
"Hebat, " Ucap devano tiba tiba
"Apanya? " Tanya bulan tak paham
"Lo tadi hebat. Seharusnya dari dulu lo kaya gini, berani lawan orang yang udah ngehina lo selama ini, "
"Tadi itu reflek aja van, aku ngerasa emang harus berani mulai sekarang, "
"Jadi gimana? " Tanya devano kembali
"Apanya yang gimana? Kamu kalo ngomong yang jelas vano" Ucap bulan heran dengan tingkah devano
Devano tersenyum dan mencubit gemas pipi bulan, devano tak henti hentinya memandangi wajah bulan.
"Jangan dilihat terus vano, emang kamu gak bosen" Ucap bulan sedikit malu ditatap terus menerus oleh devano
"Gak! Gue gak pernah bosen liat wajah orang yang gue suka. Lo mau gak jadi pacar gue" Ucap devano to the point dan masih mempertahankan wajah datar miliknya
"Kamu nembak aku? " Tanya bulan
"Iyaa.! "
Bulan menggigit bibir bawahnya, ia merasa senang ditembak oleh devano. Akan tetapi cara Devano tidak lah sangat romantis
"Gimana? " Tanya devano lagi
"Apanya? "
"Lo mau gak jadi pacar gue, "
"Masa kaya gitu sih nembaknya, nggak ada romantis romantisnya, "
"Gak mau tau, pokoknya ulang!! " Ucap bulan sedikit kesal
"Lo maunya gimana? Masa harus pake pengumuman kaya upacara bendera, kan enggak" Ucap devano
"Gak tau ah. Kesel, " Jawab bulan membuang muka
Devano menarik nafasnya kemudian menangkup kedua wajah bulan agar melihat nya. Tatapan mereka bertemu selama beberapa detik kemudian devano kembali berucap
"Bulan dwi jhonson, mau kah kamu menjadi kekasih ku dan menjadi pendamping hidup ku untuk selamanya, "
Bulan tercengang dengan perkataan devano, biarpun tidak begitu romantis namun kata kata devano mampu membuat bulan terhanyut.
"Yah, aku mau jadi pacar dan pendamping hidup mu, " Jawab bulan mengangguk antusias
"Serius! "
"Ya aku serius,"
Devano tersenyum senang ia pun memeluk bulan begitu erat, kemudian ia melerai pelukannya dan menatap manik mata bulan begitu dalam. Beberapa detik saling diam dan tatap tatapan, devano mengikis jarak diantara mereka. Perlahan lahan devano mendekatkan wajahnya dan hendak mencium bibir bulan, sedikit lagi hanya tinggal beberapa centi tiba tiba terdengar sesuatu, dan mengagetkan bulan dan juga devano.
"Hatcihh! " Bersin seseorang
"Reza, lo ngapain, bersin sih. Lihat gara-gara lo, kita semua gak jadi lihat drama Perbucinan dua orang ini, " Ucap Rifki kesal
"Maaf, hidung gue gatal bro, " Jawab reza tak merasa bersalah
Devano seakan baru sadar, ternyata ia Dirooftop ini tidak hanya berdua dengan bulan. Akan tetapi keenam curut ini juga mengikuti nya, devano benar benar tidak sadar akan hal itu. Ia mengira setelah kejadian di kantin tadi mereka memasuki kelasnya, tapi ternyata mereka justru mengikuti devano hingga ke rooftop.
"Ngapain? " Ucap devano singkat
"Kumpul." Jawab alex singkat juga
"Disini, "tanyannya
"Ya, gak baik berduaan," Ucap putra
Devano menepuk jidatnya. Sedangkan yang lain hanya melongo nelihat tiga manusia tersebut berbicara singkat
"Kalian ngomong apaan sih, singkat singkat begitu." Cetus galang
"Hooh, nggak bisa apa bicara yang panjang gitu. Mahal amat tu suara, " Ucap reza
"Sangking mahalnya, ngomong pun harus singkat begitu, mana yang paham cuma mereka aja lagi. " Ucap Gilang
"Nggak, " Jawab alex, putra, dan devano bersamaan
"Tuh kan! Ngomong aja sampe kompakan begitu. " Ucap Rifki
"Makan makan kek. Kan habis jadian tu. traktirlah sesekali, kan mayan uang jajan gue bulan ini aman, " Sambung Rifki lagi.
