
...༻⌘༺...
Wildan terperangah melihat aksi Stevan. Lelaki itu seolah seperti pahlawan untuk Altesa. Perasaan cemburu sekaligus kesal bercampur aduk dalam diri Wildan. Memberikan amarah yang langsung memuncak.
"Baiklah kalau itu maumu!" Wildan merubah tangannya menjadi sebuah bogem. Dia segera melayangkannya ke arah Stevan. Namun serangannya berhasil dihindari oleh Stevan.
"Orang yang berkelahi saat marah selalu kalah. Jadi kusarankan, sebaiknya kau berhenti sekarang!" tegas Stevan. Berusaha tenang.
"Kau tidak perlu ikut campur urusan rumah tanggaku! Jadi sebaiknya pergilah dari sini!" balas Wildan.
"Ayo, Stev. Lebih baik kita pergi sekarang. Lagi pula kita sudah memasukkan pakaian Azka ke dalam koper." Altesa memegangi tangan Stevan. Mengajak lelaki itu pergi.
"Pakaian? Apa-apaan! Kau mau membawa Azka kemana, hah?!" Wildan yang mendengar dibuat semakin murka. Namun Altesa justru bergegas meraih tangan Azka. Menggenggam tangan sang putra dengan erat.
"Hei! Mau kemana kamu!" Wildan mencoba menghentikan Altesa. Tetapi usahanya lagi-lagi dihentikan oleh Stevan.
"Pergilah lebih dulu, Al!" saran Stevan yang langsung direspon dengan anggukan kepala oleh Altesa. Perempuan tersebut buru-buru beranjak sambil membawa Azka dan koper.
"Lepaskan aku, bajingan!" Wildan sudah tidak tahan. Dia akhirnya melayangkan tinju ke wajah Stevan. Apa yang dilakukannya sukses membuat Stevan terhuyung sampai terduduk ke lantai. Saat itulah Wildan memanfaatkan peluang untuk mengejar Altesa dan Azka.
Dengan langkah cepat serta ekspresi wajah yang marah, Wildan berhasil mencengkeram tangan Altesa. Memaksa perempuan itu berbalik menghadapnya.
"Jadi inikah rencanamu?! Merebut Azka dari Papahnya sendiri?!" timpal Wildan.
"Kaulah yang memulai lebih dulu!" sahut Altesa sembari menyalangkan mata. Dia sudah muak berpura-pura. "Aku akan segera mengurus perceraian kita. Jadi sebaiknya biarkan aku dan Azka pergi!" sambungnya. Tatapan yang terpancar di mata Altesa, menunjukkan tekad dan ketegasan.
Wildan menarik sudut bibirnya ke atas. Tatapan penuh kebencian diberikannya kepada Altesa. Bola matanya perlahan tertuju ke arah Azka. Tangan Wildan segera melepas Altesa. Lalu mencoba menghampiri Azka.
"Bunda!!!" Azka sontak berpegang erat ke badan Altesa.
"Pegang Bunda erat-erat!" perintah Altesa sambil menghalangi Wildan.
"Azka... ini Papah. Kenapa kamu tega tinggalin Papah? Papah yang merawatmu saat Bunda tidak ada. Semuanya Papah lakukan agar kamu tidak sedih, sayang..." Wildan mencoba membujuk Azka. Dia menampakkan raut wajah memelas.
__ADS_1
"Enggak! Aku nggak mau! Papah sudah bohongin aku dan Bunda! Aku akan maafin Papah kalau Tante Erma pergi!" ujar Azka. Perkataannya tidak hanya membuat Wildan kaget. Akan tetapi juga Altesa.
Sebagai anak, Azka berharap keluarganya bisa bersatu. Namun Altesa tentu tidak akan bisa memaafkan Wildan. Bahkan tidak akan pernah!
"Erma?" Wildan tampak berpikir. Meski memiliki kelakuan yang bejat, dia begitu menyayangi Azka sepenuh hati. Terlebih anak tersebut adalah satu-satunya buah hatinya sampai sekarang. Wildan juga merasa tertarik lagi kepada Altesa.
Sepertinya Wildan menpertimbangkan ucapan Azka barusan. Tetapi tidak bagi Altesa. Perempuan itu memanfaatkan kelengahan Wildan untuk pergi. Dia masuk ke mobil milik Stevan.
Sadar Altesa sudah beranjak dari hadapan, Wildan lantas menyusul. Langkahnya harus terhenti saat Stevan muncul dari belakang. Pria itu langsung memberikan tinju balasan ke wajah Wildan.
Kini Wildan yang terjatuh. Ia terduduk di tanah sambil meringis kesakitan.
"Untuk urusan di antara kita berdua sudah sepadan. Tapi tidak untuk urusan Altesa. Kau harus membayar kesalahanmu, Wildan. Dasar lelaki licik!" cerca Stevan. Dia segera masuk ke mobil. Meninggalkan Wildan yang jatuh terduduk di tanah.
