
...༻⌘༺...
"Aku sudah dua puluh enam tahun," kata Altesa seraya tersenyum tipis. Saat itu pula Stevan menepuk pundak Revan.
"Aku benar kan! Dia lebih tua dua tahun darimu," ujar Stevan memberitahu.
"Iya, iya, aku tahu. Nggak harus pukul-pukul segala kali," sahut Revan. Dia segera menjalankan mobil.
Perlu waktu beberapa menit untuk tiba ke tempat tujuan. Apartemen yang akan menjadi kediaman Altesa ternyata cukup mewah. Tetapi Altesa yang tidak punya pilihan, memutuskan akan tinggal di sana.
Keadaan barang di apartemen masih ditutupi oleh kain putih. Tempat itu memang jarang dikunjungi oleh Revan. Terlihat pula debu yang masih bertebaran.
"Apa-apaan ini, Rev. Kau belum membersihkan tempat ini?" timpal Stevan. Melotot sambil berkacak pinggang.
"Altesa datang tiba-tiba. Lagi pula ini adalah satu-satunya apartemen milikku yang jarang didatangi," sahut Revan. Melakukan pembelaan.
"Dasar kau!" Stevan mengarahkan tinjunya ke wajah Revan. Dua kakak beradik itu kembali memperdebatkan masalah sepele.
"Sudahlah. Aku bisa membersihkan semuanya sendiri. Justru aku harus berterima kasih karena sudah dibantu." Altesa segera angkat suara. Upayanya berhasil menghentikan perdebatan Revan dan Stevan.
"Begini saja. Aku dan Revan akan membantumu bersih-bersih," imbuh Stevan. Namun direspon Revan dengan lirikan tajam.
"Apa-apaan Kak Stev! Aku tidak bisa memakai waktu luangku untuk bersih-bersih?!" protes Revan tak terima.
"Ayolah, Rev. Kalau ingin membantu itu harus maksimal," tanggap Stevan. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Berusaha menemukan alat pembersih.
"Stevan, kau tidak perlu repot-repot. Aku--"
"Kau tidak usah merasa tidak enak. Kita berteman sekarang. Hubungan kita sudah bukan seperti dokter dan pasiennya." Stevan sengaja memotong pembicaraan Altesa. Ia melanjutkan pencariannya.
Revan berdiri mematung. Dia memasang tatapan curiga ke arah Stevan. Seringai kecil perlahan terukir di wajahnya. Tepat ketika dugaan kuat terlintas dalam benak Revan.
"Baiklah, aku akan membantu Altesa bersih-bersih," cetus Revan. Mendadak berubah pikiran.
__ADS_1
"Revan! Kau lupa lagi harus memanggil Altesa apa?" tegur Stevan. Membuat mimik wajah malas Revan otomatis terukir.
"Maksudku Kak Altesa..." ucap Revan dengan terpaksa.
"Pfffft... terima kasih sudah membantuku. Kalian berdua sangat lucu," komentar Altesa. Dia tidak berhenti tertawa menyaksikan interaksi lucu di antara Revan dan Stevan.
Altesa, Revan, dan Stevan mulai membersihkan apartemen. Revan yang sedari tadi mencurigai suatu hal, diam-diam membawa Stevan ke dalam kamar. Keduanya bicara empat mata di sana.
"Apa-apaan! Kenapa kau--"
"Pssst!" Revan menjeda celotehan Stevan. Dia menempelkan jari telunjuknya ke depan bibir kakaknya tersebut. "Aku tahu apa yang sedang kau rasakan," ujarnya seraya menggerakkan dua alis secara bersamaan.
"Apa maksudmu?" mata Stevan memicing.
"Kak Stevan menyukai Kak Altesa kan?" pungkas Revan.
Stevan terkesiap. Matanya meliar ke segala arah karena dirundung rasa panik. Dia merasa tertangkap basah oleh sang adik.
"Ayolah jujur saja. Untung aku menyadarinya, makanya aku langsung setuju untuk ikut bersih-bersih," jelas Revan. Dia menunggu penjelasan lebih lanjut.
