
...༻⌘༺...
"Mas tidak akan bisa tidur di sini. Lihat tempat tidurnya kecil." Altesa memberi alasan sambil mengarahkan jari telunjuk ke ranjang. Kebetulan tempat tidur tersebut memang jenis yang dikhususkan untuk satu orang.
"Bukankah itu lebih baik. Mungkin tempat yang sempit bisa membuat hubungan kita tambah damai. Itu yang kau mau kan?" Wildan berhenti melangkah. Dua tangannya masuk ke saku celana. Menunggu tanggapan Altesa selanjutnya.
"Masalah tentang itu. Aku sebenarnya tidak mau tergesak-gesak. Apalagi sampai memaksa," ucap Altesa dengan senyuman kecut.
"Kau tidak memaksa. Lagi pula aku tidak mau menolak niat baikmu. Terlebih pilihanmu itu juga berdasarkan atas saran dariku."
Altesa tertegun. Wildan nampaknya serius ingin tidur bersama. Semua alasan sudah Altesa berikan, namun tidak ada satu pun yang mempan.
"Ya sudah, Mas bisa tidur di sini. Biar aku tidur di sofa saja". Altesa berupaya keras menolak. Dia segera berjalan menuju pintu keluar.
"Tidak! Aku tak akan bisa tidur kalau kau tidak bersamaku." Wildan mencekal pergelangan tangan Altesa.
"Jangan begitu, Mas. Aku tidak mau membuat Kak Erma marah," tolak Altesa sembari melepas tangan Wildan secara perlahan.
"Dia tidak akan marah kalau tidak tahu," ujar Wildan. Semakin tidak tahu diri.
Altesa benar-benar dibuat geram terhadap sikap Wildan yang tak tahu malu. Ia hanya mengatup mulutnya rapat-rapat. Sikap Wildan justru membuat Altesa semakin jijik. Meskipun begitu, perempuan tersebut memilih bersabar. Semuanya demi Azka dan hak yang ingin diambilnya kembali.
Wildan dan Altesa saling membisu. Saat itulah Wildan mengambil kesempatan untuk bisa bergerak lebih dekat. Dia berseringai sembari menyampirkan rambut Altesa yang terurai ke samping. Lalu perlahan mendekat ke leher Altesa.
Berbeda dengan pikiran Wildan yang mesum, Altesa justru memikirkan alasan kuat untuk menolak Wildan. Dia sempat membeku di seperkian detik.
Ketika Wildan nyaris menenggelamkan wajah ke ceruk leher, barulah Altesa berucap, "Maaf, Mas. Aku tidak bisa. Aku hanya akan tidur denganmu kalau Kak Erma mengizinkan. Itulah yang namanya perdamaian bagiku. Walau kita berniat hanya tidur, tapi tetap saja akan menimbulkan kesalahpahaman."
Altesa mencoba beranjak lagi. Wildan lantas membiarkan. Lelaki itu terdiam sambil menyiratkan tatapan menyelidik.
Kali ini Altesa yang menyeringai. Dia senang bisa pergi dari hadapan Wildan.
__ADS_1
"Baiklah kalau itu maumu. Aku akan membantumu dekat dengan Erma," cetus Wildan. Membuat langkah kaki Altesa sontak terhenti. "Tapi setelah mendapat izin dari Erma, biarkan aku tidur denganmu. Maksud tidur di sini bukan hanya sekedar tidur. Aku yakin kau mengerti," sambungnya.
Altesa mendengus kasar. Kemudian memutar tubuh menghadap Wildan. "Bisakah kehidupan rumah tangga berjalan dengan cara begitu? Itu terdengar keterlaluan bagiku."
"Lebih keterlaluan jika aku sama sekali tidak menyentuhmu. Kau masih istriku, Al. Itulah alasan kau bisa tinggal di sini," sahut Wildan seraya mengangkat dua tangan ke udara. Ia melayangkan tatapan penuh curiganya lagi.
"Kenapa? Apa kau tidak mau? Jangan-jangan apa yang aku lakukan sekarang, tidak sesuai dengan rencanamu," tukas Wildan. Membuat mata Altesa membulat sempurna.
"Tidak! Aku hanya merasa aneh saja. Baiklah... kita akan tidur bersama jika Kak Erma mengizinkan." Altesa membantah. Dia tidak punya pilihan lain selain menerima kesepakatan dari Wildan. Suaminya itu lantas tersenyum lebar.
