
"Kenapa muka lo? " Tanya tirta pada bintang
"Lo liat aja sendiri, digrup sekolah kita" Ucap bintang ketus
Tirta dan Siska pun dengan segera memeriksa HP miliknya, dan betapa terkejutnya mereka melihat bulan berubah begitu cantik, namun mereka merasa sedikit asing dengan wajah bulan! Kenapa wajah bulan begitu mirip dengan bintang.
"Wait! Muka lo dengan bulan kok mirip? Ya gak sih, " Tanya tirta pada Siska
"Eh iya, walaupun bulan chubby tapi tetap keliatan mirip ya? "
Bintang gelisah, ia meremas ujung seragam sekolahnya. Ia bingung harus menjawab seperti apa! Pasalnya perubahan bulan kali ini benar benar begitu memperlihatkan dirinya mirip dengan bintang,
"Ntang! Hey kok lo diam aja, " Ucap Siska
"Ha! K-kenapa" Tanya bintang
"Kita nanya, kenapa muka lo mirip banget sama bulan! Apa jangan jangan kalian selama ini kembar? " Tanya Siska
"Ng-gak kok. Mungkin perasaan kalian aja lagi, m-mana mungkin gue sama dia kembar, kalo kita kembaran udah pasti dia pake nama belakang keluarga gue kan! Ini gak ada tuh" Elaknya
Bulan memang selama ini, tidak menggunakan embel-embel nama keluarga nya. Itu semua atas perintah dari Ririn dan juga bintang, karena mereka malu harus memiliki anak atau saudara yang gendut seperti bulan.
"Iya ya, yang dikatakan bintang benar sis, kalo bulan itu saudaranya bintang. Pasti ada nama keluarga jhonson dibelakang namanya, " Ucap tirta
"Iya ya, lo benar, mungkin perasaan kita aja kali"ucap Siska
"Huft! Untung mereka langsung percaya, kalo gak gue harus jawab apa? Lagian kok bisa si dia berubah jadi kurus gitu. Perasaan kemarin masih gembrot deh" Batin bintang.
Kring! Kring!
Bell sekolah berbunyi pertanda jam pelajaran akan dimulai, seluruh murid murid berbondong-bondong memasuki kelas terutama kelasnya bulan. Hari ini adalah pelajaran nya guru paling killer yaitu pak dodi, itu sebabnya para murid memasuki kelas dengan cepat agar terhindar dari amukan guru tersebut, karna jika pak dodi sudah marah, maka seluruh murid akan mendengar cerita panjang dari guru tersebut, hingga kuping mereka memerah,
"Baiklah anak anak. Pelajaran kita hari inj cukup sampai disini, silahkan kalian beristirahat! " Ucap pak dodi
"Baik pak, " Mereka semua
"Ekhem! Kenalin gue reza, ini Galang, Gilang, Rifki, putra, dan alex ketua geng kita" Ucap reza memperkenalkan dirinya dan juga teman teman nya.
Devano menaikan sebelah alis nya, beralih menatap bulan yang juga tengah menatap nya. Bulan hanya menghedikan bahu acuh. Bulan dan devano memang mengetahui mereka, hanya saja bulan dan devano tidak terlalu menggubris mereka. Akan tetapi kenapa mereka justru sekarang mengajak nya berkenalan.
"Hm! " Ucap devano datar
"Buset datar bener tu muka! " Celetuk reza
"Iyaa, ngadepin 2kulkas aja udah pusing ini malah nambah satu lagi" Ucap galang
"Ngak jelas!" Ucap devano yang langsung pergi dari sana sambil menarik tangan bulan
"Apa tadi katanya. Dia bilang kita gak jelas? Emang bener sih" Ucap Gilang
"Heh dongo! Maksud lo apaan bilangin kita gak jelas! " Jawab Rifki
"Lah kan emang bener! Datang datang langsung ngajak kenalan, kan kita satu kelas ege, mereka pasti udah tau siapa kita. Lagian kenapa sih tiba tiba ngajak berteman? Bukannya selama ini kita gak seberapa deket" Ucap Gilang
"Pengen nambah temen aja, apa salahnya si" Jawab reza.