Yang lain mengangguk membenarkan kan, mereka setuju dengan saran Rifki. Ya hitung hitung perkenalan juga kan, agar saling akrab satu sama lainnya.
"Yayaya, oke, pulang sekolah! " Putus devano
"Sekarang aja. Kelas kita kan jamkos, " Ucap Rifki
"Nah bener. Lagian nggak ada salahnya, toh lo juga anak dari pemilik sekolah ini kan. Jadi gak bakal ada yang berani ngelarang lo, " Ucap galang
Yang lain mengangguk membenarkan "oke! "
"Yeay, asik. Makan. Makan. Makan., " Ucap reza dan Rifki senang.
Mereka semua pun dengan senang hati mengikuti devano dan juga bulan. Dengan devano yang memimpin jalan, dan ke enam pria tersebut mengikuti dari belakang.
****
Braak!
"Astaga, bisakah ketika kau memasuki rumah pelan pelan, " Ucap Ririn kaget, akibat bintang membuka pintu begitu kuat
"Diam lah mah, aku lagi kesal" Ucapnya berjalan sambil menghentak hentakan kakinya
"Kenapa dengan anak itu, " Ucap Ririn menyusul bintang
Ceklek
"Kenapa dengan mu, " Tanya nya
"Bintang kesal mah, apa mama tau bulan sekarang berubah, " Ucapnya
"Berubah apa? Jadi power rangers, " Ucap Ririn bercanda
"Mamah, " Ucap bintang semakin kesal. Dirinya sedang kesal tapi sang mamah justru malah bercanda
"Sorry sorry! Jelaskan bulan, berubah seperti apa yang kamu maksud, " Tanya Ririn penasaran
Bintang pun membuka grup sekolah, dan memberikan ponsel miliknya pada Ririn
"Nih!, "
Ririn pun memeriksa, ponsel tersebut. Dan betapa terkejutnya ia dengan perubahan bulan yang mendadak menjadi kurus dan cantik. Padahal ia tak bertemu dengan bulan sudah beberapa bulan lamanya,
"Ini bulan? Serius Ini bulan? " Tanya nya
"Ya mah, itu bulan. Dan mama tau dia juga berpacaran dengan devano mah. Aku nggak terima! " Ucap bintang kesal
"Loh kenapa? Bagus dong, mama kan sudah bilang kamu fokus dengan Erwin, dan jangan ganggu hubungan bulan dan devano, "
"Mama kok jadi belain si bulan sih? Anak mama itu aku atau dia, "
__ADS_1
"Kalian berdua anak mama. Mama cuma nggak mau kamu ganggu bulan dan devano. Lebih baik sekarang kamu fokus dengan Erwin, dan pikirkan agar kamu bisa dengan cepat dapat warisan dari papa mu. Papa mu pernah bilang bukan, siapa diantara kalian yang menikah terlebih dahulu maka akan mendapatkan warisan yang paling banyak. Apa kamu lupa"ucap Ririn
"Tapi mah, "
"Suut, gak ada tapi tapian! Fokuslah dengan Erwin dan jangan ganggu hubungan bulan dan juga devano. " Ucap Ririn yang langsung pergi dari sana
"Rasanya perut gue ingin meledak, " Ucap reza mengusap perutnya
"Hooh, gue juga baru ini merasakan kenyang banget," Jawab Rifki
"Bukan nya lo tiap hari juga bisa makan segini banyaknya? " Ucap galang.
"Iya sih. Tapi kalo ditraktir itu beda rasanya, " Jawab Rifki
"Gue setuju. Rasanya traktiran itu beda, kaya. Lebih nikmat aja gituh! Ya gak, " Ucap reza menyenggol lengan Rifki, dan dibalas anggukan oleh Rifki.
"Eleh emang, otak kalian aja yang suka dengan yang namanya traktiran, "sahut Gilang
"Nah tu lo tau, kan mayan hemat uang bulanan, " Ucap Rifki
Yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keributan, mereka yang tidak bermanfaat sama sekali
"Oh ya ngomong ngomong, kenapa pas awal masuk kesekolah, lo berpenampilan culun?" Tanya galang pada devano.
Devano mendongak, dan mengalihkan atensinya menatap mereka semua satu persatu, menunggu jawaban dari devano.
