Kembalinya Istri Pertama

Kembalinya Istri Pertama
Bab 44 - Potongan Rambut Revan


__ADS_3

...༻⌘༺...


Di saat orang sibuk mencari, Altesa dan Azka sebenarnya tinggal di salah satu kota yang ada di Singapura. Di sana Altesa membuka kedai makanan. Ia juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai tukang rias.


Sementara itu Azka bersekolah seperti biasa. Untung saja anak tersebut rutin menjalani les Bahasa Inggris. Jadi dia tidak kesulitan dalam berkomunikasi.


Di sisi lain, Revan sudah mengetahui dimana Altesa. Dia juga telah memberitahukan keberadaan perempuan itu pada Stevan.


Kini Revan tengah berdiri di depan cermin. Terpaku pada rambut gondrongnya. Jujur saja, kritikan Altesa tempo hari terus terngiang. Dia akhirnya memutuskan untuk memotong rambut.


Sebelum pergi ke Singapura bersama Stevan, Revan menyempatkan diri untuk datang ke salon terlebih dahulu. Dia benar-benar memangkas rambut gondrongnya. Revan memilih gaya rambut cepak.


Revan dan Stevan akan bertemu di bandara. Stevan menjadi orang pertama yang menunggu. Demi Altesa, dia harus rela cuti dari pekerjaan.


Stevan duduk dengan tenang di kursi tunggu. Ia sesekali memeriksa jam yang melingkar di tangannya.


"Kak Stev!" panggil Revan dari belakang.


Stevan langsung menoleh. Pupil matanya membesar tatkala menyaksikan penampilan baru Revan.


"Apa-apaan itu! Kau memotong rambutmu?" timpal Stevan sembari berdiri ke hadapan Revan.

__ADS_1


"Kenapa? Apa aku terlihat semakin tampan?" tanggap Revan seraya mengangkat dua alis dengan penuh percaya diri.


"Yang jelas ini lebih baik dibanding rambut gondrongmu sebelumnya. Kenapa tiba-tiba?" Stevan menyelidik.


"Emm... Kebetulan syutingku sudah selesai. Jadi aku sudah diperbolehkan memotong rambutku," terang Revan sambil menyurai rambut cepaknya dengan jari-jemari. Dia dan Stevan segera berangkat bersama. Keduanya duduk bersebelahan saat di pesawat.


"Altesa tinggal di kota mana? Apa kau tahu?" tanya Stevan.


Mata Revan membola. Sebab dia tidak tahu dimana keberadaan Altesa secara spesifik. Dia lantas menggelengkan kepala.


"Ya ampun... Itu berarti kita harus mencarinya lagi," ungkap Revan sembari mendengus kasar. Setibanya di Singapur, dia dan Revan segera mencari Altesa. Mereka menanyakan ke beberapa orang di jalanan dengan hanya bermodalkan sebuah foto.


Revan dan Stevan menghabiskan waktu hampir seharian. Itu juga terjadi di hari selanjutnya. Mencari seseorang di tempat yang luas tentu tidaklah mudah. Revan dan Stevan saling berpencar untuk melakukan pencarian.


Revan singgah ke sebuah kedai makanan. Kebetulan ada kedai makanan khas Indonesia di sana. Dia langsung memesan satu porsi.


"Tunggu sebentar ya..." pemilik kedai makanan menjawab. Ia kaget saat menyaksikan sosok Revan.


Hal serupa juga dirasakan Revan. Sebab pemilik kedai yang dilihatnya adalah Altesa. Orang yang sejak kemarin dia cari-cari bersama Revan.


"Revan?"

__ADS_1


"Kak Al?"


Altesa dan Revan saling memanggil bersamaan. Kini Altesa tak bisa lari lagi. Dia menyuruh Revan menunggu. Sementara dirinya akan memasakkan pesanan lelaki itu terlebih dahulu.


"Apa kau bercanda? Kak Al pergi diam-diam hanya untuk membuka kedai kecil ini?" tukas Revan tak percaya.


"Apa kau sekarang menghinaku?" balas Altesa sembari berkacak pinggang. Jati dirinya memang selalu keluar saat berhadapan dengan Revan.


"Tidak. Ini tidak sesuai ekspetasiku. Aku kira kau sudah sukses besar sekarang?" Revan melipat dua tangan di depan dada.


"Kau pikir mencari uang semudah itu?" sahut Altesa. Memutar bola mata sebal.


"Kau seharusnya mengambil harta warisanmu dari Wildan. Aku tidak menyangka kau merelakannya begitu saja," cetus Revan.


"Aku tidak merelakannya. Aku hanya lebih memilih bersama Azka dari pada harus terus berurusan dengan Wildan." Altesa telah menyelesaikan pesanan Revan. Dia segera menyuguhkannya kepada lelaki itu.


"Apa yang kau lakukan di sini? Dan apa yang kau lakukan dengan rambutmu? Aku pikir kau akan memanjangkan rambutmu sampai ke pantat," ujar Altesa. Terkekeh geli.


"I-ini. Aku kebetulan disuruh memotong rambut begini karena harus syuting film baru." Revan berkilah.


"Benarkah? Itu bagus. Potongan rambutmu sekarang membuatmu lebih tampan," komentar Altesa. "Apa kau datang sendiri?" tanya-nya meneruskan.

__ADS_1


"Aku..." Revan berpikir. Karena menyukai Altesa, dia terpikir untuk merahasiakan tentang Stevan.


__ADS_2