
...༻⌘༺...
Wildan menjadi orang yang bertugas mengantar Azka ke sekolah. Sedangkan Altesa akan pergi shopping bersama Erma. Sekarang kedua istri Wildan itu tengah dalam perjalanan. Mereka duduk bersebelahan di kursi belakang.
"Aku akan biarkan Kak Erma saja yang belanja. Tidak perlu mengkhawatirkanku," celetuk Altesa. Memulai pembicaraan lebih dulu. Kebetulan semenjak mobil berjalan, dia dan Erma belum sedikit pun bicara.
Erma memutar bola mata sebal. Walaupun begitu, dia memaksakan diri untuk tersenyum tenang. Erma berniat melakukan rencana yang disarankan Wildan.
"Jangan begitu. Wildan menyuruh kita shopping berdua. Itu berarti kau juga harus belanja," sahut Erma.
"Apakah benar tidak apa-apa? Kak Erma tidak akan marah kepadaku?" Altesa memastikan seraya menunjuk ke dadanya sendiri.
"Tidak. Aku ingin memberi kesempatan kepadamu," ungkap Erma. Semua ucapannya tentu adalah kebohongan.
Altesa tersenyum kecut. Dia merasa ada sesuatu yang aneh. Altesa berpikir Erma sedang berpura-pura baik. Ia yakin wanita itu pasti memiliki niat tersembunyi.
'Sepertinya Wildan dan Erma sekongkol ingin mendekatiku. Semuanya terasa begitu tiba-tiba. Mulai sekarang aku harus lebih hati-hati. Mereka pastinya tidak sebodoh yang kukira,' batin Altesa menduga.
Selang sekian menit, Erma dan Altesa tiba di mall. Keduanya berjalan bersama dengan jarak yang agak jauh. Mereka memasuki sebuah toko pakaian yang dipenuhi produk branded mahal dan trendi.
"Pilihlah baju yang kau inginkan, Al..." saran Erma.
"Iya, terima kasih." Altesa membalas sambil tersenyum. Ia mengambil salah satu dress yang terpajang. Lalu berjalan menghampiri Erma. Memperhatikan jenis pakaian yang sesuai selera wanita itu.
"Ngomong-ngomong Kak Erma nggak kerja?" tanya Altesa. Dia berusaha mencari topik pembicaraan agar hubungannya bisa lebih dekat.
"Enggak. Mas Wildan menyarankanku di rumah saja," jawab Erma. Ia tertunduk sejenak. Seolah ada sesuatu yang mengganggu. Dan Altesa dapat membaca raut wajah itu.
"Benarkah? Tapi aku yakin, keinginan Kak Erma yang sebenarnya adalah tidak mau sekedar menjadi ibu rumah tangga. Aku tahu semua perempuan merasakannya." Perkataan Altesa membuat Erma langsung menoleh.
"Apa dulu Wildan juga tidak membolehkanmu bekerja?" tanya Erma. Dia menangggapi obrolannya dan Altesa dengan serius.
"Tidak. Dia membolehkanku bekerja." Altesa mengedikkan bahunya.
"Benarkah?" Erma merasa tak percaya.
__ADS_1
"Kak Erma lulusan sarjana apa sih?" Altesa terus melanjutkan sesi bicaranya dengan Erma. Ia ingin semuanya mengalir secara alami.
"Ekonomi Manajemen." Nada bicara Erma mulai mengalun. Tanpa sadar, dia bahkan mengembangkan sedikit senyuman pada Altesa.
"Kak Erma bisa bicara baik-baik sama Mas Wildan. Dia pasti akan mengizinkan."
"Mas Wildan tidak pernah mendengarkanku."
"Pasti dia selalu berhasil membuatmu tunduk kan. Aku tidak tahu mantra apa yang dimiliki Mas Wildan. Tapi apapun perkataannya, dia selalu berhasil dibenarkan oleh hatiku."
"Ya, itu masksudku." Erma setuju dengan pendapat Altesa. Kini dia benar-benar melupakan rencana utamanya dengan Wildan. Bagi Erma, sikap Altesa ternyata tidak seperti yang dirinya kira.
"Aku juga istri Mas Wildan. Tentu aku tahu bagaimana sikap lelaki itu." Altesa berucap sembari memilih salah satu pakaian. Kemudian menentengnya ke depan badan Erma.
"Lihat! Gaun ini sangat cocok untuk Kak Erma," kata Altesa lagi.
Erma sontak mengambil pakaian yang tadi dipegang Altesa. Kemudian memperhatikannya baik-baik. Kelopak matanya melebar, kala pakaian yang dipilih Altesa sesuai dengan seleranya.
