
...༻⌘༺...
Stevan bingung dengan kepergian Altesa. Baik Beno atau pun Rika, keduanya bahkan tidak tahu kemana perempuan tersebut. Mereka tidak menyangka Altesa akan nekat pergi tanpa mengatakan apapun.
Dalam surat Altesa, hanya ada janji yang tertulis. Yaitu janji bahwa dia akan kembali untuk membayar hutangnya kepada semua orang.
Entah kenapa dari semua teman dekat Altesa, Revan menjadi satu-satunya orang yang merasa kehilangan. Dia merasa merindukan perempuan itu. Terutama saat melakukan sesi make up.
Sekarang Revan sudah tidak lagi berada di bawah naungan agensi Wildan. Ia menandatangani kontrak dengan Athena Entertainment. Bukannya tidak laku, Revan justru kebanjiran tawaran. Sebab Athena Entertainment mengutamakan kerjasama di dalam negeri.
'Apa yang aku pikirkan? Kenapa wajah Altesa terus terbayang?' batin Revan sambil memijit-mijit pelipisnya. Dia heran dengan dirinya sendiri.
"Ayo! Semua orang sudah siap. Saatnya giliranmu, Rev." Seorang asisten sutradara memanggil. Akan tetapi Revan sama sekali tidak menyahut. Pria tersebut terlalu tenggelam dalam lamunan.
"Revan?" Asisten sutradara yang bernama Sinta itu akhirnya mendekat.
"Revan!" panggilan ketiga berhasil menyadarkan Revan dari lamunan.
"Eh, maaf. Aku akan pergi." Revan bangkit dari tempat duduk. Sinta lantas hanya geleng-geleng kepala.
Sementara itu Wildan, dia baru saja menjemput Erma dari rumah sakit. Wildan tidak jadi menceraikan Erma. Lelaki itu merasa harus mempertahankan Erma karena tidak mau sendiri.
"Tidak apa-apa, Mas. Kita bisa pergi ke panti asuhan untuk mencari anak angkat. Apa salahnya mencoba?" ujar Erma sembari mennggandeng lengan Wildan. Lalu meletakkan kepala ke pundak lelaki itu.
"Entahlah. Aku butuh waktu sendiri untuk beberapa waktu. Saham perusahaan anjlok karena kepergian Revan. Aku tidak menyangka dia memiliki pengaruh yang besar," sahut Wildan datar. Ia terlihat masih fokus menyetir.
__ADS_1
"Baiklah, aku harap semuanya berjalan lancar. Yang terpenting kita masih bisa bersama, Mas. Terima kasih sudah memilihku..." ungkap Erma seraya tersenyum tipis. Dia mengira keputusan Wildan menceraikan Altesa dikarenakan dirinya. Padahal pada kenyataannya tidak.
Usai mengantar Erma pulang, Wildan pergi lagi. Jujur saja, ucapan terakhir Altesa kepadanya sangat menghantui. Wildan bahkan sampai tidak karuan tidur akan hal tersebut.
"Apa maksudnya tidak akan bertemu dengan Azka dalam waktu yang cukup lama? Dia pasti berniat menjauhkanku dengan Azka!" gumam Wildan. Dia akhirnya memutuskan untuk menemui Altesa. Tetapi Wildan tidak bisa menekukannya. Nomor telepon Altesa bahkan sudah tidak aktif.
Wildan nekat mencari Beno ke lokasi syuting. Sama seperti Revan, Beno juga sudah tidak bekerja lagi dengan perusahaan Wildan. Dia lebih memilih berbisinis sendiri. Dengan begitu, Beno bisa bekerjasama kepada siapapun.
Kini Wildan mengajak Beno bicara. Keduanya berdiri saling berhadapan.
"Kau mau apa? Mencari Altesa? Maaf, tapi dia sudah pergi," ucap Beno. Seolah sudah tahu apa yang akan ditanyakan Wildan.
"Pergi? Kemana?" mata Wildan membulat sempurna.
