
...༻⌘༺...
Rika telah membuatkan janji temu untuk Altesa. Keduanya akan bertemu pengacara muda yang bernama Gavin. Kini mereka sudah tiba di kantor pengacara itu.
Pembicaraan tentang kasus Altesa dilakukan. Tetapi Gavin jelas mengalami kendala dibagian bukti.
"Kau benar-benar tidak punya bukti apapun?" Gavin menatap penuh tanya kepada Altesa.
"Ada satu. Tapi hanya foto dua lelaki asing yang tidak kukenal." Altesa segera menunjukkan foto yang disimpan dalam galeri ponsel.
Gavin mengambil ponsel Altesa. Mengamati dua foto lelaki asing dengan baik-baik.
"Sia-sia punya foto ini kalau kau tidak tahu siapa mereka. Kita harus mencari tahu. Mungkin saja dia adalah kunci atas semua yang terjadi," imbuh Gavin.
"Aku tidak tahu ini kebetulan atau tidak. Tapi tanggal yang tertulis di belakang foto itu adalah tanggal yang sama dengan kecelakaan yang menimpaku," ujar Altesa memberitahu.
"Benarkah? Kalau begitu, dua lelaki ini mungkin tahu sesuatu hal yang lebih besar. Kita harus secepatnya mencari tahu siapa mereka!" tanggap Gavin.
"Tapi bagaiamana cara kita mencari tahu? Tidak mungkin kita memaksa polisi untuk melacak mereka bukan?" Rika mengungkapkan kehawatirannya.
"Kita bisa mulai dari lingkungan kerja Wildan. Aku yakin mereka tahu sesuatu. Tapi tidak mungkin aku turun tangan untuk mencarinya. Kau juga, Rik. Wildan pasti akan curiga." Altesa mencoba memikirkan seseorang yang bisa membantu.
"Gavin?" Rika menggerakkan bola matanya ke arah Gavin.
"Aku mungkin bisa. Tapi pasti akan sulit. Karena karyawan Wildan tidak mungkin memberikan informasi kepada orang asing sepertiku," ucap Gavin. Sebagai seorang pengacara, dia tentu lebih berpengalaman.
Altesa menghela nafasnya. Lalu menyandar ke sofa. Berusaha mencari-cari nama orang yang pas untuk membantunya. Hingga terlintaslah nama Revan dalam benak Altesa. Mengingat lelaki itu juga bekerja di perusahaan hiburan Wildan. Revan bahkan cukup dekat dengan Wildan.
"Aku tahu siapa yang bisa membantu kita!" cetus Altesa. Dia langsung memberitahukan nama Revan kepada Rika dan Gavin. Sekarang mereka hanya tinggal membujuk Revan agar bersedia membantu.
"Aku akan bicara dengan Revan hari ini. Kebetulan jam dua sore nanti ada jadwal syuting," ujar Altesa. Dia dan Rika beranjak meninggalkan kantor Gavin.
"Mengenai kontrak dengan Gavin tadi. Nanti aku akan membayar secepat mungkin." Altesa merasa tidak enak dengan Rika. Temannya itu memang sudah membayarkan biaya kerjasama dengan Gavin.
__ADS_1
"Astaga, Al. Apa kau menganggapku orang asing. Santai saja. Saat SMA kau sangat sering mentraktirku. Anggap saja ini balasannya," sahut Rika sembari fokus menyetir mobil. Dia mengantarkan Altesa ke lokasi syuting.
Ponsel Altesa mendadak berdering. Ia mendapatkan panggilan telepon dari Beno.
"Al! Kau sedang mencoba menghindar dari Wildan kan?" tanya Beno dari seberang telepon.
"Iya. Kenapa?" Altesa menjawab sambil mengerutkan dahi.
"Dia tadi menanyakan tentangmu kepadaku. Mungkin sebaiknya kau tidak perlu bekerja untuk sementara."
"Syukurlah kau memberitahu. Aku memang harus mengulur waktu sebelum Wildan mengetahui rencanaku yang sebenarnya. Kami sedang berusaha mencari bukti." Pembicaraan Altesa dan Beno berakhir disitu. Kini Altesa memutuskan untuk kembali pulang. Dia akan bicara dengan Revan nanti.
Di sisi lain, hubungan Wildan dan Erma semakin merenggang. Wildan tidak karuan bekerja karena terus memikirkan Altesa. Dia memang sosok lelaki yang sangat bertekad. Jika mempunyai kemauan yang kuat, maka Wildan akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya. Termasuk membuat Altesa kembali kepadanya.
