Kembalinya Istri Pertama

Kembalinya Istri Pertama
Bab 45 - Karma & Pilihan [Ending]


__ADS_3

...༻⌘༺...


Belum sempat berucap, Stevan mendadak menelepon. Revan lantas mengangkat panggilan itu. Dia akhirnya memutuskan untuk memberitahu kalau dirinya sudah menemukan Altesa.


Dalam sekejap, Stevan pergi ke tempat Revan berada. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Altesa.


"Aku dan Kak Stevan pergi ke sini bersama," ujar Revan.


"Benarkah? Memangnya ada acara apa?" tanya Altesa. Dia tidak tahu kalau tujuan kedatangan Revan dan Stevan hanya untuk mencarinya.


"Ada acara keluarga," jawab Revan. Dia sepertinya masih gengsi menunjukkan ketertarikannya.


Tak lama kemudian Stevan datang. Atensinya langsung tertuju ke arah Altesa. Dia sangat bahagia bisa menyaksikan perempuan itu lagi.


Altesa tersenyum sembari melambaikan tangan ke arah Stevan. Dia juga sebenarnya senang bisa bertemu orang yang dikenalnya. Termasuk Revan sendiri.


"Kau kemana saja? Aku dan yang lain mencarimu kemana-mana," ucap Stevan tak percaya.


"Aku hanya berusaha memulai hidup baru. Dan pastinya tanpa Wildan," jawab Altesa. Ia mempersilahkan Stevan untuk ikut bergabung. Lalu menyajikan minuman dan makanan. Altesa harus menutup kedainya untuk sementara.


Kini Altesa, Stevan, dan Revan duduk bersama. Mereka saling menikmati hidangan yang dibuatkan Altesa.


"Apa keluarga kalian ada yang tinggal di sini? Ngomong-ngomong sedang ada acara keluarga apa? Pernikahan?" celetuk Altesa. Membuat kening Stevan sontak mengernyit. Menatap heran ke arah Revan.


"Ekhem!" Revan hanya bisa berdehem sambil menundukkan kepala.


"Siapa bilang kedatangan kami untuk menghadiri acara keluarga. Kami ke sini karena memang berniat mencarimu," jelas Stevan. Berbanding terbalik dengan alasan yang diberikan Revan.


"Itu Kak Stev. Aku ke sini karena ingin mendatangi acara teman yang sudah kuanggap seperti keluarga." Revan segera angkat bicara. Entah kenapa dia masih berusaha menutupi perasaan. Revan semakin merasa tidak enak ketika Stevan ada bersamanya.


"Benarkah? Kau mencariku?" Altesa menatap penuh tanya kepada Stevan. "Kenapa?" sambungnya.


"Sepertinya aku akan membiarkan kalian bicara berdua. Aku akan berkeliling sebentar." Revan bangkit dari tempat duduk. Dia segera beranjak pergi. Merelakan Stevan dan Altesa berduaan.


"Maaf kalau aku lancang, Al. Tapi semenjak aku merawatmu di rumah sakit, aku sudah merasa tertarik kepadamu," ungkap Stevan. Dia tidak mau mengulur waktu lagi seperti sebelumnya. Selain itu, Stevan akan memanfaatkan pertemuannya dengan Altesa sebaik mungkin.

__ADS_1


"Maksudmu?" Altesa menuntut penjelasan lebih lanjut.


"Aku menyukaimu lebih dari sekedar teman," ucap Stevan. Menyebabkan mata Altesa otomatis membulat. Perempuan tersebut merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Altesa terdiam sejenak. Sungguh, apa yang terjadi pada rumah tangganya membuat dia merasa harus beristirahat. Terutama dalam hal berhubungan dengan lelaki. Altesa merasa harus memperbaiki dirinya sendiri. Ia butuh waktu lama untuk sendiri.


"Begini... Aku minta maaf sebelumnya. Aku sebenarnya belum siap menjalin hubungan dengan siapapun, Stev..." tutur Altesa. "Kau memang lelaki yang sangat baik. Aku bahkan tidak meragukan itu. Tapi aku pikir, aku akan butuh waktu yang lama untuk sendiri. Maksudku, sebagai single parent," terangnya melanjutkan.


Stevan tersenyum kecut. Dia mengangguk mengerti. "Aku mengerti dengan apa yang kau rasakan," tanggapnya.


"Iya, aku yakin juga begitu. Karena kita sama-sama mengalami kegagalan dalam berumah tangga," ujar Altesa seraya tersenyum lembut.


...***...


"Aargghh!!" Wildan menggeram kesal. Perusahaannya mengalami penurunan saham sangat drastis. Bisnisnya tidak bisa terselamatkan lagi.


Kepala Wilan tambah pusing ketika Randi mengalami stress berat. Hal itu disebabkan jatuhnya perusahaan Wiler Entertainment.


Kepergian Revan sebagai salah satu aktor terbaik, membuat beberapa selebriti lain juga mengikuti jejaknya. Sehingga Wiler Entertainment hanya memiliki beberapa selebriti yang kurang terkenal. Tawaran kerjasama dari luar bahkan sangat sepi.


