
...༻⌘༺...
Erma hanya bisa melihat senyuman lembut di wajah Altesa. Jika dilihat dari ekspresinya, perempuan itu sepertinya bersungguh-sungguh. Namun Erma tidak mau mempercayai perkataan Altesa begitu saja.
"Terserah apa katamu." Erma berucap dengan nada ketus. Dia lalu menyesap teh hangat yang ada di meja.
Wildan tersenyum menyaksikan Erma sedikit menciut. Entah kenapa dia merasa senang bisa melihat Altesa dan Erma akur.
Hening menyelimuti suasana. Sampai akhirnya terdengar teriakan Azka. Altesa, Wildan, dan Erma, sontak beranjak dari tempat duduk masing-masing. Ketiganya saling berdahuluan untuk memeriksa Azka ke kamar.
Setibanya di kamar Azka, Erma menjadi orang yang lebih dulu masuk. Altesa yang dirundung perasaan cemas juga ingin menghampiri Azka. Akan tetapi Wildan dengan cepat menghentikan.
"Biarkan saja Erma yang mengurusnya." Wildan menghalangi jalan Altesa dengan satu tangan yang merentang.
"Tapi aku juga ibunya." Dahi Altesa berkerut. Ia tidak habis pikir, kenapa seorang ibu kandung justru dijauhkan dari anaknya. Wildan benar-benar terus mengutamakan Erma.
"Aku tahu. Tapi Azka membencimu. Mimpi buruknya akan bertambah jika kau muncul di hadapannya sekarang," tanggap Wildan. Memasang raut wajah menenangkan. Menatap sayu Altesa dengan ujung matanya.
Altesa mendengus kesal. Dia tidak tahu sampai kapan dirinya harus menjaga jarak dari Azka. Semua yang Altesa lakukan selalu saja dihalangi.
Altesa merasa satu-satunya cara untuk mendekati Azka adalah dengan mendekati Wildan terlebih dahulu. Namun bagaimana? Dia tidak mau melakukan pendekatan yang berlebihan? Mengingat dirinya sudah benar-benar jijik dengan suaminya tersebut.
Kala Altesa tenggelam dengan pikiran sendiri, saat itulah Wildan sibuk memperhatikan. Lelaki itu semakin tergoda dengan Altesa. Jantungnya bahkan memberikan sedikit getaran yang berbeda.
Teriakan Azka tadi ternyata hanyalah mengigau. Anak itu sering bermimpi buruk setiap malam.
Karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menenangkan Azka, Altesa memutuskan pergi ke kamar. Hal yang sama juga dilakukan Wildan. Tetapi lelaki tersebut memilih masuk ke kamarnya sendiri.
Wildan duduk ke tepi tempat tidur. Dia berusaha menyadarkan dirinya dari segala hal tentang Altesa.
'Ada apa denganku? Aku tidak boleh memiliki perasaan seperti ini pada Altesa. Ini tentu sangat memalukan!' Wildan mengeluh dalam hati. Ia mengambil ponsel dari atas nakas. Menelepon seseorang dengan nama Randi.
__ADS_1
"Tumben sekali kau menghubungiku malam-malam begini," ucap Randi dari seberang telepon.
"Aku sedang bingung sekarang. Ternyata kehadiran Altesa di rumah ini sangat mengganggu," ungkap Wildan sambil menghela nafas panjang.
"Hahaha! Kenapa? Apa dia mencoba merayumu? Bukankah kau pernah bilang kalau penampilannya sudah usang? Kau bahkan sudah tidak berminat sebelum Altesa mengalami koma."
"Dia tidak merayuku. Justru aku yang tergoda dengan sendirinya. Entah sengaja atau tidak, tapi Altesa berusaha keras memperbaiki penampilannya. Dia sangat cantik. Persis seperti pertamakali aku bertemu dengannya dulu saat kuliah." Wildan berdiri. Dia menengok keluar kamar sebentar. Memastikan Erma tidak mendengar semua ucapannya.
"Lalu masalahnya? Apa yang membuatmu bingung?"
"Aku sebenarnya sedang mengurus surat perceraian. Tapi aku merasa ragu setelah melihat sikap Altesa. Kecantikan, kebaikan, dan kesabarannya berhasil menyentuh hatiku, Ran. Ini membuatku gila!" Wildan menggaruk-garuk rambutnya dengan kuat.