"Gue cuma nyari temen yang, tulus berteman dengan gue. Selama gue diluar negeri, gue nggak pernah dapat teman yang serius. Semua cuma manfaatkan harta gue dan nyari ketenaran semata! " Jawab devano dengan satu tarikan nafas
Yang lain. Hanya mendengarkan, mereka merasa tersindir oleh perkataan devano.
"Hey bung! Kami merasa tersindir dengan perkataan lo. Pasalnya kita baru kenal hari ini, dan kita langsung minta traktiran sebanyak ini, " Ucap Rifki menunjuk meja yang penuh
"Ah sorry, gue bukan nyindir kalian. Bukan kalian yang gue maksud, traktiran ini juga real dari gue, karna gue udah jadian dengan bulan, " Ucap devano melirik kearah bulan.
"Kirain kan, tapi tenang lah. Kita semua ingin berteman dengan lo tulus, jadi lo nggak perlu khawatir. Lagian sebelum adanya lo kita semua udah tenar kok, " Ucap galang
"Oke," Ucap devano menaik turunkan alisnya.
"Kalo gitu, gue sama bulan pamit duluan."ucap devano
Cepat amat, mau kemana emang. " Tanya galang
" Ada urusan, "ucapnya sambil bersalaman ala pria
" Tunggu!"cegah alex
"Kenapa? "
"Gue minta nomor ponsel lo, "
"Buat? "Tanya devano heran, ia sedikit aneh saja jika ada seorang pria yang meminta nomornya selain ayah dan juga kakaknya Darren
" Grup, "ucap putra yang paham maksud alex
Devano hanya ber oh ria saja, kemudian memberikan ponsel milik nya agar mereka mencatatnya.
"Kita mau kemana van? " Tanya bulan kini
"Hmm. Kerumah aku aja, kebetulan ibu sedang berada dirumah, beberapa bulan lalu ibu bilang ia ingin bertemu dengan calon menantu nya, " Goda devano
"Devano, " Ucap bulan malu dan mencubit lengan pria yang sudah menjadi kekasih nya itu.
"Aww. Kenapa kamu memukul ku, "
"Aku mencubit bukan memukul, " Koreksi bulan
"Alah sama aja. "
"Beda devano. Pukul itu begini, kalo cubit begini, " Ucap bulan memperagakan pada devano
"Nah kan. Emang beda tau, "
Sangking asiknya mengobrol, mereka tidak sadar telah tiba di kediaman keluarga
"Kamu kenapa? " Tanya devano
"Nggak papa, aku cuma gugup! Dan takut" Cicitnya
"Takut? Kenapa? " Ucap devano heran
"A-aku takut, jika ayah dan ibu mu tidak menyukai ku,
" Hey lihat aku, ayah dan ibuku tidak seperti apa yang kamu, bayangkan. Mereka baik, percayalah mereka akan menerima dan menyukaimu, " Ucap devano meyakinkan bulan
"Serius? Hmm! Baiklah, " Jawab bulan.
Merekapun akhirnya menuruni mobil, dan menuju masuk kedalam kediaman keluarga harchie
Ting! Tong!
Ceklek
"Tuan muda, mari masuk! Nyonya dan tuan besar, sudah menunggu. " Ucap kepala pelayan
"Hmm! " Gumam devano
Sang Kepala pelayan pun, membawa Devano juga bulan menuju ruang keluarga, dimana keluarga nya telah berkumpul, dan hendak pergi kembali
"Ayah! Ibu" Ucap devano
"Nah ini dia, anaknya! Dari mana saja kau ha, kemarin ayah dan ibunya pulang, tidak disambut lalu sekarang ayah dan ibunya ingin pergi lagi, dia malah datang terlambat, " Omel Elena
"Bu! Anaknya baru juga datang kenapa harus dimarahi, bukannya disuruh duduk dulu, " Ucap Abraham
"Nah bener apa yang dibilang, sama ayah, " Ucap devano
"Bukan kamu. Ayah nyuruh perempuan itu, " Tunjuk Abraham pada bulan
Seluruh atensi beralih pada bulan.
"Oh astaga! Cantik sekali, apa kamu pacarnya devano sayang" Ucap Elena
"Iya tante, " Jawabnya bulan sedikit canggung
"Jangan panggil tante, ini kita seumuran kok, " Ucap Elena
"Ibu! Ingatlah umurmu sudah berkepala tiga, " Ucap Abraham
"Diam! Ini adalah urusan perempuan, pria dilarang berbicara " Jawab Elena
Yang lain hanya bisa tertawa melihat, tingkah mereka berdua ini.