Sandi yang baru saja menyaksikan keadaan Wildan, bergegas membantu. Bersamaan dengan itu, Erma datang. Dia diserang rasa cemas tatkala melihat wajah Wildan yang lebam.
"Mas Wildan!" pekik Erma seraya berlari kecil. Dia memeriksa keadaan Wildan. Erma merasa sangat khawatir. "Apa yang terjadi, Mas?" tanya-nya.
"Altesa! Dia merebut Azka dari kita..." ungkap Wildan sembari menahan rasa sakit.
"Kalau kau sudah tahu sejak awal, kenapa tidak mencoba meyakinkanku lebih keras, hah?! Jujur saja, kau itu adalah istri yang tidak berguna! Aku menyesal menikahimu! Kau bahkan tidak bisa melahirkan anak!" Wildan malah mencaci Erma habis-habisan. Apa yang dikatakannya membuat Erma sakit hati.
"Ma-mas bilang a-apa?" gagap Erma. Dia masih tidak percaya Wildan tega berkata begitu kepadanya.
"Lakukanlah apa yang kau mau! Sekarang aku ingin bicara dengan pengacaraku!" Wildan pergi begitu saja. Meninggalkan Erma tanpa adanya jawaban.
Air mata membanjiri wajah Erma. Dua kakinya melemah. Erma akhirnya terduduk di tanah. Menangis dengan tersedu-sedu.
...***...
Stevan mengantarkan Altesa ke apartemen. Dia menggendong Azka yang tidak sengaja tertidur di jalan. Sepertinya anak itu kelelahan dengan apa yang sudah terjadi seharian.
Azka direbahkan ke atas ranjang. Ia sekarang dapat tidur dengan nyaman.
__ADS_1
"Aku tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih. Kau sudah banyak membantuku. Biarkan aku mengobati lebam diwajahmu," tutur Altesa.
"Tidak perlu. Aku bisa mengurus--"
"Kali ini aku tidak akan mengalah. Wajah tampanmu jadi ternodai karena kau terlibat dengan masalahku," potong Altesa. Ia mengajak Stevan duduk ke sofa. Kemudian mengambil handuk dan wadah yang di isi air es.
Altesa mengobati lebam di wajah Stevan pelan-pelan. Sekali-kali dia akan tersenyum lembut. Menyebabkan jantung Stevan jadi berdebar tidak karuan.
Stevan selalu terpesona dengan kecantikan alami yang dimiliki Altesa. Baginya Altesa adalah definisi perempuan idaman yang selama ini dicari-carinya. Terutama ketika Stevan mengetahui betapa penyayangnya Altesa terhadap anak sendiri.
Keterpakuan Stevan pudar, tatkala pintu mendadak terbuka. Dari sana muncul Revan yang terlihat sangat panik.
"Kebakaran! Mana kebakaran?!" seru Revan. Dia heboh sendiri.
Kening Altesa sontak mengernyit. Memandang heran lelaki berbadan tegak serta memiliki rambut gondrong tersebut.
Berbeda dengan Altesa, Stevan justru tertawa pecah saat melihat aksi Revan. Dia bahkan tergelak sambil memegangi perut.
Menyaksikan sang kakak tertawa, Revan langsung cemberut. Namun kekesalannya berubah jadi khawatir ketika melihat lebam di wajah Stevan.
"Wajahmu kenapa, Stev?" tanya Revan. Tetapi Stevan masih tenggelam dalam tawa.
"Dia tadi berkelahi dengan suamiku." Altesa menjawabkan pertanyaan Revan.
"Jadi Stevan begitu gara-garamu?" timpal Revan. Menatap tajam Altesa.
Stevan berhenti tergelak. Dia segera menenangkan sang adik. "Aku tidak apa-apa. Lebam seperti ini akan sembuh dalam waktu cepat. Toh Altesa tadi sudah mengobatiku," ucapnya.
Revan mendengus kasar. Dia memutuskan mengalah. Mengetahui kalau Stevan memang sedang berusaha mendekati Altesa.
"Jadi apa maksudmu dengan memberitahukan kalau apartemen ini terbakar?" tukas Revan. Stevan nampaknya sengaja menipu Revan agar sang adik mau datang ke apartemen Altesa.
"Itu satu-satunya jalan agar kau mau ke sini. Altesa katanya butuh bantuanmu," jawab Stevan.
__ADS_1
"Lagi?" Revan melirik sinis Altesa. Perempuan itu merespon dengan senyuman kecut.
"Aku pastikan ini yang terakhir. Setelah ini aku tidak akan mengusikmu lagi." Altesa memohon. Senyuman kecutnya segera dirubah menjadi senyuman simpul.