Kembalinya Istri Pertama

Kembalinya Istri Pertama
Bab 20 - Saatnya Beraksi


__ADS_3

...༻⌘༺...


Beno tersenyum dan segera memberitahu idenya. Dia mengusulkan Altesa untuk belajar bela diri pada Revan.


"Apa? Aku tidak salah dengar kan?" tanggap Rika tak percaya.


"Kau jangan mengada-ada, Ben. Kenapa harus Revan? Aku bisa berlatih bela diri di tempat lain. Aku yakin Revan tidak akan punya waktu untuk melatihku," Altesa setuju dengan Rika.


"Iya, Altesa benar. Lagi pula idemu itu terlalu berlebihan. Kalau Altesa melawan dengan pukulan, bukankah nanti akan memunculkan permusuhan dengan Wildan?" Rika berucap sambil mengulurkan dua tangan ke depan.


"Bukan begitu. Belajar bela diri hanya untuk berjaga-jaga saja. Kita tidak tahu kan Wildan akan menyerang seperti apa. Ini semua demi melindungi harga diri Altesa," jelas Beno panjang lebar.


Altesa memiringkan kepala. Ia berpikir ide Beno ada benarnya. Mengingat dirinya masih memegang status sah sebagai istri. Suatu hari Wildan bisa saja tiba-tiba meminta jatah di ranjang.


"Idemu bagus, Ben. Kalau begitu, hari ini kita langsung saja mencari tempat pelatihan bela diri." Semangat Altesa bangkit lagi.


"Kalau Altesa setuju maka aku juga akan setuju. Mengenai strategi untuk menolak sentuhan Wildan nanti, sebaiknya kita tulis satu per satu. Aku punya banyak rencana." Rika beranjak mengambil secarik kertas serta pulpen. Dia mengajak Altesa dan Beno agar bisa memberikan ide masuk akal untuk ditulis.


"Pertama, apa yang harus Altesa lakukan saat Wildan tiba-tiba memberi pelukan?" ujar Rika seraya menatap dua temannya secara bergantian.


"Altesa bisa pura-pura bersin atau mual." Beno menyebutkan sarannya lebih dulu.


"Sebenarnya aku sudah memakai ide itu tadi pagi. Tapi aku memilih berpura-pura batuk," sahut Altesa. Menceritakan apa yang di alaminya tadi pagi.


"Apa?! Wildan sudah berani mendekatimu?" Mata Rika membola. Tatapannya seolah menuntut Altesa untuk menjelaskan lebih lanjut.


"Dia melakukan apa tadi pagi? Menciummu? Memelukmu?" Beno juga dibuat penasaran.


"Entahlah, aku rasa tadi pagi dia hampir mencium bibirku," terang Altesa.

__ADS_1


Rika dan Beno kaget bukan kepalang. Ternyata selain licik, Wildan juga lelaki hidung belang. Pantas saja dia mudah tergoda dengan wanita seperti Erma.


"Aaaargghhh!!! Aku pengen banget mencabik-cabik Wildan!" keluh Beno dengan perasaan kesal.


"Pokoknya jangan biarkan dia menyentuhmu, Al! Sekarang aku benar-benar mendukungmu untuk belajar bela diri!" Rika ikut bersuara.


"Benar! Aku akan memberitahu tempat pelatihan yang bagus untukmu," ucap Beno. Dia dan Rika memberikan energi postitif untuk perlawanan Altesa. Mereka segera lanjut menulis daftar strategi tentang cara menolak sentuhan Wildan.


Waktu menunjukkan jam dua sore. Altesa pergi ke lokasi pelatihan bela diri yang diusulkan Beno. Tempatnya terbilang sederhana. Ia masuk dan mendaftarkan diri ke sana.


"Mbak yakin ingin mendaftar?" tanya respsionis yang berjaga.


Altesa mengangguk yakin. Dia lantas diberi jadwal latihan. Altesa harus datang berlatih lusa malam nanti.


Kini Altesa dalam perjalanan pulang. Karena Pak Wisnu tidak bisa dipercaya, dia terpikir untuk menemukan pengacara baru. Tetapi menyewa seorang pengacara tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Altesa harus mencari pengacara yang dapat dipercaya. Dia juga sedang tidak memiliki uang yang banyak. Altesa tidak enak terus-terusan meminjam uang Beno dan Rika.


'Lebih baik aku cari buktinya dulu. Kalau sudah mengumpulkan banyak uang, baru aku akan mencari pengacara. Aku harus fokus mendekati Wildan dan Erma sekaligus. Perlukah aku mengadu domba mereka?' segala macam ide bermunculan dalam benak Altesa. Bahkan ide licik yang tidak pernah dilakukannya sekali pun.