Kini Wildan menemui Randi. Dia menikmati segelas minuman alkohol. Mengamati Randi yang duduk tersandar dengan wajah frustasi.


"Jangan pernah coba-coba berpikir begitu!" timpal Wildan dalam keadaan mata menyalang. Dia mencengkeram erat kerah baju Randi.


"Aku akan memberitahu semuanya kepada polisi. Aku juga akan beritahu mereka kalau kau adalah dalang dibalik semuanya. Karena kau Ivan mati dan disalahkan seluruh dunia!!!" ujar Randi. Matanya bergetar.


"Kurang ajar!" Wildan yang kesal, melempar Randi secara acak. Temannya itu terhuyung dan jatuh ke meja kaca.


Prang!


Suara pecahan kaca terdengar lantang. Kepala Randi tergores beberapa serpihan kaca tersebut. Darah segar lantas keluar dari lukanya.


"A-aku tetap tidak menyerah, Wildan..." kata Randi sembari perlahan berdiri. Dia segera berlari menuju pintu. Randi nampaknya benar-benar berniat memberitahu semua kedok Wildan kepada semua orang.


Wildan tentu tidak membiarkan. Sebelum menghentikan Randi, dia menghabiskan alkoholnya terlebih dahulu. Lalu mengejar Randi.

__ADS_1


Tidak tanggung-tanggung. Wildan melayangkan gelas bir yang kosong ke kepala Randi. Temannya tersebut sontak terjatuh lagi.


Randi yang telah lemah tersungkur ke lantai. Ternyata serangan Wildan masih berlanjut. Dia terus dipukuli dengan gelas dibagian kepala.


Sekarang kepala Randi mengeluarkan darah yang amat banyak. Cairan merah itu bahkan bercipratan kemana-mana.


Masalah yang dihadapi, membuat Wildan hilang kendali. Belum lagi keadaan mabuk yang sedang dirasakannya. Tanpa sadar, Wildan membunuh Randi dengan tangannya sendiri.


Ketika Randi terpejam, barulah Wildan sadar kalau dirinya bersikap diluar kendali. Tubuh lelaki itu jadi gemetaran. Dia mencoba membangunkan Randi. Akan tetapi temannya tersebut sudah tak berdaya.


Kini hanya penyesalan yang dirasakan Wildan. Dia bergegas membawa Randi ke rumah sakit.


Di sisi lain, Stevan dan Revan sedang ada di bandara. Stevan tampak duduk dalam keadaan termangu. Bagaimana tidak? Dia baru saja mendapat penolakan dari Altesa.


"Sudahlah Kak Stev. Kau masih punya kesempatan. Kak Al mungkin sedikit trauma dengan apa yang menimpanya." Revan mencoba menenangkan Stevan. Walau juga menyukai Altesa, entah kenapa dia merasa sedih menyaksikan sang kakak sakit hati.


"Kau benar. Aku tidak boleh menyerah. Setiap liburan nanti, aku akan tetap menemui Altesa." Stevan akhirnya tersenyum. Ucapan Revan berhasil membuatnya bangkit.


Revan mengangguk sambil mengembangkan senyum. Ia saling berangkulan dengan Stevan.


Mulai saat itu, Revan bertekad akan mengalah. Dia akan membiarkan Stevan mendekati Altesa. Sementara dirinya akan berusaha menjauh sebisa mungkin.


'Mungkin inilah saatnya aku menjadi pahlawan super untuk Kak Stev,' batin Revan. Dia dan Stevan kembali terbang ke Indonesia. Di pesawat mereka menerima kabar kalau Wildan ditangkap polisi.


Selain dituduh sudah menbunuh Randi, Wildan juga diketahui menjadi otak dibalik kecelakaan beruntun yang terjadi dua tahun lalu.


Sama seperti Revan dan Stevan, Altesa juga baru saja menerima kabar mengenai nasib Wildan. Sekarang dia duduk sendirian di sebuah bangku taman.


Altesa menghela nafas panjang. Cairan bening perlahan bercucuran dari sudut matanya. Dia merasa benar-benar lega.


"Terima kasih, Tuhan... Aku yakin cepat atau lambat, orang yang bersalah akan mendapatkan karma..." gumam Altesa sembari memejamkan mata. Seolah berinteraksi dengan Tuhannya.


Beberapa saat kemudian, Altesa mendapatkan telepon dari pengacaranya. Dia mendapatkan kabar kalau Wildan akan menyerahkan kembali harta warisan Altesa. Namun tangisannya malah semakin menjadi-jadi. Bagi Altesa, air matanya sekarang adalah tangisan rasa syukur.


...TAMAT...

__ADS_1


Catatan Author :


Halo guys, kita sudah sampai di akhir cerita. Pokoknya aku ucapkan maaf dan terima kasih buat readers yang sudah setia sampai sini... Love you 😘


__ADS_2