegiatanmu," sahut Altesa yang ingin buru-buru pergi.
Rika sigap memegangi lengan Altesa. "Ada apa? Katakan kepadaku."
Altesa mendengus kasar. Dia terpaksa memberitahukan semuanya dengan penjelasan cepat. Rika yang mendengar sangat terkejut. Walaupun begitu, dia senang dengan keputusan Altesa yang memilih pergi dari rumah Wildan.
"Kau bisa tinggal di sini kok," ujar Rika.
__ADS_1
"Nggak usah. Aku punya tempat lain untuk didatangi. Ngomong-ngomong, bolehkah aku tahu siapa lelaki yang ada di dalam? Apa dia pacarmu?" Altesa malah menyelidik.
"Bisa dibilang begitu. Kami sebenarnya sudah menyiapkan pernikahan," ungkap Rika. Menyebabkan kelopak mata Altesa melebar dengan antusias.
"Aku ikut senang mendengarnya. Apa dia ayah dari anak dalam perutmu?" tanya Altesa.
Rika mengangguk. Satu tangannya memegangi perut yang belum membuncit.
"Syukurlah kalau dia bersedia bertanggung jawab." Altesa menghambur pelukan kepada Rika.
"Oh iya. Aku juga punya kabar bagus, Al. Aku sudah menemukan pengacara yang pas untuk mengurus kasusmu. Kau juga bisa sekaligus mengurus perceraianmu," cetus Rika. "Besok kita akan menemui pengacara itu. Kita akan diskusikan kasusmu," tambahnya.
"Baiklah. Sampai bertemu besok." Altesa mengangguk senang.
"Kau yakin punya tempat tujuan?" Rika bertanya dengan meragu.
"Kau tenang saja." Altesa tersenyum sambil melambaikan tangan ke depan wajah.
Dari semua tempat yang Altesa tahu, dia lebih memilih pergi ke rumah warisan milik keluarganya. Rumah yang sekarang menjadi tempat kediaman Revan.
Sebenarnya Beno juga sudah menawarkan Altesa tempat tinggal. Namun dia menolak karena lelaki tersebut tinggal bersama keluarganya. Selain itu, Altesa yakin Wildan pasti akan mencarinya. Ia menyimpulkan kalau Wildan pasti akan menanyakan tentang keberadaannya kepada Rika dan Beno.
Sekarang Altesa menaiki sebuah taksi. Dalam perjalanan menuju rumah Revan. Tak lama kemudian, dia tiba di tempat tujuan. Dirinya segera turun dan memencet bel pintu.
Tidak perlu menunggu lama, pintu dibuka oleh Revan. Dia sangat terkejut menyaksikan kedatangan Altesa.
"Ka-kau! Mau apa ke sini? Dan apa-apaan koper itu?!" timpal Revan yang tak percaya. Dia bahkan bicara sampai tergagap.
"Aku terus merasa tertarik untuk tinggal di rumah warisan keluargaku. Terlebih kita sudah berteman sekarang. Benarkan?" Altesa mengembangkan senyuman lebar. Tanpa ba bi bu, dia menerobos masuk ke dalam rumah. Lalu menghempaskan diri untuk rebahan ke sofa.
"Apa kau ingin tinggal di sini? Apa kau gila?!" Revan menuntut jawaban. Dia terlihat sangat syok.
"Tenang saja. Lingkungan ini sepi. Orang-orang tidak akan tahu kita tinggal serumah. Kalau pun ada yang bertanya, bilang saja aku adalah kakak sepupumu," tanggap Altesa santai.
__ADS_1
"Enak sekali kau bicara begitu. Apa kau lupa siapa aku? Kalau wartawan tahu aku tinggal serumah dengan seorang perempuan, bisa hancur reputasiku!"
"Mudah. Kau hanya perlu menghindari wartawan itu saja. Kumohon... bisakah kita bicarakan nanti? Aku lelah dan ingin istirahat..." ucap Altesa dengan suara memelan. Dia tampak meringkuk sambil memejamkan mata. Baginya, Revan sudah dianggap seperti adik. Mengingat usia lelaki itu lebih muda dari Altesa.