...***...


Sesampainya di rumah, Altesa melihat Wildan dan Erma duduk mengobrol di gazebo dekat kolam renang. Dia tersenyum miring, lalu masuk ke kamar.


"Saatnya beraksi!" seru Altesa sembari menatap pantulan dirinya di cermin. Dia segera mengganti pakaian. Merias wajahnya agar bisa tampil cantik. Altesa tentu menggunakan make up tipis. Semua itu dia lakukan agar niatnya tidak terlalu kentara.


Usai merias diri, Altesa keluar dari kamar. Dia bergabung ke gazebo bersama Wildan dan Erma. Dua insan itu sama-sama menegakkan badan saat menyaksikan kedatangan Altesa.


"Aku boleh bergabung kan?" tanya Altesa sebelum menduduki kursi yang tersedia.


Erma reflek menatap Wildan. Ia berharap sang suami melakukan sesuatu untuk menyuruh Altesa pergi. Tetapi yang ditemukannya justru keterpanaan Wildan terhadap Altesa. Lelaki itu tampak tidak mengedipkan mata.

__ADS_1


"Mas Wildan!" Erma sontak memanggil. Membuat Wildan tersentak sampai menjengitkan badan. Lelaki tersebut langsung beralih menatap Erma.


"Kenapa?" tanya Wildan. Ia berupaya keras menutupi kepanikan.


"Ini! Dia mau duduk bareng kita di sini katanya!" geram Erma. Dia tentu cemburu melihat tatapan lekat Wildan kepada Altesa.


"Boleh, kenapa tidak?" ujar Wildan. Parahnya dia lagi-lagi menoleh ke arah Altesa. Mengembangkan senyuman dengan keadaan mata yang berbinar-binar.


"Apa?! Mas kenapa..." wajah Erma terlihat masam. Dia mengira Wildan akan mengusir Altesa dari gazebo. Namun pada kenyataannya tidak. Erma sampai kehabisan kata-kata.


Altesa senang atas penerimaan Wildan. Meskipun begitu, dia tidak langsung duduk. Karena tujuannya sekarang tidak hanya mendekati Wildan, tetapi juga Erma. Dengan begitu, semakin cepat Altesa akan mendapatkan bukti.


"Kak Erma kayaknya nggak suka aku bergabung ke sini. Kedatanganku pasti mengganggu," kata Altesa sambil menatap ke arah Erma.


"Tentu saja mengganggu! Kehadiranmu tidak pernah dianggap di sini!" sahut Erma ketus. Dua tangannya menyilang di depan dada. "Dan Mas Wildan! Kenapa Mas ngijinin dia duduk di sini. Kamu nggak seperti biasanya tahu nggak!" pungkasnya yang sekarang bicara kepada sang suami.


"Aku hanya kasihan. Lagi pula ada kau di sini bersamaku. Aku juga ingin membuktikan kesungguhan Altesa. Apakah benar dia berniat hidup damai dengan kita?" Wildan nampak tenang.


Erma mengeratkan rahang. Dia membuang muka cemberutnya. Melihat penerimaan Wildan, Erma merasa semakin terancam.


Altesa lantas duduk. Anehnya dia memilih kursi yang berdekatan dengan Erma.


"Kak, aku bersungguh-sungguh ingin memulai hidup baru. Dimana aku dan Kak Erma bisa menjadi teman yang baik," tutur Altesa. Memaksakan diri. Padahal dihatinya terus melafalkan beragam kata umpatan untuk Wildan dan Erma.


"Jangan sok baik! Aku tahu kau hanya ingin merebut hati Mas Wildan! Lubang buayamu itu pasti udah gatal kan?" Erma membalas dengan perkataan kasar. Jujur saja, Altesa sangat marah terhadap hinaan tersebut. Tetapi dia harus mampu menyembunyikan amarah sebisa mungkin.


Altesa menggeleng. "Tidak. Jangan bicara begitu, Kak. Mas Wildan itu sepenuhnya milik Kakak. Kalian berdua saling mencintai. Meski aku masih memegang status sebagai istri Mas Wildan, tapi aku tidak masalah jika harus memiliki hubungan seperti teman mengobrol dengannya. Aku hanya ingin diperlakukan dengan baik," ungkapnya panjang lebar.


Erma terkesiap. Dia mengamati ekspresi wajah yang ditunjukan Altesa. Memastikan keseriusan perempuan itu.

__ADS_1


__ADS_2