Kembar Yang Tidak Dianggap

Kembar Yang Tidak Dianggap
chapter 41


__ADS_3

"Kenapa papa lama sekali didalam? Apa antrian nya begitu panjang, " Tanya bulan saat melihat willy baru saja tiba diparkiran.


"Oh iya nak, antriannya sangat panjang sekali. " Jawab willy


"Oh gitu, pantesan papa lama sekali didalam. Kalo gitu kita pulang aja yuk, " Ajak bulan dan hendak menaiki motor Devano


"Bulan! " Panggil willy menghentikan gerakan bulan


"Iyaa pah? Kenapa! Ada yang ketinggalan? " Sahut bulan


"Nggak ada kok. Papa dengar kamu sekarang udah nggak kerja lagi ya" Tanya willy


"Iya pah, kenapa? " Jawab bulan heran. Entah kenapa tiba tiba saja willy menanyakan hal tersebut padanya


"Kamu nggak mau pulang kerumah lagi nak? Kumpul seperti dulu lagi, papa rindu suasana kita bersama dulu, " Ucap willy


Bulan terlihat bingung ingin menjawab apa. Sebenarnya ia ingin pulang. Tapi ia masih belum menemukan banyak bukti tentang mamanya. Dan lagipun bulan juga masih terlihat takut pada mamanya, takut takut jika riana akan memperlakukan dirinya dengan buruk. Devano yang paham dengan bulan yang terlihat bingung pun. Memegang pundak bulan seraya menganggukan kepala. Seolah berkata "jangan cemas. Semua akan baik baik aja, "


"Huft! Baiklah pah. Bulan akan pulang kerumah lagi, " Ucap bulan setelah mendapatkan izin dari devano.  Bulan berharap ini adalah keputusan yang tepat karna memilih untuk kembali pulang kerumah nya


"Yaudah kalo gitu bareng aja sama papa pulangnya, " Ucap willy bahagia dengan keputusan bulan


"Tapi devano, "


"Udah nggak papa. Kamu pulang sama papa kamu aja. Besok aku suruh orang buat anter motor yang biasa kamu pake itu kerumah mu, " Ucap Devano memotong kalimat bulan


"Beneran nggak papa? " Tanya bulan


"Iya nggak papa. Udah sana balik, " Ucap Devano lembut


"Yaudah kalo gitu. Kamu hati hati, kalian semua juga hati hati ya" Ucap bulan pada inti black diamond

__ADS_1


"Oke. Lo juga hati hati, kita semua balik dan buat om willy thank traktiran nya om, kalo bisa tiap hari juga nggak papa, " Celetuk reza yang langsung dapat pukulan kecil dari bunga


Sedangkan yang lain hanya bisa geleng geleng dengan tingkah reza yang memang otak gratisan.


Satu persatu dari mereka mulai meninggalkan parkiran restoran tersebut.


"Bye bye semua, " Ucap bulan melambaikan tangannya


Tin!


Tin!


Tin!


Pamit mereka semua. "Aku balik dulu. Om hati hati ya, " Ucap Devano sambil menyalami tangan willy


"Pasti pasti! Kamu juga hati hati, " Jawab willy


Brum!


Brum!


Brum!


Devano melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sedangkan bulan terus memandangi motor devano yang kian menjauh. Willy menatap putri sulungnya itu dengan senyum yang terus mengembang diwajahnya.


"Anak yang baik. Papa suka dengan sikapnya dia begitu sopan dan memiliki attitude bagus. Papa suka" Ucap willy sambil berjalan memasuki mobilnya. Dan diikuti oleh bulan dan juga bintang.


"Papa suka sama devano? Papa nggak ngelarang anak papa buat pacaran? " Tanya bulan sambil memasang sabuk pengaman nya


"Nggak, kata siapa papa ngelarang. Justru papa ngasih kebebasan untuk kalian berpacaran. Tapi dengan syarat, kalian harus bisa menjaga diri kalian dengan baik. Dan berpacaranlah dengan cara yang sehat, apalagi itu devano. papa yakin dia bisa ngejagain kamu, karna papa kenal deket sama kedua orang tuanya. Tapi kalo dia macem macem. ya tinggal nikahin kalian aja gampang, "jawab willy menatap putri sulungnya itu

__ADS_1


"Issh papa. Bulan belum mau nikah pah, bulan masih mau kuliah dan bantu bantu diperusahaan papa juga. Bulan nggak tega kalo harus ngeliat papa kerja sendirian, pasti capek banget kan, " Ucap bulan


"Papa nggak pernah ngerasain capek. Papa kerja juga demi kalian berdua, putri yang paling papa sayangi, " Ucap willy melihat kedua putrinya itu


"Kita berdua juga sayang sama papa. Karna bagi kita berdua papa itu, adalah papa yang hebat. Bisa ngebesarin kita berdua tanpa pilih kasih. Papa selalu adil sama kita berdua tanpa pernah membanding bandingkan kita, kita bangga punya papa yang hebat seperti papa, " Ucap bulan memeluk willy diikuti oleh bintang.


