Kembalinya Istri Pertama

Kembalinya Istri Pertama
Bab 32 - Nekat


__ADS_3

...༻⌘༺...


Stevan muncul dari balik pintu. Ia membawakan minuman serta camilan lezat untuk Altesa dan Azka. Menyaksikan kedatangan lelaki yang bekerja sebagai dokter itu, Altesa jadi terpikirkan tentang Revan. Dia merasa Stevan pasti bisa membujuk Revan untuk membantu masalahnya.


"Stevan, bisakah kita bicara sebentar?" imbuh Altesa seraya berdiri. Dia berjalan ke hadapan Stevan. Membiarkan Azka menikmati minuman serta camilan yang tersedia.


"Ada apa?" tanya Stevan.


"Aku ingin miminta bantuanmu untuk membujuk Revan. Aku butuh bantuannya agar bisa menanyakan seseorang yang sepertinya dekat dengan Wildan," terang Altesa serius.


"Membujuk Revan? Tentu saja bisa. Itu adalah keahlianku. Serahkan saja kepadaku. Tapi... kenapa harus Revan?" Stevan mengakhiri ucapannya dengan pertanyaan. Sebagai lelaki yang menyukai Altesa, dia tentu penasaran.


"Karena Revan bekerja di perusahaan Wildan. Dia juga tidak tahu kalau aku sudah berteman dengan Wildan." Altesa menjawab dengan tenang.


"Ah, begitu. Tugas itu memang cocok dengan Revan." Stevan mendengus lega. Dia perlahan mendekatkan mulut ke telinga Altesa. Lalu berbisik, "Kebetulan juga Wildan tidak tahu kalau aku dan Revan kakak beradik."


"Tentu saja. Aku yakin banyak sekali orang yang tidak bisa menduga," komentar Altesa. Dia tergelak kecil bersama Stevan.


Tak lama kemudian, Stevan mendapat panggilan dari rekan kerjanya. Dia pergi sebentar. Saat itulah Altesa terpikirkan tentang nasib Azka. Dia bingung apakah harus mengantarkan anak itu kembali ke rumah Wildan, atau membawanya pulang ke apartemen.


Altesa sadar, sekarang adalah kesempatan bagus untuk merebut Azka. Selain itu, dia tidak bisa terus-menerus lari dari Wildan. Mengingat dirinya perlu bekerja agar bisa mendapat uang.


Akibat diserang rasa bingung, Altesa akhirnya menghubungi Gavin. Menanyakan kemungkinan dampak buruk yang akan terjadi jika dia nekat membawa Azka.


"Sebenarnya tidak apa-apa, Al. Kau juga sedang berniat mengurus perceraian bukan? Mungkin sudah waktunya kau menggugat cerai Wildan. Lalu mengurus perihal hak asuh. Jika Azka sudah ada dipihakmu, maka aku pastikan semuanya akan berjalan dengan mudah," jelas Gavin dari seberang telepon.


Altesa menghembuskan nafas melalui mulut. Hal paling penting baginya memang adalah Azka. Meski dia juga terpikir untuk mengambil kembali harta warisan milik keluarganya dari Wildan, Altesa merasa harus mengutamakan Azka terlebih dahulu.


"Baiklah. Aku akan mengurus perceraian. Kebersamaanku dengan Azka adalah yang terpenting," jawab Altesa sembari menggenggam tangan Azka. Pembicaraannya dan Gavin berakhir.

__ADS_1


"Bunda, aku ingin tinggal sama Bunda. Tapi semua pakaianku ada di rumah Papah," imbuh Azka dengan wajah polosnya.


Altesa terdiam sejenak. Dia berniat akan mengambil pakaian Azka bersama Rika.


"Apa aku akan ikut?" tanya Azka.


"Iya, Azka juga akan ikut. Pokoknya saat sudah ada di sana, Azka nggak boleh lepasin tangan Bunda ya?" sahut Altesa.


"Iya, Bunda." Azka mengangguk patuh.


Altesa segera menghubungi Rika melalui telepon. Tetapi sahabatnya itu kebetulan sedang sibuk. Dia hanya punya waktu luang besok hari. Altesa jadi bingung harus pergi dengan siapa.


