Kembalinya Istri Pertama

Kembalinya Istri Pertama
Bab 42 - Memilih Pergi


__ADS_3

...༻⌘༺...


Altesa merasa lega setelah berhasil membuat Wildan setuju menandatangani surat gugatan cerai. Terlintas dalam benaknya mengenai semua harta warisan keluarga Dewangga yang masih berada di tangan Wildan.


Perenungan dilakukan Altesa cukup lama. Dia duduk di taman sambil mencoba menemukan keputusan terbaik. Mengingat dirinya sudah terlanjur berjanji kepada Wildan. Bahwasanya Altesa tidak akan mencari tahu rahasia lelaki itu lebih jauh.


"Ya Tuhan... Jika Wildan memang berbuat hal yang sangat buruk, aku yakin dia akan mendapat karmanya. Aku akan biarkan Kau menghukumnya dengan cara-Mu," gumam Altesa. Menengadah ke atas. Seoalah bicara dengan Tuhannya.


Altesa memiliki rencana untuk pergi ke luar kota bersama Azka. Dia kali ini serius ingin memulai hidup baru. Altesa juga bertekad mengumpulkan uang agar bisa membayar hutang serta membeli rumah Revan.


Sebelum sidang perceraian terjadi, Altesa ingin bicara baik-baik kepada Azka. Agar putranya tersebut tetap bersamanya.


Kini Azka baru saja pulang sekolah. Dia dan Altesa berjalan sambil berpegangan tangan.


Altesa mengajak Azka pergi ke taman. Dia tidak lupa membelikan kudapan kacang untuk Azka.


"Kacangnya renyah," ujar Azka. Dia baru selesai mengunyah kacang dan menelannya.


Altesa tersenyum. Dia siap untuk bicara.


"Azka... Bunda mau kasih tahu kalau Bunda sama Papah akan berpisah," ungkap Altesa baik-baik.

__ADS_1


Azka tercengang. Bungkus berisi kacang yang dipegangnya bahkan terlepas. "Kenapa, Bunda? Memangnya Papah nggak mau kembali sama kita?" tanggapnya dengan mata yang sudah berpendar akan cairan bening.


"Maafin Bunda, sayang... Bunda sama Papah nggak akan pernah bisa bersatu. Bunda yakin kau akan mengerti saat telah dewasa nanti." Altesa segera memeluk Azka. Berharap anaknya tidak bersedih.


Azka menangis. Anak polos sepertinya tentu sedih jika mendengar ayah dan ibunya berpisah. "Setidaknya lakukanlah demi aku, Bunda..." rengek Azka.


"Bunda sudah mencoba. Tapi tidak bisa. Hati Bunda tidak sekuat itu. Bunda harap kau bisa mengerti," sahut Altesa sembari mengusap lembut kepala Azka.


Perlahan Altesa melepas pelukannya. Lalu menatap Azka dengan serius.


"Bunda ingin tanya sama Azka. Kalau harus memilih, Azka ingin tetap bersama Bunda atau sama Papah?" tanya Altesa.


Azka berhenti menangis. Ia termenung. Dia sepertinya tengah berpikir baik-baik.


Altesa menggeleng. "Bunda nggak tahu, sayang. Itu pilihan Papah," jawabnya.


"Kalau begitu aku mau sama Bunda aja. Lagian Papah selalu sibuk bekerja. Kalau Bunda selalu ada buat aku. Jangan sakit lagi ya, Bunda..." ungkap Azka. Dia mendekap erat Altesa.


"Makasih, Sayang. Bunda janji akan berusaha menjadi orang tua yang baik buat Azka," kata Altesa. Dia terenyuh.


Atas persetujuan Azka tersebut, Altesa tidak akan kesusahan lagi untuk mendapatkan hak asuh.

__ADS_1


Beberapa hari terlewat. Sidang perceraian akhirnya dilakukan. Altesa dan Wildan resmi bercerai. Hak asuh bahkan jatuh ke tangan Altesa.


Walau tidak sepenuhnya berhasil, setidaknya rencana Altesa untuk merebut Azka sukses besar. Bagi seorang ibu, anak adalah hal yang utama.


Rasa sesak Altesa berkurang ketika ikatan pernikahannya berakhir. Sekarang dia dan Azka baru keluar dari ruang sidang. Bersamaan dengan itu, Wildan memanggil. Lelaki tersebut hendak bicara dengan Altesa.


"Rik, aku titip Azka sebentar ya," ujar Altesa yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Rika. Dia segera bicara empat mata dengan Wildan. Di tempat yang jauh dari keramaian.


"Ada apa?" tanya Altesa.


"Maaf dan terima kasih. Ternyata kau memang perempuan yang baik. Aku sangat menyesal sudah berbuat buruk kepadamu. Dan Azka memang pantas memilih bersamamu," tutur Wildan lembut.


"Aku harap kau tidak muncul lagi di hadapanku. Jadi kemungkinan kau tidak akan bertemu dengan Azka dalam waktu yang cukup lama," balas Altesa serius.


Mata Wildan membulat. "Ke-kenapa? Dia juga anakku, Al!" sahutnya yang tak terima.


"Aku tahu. Anggap saja itu hutang yang harus kau bayar dariku. Lebih baik kau jaga Kak Erma dengan baik. Aku dengar dia dirawat di rumah sakit." Altesa segera beranjak. Dia menjadikan kalimat itu sebagai perkataan terakhirnya kepada sang mantan suami.


"Altesa! Dengarkan aku! Kenapa kau..." Wildan mencoba memanggil. Namun Altesa malah melajukan langkahnya. Wildan tidak bisa berbuat apa-apa terhadap keputusan Altesa.


Pilihan terakhir Altesa setelah bercerai adalah pergi. Dia ingin mengajak Azka pindah ke luar kota. Altesa sengaja tidak memberitahu siapapun mengenai kepergiannya. Perempuan itu hanya menulis surat yang ditinggalkan di apartemen.

__ADS_1


Semuanya dirahasiakan Altesa karena dia tidak mau merepotkan orang lain lagi. Baik itu Rika, Beno, bahkan dua kakak beradik Revan dan Stevan.


Orang pertama yang membaca surat Altesa adalah Stevan. Sebab dia baru saja membeli salah satu unit apartemen di lantai yang sama dengan Altesa. Tetapi sayang, wanita pujaannya telah pergi. Stevan segera memberi kabar tentang kepergian Altesa kepada semua orang.


__ADS_2