"Duduk lah, bulan. " Ucap daren mempersilahkan bulan agar duduk.
"Tunggu dulu, apa bulan? Namanya bulan. Sayang! Kamu juga kenal dengan nya! " Ucap Elena
"Iya bu! Namanya bulan, dia yang daren ceritakan beberapa bulan lalu, " Ucap daren
"Apaaa! " Teriak Abraham dan juga Elena bersamaan, sangking kerasnya teriakan mereka. Membuat devano, daren, dan juga bulan menutup telinga nya
"Ibuu! Kenapa kalian berdua harus berteriak begitu, kita semua tidak tuli bu ayah. " Ucap daren
__ADS_1
"Iya, jika kalian ingin berteriak pergilah kehutan sana, " Ucap devano santai
"Dasar anak keterlaluan, dia ini pacarmu. Lalu kenapa harus kau memperkerjakan kan dia sebagai pelayan diresto mu, dasar anak tidak tau diri. Hey siapa tadi namamu? "
"B-bulan"
"Nah iya bulan, kemari sayang. Kenapa kau mau bekerja dengannya sebagai pelayan? Apa devano tidak memberikan mu uang? " Tanya Elena
"Iya nak.katakan pada kami semua, apa devano tidak memberikan mu uang, jika tidak. Keterlaluan sekali dia, apa kau sudah jatuh miskin devano, sampai sampai kau tidak memberikan kekasih mu uang, " Ucap Abraham
"Tidak bukan, begitu ayah, ibu. Bulan dan devano baru pacaran hari ini. Sebelum sebelumnua bulan memang bekerja diresto devano, tapi sekarang sudah nggak lagi, "
"Baguslah, ibu pikir masih, berapa devano memberikan mu uang belanja? " Tanya Elena
Bulan menggeleng, saat ia hendak menjawab, lagi lagi terhenti oleh suara Elena
"Devano, kemana uang yang ayah dan ibumu kasih, kenapa kau tidak memberikan nya pada bulan juga, duh jaman ibu sama ayah pacaran saja, seluruh uang ayahmu sudah ibu pegang. Lalu kenapa kau tidak, dasar pelit, " Ucap Elena
"Ibu! Devano bukan pel!"
"Alah dasarnya pelit, ya memang pelit. Ntah keturunan siapa kau Ini devano," Ucap Abraham memotong ucapan putra keduanya itu
Daren dan bulan memilih diam. Mereka pusing melihat tingkah ayah dan ibunya ini,
"Ibu, lupakan pembahasan konyol ini. Ini sudah waktunya untuk kalian berangkat, " Ucap daren yang sudah jengah melihat perdebatan ini
"Oh, jadi kau mengusir kami" Ucap Elena
"Tidak bu yah, bukan itu maksud daren. " Ucap daren memandang devano, guna meminta pertolongan, namun devano justru mengejeknya dan pergi bersama bulan ke taman rumah milik nya,
"Sudahlah bu, cepat berangkat nanti ibu bisa ketinggalan pesawat, " Ucap daren masih berusaha
Abraham dan Elena baru sadar bahwa mereka akan kembali ke luar negeri, untuk mengurus pekerjaan.
"Astaga, kenapa kamu tidak bilang dari tadi. Ayo ayah cepat nanti kita bisa telat, " Ucap Elena menarik lengan suaminya
"Iya bu, pelan pelan! " Jawab Abraham
Daren hanya bisa geleng geleng melihat itu
"Ya allah, kenapa aku harus hidup dengan keluarga yang seperti ini" Ucao daren menepuk jidatnya
"Wah, taman kamu bagus banget. " Ucap bulan
"Iya, ini semua ibu yang merawatnya, kalo ibu nggak ada, ya bibi yang merawat ini semua. Kamu suka? " Tanya Devano
Bulan mengangguk, "iya suka, suka banget malah. Dirumah papa, juga ada taman. Kata papa itu taman mama yang minta, waktu mama hamil aku dan bintang, " Ucap bulan sambil memandangi sekeliling taman.