"Kenapa, Al?" Stevan baru saja datang. Dia langsung bertanya saat melihat kegelisahan di wajah Altesa.


"Aku hanya bingung. Aku ingin mengambil pakaian Azka ke rumah Wildan. Tapi aku takut pergi ke sana kalau hanya berduaan dengan Azka," ungkap Altesa.


"Kalau begitu, biarkan aku menemanimu." Belum mendapat persetujuan Altesa, Stevan terlihat sudah melepas jas putihnya. Dia bersiap ingin pergi.


"Sudahlah, Al. Lagi pula sekarang adalah jam istirahatku. Operasi penting sudah kuselesaikan hari ini." Stevan memaksa.


"Ya sudah kalau begitu. Ditemani oleh lelaki memang lebih baik. Tapi aku mohon tahan emosimu. Sikap Wildan mungkin akan memancing amarahmu."


"Tenang saja. Aku bisa mengatasi orang seperti Wildan." Stevan sepenugnya sudah siap. Dia, Altesa, dan Azka segera pergi menuju rumah Wildan.


Tanpa sepengetahuan Altesa, ponsel Stevan bergetar. Di sana ada panggilan masuk dari pasien VIP-nya. Harusnya Stevan melakukan temu janji pada dua puluh menit ke depan. Namun demi Altesa, dia melewatkan jadwal tersebut.


...***...


Mobil berhenti dengan pelan. Altesa, Azka, dan Stevan sudah sampai. Altesa dan Azka langsung berpegangan tangan dengan erat. Bersiap menghadapi kemarahan Wildan atau pun Erma.

__ADS_1


"Jalan saja, aku berada dipihakmu, Al..." cetus Stevan. Mencoba memberikan energi positif.


Altesa mengangguk. Dia dan Azka segera memasuki rumah Wildan.


Baik Wildan dan Erma, keberadaan keduanya sama sekali tidak terlihat. Jadi langkah Altesa dan Azka tidak terganggu. Mereka segera mengambil pakaian yang ada di dalam lemari.


Stevan ikut andil membantu Altesa menyusun pakaian Azka. Keduanya bekerjasama sangat baik. Terutama saat memasukkan pakaian ke dalam koper.


Dari halaman depan sebuah mobil baru saja datang. Sosok Wildan keluar dari mobil tersebut. Dahinya berkerut tatkala menyaksikan mobil asing yang terparkir di depan rumahnya.


"Mana Altesa?" tanya Wildan kepada satpam yang menjaga rumahnya.


"Di dalam rumah, Tuan..." jawab Sandi.


Wildan buru-buru masuk ke dalam rumah. Mencari Altesa ke berbagai ruangan. Hingga akhirnya dia menemukan istri pertamanya itu ada di kamar Azka.


Pupil mata Wildan membesar karena melihat kedekatan Altesa dan Stevan. Dia melangkah cepat dengan rahang yang mengerat kuat.


"Apa-apaan ini, Al?! Kenapa kau mengajak dia ke sini?!" timpal Wildan. Dalam keadaan mata yang melotot tajam.


"Stevan bukan orang asing! Dia adalah orang yang selalu merawatku saat koma. Pekerjaannya lebih telaten dari pada orang yang memegang status sebagai suamiku," sahut Altesa sinis. Dia memutuskan untuk mengakhiri sandiwara. Saatnya Altesa kembali melakukan perlawanan.


"Papah pembohong! Papah bilang Bunda pergi dengan keluarga lain! Tapi ternyata Bunda ada di rumah sakit! Azka benci Papah!" Azka yang baru sadar dengan kedatangan Wildan, langsung menimpali. Wajahnya memerah padam karena merasa sangat kesal.


Wildan tercengang. Dia segera mendelik ke arah Altesa. Sekarang lelaki itu paham dengan tujuan Altesa sejak awal.


Wildan merasa tertipu. Ia menghampiri Altesa. Mengangkat satu tangannya karena ingin melayangkan sebuah tamparan.


Kala tangan Wildan nyaris mengenai pipi Altesa, saat itulah Stevan sigap menghentikan. Dia berdiri tepat di hadapan Altesa. Melindungi perempuan tersebut dari Wildan.

__ADS_1


"Jika kau mau menyakitinya, hadapi aku dulu!" ujar Stevan.


__ADS_2