Kembalinya Istri Pertama

Kembalinya Istri Pertama
Bab 36 - Sesama Penyuka Seni [Bonus Visual]


__ADS_3

...༻⌘༺...


Altesa mencoba meraih tangan Azka. Namun Wildan enggan melepaskan. Hingga Altesa terpaksa meraih tangan Azka yang satunya. Kini dua tangan anak itu dipegang oleh ayah dan ibunya masing-masing.


"Ini kan yang Azka mau?" cetus Wildan dengan senyuman tipis. Namun justru membuat Altesa dibuat semakin geram.


"Azka! Kita harus pergi." Altesa memaksa Wildan melepas genggaman tangan dari Azka.


"Kenapa, Bunda? Papah sudah minta maaf dan berjanji akan meninggalkan Tante Erma," ujar Azka.


"Sayang... kamu harus dengarin Bunda. Kita harus pulang sekarang," pinta Altesa. Dia bicara baik-baik agar Azka menurut.


Azka akhirnya mengangguk. Dua tangannya segera terpaut ke tangan Altesa.


"Naiklah ke mobil. Aku akan mengantar kalian pulang," tawar Wildan. Akan tetapi Altesa sama sekali tidak menggubris. Dia pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa. Hanya Azka yang tampak menoleh ke arah Wildan.


"Besok kita akan bertemu lagi, Azka..." Wildan melambaikan tangan kepada Azka. Anak itu lantas membalas dengan lambaian tangan.


Altesa benar-benar dibuat gelisah terhadap sikap Wildan. Dia tentu merasa sangat terganggu. Apalagi lelaki itu sudah berhasil mempengaruhi Azka lagi.


'Aku harus cepat-cepat menggugat cerai Wildan. Aku sudah tidak tahan!' batin Altesa. Ia segera menghubungi Gavin dan meminta agar surat gugatan cerai secepatnya bisa dibuat.


Di sisi lain, Revan sedang mempersiapkan diri untuk pergi ke sebuah acara hiburan besar. Kebetulan sekali Beno tengah sakit. Hal itu membuat Revan panik. Sebab dia benci berurusan dengan orang baru. Sejak menjadi aktor, Beno memang selalu membantunya dalam urusan berpakaian.


"Kau tidak bisa meluangkan waktu sebentar untuk membantuku?" timpal Revan dengan raut wajah memasam. Ia berjalan bolak-balik tidak karuan.


"Tidak bisa. Bagaimana aku kirimkan seseorang untuk membantumu," sahut Beno dari seberang telepon. Nada suaranya memang terdengar parau. Membuktikan bahwa dirinya benar-benar sakit.


"Bisa saja. Kirimkan Leny untuk membantu--"


"Leny belum kembali dari cuti," potong Beno.


"Apa? Lama sekali!"


"Bagaimana kalau Fitri. Dia--"


"Tidak! Dia anak baru. Aku tidak suka!" kali ini Revan yang memotong pembicaraan Beno.


"Ya sudah, kalau begitu cari saja orang lain. Kau itu selalu banyak maunya," balas Beno menggerutu.


"Em... kirimkan saja Kak Al untuk membantuku," ujar Revan. Dia tidak bisa memikirkan orang lain selain Altesa. Revan memang tidak bisa menampik kalau keahlian perempuan itu sesuai dengan seleranya.


"Kak Al?" Beno bingung. Sebab Revan memang baru saja merubah panggilannya terhadap Altesa.

__ADS_1


"Ma-maksudku Altesa. Temanmu," jelas Revan tergagap.


"Bwhahaha! Sejak kapan kau memanggil Altesa dengan sebutan Kakak? Itu benar-benar bukan gayamu."


"Cepat suruh dia ke sini! Aku nanti terlambat." Karena merasa malu, Revan langsung mengakhiri panggilan telepon lebih dulu. "Ini gara-gara Kak Stev!" keluhnya.


Selang sekian menit, Altesa datang ke rumah Revan. Dia membawa Azka ikut bersamanya.


"Kau kenapa membawa anakmu ikut?" tanya Revan dengan dahi yang berkerut.


"Karena aku tidak bisa meninggalkannya sendirian di apartemen. Lagi pula Azka anak yang pintar. Dia juga pernah beberapa kali datang ke rumah ini," jawab Altesa sembari mengulurkan dua tangan ke depan. Dia segera membuka tas berisi pakaian yang sudah disiapkan Beno. Yaitu pakaian rapi berupa jas dan tuxedo.


Altesa menenteng pakaian yang dibawanya ke hadapan Revan. "Kau akan semakin tampan kalau memotong rambut panjangmu itu," komentarnya.


