
...༻⌘༺...
"Ini cukup bagus," komentar Revan sembari mengamati gambaran milik Azka.
"Azka, kenapa Bunda nggak dikasih lihat? Kan Bunda jadi penasaran." Altesa berjalan mendekat. Dia berjongkok sambil memeluk Azka dari belakang.
Tanpa sadar, Revan mengembangkan senyum. Namun dia langsung sadar diri dan merubah raut wajah menjadi datar.
"Ya sudah kau bisa selesaikan pekerjaanmu," ujar Revan yang tiba-tiba berubah pikiran.
"Kau plin plan sekali. Aku harap kau tidak bersikap begini saat hari pernikahanmu," sahut Altesa. Dia tidak jadi pergi.
"Apa-apaan. Kenapa kau jadi menyindir perihal pernikahan?" Revan menanggapi dengan kikuk. Dia mengusap tengkuknya tanpa alasan.
"Aku hanya berusaha memberimu masukan. Aku tidak ingin kau terbiasa begitu," jelas Altesa. Ia menyuruh Revan duduk ke depan meja rias. Altesa lantas merapikan rambut lelaki itu.
Setelah menyelesaikan pekerjaan, Altesa dan Azka pulang. Altesa menyuruh Azka beristirahat dan tidur.
Karena merasa lelah, Azka akhirnya terlelap. Walaupun begitu, tangan Altesa terus mengelus lembut kepala sang putra. Dia tenggelam dalam pikiran.
'Wildan keterlaluan. Setelah meninggalkanku, sekarang dia berniat mencampakkan Erma. Orang sepertinya tidak bisa diberi kesempatan,' batin Altesa. Manik hitamnya melirik Azka.
Altesa ingin Azka pindah sekolah. Dengan begitu, Wildan tidak akan bisa lagi datang untuk mengusik.
__ADS_1
Keesokan harinya. Altesa menyarankan Azka untuk tidak ke sekolah dulu. Dia tahu kalau Wildan pasti akan menunggu lagi di sana.
"Kenapa nggak sekolah, Bunda? Bukannya sekolah itu penting?" tanya Azka yang heran.
"Tentu saja penting. Tapi Bunda ingin Azka pergi ke sekolah baru ya," ujar Altesa sembari tersenyum.
Dahi Azka mengerut. Dia bingung kenapa ibunya mendadak mengajak pindah sekolah.
"Bunda cuman berusaha melindungimu. Bunda tidak mau kita berpisah lagi. Bunda juga nggak mau kamu dibohongi lagi," tutur Altesa lembut.
"Maksudnya dari Papah?" tebak Azka.
Altesa mengangguk. "Kita tidak bisa mempercayai Papah begitu saja. Bunda tahu dia juga adalah orang tuamu. Tapi Bunda tidak mau Azka pergi lagi," ungkapnya. Menatap haru.
"Maafkan Bunda, sayang. Bagi Bunda semuanya tidak semudah itu." Altesa membawa Azka masuk ke dalam pelukan.
"Baiklah, nggak apa-apa. Bunda sepertinya butuh waktu," tanggap Azka sembari membalas pelukan Altesa.
Ponsel mendadak berdering. Altesa segera menjawab panggilan dari Gavin tersebut. Pengacaranya itu memberitahu kalau surat gugatan cerai sudah dikirimkan kepada Wildan.
Altesa mendengus lega. Dia berharap segalanya dapat berjalan lancar.
Di waktu yang sama, Erma sedang duduk di tepi kasur. Dia mengurung diri di kamar selama beberapa hari. Berharap Wildan mencarinya. Akan tetapi lelaki itu tidak pernah datang sekali pun.
__ADS_1
Bibir Erma pucat. Wajahnya juga dipenuhi jerawat karena melupakan perawatan. Andai memilih pergi, Erma tidak tahu harus kemana.
Tanpa diduga, Wildan muncul dari balik pintu. Erma langsung berdiri. Dia merasa senang. Senyuman mengembang di wajahnya. Namun itu tidak berlangsung lama. Terutama ketika menyaksikan ekspresi Wildan yang terlihat sangat serius. Lelaki tersebut juga membawa selembar kertas misterius di tangan.
"Bacalah!" titah Wildan seraya memberikan selembar kertas yang dibawanya kepada Erma.
"Apa ini?" Erma mengambil kertas pemberian Wildan. Matanya membulat sempurna. Tatkala melihat kertas yang dia pegang adalah surat gugatan cerai. Wildan sepertinya bersungguh-sungguh ingin menceraikan Erma. Semuanya dia lakukan agar mendapat kesempatan kedua dari Altesa.
"Mas mau menceraikanku? Kenapa Mas tega?" cairan bening merembes begitu saja dari sudut mata Erma. Hatinya tertusuk tajam tak berdarah. Dia akhirnya terduduk kembali ke tepi ranjang.
"Ayolah... jangan terlalu terbawa perasaan," ucap Wildan yang merasa tidak bersalah sama sekali.
Bersamaan dengan itu, bel pintu tiba-tiba terdengar. Bi Ira segera membukakan pintu. Dia menerima surat misterius yang ditujukan untuk Wildan. Tanpa pikir panjang, Bi Ira langsung menyerahkan surat yang diterimanya kepada Wildan.
"Apa ini?" tanya Wildan sambil membuka amplop surat yang sudah di tangannya. Pupil mata Wildan membesar ketika menyaksikan surat serupa dengan miliknya.
"Saya tidak tahu, Tuan." Bi Ira memilih pamit.
Benar saja, surat yang dibaca Wildan sekarang adalah surat gugatan cerai. Persis seperti surat yang diberikannya kepada Erma tadi.
Erma yang penasaran, segera mengambil surat dari tangan Wildan. Bibirnya tertarik ke atas ketika membaca surat yang dibacanya adalah gugatan cerai dari Altesa.
"Aku tidak menyangka karma akan datang secepat ini," komentar Erma. Dia melemparkan surat gugatan cerai Altesa ke lantai. Lalu mengambil surat gugatan cerai yang diberikan Wildan untuknya.
__ADS_1
"Aku ingin memberimu kesempatan lagi. Apa kau yakin ingin menceraikanku?" Erma memastikan. Dia sudah memegang sebuah pulpen. Siap menandatangani surat gugatan cerai Wildan.