Setelah bertanya kepada Beno, Wildan mencoba menghubungi Rika. Dia langsung menemui perempuan itu ke kantor.
"Wildan, apa yang kau lakukan?" tanya Rika yang berpura-pura kaget. Dia tentu dapat menebak niat kedatangan Wildan. Cepat atau lambat, Rika pasti akan menjadi sasaran Wildan untuk ditanya mengenai keberadaan Altesa.
"Apa pedulimu?! Walau aku tahu, aku tidak akan memberitahu. Urus saja istri keduamu itu!" balas Rika ketus. Dia memang sudah terlanjur membenci Widan.
"Kumohon, Rika... sekarang aku berubah. Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Altesa. Aku berjanji tidak akan mengkhianatinya lagi," tutur Wildan penuh harap. Namun Rika membalasnya dengan decihan sebal.
"Cih! Omonganmu manis sekali. Tapi kalau kau mau aku jujur, aku memang tidak tahu Altesa tinggal dimana. Jadi kau lebih baik pergi sekarang!" kata Rika sembari berbalik badan. Meninggalkan Wildan begitu saja.
"Sialan! Bertingkah sekali dia. Altesa saja tidak sampai begitu," komentar Wildan sinis. Ia terpaksa pergi tanpa mendapatkan hasil apapun.
Wildan mengusap kasar wajahnya. Ia merasa frustasi. Semua orang terdekat Altesa telah dirinya temui. Tetapi tidak ada satu pun yang tahu dimana sang istri.
"Mungkin saatnya aku minta bantuan Romi," gumam Wildan. Dia mengambil ponsel dari saku celana. Segera menghubungi teman dekatnya yang berprofesi sebagai polisi.
...***...
Altesa terpaku menatap layar ponsel. Ia ragu untuk menelpon Revan. Lelaki itu sudah banyak membantu. Keraguannya bertambah ketika mengingat Revan memiliki sifat yang cenderung blak-blakan dan dingin.
__ADS_1
'Aku harus bagaimana? Tapi aku tidak punya orang lain selain Revan. Dia satu-satunya orang yang bisa mencari tahu siapa dua lelaki di foto itu,' batin Altesa. Dia akhirnya menghubungi Revan.
"Kenapa?" Revan menjawab dengan nada datar.
"Apa sehabis syuting nanti kau sibuk? Aku ingin bicara," sahut Altesa.
"Bicara saja di sini. Kenapa susah-susah bertemu."
"Sulit bicara ditelepon. Karena ini terkait kesediaanmu untuk membantu."
"Apa? Katakan saja!" Revan mendesak.
Altesa menghembuskan nafas berat. Ia lantas mengatakan keinginannya kepada Revan.
"Maukah kau membantu--" Perkataan Altesa terjeda, saat mendengar panggilan telepon dimatikan oleh Revan. Jelas lelaki tersebut menolak untuk membantu.
"Sudah kuduga," gumam Altesa. Dia menghempaskan tubuh ke ranjang.
Di waktu yang sama, Azka sedang berada di kamar. Dia sudah beberapa kali menemui Erma. Akan tetapi wanita itu terus mengomelinya tanpa alasan yang jelas.
Akibat sikap Erma itu, Azka mencoba bicara kepada Wildan. Namun lagi-lagi dia mendapatkan tanggapan biasa saja. Wildan terlalu sibuk dengan pekerjaan serta pencariannya terhadap Altesa.
Kini Azka sendirian di rumah. Erma dan Wildan kebetulan sedang pergi entah kemana. Yang jelas Azka merasa kesepian sekarang. Ia tiba-tiba memikirkan ucapan Altesa terakhir kali. Terutama mengenai kebohongan yang dikatakan sang ayah.
"Sebenarnya siapa Bundaku? Siapa di sini yang berbohong?" Azka bergumam sendiri. Benaknya terus dibuat bertanya-tanya. Hingga akhirnya dia mengambil secarik kertas yang berisi nomor Altesa.
Azka berpikir, satu-satunya orang yang peduli kepadanya sekarang adalah Altesa. Dia akhirnya menghubungi perempuan tersebut.
Di tempat yang berbeda, Altesa masih rebahan di ranjang. Dia menerima panggilan telepon dari nomor tak dikenal. Awalnya Altesa mengabaikan. Tetapi karena nomor itu terus menelepon, dia memilih untuk menjawab. Meskipun begitu, Altesa tidak bersuara sama sekali.
"Tante Al?" suara Azka dapat terdengar jelas dari seberang telepon. Jantung Altesa berdegub kencang karena merasa sangat senang.
"Azka!" panggil Altesa antusias.
__ADS_1