"Kenapa bar,"
"Kantin, " Ucap alex memotong kalimat Gilang, dan langsung pergi dari sana diikuti oleh yang lainnya
"Van, kenapa kamu gak mau berkenalan dengan mereka? " Tanya bulan disela makannya
Saat ini mereka berdua tengah berada dikantin, setelah tadi devano membawanya keluar kelas,
"Gak perlu," Balas devano cuek sambil terus mengaduk aduk kuah bakso nya miliknya
"Bisa kah kamu berhenti, mengaduk aduk makananmu vano" Ucap bulan jengah dengan tingkah devano.
Pasalnya sedari tadi devano terus menerus mengaduk aduk makananya, ia bahkan sama sekali belum menyentuh makanannya
"Kemarikan mangkuk mu" Ucap bulan yang langsung merebut mangkuk tersebut
"Lo mau ngapain? "
"Diam! Dan buka mulut mu" Ucap bulan hendak menyuapi devano
"Lo mau nyuapin gue? "
"Iya, cepat buka mulut mu" Paksa bulan, devano pun mau tak mau harus membuka mulutnya. Bulan pun dengan semangat menyuapi devano
"Wah wah! Seraya dunia milik berdua" Ucap reza yang baru tiba bersama yang lainnya.
"Ngapain lo" Cetus devano
__ADS_1
"Duduklah, lo gak liat meja penuh semua" Ucap reza meminum air milik bulan
"Kamu ngapain minum air aku" Ucap bulan
"Aelah dikit doang, pelit amat lo" Jawab reza santai
Sedangkan yang lain sudah biasa melihat itu. "Heh lang pesan makanan sana cepet, " Ucap Rifki memerintah galang
"Dih kenapa jadi gue. Biasanya juga lo sama Gilang, " Sahutnya
"Dah sono cepet pesen, " Cetus galang lagi. Rifki pun hanya mendengus sebal kemudian menarik Gilang agar ikut bersamanya
Semua pun fokus dengan kesibukan masing-masing, ada yang bermain game ada juga yang hanya scroll aplikasi tiktok.
Braak!
Seisi kantin dibuat terkejut oleh gebrakan meja, mereka semua memandangi bintang dan cs nya, apa yang akan mereka perbuat kali ini
"Ngapain lo deket deket sama devano" Ucap bintang pada bulan
Pelaku pengebrakan meja tadi ada bintang, ia merasa marah melihat bulan yang dekat dengan devano
"Kenapa? Apakah menjadi masalah kalo aku deket dengan devano? " Tanya bulan berani
Bintang dan seluruh penghuni kantin terkejut dengan bulan yang sudah berani menjawab, bulan yang dulu sama sekali tidak pernah menjawab! Lalu sekarang? Ia sudah berani. Devano yang melihat bulan sudah mulai berani pun tersenyum smirk
"Berani ya lo ngejawab, mentang mentang sekarang udah berubah Jadih cantik" Cetus bintang
"Aku? Cantik? Makasi loh udah ngakuin kakak mu ini cantik, " Ucap bulan
Para penghuni kantin merasa heran dengan perkataan bulan. Apa maksud perkataan nya tadi
Bintang sendiri sudah mengepalkan tanganya
"Lo." Geram bintang
"Apa? Kenapa, apa kamu lupa kita ini kan kakak beradik, kita itu kembar, kamu ngak mau ngakuin aku sebagai kakak mu karna dulu aku gendutkan. Sekarang? Masih gak mau ngakuin" Ucap bulan lantang yang mampu didengar seisi kantin
"Oh ya satu lagi. Kamu bilang aku ngak boleh deket deket sama devano? Apa salahnya, ingat bintang kamu sebentar lagi akan bertunangan. Belajarlah menghargai orang yang sudah bersama mu, jangan serakah! Dulu aku mungkin akan melepaskan Erwin untuk mu, tapi tidak dengan devano" Ucap bulan, devano yang mendengar perkataan bulan tersenyum
"Apa tadi katanya? Dia bilang gue gak boleh direbut orang lain, itu tandanya dia udah nganggap gue sebagai miliknya"batin devano bahagia
Flashback on
Bruk!
"Maaf maaf saya gak sengaja, " Ucap bulan meminta maaf
"Gue yang seharusnya minta maaf, gue buru buru jadi gak liat kalo lo lewat, " Ucap Erwin ikut membantu mengumpulkan barang belanjan bulan.