"Aku dan Rika tidak tahu. Dia tidak mengatakan apapun terkait kepergiannya," jawab Beno. "Sudah selesai bukan? Pergilah," lanjutnya dengan gaya tak acuh. Gelagat gemulai Beno tak pernah hilang.
"Aww!" Beno kaget. Dia menyalangkan mata sembari melepas cengkeraman Wildan. "Apaan sih! Pegang-pegang segala. Tertarik sama aku, hah?" tukasnya.
"Aku tahu kau berbohong! Katakan dimana Altesa sekarang!" Wildan menuntut jawaban. Dia semakin mengeratkan cengkeramannya.
"Aduuh... Ciinnn... Kan aku sudah bilang kalau aku nggak tahu. Kau sebaiknya pergi dari sini sebelum khodamku keluar!" hardik Beno yang sudah tak tahan.
"Kau benar-benar tidak tahu?" Wildan meragu.
"Iya! Walau kau pakaikan alat pendetesi kebohongan pun, jawabanku tetap tidak tahu. Itu karena aku benar-benar tidak tahu!" tegas Beno. Menatap tak percaya. Kemudian beranjak pergi.
__ADS_1
Wildan mengusap kasar wajahnya. Ia akhirnya bertekad mencari Altesa. Lelaki itu mendatangi beberapa tempat tertentu. Wildan juga tidak lupa menemui Rika. Namun jawabannya sama dengan Beno. Dia juga tidak tahu dimana Altesa.
"Sialan! Dia ternyata memang berusaha menjauhkan Azka dariku!" geram Wildan seraya memukul setir mobil. Dia merasa kesal.
Ponsel mendadak berdering. Setelah mendapat kabar kepergian Altesa dan Azka, Wildan menerima berita bahwa perusahaannya sedang mengalami krisis. Sekarang lelaki itu memilih mengurus perusahaannya terlebih dahulu. Selanjutnya, barulah Wildan melakukan sesuatu untuk mencari Altesa.
...***...
Walau disibukkan dengan pekerjaan, Stevan tetap berusaha mencari Altesa. Dia tidak seperti Revan yang masih terombang-ambing dengan perasaan.
Stevan cenderung bertindak. Termasuk melakukan banyak cara untuk menemukan Altesa. Nihil, dia masih belum bisa bertemu dengan perempuan tersebut. Padahal Stevan berharap bisa lebih dekat lagi dengan Altesa.
Di sisi lain, Revan tengah ada di rumah. Ia lagi-lagi memikirkan Altesa. Sepertinya rasa rindunya semakin kuat. Dan Revan tidak bisa membantah bahwa yang dirasakannya adalah cinta. Sebab jantung lelaki itu selalu berdebar ketika mengingat perihal Altesa.
Meski lebih terlambat dari Stevan, Revan juga bergerak untuk mencari Altesa. Kelebihannya adalah, dia bersahabat dekat dengan seseorang yang bekerja di bandara. Yang mana sahabatnya itu dapat memeriksa riwayat jadwal penerbangan. Termasuk yang dilakukan Altesa.
Revan memang memulai pencarian melalui jalur transportasi. Karena dia yakin, Altesa tidak mungkin pergi ke tempat yang dekat.
Bersamaan dengan itu, Stevan datang menemui Revan. Dia ingin meminta bantuan.
"Ada apa, Kak?" tanya Revan.
"Aku minta bantuanmu. Aku baru saja ingat kalau kau punya teman yang bekerja di bandara. Aku ingin meminta bantuan dia untuk mencari nama Altesa. Aku yakin Altesa pasti pergi ke tempat yang jauh," ujar Stevan.
"Baiklah. Aku akan meneleponnya." Revan berpura-pura. Padahal dia sudah lebih dulu melakukan apa yang disuruh Stevan.
__ADS_1
Kali ini Revan merasa bersalah. Sebab dia sadar kalau dirinya sudah mencintai perempuan yang sama dengan Stevan.