"Ini memang bagus!" seru Erma antusias. Dia reflek kembali menoleh kepada Altesa.
"Sepertinya kita punya selera yang sama," tanggap Altesa.
'Dia ternyata menyenangkan juga,' batin Erma.
Melihat Erma mulai terbawa arus suasana, Altesa ikut terkekeh kecil. Dia berharap segalanya dapat berjalan mulus meski harus dilakukan secara bertahap.
"Bagaimana kalau setelah ini kita pergi ke salon. Lagi pula jam pulang Azka masih lama," ajak Erma.
Altesa tertegun. Tak lama kemudian, dia langsung mengangguk. Altesa tidak akan membuang peluang untuk bisa lebih dekat dengan Erma.
...***...
Kini Altesa dan Erma sudah berada di salon. Keduanya sedang melakukan spa bersama.
Hening menyelimuti suasana. Erma diam-diam melirik Altesa. Dia berusaha mengira-ngira rencana istri pertama Wildan tersebut.
__ADS_1
'Jangan-jangan dia ingin mencari tahu apa yang dilakukan Wildan saat koma. Mengingat pengacaranya sudah bekerja untuk Wildan,' batin Erma menduga. Dia segera mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Pak Wisnu. Erma menanyakan perihal kedatangan Altesa.
Pupil mata Erma membesar, tatkala menemukan bahwa dugaannya benar. Pak Wisnu tentu membeberkan kedatangan Altesa ke kantornya tempo hari.
Erma langsung melapor kepada Wildan. Dia tentu hanya berinteraksi melalui pesan pribadi. Terlebih Altesa sedang berada persis di sampingnya.
'Kalau kau ingin tahu renana Altesa. Kau mungkin bisa memancingnya.' Begitulah pesan balasan dari Wildan.
Manik hitam Erma perlahan bergerak menatap Altesa. Dia berdehem dan segera angkat bicara.
"Al, apa kau tidak penasaran dengan yang dilakukan Wildan saat kau koma? Jujur saja, apa yang dilakukannya kepadamu sangatlah buruk," imbuh Erma. Sengaja memancing ketertarikan Altesa.
Benar saja, perkataan Erma membuat kepala Altesa langsung terangkat. Padahal sedari tadi dirinya sedang menikmati pijatan lembut dari pegawai spa.
"Aku..." Altesa hendak bicara, namun diurungkan. Sebab dia merasakan sesuatu yang aneh. Altesa dapat menyaksikan ekspresi wajah yang ditunjukkan Erma. Terkesan tidak sabar dan sangat serius.
'Ini pasti jebakan. Erma tidak mungkin berucap begitu dengan tiba-tiba. Lagi pula aku tidak yakin dia akan langsung bercerita,' gumam Altesa dalam hati.
"Aku tidak mau memikirkan itu. Karena niatku ingin berdamai benar-benar tulus," ungkap Altesa seraya tersenyum tenang.
Mimik wajah Erma seketika berubah datar. Dia mengangguk pelan.
'Aneh sekali. Kalau begitu, Altesa bersungguh-sungguh ingin berdamai denganku dan Mas Wildan dong?' batin Erma. Dahinya berkerut samar.
Waktu berlalu. Altesa dan Erma menyelesaikan perawatan di salon. Selanjutnya, mereka pergi untuk menjemput Azka.
Di awal Azka sangat terkejut melihat Altesa ikut bersama Erma. Meskipun begitu, dia tetap masuk ke mobil.
Saat di tengah jalan, Azka tiba-tiba meminta dibelikan es krim. Erma otomatis menyuruh sopir singgah sebentar.
Azka memegangi tangan Erma dengan erat. Melangkah bersama menuju kedai es krim.
Altesa yang menyaksikan, merasa sangat iri. Dia jadi teringat masa-masa kebersamaannya ketika dirinya belum mengalami koma. Dulu Altesa begitu dekat dengan Azka. Sampai anak itu seringkali datang ke kamar hanya untuk tidur bersamanya.
Langkah kaki Altesa berhenti tepat di belakang Erma dan Azka. Erma sudah memesan es krim. Tanpa mendengarkan keinginan Azka terlebih dahulu.
__ADS_1
"Pesan rasa vanilla dan stroberinya, Mas." Erma memesan es krim yang menurutnya adalah rasa kesukaan Azka.
"Apa es krim rasa permen karet ada, Mas?" tanya Altesa. Seingatnya es krim yang disebutnya adalah rasa kesukaan Azka.