"Kalo gitu kita sama sama salah"
"Maaf ya, gara gara gue jadi berantakan gini. Sebagai ganti dan maaf gue gimana kalo lo gue anter balik" Tawar Erwin
Bulan terlihat berpikir, jika ia menolak maka ia akan terlambat pulang, dan bisa bisa ia akan kembali dimarahi
"Ya udah, kalo gitu" Jawab bulan
Bulan pun diantar oleh Erwin "rumah lo dimana? " Tanya Erwin
"Lurus aja ntar didepan belok kanan" Jawab bulan
"Ini rumah lo? " Tanya Erwin saat sudah tiba dirumah bulan
"Iya ini rumah aku, yuk masuk dulu" Ajak bulan, Erwin oun mengangguk kemudian masuk kerumah bulan
"Duduk dulu, aku tinggal bikinkan minuman" Ucap bulan
Erwin hanya mengangguk saja sambil memandangi seisi rumah tersebut
"Gede juga ni rumah. Kayanya dia orang kaya, bisa gue manfaatin nih" Batin Erwin
"Nih diminum dulu" Ucap bulan yang baru tiba
"Ah iya, makasih"
"Lo anak dari pemilik rumah ini? " Tanya Erwin
"Iyaa, aku anak dari keluarga jhonson"
Erwin terdiam mendengar ucapan bulan "keluarga jhonson? Apa keluarga ini yang papa bilang mau jodohin gue sama anaknya? Masa iya gue harus nikah sama sigendut ini" Batin Erwin memandangi bulan
"Kenapa? " Tanya bulan saat tak mendapati jawaban dari Erwin
__ADS_1
"Ah gak, gak papa kok. Lo anak tunggal? " Tanya Erwin memastikan
"Aku punya adik, itu foto adik ku, " Tunjuk bulan pada sebuah foto yang menempel di dinding
Erwin pun melihat foto tersebut "cantik! Kayanya gue bisa manfaatin ni cewe gendut, " Batin Erwin
"Oh gitu, kiran gue lo anak satu-satunya! Oh iya gue pamit dulu ya, Gue ada urusan lain" Pamit Erwin
"Oh gitu ya udah, makasi ya udah nganterin aku pulang"
"Gak masalah, anggap aja sebagai ganti karna gue tadi udah nabrak lo, " Erwin pun dengan segera pergi dari sana.
"Gue harus telpon papa, " Ucap Erwin yang kini sudah berada dimobilnya
"Baik lah, nanti akan saya urus semuanya" Ucap wahyu pada sekretaris nya.
Dirinya saat ini tengah dibingungkan dengan keadaan kantor yang sudah hampir bangkrut, iya bingung harus mencari uang kemana untuk menutupi seluruh hutang hutangnya
Sang sekretaris mengangguk kemudian pamit undur diri
Drrrt! Drrrt!
"Ya halo? Ada apa win? " Tanya wahyu setelah mengangkat telpon miliknya
"Pah, soal perjanjian papa dengan sahabat lama papa itu masih berlaku? " Tanya Erwin dari sebrang telpon
"Kalo kamu mau ya, masih tapi kalo ngak, apa boleh buat. Memangnya kenapa? " Tanya wahyu
Erwin pun menceritakan semua kejadian tadi. Dan ia berniat untuk memanfaatkan bulan agar ia bisa dekat bintang, wahyu terlihat berpikir, ia juga memikirkan tentang perusahaan nya, jika Erwin menerima perjodohan ini maka wahyu bisa mengambil keuntungan, yaitu meminta agar perusahaan milik willy mau bekerjasama denganya dan ia akan mengambil keuntungan yang besar,
"Ya, terserah kau saja kak. Papa akan mengikuti saja" Jawab wahyu
"Baiklah kalo gitu pah, " Jawab Erwin langsung mematikan telponnya
Dan dari situlah bulan mulai dekat dengan Erwin, dan bulan pun memiliki perasaan terhadap Erwin namun siapa sangka Erwin mendekati bulan hanya untuk mendapati bintang agar menjadi miliknya seutuhnya dan ia akan dengan leluasa menikmati harta kekayaan milik keluarga jhonson, bulan yang mengira Erwin juga memiliki perasaan yang sama padanya ternyata salah, kedatangan Erwin dan keluarga nya ternyata hendak melamar bintang. Ternyata selama ini Erwin menjalin hubungan tanpa sepengetahuan bulan,
Namun karna bulan tak ingin melihat adiknya bersedih, ia harus merelakan Erwin untuk adiknya.
