
...༻⌘༺...
Sambil mengurus gugatan perceraian, Altesa berusaha kembali bekerja. Dia membuat usaha make up artist sendiri. Altesa mempromosikan keahliannya melalui teman dekat serta internet.
Mengurus Azka merupakan kesibukan Altesa yang lain. Malah itu yang paling utama. Sekarang Altesa baru memakaikan Azka seragam. Anak itu sepenuhnya siap untuk pergi ke sekolah.
Setibanya di sekolah, Azka langsung mencium punggung tangan Altesa. Melambaikan dengan senyuman. Anak itu segera berlari kecil memasuki lingkungan sekolah.
Altesa tidak berhenti tersenyum. Dia merasa sangat bahagia terhadap kebersamaannya dengan Azka. Perempuan itu tetap berdiri di tempat walau Azka sudah menghilang dari pandangan.
"Azka menginginkan kita tetap bersama. Aku pikir itu ide yang bagus. Kita bisa menjadi keluarga bahagia seperti dulu." Wildan tiba-tiba datang. Membuat Altesa kaget sampai berjengit.
"Wildan! Kau kenapa di sini?!" timpal Altesa sembari memegangi dadanya.
"Al, aku minta maaf atas sikapku kemarin. Sekarang izinkan aku bicara baik-baik kepadamu. Tepat sebelum kau nekat mengurus gugatan ceraimu itu," mohon Wildan. Menatap penuh harap.
"Bicara saja sekarang!" jawab Altesa ketus.
"Aku tidak bisa membicarakan perihal serius di pinggir jalan. Ikutlah denganku ke sebuah restoran. Kita bicarakan semuanya di tempat yang nyaman," tutur Wildan. Dia bicara sangat lembut. Begitu berbeda dengan sikapnya terakhir kali.
__ADS_1
"Aku tidak mau naik mobilmu. Kita pergi ke cafe itu saja!" Altesa berjalan lebih dulu. Dia tidak mau lagi mempercayai Wildan.
"Ya sudah..." Wildan lantas mengekori dari belakang.
Altesa dan Wildan duduk saling berhadapan. Keduanya memesan minuman segar yang sama.
Altesa memilih bungkam. Dia menunggu Wildan bicara. Tetapi lelaki itu tidak kunjung angkat suara. Dia hanya terus menatap Altesa dengan tatapan begitu dalam. Seakan menampakkan perasaan cintanya melalui tatapan tersebut.
"Kau mau bicara apa? Setelah ini aku harus bekerja!" Altesa mendesak. Dia membuang muka. Dirinya terlanjur muak menyaksikan wajah Wildan.
"Aku ingin kita tetap bersama, Al. Aku akan lakukan apapun agar kau bersedia melakukannya," ungkap Wildan. Perlahan dia menggenggam lembut jari-jemari Altesa. Perempuan itu tentu langsung menghindari sentuhannya.
Altesa bangkit dari tempat duduk. "Bahkan sampai kau menangis darah sekali pun, aku tidak akan menarik gugatan ceraiku!" tegasnya. Dia lekas-lekas pergi meninggalkan Wildan.
"Aku akan ceraikan Erma demi dirimu," ujar Wildan bersungguh-sungguh. Dia berharap bisa dapat kesempatan kedua dari Altesa.
"Apa?!" Altesa semakin tercengang. Mendengar niat Wildan yang ingin menceraikan Erma, dia tambah yakin terhadap keputusannya untuk menceraikan Wildan.
"Kau benar-benar bajingan!" cibir Altesa. Melepas pegangan Wildan dengan satu kali hempasan. Ia beranjak dengan langkah kaki menghentak.
__ADS_1
Kali ini Wildan membiarkan kepergian Altesa. Dia mengusap kasar wajahnya satu kali. "Lihat saja, aku pasti bisa membuatmu kembali kepadaku," gumamnya bertekad. Manik hitam Wildan melirik ke arah bangunan sekolah Azka. Dia terpikirkan cara lain untuk membujuk Altesa. Seringai otomatis terukir di wajah Wildan.
Tepat saat bel pulang sekolah berbunyi, semua murid berdahuluan keluar gerbang. Termasuk Azka sendiri. Dia menemukan Wildan sudah ada lebih dulu menunggunya.
"Papah?" dahi Azka berkerut. Dia memiringkan kepala.
"Azka... kedatangan Papah ke sini mau minta maaf sama kamu," ungkap Wildan dengan mimik wajah memelas. "Papah memang salah sudah berbohong sama Azka. Papah akan melakukan apapun agar bisa dimaafkan," tuturnya melanjutkan.
"Apapun?" Azka yang masih berusia enam tahun, sangat mudah dipengaruhi. Terlebih keinginan terdalamnya adalah ingin Wildan dan Altesa tetap bersama.
"Iya, sayang. Apapun akan Papah lakukan..." jawab Wildan. Mengangguk dengan penuh keyakinan.
"Kalau begitu Papah harus suruh Tante Erma pergi. Lalu kita bisa tinggal bersama dengan Bunda," imbuh Azka.
Tanpa pikir panjang, Wildan langsung mengangguk. Dia sudah menduga Azka akan mengutarakan permintaan itu.
"Papah pasti akan mengabulkan permintaan Azka. Tapi Papah boleh ajak Azka makan es krim dulu kan?" ujar Wildan menawarkan.
"Boleh," sahut Azka. Dia segera memegang tangan Wildan. Melangkah bersama menuju mobil.
__ADS_1
Bertepatan dengan itu, Altesa datang. Matanya membulat sempurna. Dia buru-buru menghentikan pergerakan Wildan dan Azka.
"Azka!" panggil Altesa sembari berlari menghampiri.