"Hahaha..." Randi malah menanggapi dengan gelak tawa. Dia melanjutkan, "aku tidak menyangka. Orang jahat sepertimu ternyata masih bisa merasakan yang namanya kebaikan. Berhati-hatilah, Wildan. Ini bisa saja bagian rencana Altesa. Sebaiknya kau cari tahu lebih dulu."
Widan terdiam mendengar saran dari Randi. Keningnya mengernyit samar. Dia merasa kalau teman baiknya itu ada benarnya.
"Aku punya ide agar kau bisa mencari tahu kedok Altesa. Ikutilah kata hatimu, Wil. Lagi pula dia masih sah sebagai istrimu. Jika kau memang tergoda dengannya, maka terkam saja dia. Bila Altesa benar-benar ingin kembali kepadamu, maka dia tidak akan menolak," cetus Randi.
"Aku tahu alasannya. Itu karena kau merasa gengsi bukan? Ayolah, Wil! Kau sudah terlanjur berbuat jahat. Kenapa tidak sekalian bertindak jauh. Kau bisa memanfaatkan keberadaan Altesa sebagai pemuas gairahmu selain Erma." Randi berhenti bicara demi mendenguskan nafas. "Ah... aku harap aku juga bisa punya dua istri," gumamnya meneruskan.
"Apa-apaan kau..." Wildan urung bicara, ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Dia langsung mengakhiri obrolannya dengan Randi.
"Sayang..." Erma datang sembari memanggil dengan manja.
"Kenapa, sayang?" balas Wildan. Dia membawa Erma masuk ke dalam pelukan. Perlahan Wildan menenggelamkan wajah ke ceruk leher Erma. Dua tangannya mulai bermain nakal ke badan sang istri.
"Mas..." Erma justru berdalih. Dia mendorong Wildan menjauh.
Wildan yang mengerti, lantas memaksakan dirinya tersenyum. Sebab dia tahu Erma akan menolak sentuhannya saat mengalami datang bulan.
"Ya sudah. Sebaiknya kita tidur saja," ajak Wildan.
__ADS_1
Erma lantas mengangguk. Dia dan Wildan tidur bersama seperti biasa.
Malam kian larut. Wildan sengaja tetap di ranjang karena ingin menunggu Erma tertidur. Saat waktu menunjukkan jam dua belas malam, barulah Wildan yakin sang istri kedua telah tertidur.
Wildan diam-diam keluar dari kamar. Berjalan pelan menuju kamar Altesa. Dia akan melakukan saran yang diberikan Randi tadi.
Tok...
Tok...
Wildan memutuskan datang dengan cara baik-baik. Dia mengetuk pintu sangat pelan agar tidak terdengar kemana-mana. Terutama ke kamar dimana Erma sedang tertidur.
"Al?..." panggil Wildan seraya menempelkan telinga ke depan pintu. Dia lanjut mengetuk pintu.
Karena pintu tidak kunjung dibuka, Wildan akhirnya berinisiatif menarik gagang pintu. Namun sayang, pintunya dikunci dari dalam. Dahi Wildan sontak berkerut.
'Kenapa dia mengunci pintunya? Ini mencurigakan. Sepertinya dugaan Randi benar. Sepertinya sikap baik Altesa hanyalah kepura-puraan,' batin Wildan.
Sementara di dalam kamar, Altesa sebenarnya sudah terbangun sejak awal Wildan mengetuk. Dia sekarang hanya sibuk mencari secarik kertas yang berisi daftar cara menolak sentuhan Wildan. Altesa lupa menaruhnya dimana.
"Aduh... gimana nih..." Altesa mengacak-acak rambutnya sendiri. Bersamaan dengan itu Wildan terus memanggil dari luar.
Altesa menggigit bibir bawahnya. Dia berusaha mengingat salah satu cara yang tertulis di kertas. Ketika sudah ingat, barulah Altesa membuka pintu.
"Kenapa, Mas?" tanya Altesa sambil mengerjapkan mata beberapa kali. Dia bersikap seolah-olah masih mengantuk.
"Maaf mengganggu. Tapi bolehkah aku tidur bersamamu malam ini?" ujar Wildan dengan tatapan nakalnya.
Altesa menelan salivanya satu kali dan menjawab, "Mas nggak tidur sama Kak Erma?"
"Dia sudah tidur. Kebetulan aku tidak bisa tidur." Wildan melangkah semakin dekat. Membuat langkah kaki Altesa harus bergerak mundur.
__ADS_1
'Sial! Aku harus bagaimana?' umpat Altesa dalam hati.