Flashback of
Akan tetapi itu semua dulu, bulan yang sekarang tidak akan membiarkan apa yang seharusnya menjadi miliknua direbut oleh orang lain. Bulan sudah bertekad dengan perubahannya kali Ini ia akan menjadi seorang yang lebih tegas dan berani, ia sudah lelah selama bertahun-tahun hidup dengan cacian dan hinaan dari orang lain. Apapun itu bulan sudah benar-benar bertekad akan melawan siapa saja yang ingin kembali menghina dan Juga mencacinya..
"Tunggu tunggu, ini maksudnya gimana? Kalian berdua kakak adik? Kembar begitukah" Tanya Rifki yang baru saja tiba dan menyimak semuanya
"Kalo diperhatikan, mereka emang kembar! Coba aja kalian liat baik baik" Celetuk reza
Mereka semuapun memperhatikan wajah bulan dan juga bintang secara bergantian. Benar apa yang dikatakan oleh Rifki dan juga reza bahwa wajah mereka mirip
"Bener anjoy! Mirip kok lo selama ini ngak ngakuin dia kakak lo sih? Masuk neraka ntar lo kualat sama kakak" Ucap Gilang
"Masuk neraka pala lo! Itu cuma berlaku buat orang tua " Cetus galang memukul kepala Gilang
"Aww! Sakit ngapain lo mukul pala gue. Kan bener apa yang gue bilang, bulan kan kakaknya otomatis dia lebih tua dong! " Jawab Gilang sambil mengusap kepalanya
"Emang bener? " Tanya galang bak orang bodoh
Yang lain hanya mengabaikan nya saja. Mereka lebih memilih mendengarkan apa yang akan bintang katakan.
"Kok diem? Jawab dong, akuin kemereka semua kalo kita ini kakak adik, " Ucap bulan
Bintang tak mampu menjawab, ia sudah kehabisan kata kata, dan ia juga bingung harus bagaimana! Jika ia mengakui maka namanya akan tercoreng, tapi jika ia tidak mengakui jika bulan bukan kakaknya ia harus menjawab apa.
"Ntang, jawab kok lo malah diem aja sih, " Ucap Siska menyenggol lengan bintang
"Iya bintang, jawab dong" Ucap tirta
"Oke oke, gue akuin lo emang kakak gue, kembaran gue. Tapi gue gak sudi punya kakak kaya lo. Lo boleh ambil lagi Erwin asalkan devano buat gue" Ucap bintang tak tau malu
Pengakuan bintang yang mengakatan jika bulan benar adalah kakaknya, cukup membuat para murid terkejut. Pasalnya selama ini bintang mengaku dia adalah anak tunggal, dan tidak memiliki saudara
"Maaf, tapi bulan yang dihadapan kamu sekarang, bukanlah bulan yang dulu. Dimana bulan yang dulu selalu mengalah hanya untuk kebahagiaan adiknya, yang tidak tau diri ini! Aku ngak bakal merelakan devano sama kaya aku merelakan Erwin. Sudah cukup selama ini aku ngalah demi kamu bintang, " Ucap bulan
"Itu udah kewajiban lo sebagai kakak, yang harus ngalah untuk adiknya, " Ucap bintang
"Adik? Bukankah tadi kamu bilang kamu ngak sudi punya kakak seperti ku? Lalu apa sekarang! Bintang.. Bintang.. Plin plan banget sih jadi orang, " Ucap bulan santai kemudian pergi dari sana. Diikuti oleh devano dan juga 6 pria yang sedari tadi hanya menyaksikan perdebatan antara adik dan kakak tersebut.
"Brengsek! Brani banget dia ngejawab omongan gue" Ucap bintang kesal
"Udahlah sekarang lebih baik kita ke kelas. Malu dari tadi jadi tontonan orang orang" Bujuk tirta
Bintang pun melihat kesekitarnya, benar saat ini dirinya tengah menjadi tontonan para murid murid
"Ngeliat apaan lo pada" Teriak bintang
__ADS_1
Para murid pun langsung bubar, dan kembali dengan acara makan mereka yang sempat tertunda.