Devano berdiri, dan memeluk bulan dari belakang, "ntar kalo kita udah nikah! Aku bakal bikinin kamu taman yang jauh lebih bagus dari ini, "
Bulan tersenyum, "untuk urusan itu nanti ya, bukan aku belum siap menikah! Kamu tau sendiri kalo aku masih mencari tau tentang kejanggalan mama van, "
Devano melepaskan pelukannya, dan membawa bulan duduk digazebo milik nya "iya aku paham. Dan aku ngerti! Untuk itu kita bisa nyari tau semua kebenaran nya. Kamu tenang aja, anak buah ku selalu ada disekitar mereka, mereka juga mantau setiap kegiatan mama mu dan pria yang waktu itu, kita lihat, " Ucap devano
Sejujurnya devano sudah mengetahui, bahwa Ririn yang saat ini bukanlah ibu kandung nya, melainkan adik dari ibunya,
Flashback on
"Sorry, kenalin gue ridho, dan ini adik gue kiki, " Ucap ridho memperkenalkan diri
"Sorry! Maksudnya? " Tanya devano tak paham, pasal kedua orang ini mencegahnya
"Gue tau lo pasti bingung kan, jadi gini, kita adalah anak angkat dari ibu riana, lo tau siapa riana kan? " Tanya ridho
Devano mengangguk, "tau, ibunya bulan kan? "
"Bener, tapi sayangnya dia yang lo maksud bukan lah ibu kandung bulan melainkan, kembaran nya" Ucap ridho
Devani mengkerutkan alisnya bingung "maksudnya? "
"Jadi gini.... " Ucap kiki menjelaskan semua kejadian nya selama ini. Betapa terkejut nya devano saat ia mendengar semua cerita yang kiki ucapkan.
Ternyata hal hal janggal yang selama ini coba ia cari terjawab sudah, melalui kiki dan juga ridho.
"Jadi tante riana masih hidup? "
"Masih, tapi gue mohon rahasiakan semua ini dari bulan dan juga bintang, dan tolong peringati bintang agar tak terlalu termakan omongan wanita ular itu.
" Maksud nya?"
"Ririn memperalat bintang, agar dia segera menikah dengan Erwin. Dan tanpa mereka ketaui Erwin justru memanfaatkan kesempatan itu untuk merampas semua nya vano, " Jawab kiki
"Lo tau sendiri bukan, perusahaan milik keluarga Erwin sedang diambang kebangkrutan? "
Devano menganguk. "Baiklah, gue bakal jaga rahasia ini. Dan gue bakal bantu bongkar semua nya saat waktunya tiba" Ucap devano.
Flashback off
"Kamu kenapa melamun? " Tanya bulan
"Nggak papa kok, mau balik sekarang atau nanti? " Tanya Devano
"Sekarang aja deh, udah sore banget kesian retha sendiri di apart" Jawab bulan. Mereka pun akhirnya beranjak dari sana.
****
"Makasi ya van, masuk dulu yuk, " Tawar bulan
"Sama sama baby! Lain kali aja, aku masih ada urusan, " Jawabnya sambil mengusap lembut kepala bulan
"Baiklah, " Jawab bulan
"Daaah! "
"Daaah! "
Devano pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara bulan masuk kedalam dengan senyum yang terus mengembang.
"Ciee, habis dianterin bareng ayang, " Ejek retha
"Kamu, tau dari mana? " Tanyanya pasalnya ia baru jadian hari ini, tapi kenapa retha bisa tau,
"Nggak perlu tau dari mana. Yang jelas traktir dong, laper ni gue! Dikulkas nggak ada stok makanan lagi. Tinggal buah buahan doang mana kenyang, " Ucap retha mengusap usap perutnya, tentu retha tau, karna saat ini dirinya pun tengah dekat dengan Daren, sudah pasti daren menceritakan semuanya.
"Yasudah, didepan sana tadi aku liat ada yang jual bakso. Mau? " Tanyanya
Retha mengangguk dengan semangat, "mau, let's go! "
Mereka pun berjalan kaki, menuju tempat dimana pedagang bakso berada,
"Kang, baksonya 2, makan disini aja, " Ucap bulan
"Siap neng"
"Kan, apa gue bilang! Pak devano itu suka sama lo, lo nya aja yang nggak sadar, tapi jadian juga sih, " Ucap retha
Bulan tak menanggapi, ia hanya tersenyum menanggapi nya.
"Ini neng, baksonya" Ucap sipenjual
"Makasih, " Ucap bulan
__ADS_1
Mereka pun mulai makan dengan tenang, sambil bersenda gurau.
Sementara devano saat ini, tengah bersiap untuk menuju basecamp. Ia menerima pesan dari anggota black diamond, agar berkumpul disana..