"Itu bisa dibilang cinta," simpul Revan sembari duduk ke kursi depan meja rias.
"Tidak. Aku tidak bisa. Tidak semudah itu, Rev. Altesa masih punya suami." Stevan mendengus kasar. Dia merasa frustasi dengan perasaan yang tidak seharusnya.
"Suami bejat. Kau sudah menceritakannya kepadaku bagaimana jahatnya suami Kak Al. Aku yakin Kak Altesa akan menceraikannya dalam waktu dekat. Mendekatinya dari sekarang pun tidak apa-apa. Lihat! Dia bahkan minggat dari rumah suaminya."
"Aku tidak ingin terlalu berharap. Aku tidak mau melakukan kesalahan lagi seperti dulu." Stevan bicara mengenai hubungan rumah tangganya di masa lalu. Yang kebetulan tidak berjalan baik.
Pembicaraan Revan dan Stevan berakhir ketika Altesa tiba-tiba muncul. Perempuan itu mengajak untuk makan siang.
...***...
Semua orang sudah berada di meja makan. Hidangan yang dibuatkan Altesa telah tersaji di sana. Stevan langsung makan dengan lahap. Sedangkan Revan malah sibuk melongo.
__ADS_1
"Kau kenapa, Rev?" tanya Altesa.
"Semua bahan makanan ini terasa tidak asing," jawab Revan sembari mengacak-acak makanan di piring dengan sendok dan garpu.
"Tentu saja. Aku mengambilnya dari kulkasmu," sahut Altesa santai.
Mata Revan terbelalak. "Apa? Kulkasku? Kenapa tidak bilang?"
"Aku sudah minta izin kepadamu. Bukankah sebelum mandi aku sudah mengatakannya?" balas Altesa heran.
"Tapi kau tidak bilang kalau kau akan membawa bahan-bahan dari kulkasku!"
"Ayolah, lagi pula aku tidak membawa semuanya. Aku tidak setamak itu." Altesa melakukan pembelaan.
"Ya ampun, Revan. Ini hanya bahan makanan. Kau bisa beli lagi nanti." Stevan mendelik kepada Revan. Kini lelaki berbadan atletis itu tersudut sendiri.
"Maaf, Al. Revan memang selalu begini," ujar Stevan yang sekarang bicara pada Altesa.
"Oke, oke. Lupakan saja. Lebih baik kita teruskan makannya." Revan mengalah. Dia mengangkat dua tangannya ke udara.
Makan malam berakhir dengan tenang. Apartemen juga sepenuhnya sudah bersih. Revan dan Stevan berpamitan untuk pulang. Keduanya melangkah senada di lorong apartemen.
"Rev, bolehkah aku minta kontak pemilik gedung apartemen ini?" celetuk Stevan. Dia dan Revan baru saja masuk ke dalam lift.
"Lihatlah dirimu. Padahal kau tadi bilang masih ragu dengan perasaanmu," tanggap Revan sambil menggeser layar ponsel. Mencoba mencari-cari nomor telepon yang di inginkan Stevan. Setelah mendapatkannya, dia langsung mengirimkan lewat via pesan.
"Kau merencanakan apa?" Revan penasaran. Menatap Stevan dengan ujung matanya.
"Aku akan membeli salah satu unit apartemen di gedung ini. Aku ingin memastikan perasaanku." Stevan memberi alasan.
"Cih! Bohong. Bilang saja kalau ingin melakukan pendekatan." Revan memajukan bibir bawahnya.
"Bisakah kau diam? Kumohon rahasiakan ini dari siapapun. Oke?"
__ADS_1
"Aku akan kasih tahu Mamah sama Papah." Revan sengaja memancing kemarahan Stevan.
"Eh! Awas ya!" ancam Stevan. Dia langsung mengapit leher Revan dengan satu tangan. Pertengkaran kecil dilakukan mereka. Namun semuanya selalu berakhir dengan gelak tawa. Setidaknya untuk sekarang hubungan keduanya begitu harmonis.