"Big no!" Revan langsung menolak. Sebagai orang yang bergelut dibidang seni, rambut gondrong adalah sesuatu hal yang keren baginya.


"Terserah apa katamu." Altesa mengalah. Dia mempersilahkan Revan mengenakan pakaian terlebih dahulu. "Aku mau ke toilet sebentar," ujarnya lagi.


Saat Revan hendak masuk ke kamar, atensinya tiba-tiba teralih ke arah Azka. Anak itu terlihat berdiri menatap lukisan yang tergantung di dinding.


Revan mengernyitkan kening. Dia berjalan mendekati Azka. Baru kali ini ada seseorang yang tertarik dengan lukisan buatannya sendiri. "Ada apa? Tertarik dengan lukisanku?"


"Apa Om yang membuat lukisan ini?" tanya Azka dengan mata yang berbinar-binar. Dia sepertinya mengagumi lukisan yang dibuat Revan.


"Lukisannya memang bagus," puji Azka.


Revan otomatis melebarkan senyuman. Perlahan dia mengusap puncak kepala Azka.


"Ada apa ini? Aku kira kau tidak suka dengan anak-anak," tegur Altesa yang baru keluar dari kamar mandi.


"Lukisan ini katanya dibuat sama Om ini! Bagus ya, Bunda!" cetus Azka sembari melebarkan kelopak matanya.


"Aku pikir aku akan menyukai anakmu," celetuk Revan.


Altesa tersenyum tipis. "Azka kebetulan juga berbakat dibidang seni. Aku pikir dia memang akan cocok denganmu," ucapnya. Lalu segera menjongkokkan badan. Menyamakan tingginya dengan Azka.


Revan terpaku menatap ibu dan anak di hadapannya. Entah kenapa atensinya tertuju ke arah Altesa yang tampak apa adanya.


'Cantik dan penuh kasih sayang,' batin Revan. Namun itu tidak berlangsung lama. Dia menyadarkan diri dengan menggeleng tegas. 'Apa yang kupikirkan? Aku tidak akan tertarik pada wanita yang sama dengan Kak Stevan,' tambahnya mencoba mengingatkan diri sendiri.


"Revan? Kenapa kau belum memakai pakaiannya?" pertanyaan Altesa membuat Revan terkesiap. Lelaki itu bergegas masuk ke dalam kamar. Wajahnya memerah bak kepiting rebus.


Altesa yang melihat menggedikkan bahu. Dia memaklumi gelagat aneh Revan.

__ADS_1


Setelah berganti pakaian, Altesa hanya perlu memberikan sentuhan make up ke wajah Revan. Pastinya make up yang cocok untuk seorang pria.


"Jangan terlalu tebal," pinta Revan datar. Jantungnya selalu berdebar tidak karuan saat Altesa merias wajahnya.


"Tentu saja. Aku sendiri bahkan tidak suka make up yang tebal," tanggap Altesa. Dia tampak terganggu dengan anak rambutnya yang terus mengenai wajah. "Tunggu sebentar. Aku mau merapikan rambut dulu," ujarnya seraya mengambil penjepit rambut dari dalam tas kecil yang dibawa.


Altesa berdiri tegak. Dia merapikan rambut dengan penjepit rambut. Pemandangan itu sekali lagi membuat Revan terhipnotis.


Tubuh Altesa yang langsing dan tinggi sukses menggetarkan jantung Revan. Dia kembali lupa diri. Revan memejamkan matanya rapat-rapat dan segera membuang muka.


"Ayo kita lanjutkan lagi," seru Altesa. Akan tetapi Revan tiba-tiba berdiri. Matanya meliar ke segala arah.


"Ka-kau sebaiknya pulang saja!" titah Revan.


"Sekarang? Tapi semuanya belum--"


"Dari sini aku bisa mengatasi semuanya sendiri." Revan sengaja menjeda ucapan Altesa.


"Padahal aku ingin membantumu semaksimal mungkin. Penampilanmu harus menarik media hiburan hari ini," ungkap Altesa yang kecewa. Dia tidak punya pilihan selain merapikan barang-barangnya.


Azka datang sambil berlari kecil. Dia membawa buku gambar serta crayon di tangannya. Azka memperlihatkan sesuatu yang baru saja digambarnya.


Altesa sudah mengulurkan tangan ke arah Azka. Dia yakin sang anak akan menyerahkan buku gambar kepadanya. Tetapi ternyata tidak. Azka justru berhenti di hadapan Revan.


"Lihat, Om!" ujar Azka. Membuat mata Altesa sontak membulat.


..._____...


...Bonus Visual...


..._____...



..._____...



..._____...



..._____...

__ADS_1



__ADS_2