"Aku mau ke kamar mandi." Altesa yang kesal, buru-buru menjauh. Dia ingin meledakkan amarah di tempat tersembunyi. Pergi ke kamar mandi adalah satu-satunya jalan untuk menghindari Wildan.
Selepas Altesa pergi, Wildan mengerutkan dahi. Karena sikap Altesa yang aneh, rasa curiganya kian bertambah.
"Kita lihat. Apakah kau benar-benar mau tidur bersamaku nanti," gumam Wildan. Malam itu, dia memutuskan kembali tidur bersama Erma.
Di kamar mandi, Altesa membasuh wajahnya berulang kali. Dia menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkan lewat mulut.
"Aku harus secepatnya belajar bela diri. Aku tidak hanya akan membawa Wildan ke penjara. Tapi juga memukulinya sampai puas." Altesa membentuk bogem di salah satu tangan. Meringiskan wajah penuh akan tekad.
Puas marah-marah sendiri, Altesa kembali ke kamar. Dia lega tidak melihat keberadaan Wildan. Kini Altesa dapat tidur dengan tenang.
Satu malam terlewat. Di pagi yang cerah, semua orang bergabung di meja makan. Menikmati sajian sarapan yang telah dibuat oleh Altesa.
"Azka mau tambah?" tawar Altesa lembut. Akan tetapi Azka tidak menghiraukan. Anak itu terus memasang mimik wajah cemberut.
Erma yang melihat, merasa senang. Dia segera memberi pertanyaan yang sama kepada Azka. Seakan sengaja ingin membuat Altesa tersudut.
"Aku mau selai cokelatnya, Bunda." Azka langsung menjawab. Dia bahkan tersenyum saat Erma mengusap puncak kepalanya.
Kening Altesa mengerucut. Kepalanya perlahan tertunduk. Dia jadi tidak berminat lagi untuk melanjutkan sarapan.
__ADS_1
Menyadari ada sedikit ketegangan, Wildan berpikir sejenak. Ia ingin menemukan cara bagaimana Altesa dan Erma bisa lebih dekat. Hingga terlintas sebuah ide dalam benaknya.
"Al, apa hari ini kau akan bekerja?" tanya Wildan. Kini seluruh pasang mata tertuju kepadanya. Tatapan heran tentu dipancarkan oleh Erma dan Azka. Terutama ketika Wildan bicara sambil menampakkan ekspresi tenang.
"Khusus pagi ini tidak. Tapi kalau nanti sore, aku--"
"Kalau begitu bersiaplah. Kau dan Erma akan pergi shopping bersama," potong Wildan.
Pupil mata Altesa membesar. Hal serupa juga dilakukan Erma. Bagaimana tidak? Wildan dengan santainya memberi usul begitu, sementara hubungan Erma dan Altesa belum membaik.
"Mas! Apa maksudmu?" Erma menuntut jawaban.
"Kau juga harus bersiap, sayang." Jawaban Wildan sama sekali tidak menyambung pertanyaan Erma.
"Tapi..." Erma kembali hendak bicara, namun urung saat Wildan mendadak berdiri. Lelaki tersebut mengajaknya bicara empat mata ke ruangan lain.
Wildan dan Erma bicara di teras belakang. Dimana tidak ada seorang pun dapat mendengar pembicaraan keduanya.
"Apa yang Mas lakukan?! Aku nggak mau pergi bareng sama wanita itu!" protes Erma sebal.
"Sayang... aku hanya ingin kau memastikan niat Altesa yang sebenarnya. Aku melakukan ini karena belum mempercayainya," tutur Wildan.
Erma terdiam. Dia menggerakkan bola mata ke kanan dan kiri. Berusaha membuat keputusan yang tepat.
"Semakin cepat kita tahu rencana Altesa, maka akan tambah cepat pula kita membuat rencana tepat untuk menyingkirkannya. Kalau kau memang membencinya, setidaknya berpura-pura baik saja. Bagaimana?" Wildan mencoba meyakinkan Erma untuk yang kesekian kalinya.
Erma menghela nafas panjang. Dia menatap serius Wildan. Sampai kepalanya bergerak untuk mengangguk satu kali.
"Kau benar. Kita tidak bisa langsung mempercayai Altesa. Aku sangat yakin dia sedang merencanakan sesuatu." Erma akhirnya setuju menjalani bagian rencana Wildan.
"Kau harus buktikan itu, sayang... pergilah dengan Altesa." Wildan memegangi pundak Erma. Senyuman simpul mengembang diwajahnya.
__ADS_1