"Yang dikatakan oleh kak bulan benar pah. Papa itu papa yang hebat. Papa selalu bekerja siang dan malam tanpa mengenal kata lelah sedikitpun, dan itu hanya demi kita berdua. Terkadang banyak diluaran sana seorang ayah yang dunianya hanya kerja kerja dan kerja. Tapi dia nggak pernah nyempetin waktunya bersama anak anaknya. Jangankan nyempetin waktu. Berada di rumah saja mungkin jarang, berbeda dengan papa yang setiap hari selalu ada bersama kita walaupun di tengah kesibukan papa dikantor. Bagi bintang papa adalah hero bintang dan kak bulan. Dan bagi bintang mungkin hanya papa seorang lah, yang memiliki sifat seperti ini. 'Ucap bintang panjang lebar


"Sssttt! Bukan cuma papa yang seperti ini. Semua orang yang status nya sudah menjadi ayah, akan melakukan hal yang sama nak. Mungkin caranya saja yang berbeda. Seperti yang kamu katakan tadi, siang dan malam sibuk bekerja sampai nggak inget waktu untuk anak dan juga istrinya. Mungkin itu memang benar, tapikan dibalik kerja kerasnya dia. Itu semua juga demi anak dan istrinya agar bisa hidup dengan enak tanpa merasakan kesulitan sedikitpun. Jadi semuanya itu sama aja cuma caranya lah yang berbeda beda. Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk membahagiakan keluarganya. Yang terlihat jarang berkumpul belum tentu mereka dibilang keluarga yang kurang bahagia, justru sebaliknya dan begitu juga sebanding nya. Setiap orang punya cara yang berbeda, "jawab willy juga tak kalah panjang


Bulan dan bintang mengangguk saja, mencerna semua kalimat yang diucapkan oleh willy. Memang benar apa yang willy katakan, bahwa setiap orang memiliki prinsip dan hidup yang berbeda, begitu juga cara untuk membahagiakan keluarga mereka masing masing. Tak banyak tapi ada beberapa yang seperti itu..


"Yaudah, sekarang mending kita balik aja takutnya mama kalian sedang menunggu kedatangan kita" Ucap willy


Bulan dan bintang pun kembali ke tempat duduknya masing masing. Dirasa sang anak sudah aman, willy pun langsung saja menarik pedal gasnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


****


"Pah, kita mau kemana? Mana bentar lagi mau gelap, " Ucap livina yang sudah berjalan kaki sekitar satu jam'an, tanpa tau harus menuju kemana.


Selain rumah dan barang barang, mobil mereka juga habis disita semuanya, itu sebabnya mereka harus berjalan kaki.  Setelah pergi dari rumah wahyu dan juga livina terpaksa berjalan kaki. Sedari tadi mencari tempat tinggal dengan harga sewa yang murah, tak juga ketemu. Kebanyakan rumah yang mereka datangi sewanya diatas satu juga, sementara uang yang mereka pegang tidak sampai setengahnya.


"Aku juga nggak tau harus kemana mah, dari tadi kan kita udah coba nyari kontrakan tapi mahal semua sewanya. " Jawab wahyu. Ia juga sama seperti sang istri merasakan lelah, haus dan juga lapar.


"Mending kita istirahat dipos yang ada disana aja dulu pah. Mama udah capek banget ini, " Ucap livina


"Yaudah kalo gitu. " Jawab wahyu


Mereka pun langsung saja menuju pos, untuk mengistirahatkan sejenak.


"Mau sampai kapan kita harus seperti ini pah. Mana mama laper banget lagi, " Ucap livina terus saja mengeluh

__ADS_1


"Emang mama doang yang lapar, papa juga kali mah. Sabar aja dulu, nanti kita coba cari kontrakan lagi. Kita cari yang murah murah aja, agar uang yang kita pegang ada lebihnya dan bisa buat beli makan, " Ucap wahyu, sambil berbaring di pos jaga tersebut..


__ADS_2