Kembalinya Istri Pertama

Kembalinya Istri Pertama
Bab 39 - Bertemu Randi


__ADS_3

...༻⌘༺...


Altesa tiba di tempat tujuan. Dia langsung menghubungi Revan melalui panggilan telepon. Altesa disuruh menunggu di lobi.


Revan melangkah cepat menuju lobi. Atensinya segera tertuju ke arah seorang perempuan dengan gaun merah dalam balutan jaket kulit. Siapa lagi kalau bukan Altesa.


Penampilan Altesa membuat Revan berhenti melangkah. Dia terpana akan kecantikan perempuan tersebut.


"Revan!" Altesa yang baru menyadari kedatangan Revan, langsung menghampiri. Keterpakuan Revan sontak sirna.


"Ayo ikut aku!" Revan berusaha bersikap senormal mungkin. Padahal matanya sudah berkedip beberapa kali dengan canggung.


Altesa mengangguk. Dia mengekori Revan dari belakang. Lelaki itu mengajaknya masuk ke ruang utama melalui jalan pintas.


Dalam sekejap Altesa sudah berbaur dengan orang banyak. Suasana di pesta nyaris membuatnya lupa diri. Sebab beberapa orang di sekitar merupakan selebriti terkenal.


"Aku pikir Randi ada di ruang makan VIP," imbuh Revan. Ia memimpin jalan untuk Altesa. Langkah keduanya terhenti tatkala lampu tiba-tiba mati. Lalu diganti dengan lampu disko yang ditemani dengan musik bertempo cepat.


Semua orang terlihat langsung menari. Sedangkan Altesa hanya bisa celingak-celingukan. Suasana pesta memang adalah sesuatu yang tidak pernah di alaminya.


"Ayo!" ujar Revan. Dia kembali berjalan.


Altesa tetap mematung di tempat. Dia tidak mendengar ucapan Revan karena musik yang terlalu nyaring, serta hiruk-pikuk manusia yang sangat banyak.


"Revan?" panggil Altesa yang baru sadar kalau dirinya sudah terpisah dengan Revan.

__ADS_1


Sesekali Altesa akan terdorong karena jejalan orang yang berlalu lalang. Perempuan itu hanya bisa bertahan sebisa mungkin. Dia bersyukur tidak mengenakan sepatu hak tinggi. Andai Altesa memakainya, mungkin dia akan terjatuh dalam satu kali senggolan.


Revan yang masih tidak sadar sudah terpisah dari Altesa, baru saja menemukan keberadaan Randi. Lelaki yang dicarinya itu tampak duduk santai sambil memegangi segelas bir.


"Kak Al! Lihat itu--" Revan tidak melanjutkan ucapannya saat tidak melihat Altesa di belakang. Lelaki itu menggaruk bagian belakang kepala. Dia bergegas mencari Altesa.


Dalam perjalanan menemukan Altesa, Revan disapa oleh beberapa rekan artisnya. Namun hal tersebut tidak membuatnya terlena. Revan tetap fokus menelusuri berbagai titik yang ada di ruangan.


Setelah lama mencari, Revan dapat menyaksikan Altesa yang kebingungan. Perempuan itu tampak terus mengedarkan pandangan ke segala arah. Saat Altesa hampir menggerakkan kaki, Revan sigap memegangi tangannya.


"Kak Al! Aku di sini," kata Revan. Membuat Altesa sontak menoleh ke belakang.


"Revan! Aku mencari-carimu. Maaf, aku tidak terbiasa dengan suasana begini. Kepalaku mulai diserang rasa pusing," ucap Altesa dengan senyuman kecut.


"Ya sudah, kalau begitu kita harus cepat-cepat menemui--"


Sadar diperhatikan oleh Ali, Revan langsung melepas pegangan tangannya dari Altesa. Jujur saja, hal yang ditakutkan Revan adalah berita tidak benar terkait hubungan asmaranya.


"Di-dia teman dekat kakakku. Kebetulan dia jadi tamu khusus di sini," jawab Revan dengan tergagap. Dia menyebutkan alasan seadanya.


"Benarkah? Memangnya apa pekerjaannya?" tanya Ali.


Altesa sudah mengangakan mulut untuk menjawab. Tetapi Revan lebih dulu angkat bicara. "Dia make up artist. Ya sudah kami harus pergi. Kami ingin menemui Randi sebentar," ujarnya. Berlalu pergi begitu saja.


Revan membawa Altesa ke tempat Randi berada. Namun sayang, lelaki yang mereka cari sudah tidak ada di tempatnya lagi.

__ADS_1


"Tadi dia di sini," kata Revan sembari memindai sekeliling dengan teliti. Sampai akhirnya dia melihat punggung Randi yang berjalan kian menjauh.


"Itu dia!" seru Revan. Dia kembali menggenggam tangan Altesa. Revan tidak akan membiarkan perempuan itu tertinggal sendirian lagi.


Revan dan Altesa mengejar Randi. Lelaki yang mereka kejar berjalan keluar dari ruang utama. Menyusuri koridor hotel.


Altesa ikut berlari senada dengan Revan. Kini dia bisa menyaksikan sosok Randi di depan mata.


"Randi!" Altesa memutuskan berteriak saja. Dia tidak mau menguras energi lebih banyak untuk mengejar sahabat dekat Wildan tersebut.


Panggilan Altesa sukses mambuat Randi menengok ke belakang. Pupil matanya membesar tatkala melihat Altesa di depan mata. Alhasil Altesa dan Revan segera mendatangi Randi.


"Kita perlu bicara!" cetus Altesa. Raut wajahnya nampak serius.


Randi menarik sudut bibirnya ke atas. "Baiklah," sahutnya yang terkesan tenang. Bola mata Randi segera bergerak ke arah Revan.


"Ada apa, Rev? Apa kau mengenal wanita ini?" tanya Randi penasaran. Menatap penuh curiga.


"Iya. Aku mengenalnya. Dia istrinya Wildan. Untuk sekarang," jawab Revan.


"Ada apa ini? Kau tidak berniat merebut istri bosmu sendiri kan?" Randi terkekeh. Dia merasa lucu menyaksikan sikap Revan yang terlalu serius.


"Dia temanku! Sebaiknya kita cari tempat agar bisa bicara dengan nyaman." Altesa sengaja menyela interaksi Randi dan Revan. Dia berjalan lebih dulu.


Meski terlihat begitu tenang, Randi sebenarnya merasa sedikit gelisah. Dia menyembunyikan kegelisahannya dengan cara memasukkan dua tangan ke saku celana. Salivanya bahkan diteguk beberapa kali.

__ADS_1


Diam-diam Randi mengambil ponsel. Dia mengirim pesan kepada Wildan.


'Altesa menemuiku! Kau tahu apa yang mengejutkan? Revan sepertinya akrab dengan istrimu itu. Mereka berdua terlihat sangat serius. Aku rasa kita harus berhati-hati.' Begitulah pesan yang dikirimkan Randi kepada Wildan. Dia, Altesa, dan Revan segera duduk ke sofa yang ada di lobi.


__ADS_2